29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
October 30, 2024
in Esai
Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik

Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik | Foto-foto: Gede Maha Putra

KARYA-KARYA arsitektur di Bali belakangan ini, terutama pasca pemerintah menyatakan wabah Covid-19 berakhir, menarik untuk ditelisik atas beberapa alasan.

Pertama adalah jumlah dan sebaran proyek yang bermunculan dalam dua tahun terakhir ini menunjukkan tanda-tanda kebangkitan ekonomi yang luar biasa. Bangunan-bangunan baru berbagai jenis dan ukuran bermunculan benar-benar seperti jamur di musim hujan.

Kedua, wujud arsitekturnya semakin beragam nyaris tanpa satupun benang merah yang membantu kita memahaminya dalam sebuah framework teoritik yang utuh.

Ketiga, kita tidak perlu berkunjung ke tempat dimana proyek tersebut dibangun untuk bisa turut menikmatinya. Hal ini dimungkinkan karena semuanya kini terpampang vulgar di media sosial. Postingan-postingan tentang karya-karya arsitektur tersebut tidak hanya diunggah oleh pemilik atau pengelolanya saja, melainkan juga oleh pengunjung selaku penikmat karya tersebut.

Keempat adalah aroma international yang muncul dari berbagai elemennya; aktivitasnya, program ruangnya, sajiannya (ini khusus yang kuliner), penataan ruang dan arsitekturnya, hingga investor di baliknya.

Sebuah tower di dalam kawasan enclave di Tabanan | Foto: Gede Maha Putra

Saya beberapa kali melakukan unggahan di media sosial tentang fenomena ini. Yang muncul adalah komentar-komentar tentang perlunya Bali memiliki peraturan yang mengatur tata ruang dan arsitektur. Ada juga yang berkomentar tentang penegakan hukum atas pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di lapangan.

Di lain kesempatan, banyak juga kawan yang mengapresiasi munculnya karya-karya arsitektur yang memiliki wujud beragam ini karena mereka memberikan nuansa baru dan dianggap memperkaya khasanah arsitektur lokal.

Menimang perbedaan-perbedaan tersebut, saya mencoba melihatnya dari kaca mata yang fokusnya lebih lebar, tidak membahasnya dari sisi bentuk semata. Dengan memperlebar sudut pandang, kita bisa membahas fenomena ini dengan memasukkan sistem ekonomi yang saat ini bekerja di seluruh dunia yaitu neoliberalisme.

Sistem ekonomi neoliberal adalah paradigma yang memberi peluang luas bagi terciptanya pasar bebas.  Geografer Marxis, David Harvey berargumen bahwa kebangkitan paradigma ini terjadi pasca “kegagalan” sistem ekonomi Keynesianisme yang berfokus pada intervensi negara. Paradigma terakhir ini dianggap gagal pasca krisis ekonomi awal decade 1970-an.

Mall dengan fasilitas ruang makan dan nongkrong | Foto: Gede Maha Putra

Dalam sistem ekonomi baru ini, negara mengurangi pengawasan dan pengaturan yang membatasi sektor keuangan, tenaga kerja, dan industri agar pasar bisa bergerak dan beroperasi dengan lebih leluasa. Tugas negara lebih dititikberatkan pada upaya untuk menjaga stabilitas pasar dan memastikan aturan hukum yang memberi keuntungan bagi kaum pelaku pasar dalam hal ini kapitalis dan investor. 

Upaya untuk membangun pasar yang menarik bagi investor adalah dengan membuka negara bagi masuknya modal asing. Hal ini membuat modal dan produksi dapat berpindah lintas batas nyaris tanpa adanya halangan. Akibatnya, tercipta pasar global yang saling terkait.

Salah satu landasan pokok paradigm ini, seperti diungkap Harvey, adalah bahwa pasar akan mengelola sumber daya lebih efisien melalui kompetisi tanpa adanya campur tangan negara. Di Indonesia, Undang-Undang Cipta Kerja yang disahkan tahun 2020, meski tidak menyebut secara eksplisit, menunjukkan arah dukungan kepada pandangan neoliberalisme ini.  Aturan-aturan yang dianggap rumit untuk investasi dipangkas dan disederhanakan sehingga pemodal memiliki keleluasaan lebih untuk membuka dan menjalankan usahanya.

