5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 3]: Tanggapan pada Kawan yang Kocak

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
December 29, 2024
in Esai
Kelecung ”Eco Village” Tabanan: Menjawab Keresahan Gempuran Investor

Ahmad Sihabudin

SALAH satu aspek kebudayaan khas yang dimiliki masyarakat Betawi ialah apa yang dikenal dengan ngeceng. Dari sudut tata bahasa ngeceng adalah sejenis kata kerja. Apabila kata kerja itu dilakukan berbalas-balasan bentuknya menjadi ceng-cengan. Umumnya menggunakan kata – kata bernada lucu, paling tidak menurut ukuran mereka yang terlibat dalam kegiatannya baik langsung maupun tidak langsung.

Satu hal yang menjadi ciri khas kegiatan ceng-cengan dalam penggunaan kata-kata, yang umumnya bernada lucu itu terlihat pada saat kegiatan berlangsung yang selalu diliputi oleh suasana meriah penuh dengan gelak tawa. Begitu memasyarakatnya istilah ngeceng dalam masyarakat Betawi, khususnya di kalangan anak muda, namun sampai sejauh itu belum tentu dikenal oleh masyarakat lain.

Pada bagian ketiga lanjutan tulisan Ngeceng, Tardisi Lisan Humor Betawi, penulis akan mendeskripsikan ”Tanggapan pada Kawan yang Kocak ”.

Kawan Kocak itu ”Pinter” Gaul

Upaya membuat orang lain tertawa bukan hal yang mudah. Paling tidak, hanya yang punya bakat kuat saja dapat melakukannya. Perkataan seseorang bisa terkesan lucu, tidak tergantung pada statusnya. Cendikiawan, tokoh politik, pemuka agama, pejabat pemerintah atau pun pengusaha dalam situasi tertentu bisa membuat orang lain tertawa.

Suatu hal yang positif dari sifat humor atau kata-kata yang bernada lucu, oleh kebanyakan peserta dianggap lebih menyenangkan daripada yang mendatar tanpa variasi. Suasana santai yang diselingi humor kalau ditinjau dari sudut efektifitas komunikasi boleh jadi lebih mengena.

Dengan suasana yang tidak membosankan akan memberi kemungkinan audiens bisa mencerna setiap pesan yang disampaikan komunikator.Yang jelas,`dalam suasana komunikasi audiens akan selalu penuh perhatian dan tidak mengantuk.

Anak Betawi menyenangi humor bukan sekedar di permukaan saja. Mereka yang tergolong kurang mahir dalam ceng-cengan ingin seperti teman yang banyak memiliki sifat kocak. Hal tersebut acapkali dijumpai pada saat berlangsungnya ceng-cengan selalu berusaha sebisa mungkin. Wajar apabila kata-kata yang diucapkan serba dangkal dan terkesan dipaksakan.

Semua itu karena dorongan atau motivasi di bidang pergaulan. Sebab, orang yang memiliki pembawaan kocak biasanya supel dalam pergaulan, berbagai kalangan dengan mudah bisa dijadikan sahabat, pada gilirannya mereka mempunyai banyak teman. Sebuah kondisi pergaulan yang umumnya didambakan oleh kalangan anak muda.

Humor, selain menciptakan suasana menghibur, boleh jadi berguna pula sebagai alat terapi menumbuhkan sifat bijaksana. “Untuk menjadi bijaksana orang perlu tertawa” (Djoko Darmono, Tinjauan Buku Humor Sufi II, Kompas minggu 28 November 1987, hal XII). Unsur humor yang begitu dominan di keseharian dalam pergaulan masyarakat Betawi  berperan sebagai pendukung saja.

Kawan Kocak itu Menghibur Juga Membimbing

Ada sesuatu yang hilang bila dalam suatu kumpulan nongkrong, kawan yang dianggap kocak itu belum hadir, seperti sayur kurang garam, hambar rasanya. Jadi sepi seperti kuburan, kawan yang kocak itu buat mereka jadi seperti jantungnya orang berkumpul. Karena tak sedikit juga memberikan nasihat dalam kata-kata kocaknya. Meskipun tidak banyak diungkapkan dalam kegiatan ngeceng, sesekali yang sifatnya filosofis dalam ngeceng muncul juga.

Untuk hal yang bersifat filosofis pun seperti nasihat, petuah, serta sindiran yang hingga sekarang masih ada namun sudah agak jarang diucapkan oleh kalangan anak muda  yang disebut dengan ungkapan.  Salah satu contoh ungkapan: “sekering-keringnye jahe ada pedesnye”, artinya; bagaimana keringnya jahe, rasa pedasnya masih ada.

Maksud ungkapan itu untuk menasihati, menyindir dan mengingatkan seseorang yang mempunyai sikap masa bodoh terhadap keluarganya yang kebetulan menderita kesusahan. Begitu pula sebaliknya mereka yang mengalami kesulitan, malu dan tidak mau minta pertolongan kepada saudara yang kebetulan berada.

Kedua sikap tersebut tidak diharapkan oleh masyarakat Betawi. Buruk atau baik, senang maupun susah, persaudaraan harus tetap terjalin. Contoh ungkapan yang dikutip dari buku “Ungkapan Tradisionil Sebagai Sumber Informasi Kebudayaan Daerah Khusus Ibukota”, telah memberikan kesan tentang pergaulan dalam masyarakat Betawi.

