6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sumbangsih Rempah-Rempah dalam Mengaya Metafora Bahasa Bali

Komang Berata by Komang Berata
September 4, 2024
in Esai
Sumbangsih Rempah-Rempah dalam Mengaya Metafora Bahasa Bali
  • Artikel ini adalah hasil dari seminar “Khazanah Rempah dalam Lontar”, program khusus Singaraja Literary Festival 2024, yang didukung Direktorat PPK (Pengembangan & Pemanfaatan Kebudayaan), Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, 23-25 Agustus 2024.

TIDAK cukup dengan kata lugas, kata kiasan dibutuhkan untuk memberi warna agar tidak terkesan monoton dalam berinteraksi. Terasa belum lengkap bertutur kata tanpa satu patah metafora, seperti itu kiranya.

Memenuhi kebutuhan bertutur kata yang berwarna, khazanah rempah-rempah turut serta mengaya metafora dalam bahasa Bali seperti cara (bojog) masisig jae, jrijin batis cara impangan jae, makunyit di alas, mabawang putih, kenyem mangle, dakin isen, kerik tingkih ketog semprong aud kelor, cara semal mongpong tingkih, aklamaran bawang, dan apakpakan base.

Cita rasa jahe itu pedas. Penutur bahasa Bali mengatakannya pengah. Meski sama-sama pengah, pengah jahe tidak sekeras pengah tabya bun (cabai hutan). Meski pedas, bisa jadi penutur bahasa Bali memilih pedas yang tidak keras sehingga muncul ungkapan cara masisig jae.

Seseorang dikatakan cara masisig jae ketika tampak kebingungan dalam menyikapi atau menanggapi sesuatu. Lebih sarkastis, cara masisig jae diungkapkan dengan cara bojog masisig jae (kera bersusur dengan umbi jahe).

Belum beranjak dari jahe, ada juga ungkapan jrijin batis cara impangan jae (jari kaki seperti rimpang umbi jahe) untuk menggambarkan pertumbuhan jari-jari kaki yang tidak lurus, akan tetapi tertekuk ke samping kiri atau kanan.

Kaki dengan jari seperti rimpang umbi jahe ini cenderung membutuhkan alas kaki yang lebih besar dari pada kaki dengan jari-jari yang tumbuh lurus. Seperti pedasnya jahe dengan pedasnya tabya bun, lebih tidak teratur pertumbuhan rimpang umbi isen (lengkuas) daripada rimpang umbi jahe sehingga ungkapan yang dipilih adalah rimpang umbi jahe, tidak rimpang umbi lengkuas.

Entah di hutan tidak ditemukan tumbuhan kunyit. Yang ditemukan hanya tumbuhan yang menyerupai kunyit, yaitu temu tis (temu lawak). Entah hal ini yang menjadi pemicu munculnya ungkapan makunyit di alas (bertemu). Entah. Saya belum pernah memasuki kawasan hutan. Hanya saja, temu tis juga tumbuh di ladang.

Dipercaya oleh tetua kami bahwa kunyit yang dipanen pada hari kajeng kliwon, dengan segera berubah menjadi temu tis pada sisa lingsehan (rumpun) kunyit yang tidak dipanen, meski itu mulanya kunyit warangan (umbi kunyit berwarna jingga pekat). Meski juga tidak dipanen bertepatan hari kajeng kliwon, tetua kami percaya bahwa lama-kelamaan warna umbi kunyit kian punah (pudar), menjadi kuning terang, walau tidak sampai menjadi temu tis.

Kemudian ada ungkapan mabawang putih. Bawang putih itu kasuna. Pengucapan kasuna seperti seirama dengan pisuna (fitnah). Bisa jadi ada hubungan timbulnya ungkapan mabawang putih dengan dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih, dalam dongeng Bali dituturkan Ni Bawang teken Ni Kasuna.

Bawang Merah dan Bawang Putih berbeda dengan Ni Bawang teken Ni Kasuna, dalam hal penokohan. Dalam dongeng berbahasa Indonesia, Bawang Merah itu tokoh antagonis, sedangkan Bawang putih itu tokoh protagonis. Berbeda dengan dongeng dalam bahasa Bali, Ni Bawang (Bawang Merah) itu protagonis, sedangkan Ni Kasuna (Bawang Putih) itu antagonis. Terjadinya perbedaan penokohan itu bisa jadi untuk menjaga irama kata kasuna yang lebih dekat dengan pisuna, sementara bawang lebih dekat dengan tawang (tahu).

Selain rimpang umbi jahe dan kunyit yang mengaya ungkapan dalam bahasa Bali, ada ungkapan kenyem mangle. Umbi bangle itu aromanya sangat menyengat. Orang yang tidak terbiasa dengan aroma menyengat, bisa jadi muntah-muntah karenanya.

Meski aromanya tidak mengenakkan, umbi bangle sangat dibutuhkan oleh mereka yang membuat satai jenis calon dan mereka yang memasak daging. Bagi tetua kami, sate calon (untuk kelengkapan sesaji pacaruan atau sesaji Hari Raya Kuningan) mesti, tidak boleh tidak, berisi umbi bangle. Satai tanpa daging ini yang tanpa umbi bangle bukanlah sate calon, akan tetapi sate nyuh (satai kelapa).

Sementara ketika memasak daging dibutuhkan umbi bangle untuk mengurangi aroma amis daging. Sebelum diolah, selama beberapa saat daging direndam air yang berisi umbi bangle yang digeprek atau diiris tipis. Umbi bangle dibutuhkan melengkapi bumbu ketika memasak ikan laut. Ikan laut membutuhkan bumbu level tinggi untuk mendapatkan cita rasa sesuai selera. Tanpa umbi bangle, bumbu ikan laut masuk kategori bumbu level lumah (rendah).