Restaurant bambu untuk menarik konsumsi | Foto: Gede Maha Putra

Pada saat wabah sedang melanda, perekonomian Bali ada di titik terendah akibat ditutupnya penerbangan. Saat itu, bisnis pariwisata mati suri yang berimplikasi pada kelumpuhan keuangan pemerintah. Akibatnya, pemerintah merasa tidak mampu berbuat banyak tanpa adanya peran swasta. Setelah penerbangan dibuka dan wisatawan kembali datang, pemerintah juga membuka peluang luas bagi sector swasta untuk berperanserta lebih aktif dalam perekonomian di wilayahnya.

Peran serta swasta ini tentu didukung oleh Undang-undang yang disahkan tersebut. Kondisi ini sejalan dengan lonjakan kunjungan ke Bali. Selain pengunjung internasional, minat wisatawan nasional dan orang lokal Bali untuk berwisata juga meningkat. Mereka ini turut membuat pasar pariwisata menjadi berlipat. Pascawabah, Bali menjadi ladang yang sangat menarik bagi sektor swasta karena dua hal: pemerintahan yang semakin terbuka dan pasar yang menggelembung sangat besar.

Salah satu situs jual-beli-sewa properti bahkan menyebut bahwa saat ini Bali merupakan tempat dengan Return on Investment (ROI) paling tinggi di dunia mengalahkan Dubai.

Secara tata ruang, tingginya pengembalian modal atau ROI ini menyebabkan alih fungsi lahan yang deras. Alih fungsi ini didorong oleh masuknya arus modal yang dibawa serta ditawarkan oleh aktor-aktor global.

Dari situ akan muncul apa yang disebut dengan enclave atau kawasan ekslusif yang tertutup dan hanya bisa diakses oleh para pemilik. Wujudnya bisa berupa resorts dan villa vila yang all-inclusive, gated villa communities, pantai-pantai yang diprivatisasi, atau permukiman yang berbentuk semacam kota kecil mandiri. Kawasan ini secara aktif memisahkan dirinya dari lingkungan sekitar, menciptakan pemisahan fisik dan simbolik.

Dalam kondisi semacam inilah pradigma neoliberalisme masuk melalui arsitektur. Karya-karya arsitektur yang lahir dalam dua tahun belakangan ini merupakan alat untuk menarik perhatian dan sekaligus merebut pasar. Pasar di sini bisa berarti propertinya atau pengunjungnya. Karena pasar yang besar ini tidak hanya diisi oleh konsumen nasional atau internasional tetapi juga lokal, maka tidak pula mengherankan jika wujud arsitekturnya menyesuaikan dengan selera penduduk Bali.

Karya arsitektur masuk jauh hingga tepian jurang | Foto: Gede Maha Putra

Di awal pengembangan pariwisata massal tahun 1970-1980-an, saat pasar masih didominasi oleh wisatawan internasional, arsitektur tradisional mengalami kebangkitan. Fasilitas-faslitas yang melayani turis dirancang dengan cara mengadopsi bangunan-bangunan tradisional. Ini adalah pasar yang masih membawa imaji Bali tahun 1930-an. Kini, saat pasar adalah juga orang lokal maka yang muncul adalah kebalikanya, yaitu arsitektur internasional. Ini adalah bentuk-bentuk yang sedang menjadi trend secara global dan menarik perhatian masyarakat lokal.

Wujud-wujud yang tidak pernah kita jumpai dalam kosakata bentuk tradisi kini mudah dijumpai. Arsitektur tower dengan bentuk seperti lidah api, bangunan villa dengan dinding sepenuhnya kaca, coffee shop dengan vibes ala bangunan di Italia, restaurant mie ramen dengan gaya Jepang, dan lain-lain adalah sebagian dari wujud yang lahir untuk menggaet pasar lokal dan nasional.

