23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dodol Satuh : Memaknai Lebih Dalam Hari Suci Galungan

IK Satria by IK Satria
September 23, 2024
in Opini
Dodol Satuh : Memaknai Lebih Dalam Hari Suci Galungan

IK Satria

HAJATAN besar dan meriah dalam 1 tahun Pawukon Bali kembali hadir, meriahnya penjor yang megah dengan berbagai ornament dan harga yang mentereng Kembali akan terpasang disetiap depan rumah umat Hindu di Bali. Kemeriahan berlanjut di pasar tradisional dan modern, umat hindu mengejar berbagai sarana ritual untuk perayaan hari suci Galungan.

Kemeriahan ini berlangsung setiap 210 hari sekali, dimana hari yang suci ini diyakini sebagai hari perayaan kemenangan  Dharma atas Adharma. Persembahan hewan sebagai pelengkap yadnya seperti babi sangat banyak dilakukan, bukan hanya memeriahkan sebagai makanan, tetapi juga kemeriahannya sampai pada penggunaan sarana persembahan yang berisi berbagai olahan daging babi.

Tentu, karena hanya hari suci galunganlah yang memiliki rangkaian berupa Hari Penampahan Galungan, yaitu hari untuk memotong hewan kurban seperti babi. Kemeriahan sesajen ada pula yang sangat khusus yaitu mempersembahkan kue olahan dari ketan, baik ketan hitam maupun ketan putih yang dikenal dengan dodol dan satuh. Apa sebenarnya makna kedua kue olahan ketan ini? Mari kita simak dan dalami sebagai tambahan makna hari suci Galungan.

Sebelum kita memaknai dodol dan satuh, maka marilah kita melihat bagaimana kedua kue ini dibuat oleh masyarakat Hindu di Bali. Dodol merupakan adonan yang berasal dari gabungan tepung ketan hitam atau injin dengan tepung beras dan tepung ketan putih. Adonan ini diulen sedemikian rupa lalu dimasak selama kurang lebih 3 jam dalam jambangan besar dengan dicampur beberapa liter santan (air perasan kelapa murni).

Tambahan gula merah yang asli merupakan pelengkap yang membuat rasa dari kue ini sangatlah khas dan memang rasanya sangatlah menyentuh dan mengaitkan bahwa galungan telah tiba. Selama memasak kue ini membutuhkan energi untuk terus diaduk, sampai pada adonan matang, dan semakin terasa beratnya dalam mengaduk adonan. Semakin berat kita mengaduk, maka semakin matanglah dodol itu.

Setelahnya, didinginkan dan dibungus dengan kulit jagung. Berbeda dengan satuh, yang berbahan ketan putih yang disangrai, lalu dijadikan tepung yang kemudian dicampur dengan gula merah asli dan kemudian dibentuk bundar dan dibungkus dengan kraras (dauh  pisang yang sudah kering). Kedua kue olahan tradisional ini sangatlah mutlak bagi Masyarakat Bali dalam menyambut Hari Suci Galungan. Seolah tiada galungan tanpa kedua kue ini. Dipersembahkan pada setiap bebantenan lalu didoakan sebagai persembahan kemudian setelahnya bisa dinikmati sebagai anugerah (pradham) atau lungsuran.

Kata dodol bisa kita temukan pada kamus Bahasa kawi karya zoetmulder. Dimana kata dodol berasal dari dua kata duad yang artinya kepalsuan atau ketidakbenaran, dan dual yang artinya benda atau barang-barang. Jadi kata dodol bisa berarti penganan yang terbuat dari tepung, namun juga memiliki arti lain yaitu benda atau barang yang memiliki nilai kepalsuan dan ketidakbenaran.

Sedangkan satuh juga adalah penganan yang terbuat dari tepung ketan, yang bisa juga bermakna dalam Bahasa bali satuwuh atau selamanya. Gabungan kedua kue ini memberikan makna tentang benda atau barang yang palsu atau mengandung ketidakbenaran selamanya. Tidak berhenti disana, kita mesti juga mencari makna dimana kedua kue ini dipersembahkan yaitu pada Hari Suci Galungan. Kata Galungan memiliki arti yang sama dengan dungulan, kadungulan dalam teks Bahasa kawi berarti pengerusakan dan penghancuran.

Jadi jika kita telisik dari arti ketiga kata ini, yaitu dungulan adanya persembahan dodol dan satuh, maka akan tersirat makna yang sangat mencengangkan yaitu hari suci yang mana pada hari itu kita seolah berupaya “menghancurkan benda atau sifat dan prilaku yang penuh dengan kepalsuan atau ketidakbenaran selamanya” dungulan, dodol, satuh. Apakah makna selama ini tentang Galungan menjadi hilang? Dengan lumbrahnya galungan sebagai hari kemenangan Dharma melawan Adharma?