Untuk ungkapan kenyem mangle bukan diambil dari aroma atau bentuk rimpang umbi bangle. Cenderung warna umbi bangle yang menjadi penyebab. Penutur bahasa Bali mengatakan bahwa warna umbi bangle itu putih masawang kuning, sekadar kuning. Kenyem mangle adalah senyum yang dipaksakan adanya. Tidak senyum manis. Tidak juga senyum sinis. Lebih pada senyum kecewa.

Kalau yang ini adalah umpatan atau makian. Meski umpatan atau makian, dakin isen tidak jorok terasa. Daki itu kotor, isen itu umbi lengkuas. Umbi lengkuas yang kotor tidaklah jorok. Jika proses membersihkan kotoran yang melekat pada umbi rimpang menjadi penyebab munculnya ungkapan dakin isen, saya merasakan lebih sulit membersihkan kotoran pada rimpang umbi kunyit dan bangle daripada umbi lengkuas.

Rimpang umbi kunyit mudah patah. Rimpang umbi bangle banyak akar dan aromanya menyengat. Akar dan tanah yang melekat pada rimpang umbi lengkuas yang tidak mudah dipatahkan itu lebih mudah dibersihkan. Memang cara memanen umbi lengkuas jauh lebih sulit dibandingkan dengan memanen umbi kunyit atau bangle. Entah hal tersebut menyebabkan munculnya dakin isen itu.

Munculnya ungkapan kerik tingkih ketog semprong aud kelor pada kerik tingkih masih belum saya temukan asal-usulnya. Mengeluarkan daging buah kemiri dari kulit sekeras batok kelapa itu tidak dengan cara mengikis atau mengerik, akan tetapi dengan cara dipecahkan.

Ada dua cara memecahkan buah kemiri yaitu dengan memukulnya atau dengan cara membenturkan setelah dibungkus kain. Dengan ngetogang semprong atau ngetogang bungbung, sangat mudah keluar sesuatu yang ada di dalamnya. Demikian juga ngaud don kelor itu sangat mudah. Ranting kelor yang terpisah dari pohonnya, sangat mudah rontok daun-daunnya.

Bisa jadi sebuah ironi yang menjadi penyebab munculnya ungkapan cara semal mongpong tingkih. Tupai makan buah yang masih menggelantung di pohonnya adalah biasa seperti makan buah pepaya, rambutan, mangga, bahkan buah kelapa yang batoknya keras. Tupai makan buah kemiri, belum pernah saya temukan. Kalau kecilnya ukuran buah kemiri yang menjadi penyebab munculnya ungkapan ini, buah rambutan juga berukuran kecil.

Hanya saja buah rambutan itu kulitnya lunak, sedangkan buah kemiri kulit kerasnya sekeras batok kelapa. Dan saya belum tahu pasti ungkapan cara semal mongpong tingkih ditujukan kepada siapa atau dalam keadaan bagaimana. Ungkapan yang disampaikan seperti mengejek itu belum meyakinkan saya.

Ada juga ungkapan aklamaran bawang. Satu lapis umbi bawang merah yang masih mentah memang cukup tebal, akan tetapi satu lapis bawang merah yang kering sangatlah tipis. Meski setipis lapisan bawang merah kering, satu siung bawang putih yang hanya dibungkus satu lapis kulit yang sangat tipis tidak dipilih menjadi semacam padanan ungkapan.

Ungkapan aklamaran bawang (setipis satu lapis bawang merah) ini dituturkan untuk menggambarkan sesuatu yang berbeda tipis seperti swarga nerakane mabelat aklamaran bawang (sorga dan neraka berjarak setipis kulit bawang merah kering), idup matine mabelat aklamaran bawang (untuk mengungkapkan tentang hidup dan mati), dan seger sakite mabelat aklamaran bawang (untuk mengungkapkan tentang sehat dan sakit). Ungkapan aklamaran bawang bukanlah ungkapan pesimis, akan tetapi untuk mengungkapkan hidup itu seperti perputaran roda.

Sebelum saya tik kata penutup tulisan ini, saya manfaatkan kesempatan istirahat saya. Ditekankan oleh tetua kami agar tidak berlama-lama kami beristirahat. Jika tubuh kami basah kuyup oleh keringat, rentang waktu istirahat kami adalah hanhya untuk ngiyatang peluh (tidak ada lagi keringat di tubuh kami).

Jika letih kami tidak disertai dengan keringat di tubuh, rentang waktu istirahat kami hanya apakpakan base. Rentang waktu yang dibutuhkan seseorang mengunyah sirih sampai sirih menjadi lembut, itu rentang waktu terlama untuk istirahat seseorang.[T]

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Rempah Paling Queer: Sebuah Pertanyaan yang Masih Menggantung
Menebak Aroma Sihir Janda Jirah
Merayakan Khazanah Rempah dalam Lontar Bali, Sesi Khusus Singaraja Literary Festival 2024
Menggali Khazanah Rempah dalam Lontar Bali: Usadha, Gandha, dan Boga
Tags: jalur rempahrempahSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rempah Paling Cong!

Next Post

Tentang Petani Cengkeh, Berkah dan Masalah,  serta Surga dan Neraka

Komang Berata

Komang Berata

Pemerhati Bahasa Bali, tinggal di Karangasem

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Tentang Petani Cengkeh, Berkah dan Masalah,  serta Surga dan Neraka

Tentang Petani Cengkeh, Berkah dan Masalah,  serta Surga dan Neraka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co