Dalam kompetisi, wujud-wujud arsitektur tersebut saling bersaing satu sama lain untuk menarik perhatian secara bebas, dengan intervensi yang minim dari pemerintah. Mekanisme pasar akan menentukan bentuk arsitektur seperti apa yang paling laku dan mampu bertahan dalam waktu yang cukup lama untuk terus melipatgandakan kapital.

Sebaliknya, bentuk-bentuk yang tidak sesuai dengan keinginan konsumen akan ditinggalkan atau hilang dari lansekap. Dalam kondisi ini, aturan-aturan tentang wujud bangunan bersifat sekunder dikalahkan oleh seleksi alami yang merupakan cara kerja pasar.

Sejalan dengan pasar yang dinamis, bentuk-bentuk arsitektur yang dilandasi paradigma tersebut, dalam upayanya untuk merebut pasar serta melipatgandakan modal, akan terus menyesuaikan diri dengan selera dan tuntutan konsumennya. Konsumen yang mudah jenuh, akibat bombardir media sosial, terus menerus membutuhkan inovasi. Dari sini lahir wujud-wujud arsitektural baru silih berganti. Sebuah farmhouse adalah sesuatu yang tidak terbayangkan beberapa tahun lampau dan kini hadir di dekat Bedugul.

Clubhouse yang dulu hanya ada di pantai kini bisa kita jumpai di kawasan dataran tinggi, Ubud, bahkan di tengah permukiman seperti di Celuk. Ada pula yang berbentuk mobil berkeliling kota. Dalam wujud yang seperti ini, arsitektur tidak hanya menjadi akibat dari neoliberalisme ekonomi, tetapi ia secara aktif menjadi subyek yang terus menduplikasi diri dan turut menciptakan pasar yang saling berkompetisi.

Banyak kawasan yang tidak bisa hidup tanpa turis | Foto: Gede Maha Putra

Arsitektur modern memang tidak bisa dilepaskan dari tiga komponen utamanya yaitu regulasi, kapital dan kreativitas arsitek atau designer-nya. Dalam kondisi saat regulasi dikurangi dan mekanisme diserahkan kepada pasar, maka kreativitas dan kapital berperan dominan dalam membentuk ruang-ruang hidup kita di masa yang akan datang.

Selain berkompetisi menghasilkan bentuk yang unik dan menciptakan pasar, kapital juga dapat ‘memaksa’ arsitek untuk menciptakan bangunan yang murah. Artinya, bangunan-bangunan yang memiliki cost pembangunan tidak terlampau tinggi namun dapat dipaksa untuk menghasilkan profit yang gigantic.

Selain cost produksi, bisa saja biaya perencanaan juga akan terimbas semakin murah. Ini terjadi terutama jika fee untuk arsitek dihitung berdasarkan atas kalkulasi dari prosentase harga bangunan per meter persegi. Semakin murah harga bangunan bisa ditekan, maka fee untuk arsitek yang harus dibayarkan juga semakin tidak mahal.

Arsitek mungkin berargumen bahwa mereka terlepas dari berbagai tekanan saat melahirkan karyanya yang dinilai sebagai karya yang inovatif, progresif dengan mengedepankan kebebasan individu dan kreativitas personalnya.

Tetapi, Douglas Spencer, seorang kritikus arsitektur asal Inggris, mengkritik bahwa arsitek sebenarnya juga sedang melayani keinginan kapital untuk memaksimalkan profit dengan cara menciptakan ruang-ruang yang mampu membuat konsumsi masyarakat meningkat. Peningkatan belanja ini ditujukan untuk mendukung investor global yang menjadi kliennya.

Dalam situasi saat ini, dan jika kita memegang apa yang disampaikan oleh Spencer, sepertinya tidak ada lagi teori arsitektur dan estetika yang berperan selain untuk melayani cara kerja ekonomi kapitalistik. Bentuk-bentuk arsitektur menjadi tidak netral tetapi dibentuk oleh dan berguna untuk kepentingan pelipatgandaan modal.