Bagaimana sebaiknya menempatkan diri dalam lingkungan keluarga demi mewujudkan keseimbangan pribadi maupun lingkungan di mana setiap pribadi hidup di dalamnya.

Ungkapan yang menasihatkan untuk tidak memutus tali persaudaraan dalam kondisi yang bagaimana pun, intinya bertolak dari ketulusan hati masing-masing. Melalui ungkapan itu pula orang Betawi  diajarkan supaya jangan terlalu cepat memvonis kepada saudara yang kebetulan berada dengan tuduhan “lupa daratan”, tidak mau tahu kepada saudara yang kekurangan.

Dalam kasus keluarga yang acapkali terjadi justru saudara yang berada dijadikan “kambing hitam” melupakan saudara yang kurang mampu. Hendaknya dapat dimaklumi orang kaya permasalahan hidup yang dihadapinya begitu kompleks, mungkin karena kesibukan membuatnya tidak sempat mengetahui secara persis keadaan segenap saudaranya, terutama yang telah hidup menyebar.

Apabila menghadapi kenyataan itu masyarakat Betawi diajarkan memiliki hati yang lapang dan selalu berterus terang. Tidak mengecilkan hubungan keluarga hanya dikarenakan mereka kurang mendapatkan perhatian.

Terhadap yang merasa kekurangan dalam ekonomi jangan merasa gengsi sehingga malu meminta bantuan saudara yang kebetulan ekonominya mapan. Lagi pula saudara yang mampu pada batas-batas tertentu akan lebih senang kepada saudara yang berterus terang daripada menyembunyikan kesulitannya. Apabila terjadi pengecualian itu pun kebanyakan disebabkan oleh ekonomi yang kurang mampu, belum apa-apa sudah mengambil kesimpulan negatif kepada saudaranya itu.

Pengaruh Modernisasi pada Pola Pergaulan (ceng-cengan)

Terdapat gejala kini sedang terjadi erosi nilai kebudayaan tradisional karena pengaruh modernisasi. Masyarakat Betawi yang merupakan masyarakat perkotaan dalam mempertimbangkan sesuatu cenderung mengkaitkannya dengan relevansi kebutuhan hidup secara materi dan kepuasaan moril.

Pertumbuhan kota Jakarta yang dulunya Betawi, tidak pelak lagi merupakan akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan ekonomi. Pembangunan sarana kota di mana-mana secara fisik membutuhkan dukungan lahan, pada sisi lain harga tanah menjadi semakin meningkat. Faktor iming-iming harga tanah itu membuat pemilik tanah yang relatif luas menjadi tergiur untuk mengoperkan (menjual tanahnya).

Konsenkuensinya, masyarakat Betawi yang tadinya tinggal di kampung-kampung tengah kota pindah jauh ke pinggiran, bahkan tidak jarang pula yang hijrah ke wilayah Jawa Barat. Atau kalaupun masih menetap tinggal di rumah yang pekarangannya sempit tanpa tempat untuk ngeloneng (duduk santai mencari angin di beranda rumah), dan sarana berkumpul anak-anak muda bersenda-gurau sambil ceng-cengan.

Perpindahan penduduk yang tidak berpola itu, masing – masing memilih tempat tinggal baru, mengurangi kesinambungan nilai kesenian serta kebiasaan pergaulan yang dibawa. Apalagi di tempat asal yang ditinggalkan, praktis pekarangan yang relatif luas sudah berubah fungsi menjadi bangunan pasar, super market dan gedung – gedung bertingkat.

Anak–anak yang semula dapat dengan leluasa bermain bola gebok, petak gocek, gala asin, petok kadal, main dampu dan lain sebagainya sudah jarang dapat dilakukan lagi. Beberapa jenis permainan masih dapat dilakukan, tetapi tampak kurang wajar karena menggunakan ruas jalan umum.

Inilah salah satu penyebab merosotnya nilai kebudayaan tradisional. Utamanya yang terjadi pada masyarakat Betawi. Apakah kemerosotan nilai estetika terjadi pula terhadap tradisi ceng-cengan sebagai pelengkap tata pergaulan? Sampai berapa jauh masih dapat mempertahankan eksistensinya?

Kehadiran ceng-cengan kini sedang diuji. Seperti halnya bentuk kebudayaan tradisional lain, ceng-cengan hanya dapat lekat dengan masyarakatnya apabila secara praktis masih didukung secara antusias serta dapat memberi manfaat, maka ceng-cengan bisa jadi tetap eksis ditengah pergaulan global ini.

  • Tulisan ini bersambung bagian 4, “Fungsi Ceng-cengan dalam Pergaulan”.

BACA artikel sebelumnya:

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 1]: Bentuk dan Struktur
”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 2]: Hubungan Kocak, Humor dan ”Ngeceng”

BACA artikel selanjutnya:

”Ngeceng”, Tradisi Lisan Humor Betawi — [Bagian 4-Habis]: Fungsi Ceng-cengan dalam Pergaulan
Tags: BahasaBahasa BetawiBetawiJakartakesenian betawi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Karya Ngenteg Linggih Pura Geger Dalem Pemutih     

Next Post

Indonesian Hypnosis Centre Kukuhkan Tokoh-Tokoh Ternama Menjadi Instruktur Hipnosis

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Indonesian Hypnosis Centre Kukuhkan Tokoh-Tokoh Ternama Menjadi Instruktur Hipnosis

Indonesian Hypnosis Centre Kukuhkan Tokoh-Tokoh Ternama Menjadi Instruktur Hipnosis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co