Tentu tidak, kemenangan itu sesungguhnya akan ada Ketika kita mampu menghancurkan kepalsuan (maya) ini selamanya. Selama maya masih ada dalam diri kita, maka kita selalu mengejar segala yang indria kita harapkan. Terisinya indria bukankah kita akan semakin maya? Semakin tidak baik? Maka dengan kesadaran makna sarana ritual berupa dodol dan satuh ini, maka kita sesungguhnya berupaya untuk menghilangkan segala ketidak benaran untuk menuju yang benar dan penuh pencerahan, dan itulah Galungan.

Bercermin pada teks Lontar Sundarigama tentang Galungan bisa kita lihat sebagai berikut : Bu,Ka, Galungan, nga, patitis ikang adnyana sandi,galang apadang maryakena sarwa byaparaning idep… (L.Sundarigama). Artinya: Buda Kaliwon Galungan adalah (hari suci) untuk memusatkan pikiran sehingga menjadi terang benderang dengan cara menghentikan  segala kegelisahan pikiran.

Dalam keseharian kita sangat erat kaitannya dengan kepalsuan atau maya. Segala indria kita berkejaran meminta untuk dituruti dan pada akhirnya kita terjaduh pada lubang kegelapan atau avidya. Keseharian kita sesungguhnya adalah saat dimana peperangan terus berkecambuk antara kebenaran (dharma) dan ketidakbenaran (Adharma). Keseharian yang penuh peperangan inilah kepalsuan kita. Kita dibutakan oleh keinginan yang terus berkeinginan untuk diisi. Maka merayakan Hari Suci Galungan sesungguhnya adalah hari dimana kita diingatkan untuk menghancurkan segala kepalsuan dan ketidakbenaran selamanya dengan memohon untuk galang apadang.

Pemusatan fikiran untuk mencapai kemenangan Dharma juga bisa kita lihat dari pemaknaan rangkaian hari suci ini. Pertama adalah Sugihan Jawa jatuh pada hari Weraspati Wage Sungsang. Mempersembahkan sesajen kepada Sang Hyang Widhi. Tujuannya untuk penyucian bhuwana agung (alam semesta [badan kasar manusia =stula sarira]) dengan upacara marerebu di sanggah/mrajan. Mohon tirta pabresihan dan sebagainya. Kedua adalah Sugihan Bali jatuh pada hari Sukra Keliwon Sungsang. Hari penyucian bhuwana alit (mikrokosmos [badan halus manusia=suksma sarira]).

Upakara menurut kemampuan dan dilanjutkan dengan mohon tirta panglukatan. Dilanjutkan dengan hari Panyekeban. Jatuh pada hari radite Pahing Dungulan. nyekeb bahan upacara. “Anyekung jnana sudha nirmala”: mulai melakukan tapa: mengendalikan pikiran sehinga tetap tenang, tidak tergoda oleh sifat-sifat buruk. Karena saat ini diyakini mulai turunnya Sang Hyang Tiga Wisesa, yaitu (1) Sang Bhuta Dungulan (sifat destruktif, suka merusak). Selanjutnya adalah hari Panyajahan (panyajaan). Jatuh pada hari soma Pon Dungulan. Jajah (nyajaang raga) yaitu belakukan brata: janji diri dengan cara berusaha kuat untuk menaklukkan atau serius berusaha untuk melaksanakan (memperjuangkan) kebajikan.

Pada hari ini diyakini turunya sang Bhuta Galungan untuk menguasai diri kita dan menggoda tapa dan brata umat. Selanjutnya adalah hari Panampahan. Jatuh pada hari Anggara Wage Dungulan. Hari untuk menyembelih binatang kurban. Pada hari ini konon turun Sang Kala Amengkurat (nafsu kuasa, sok kuasa, suka bertengkar). Jadi sifat inilah yang mesti di-tampah (dikendalikan). Dilaksanakan upacara bhuta yadnya (byakala) dipekarangan rumah, lebuh, masang penjor dll. Barulah yang terakhir yaitu  Galungan. Jatuh pada hari Buda Kliwon Dungulan. Hari pawedalan jagat. Hari pemusatan pikiran, bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi. Hari melaksanakan Yoga untuk pencerahan dan galang apadang.

Dodol satuh pada hari suci galungan atau dungulan memiliki pesan yang sangat dalam, dimana kemenangan bisa diperoleh jika kita mampu menghancurkan ketidakbenaran atau kepalsuan menuju pada pencerahan. Jadi jangan lupa menggunakan dodol dan satuh untuk persembahan sebagai symbol permohonan pencerahan di hari kemenangan. Selamat hari suci Galungan. Kemenangan dengan menghancurkan kepalsuan untuk pencerahan dan penuh anugerah kebaikan. [T]

Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih
Menyambut Galungan | Bangkitkan Cahaya Dharma dalam Hati
Memaknai Galungan
Tags: hari raya galunganhindutradisi baliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Klaim Nomor Kemenangan dan Yel-yel Penuh Gairah – Cerita Pengundian Nomor Urut Paslon Pilkada Buleleng

Next Post

GALUNGAN BELANDA DI BESAKIH

IK Satria

IK Satria

Penyuluh Agama Kementerian Agama Buleleng

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

GALUNGAN BELANDA DI BESAKIH

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co