Tidak bisa dipungkiri bahwa meningkatnya konsumsi yang terjadi telah memberi kesejahteraan. Tetapi, kita perlu berhati-hati dalam menanggapi hal ini karena selalu ada bahaya tersembunyi di balik euforia.

Bentuk-bentuk arsitektural yang lahir dalam dua tahun belakangan ini memang ‘sukses’ mencuri perhatian kita. Ini terlihat dari jumlah postingan yang ramai di media sosial. Tetapi, wujud-wujud tersebut, jika kita lihat lebih seksama, mengalami pen-dangkal-an makna.

Secara sadar atau tidak, terjadi banalitas atau pengutamaan tampilan atau kemasan, alih-alih isi atau substansi. Ini terjadi karena karya dibuat untuk kepentingan bisnis. Manusia dilihat hanya sebagai konsumen dan karya arsitektur sebagai komoditas. Kebosanan yang mudah terjadi memicu produksi dan reproduksi atas banalitas ini.

Kondisi berikutnya yang bisa diamati dari munculnya fenomena bangunan-bangunan ini adalah krisis historisitas. Meskipun banyak karya yang berupaya untuk memenuhi unsur-unsur kedaerahan, yang kemungkinan diimbuhkan untuk kepentingan perijinan, tetapi elemen-elemen budaya yang ditampilkan tidak memiliki keber-akar-an sejarah. Kata-kata atau jargon lokal seperti tri hita karana seturut menjadi alat pemasaran. Ia tampak hanya sebagai citra-citra yang justru menjadi penanda terputusnya transmisi tradisi. Alih-alih membentuk ikatan yang kuat dengan tempat, kondisi ini justru mempertontonkan ketidaktahuan atau ketidakpedulian kita pada sejarah.

Bangunan berdesain unik bisa memancing popularitas di media sosial | Foto: Gede Maha Putra

Bangunan-bangunan baru, permanen dan non-permanen, karya arsitektur lama, ruang-ruang ekonomi, sakral, berbudaya, hari ini memenuhi lansekap kita. Kembang api megah bersanding dengan upacara adat. Atraksi pertunjukan tradisional berpadu dengan tarian api modern atau gerakan disco menjadi kenormalan. Orang-orang berbikini yang bersanding dengan pemangku berpakaian putih bersih adalah keseharian kita saat ini.

Masalahnya adalah kita belum mampu menyejajarkan diri dengan kondisi tersebut. Ruang-ruang yang terjadi hari ini membentuk liminalitas atau kegamangan. Kondisi terkatung-katung yang membuat kita terombang-ambing dan gugup dalam situasi paradoks. Konflik-konflik atas ruang muncul. Hiperspace adalah istilah yang umum dipakai. Ini adalah kondisi saat kita tidak mampu membentuk pengalaman ruang perseptual yang utuh akibat banyaknya benturan-benturan yang ditimbukan oleh praktek-praktek produksi ruang neoliberalistik.

Pertanyaannya, mampukah kita menyikapi hal ini? Atau setidaknya kita bisa menanyakan kepada diri kita sendiri, adakah kita menyadari hal ini? [T]

  • BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA
Limit Arsitektur dalam Menyongsong Abad Urban
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak
Proyek-proyek Besar (di Bali) Dimana Arsitektur Merupakan Alat untuk Mengakumulasi Kapital
Eksperimen Arsitektur di Tengah Pasar Wisata Bali yang Makin Besar
Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi

Tags: arsitekturarsitektur baliarsitektur internasionalarsitektur kotaekonomiNeoliberalisme EkonomiPariwisatapariwisata balipendidikan arsitektur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menaklukkan Bali: Memoar Perjalanan Tanpa Peta

Next Post

Syahdan, Kantin di FBS Undiksha “Hilang”, Mahasiswa Seperti Kehilangan Kasih Sayang

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails
Next Post
Syahdan, Kantin di FBS Undiksha “Hilang”, Mahasiswa Seperti Kehilangan Kasih Sayang

Syahdan, Kantin di FBS Undiksha “Hilang”, Mahasiswa Seperti Kehilangan Kasih Sayang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co