24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aneka Rasa di Tanah Kaldera

I Gede Eka Putra Adnyana by I Gede Eka Putra Adnyana
August 14, 2024
in Esai
Aneka Rasa di Tanah Kaldera

Pengembala sapi Songan tahun 1980 | Sumber foto Jro Laksamana

MUSIM terus berganti, mengantarkan hujan dan kemarau panjang meninggalkan catatan sejarah, kenangan, harapan, dan masa depan di tanah purba kaldera. Seekor kutilang kadang gemetar pada lembah kaldera, menyelipkan tubuhnya di sebuah lubang bukit, menghindar dari kabut dingin sasih karo dan sasih ketiga.

Ini lembah di tepi Danau Batur, di bawah Gunung Batur, di Kintamani, Bangli. Lembah ini paling dalam, di bumi tanpa laut. di perut bumi Kaldera. Bumi kaldera purba, hingga ketika membuat sastrawan besar Sutan Takdir Alisjahbana (STA) kesemsem dan bermukim di pinggiran danau. Menjadikan kaldera tempat kontemplasi, tempat wisata, seni, dan berkembangnya budaya. Ketika itu, antara tahun 1970-1980-an, STA, menjadi cikal bakal pariwisata di daerah ini, bermukim sembari membangun balai seni, perpustakaan, dan kotij, yang hingga kini masih tersisa.

Ketika itu, STA adalah ikon bagi kaldera, menjadi magnet wisata. Acap kali tempat ini menjadi arena festival, sastra, pertunjukkan seni, baik lokal maupun dunia. Tamu tamu undangan, sembari melepas penat, mereka menikmati literasi alam, festival, mencipta sastra, hingga sampai pada tempat kontemplasi bagi seniman, sastrawan, dan pariwisata dunia.

Lantas kini, waktu yang telah menyeret segalanya. Kerinduan dan dongeng-dongeng STA, sesungguhnya masih meninggalkan sejarah manis di sini. Namun, pariwisata kini telah mengubah paradigma STA. Tidak lagi pariwisata yang berbasis seni, berbasis sastra, berbasis budaya. Tapi ikon tempat ini kini berbasis dolar, berbasis rupiah, berselimut glamor.

Sastra seni, dan pariwisata ala STA, memang berbeda dari pariwisata berbasis dolar. Sastra identik dengan dunia sunyi, imajinasi, perenungan, dan tak terlalu nafsu pada dunia glamor. Sedang kini, dolar di sini telah runtuh, bak hujan yg memupuk rumput gaya milenial, gaya imaji yang jauh menembus dunia antah berantah.

Kini jejak STA di kaldera-Bali, hanya seolah mejadi cerita masa lalu. Pohon beringin di belakang balai seni menjadi saksi bisu sepanjang sejarah bahwa di sini pernah hidup sastrawan hebat, orang dahsyat, yang peran dan dedikasinya tak tertandingi dan tak tergantikan. Kini nama STA di sini, hanya papan nama yang sunyi di sudut jalan.

Zaman terus mengalir, pasca STA, memasuki tahun 2020-an, kaldera bak gadis beranjak dewasa. Kaldera sudah pandai bersolek, memoles diri, hingga banyak orang tertarik, ingin memiliki karena kemolekannya. Terlebih lagi, di zaman revolusi digital 4.0 menuju 5.0 ini, semuanya menjadi serba cepat. Berubah dari lugu, hedonis, memendam harapan dan membangkitkan sejuta peluang. Kaldera tak lagi sekadar soal batu rejeng, pasir, larva, atau gundukan bukit yang berdebu. Tanah kaldera bermetamorfose menjadi tempat yang sangat terbuka, menjadi harapan manusia dari segala penjuru. Yang berharap dan menanamkan benih-benih investasi.

Kaldera bukan semata menjadi tempat pembuang penat, tempat selfi, tempat penikmat libido, tempat bercumbu atau kencan, atau sekadar penghilang stres. Bukan saja tempat pencuci mata dan pencinta asmara, tetapi Kaldera  juga menjadi tempat suci memuja Dewi Danu, tempat para dewa bersemedi, tempat bersemainya pendidikan, tempat petani ikan membudidayakan “jarkapung”, para konglomerat, pelaku pariwisata, tempat healing, tempat berendam dengan air panas alami, dan tempat bagi manusia-manusia kreatif.

Di tanah kaldera mereka menghilangkan kegundahan, tatkala liburan mencari inspirasi sambil mimpi “basah”, tak saja bermain ilusi, menguatkan mimpi-mimpi, segala keluh kesah dilebur di tempat ini.

Tempat ini menjadi mahal, menjadi rebutan, menjadi incaran, menjadi target, dan berpengaruh kuat pada kehidupan setempat, menjadi denyut perekonomian warga setempat dan warga pendatang. Mereka adalah para pedagang, pebisnis, para Mas-Mas, emak-emak, investor, pedagang martabak, pedagang gorengan, mini market, pedagang batu rejeng, pengusaha galian, pengusaha bawang, pedagang bakso, pedagang mie ayam, mujair nyat-nyat, seniman, komunitas spiritual, pelaku wisata, orang-orang pencari nikmat baik ofline maupun online.

Kaldera menjadi tempat yang begitu nikmat bagi para pebisnis itu untuk membuat kesepakatan. Menjadi ranah bagi pelaku pariwisata untuk bercumbu dan bertukar invest dengan bahagia. Di kaldera bertemu arus suku lintas negara/benua, dari Eropa, Amerika, Australia, Jepang, dan Cina, merajut mimpi indah, bertualang keliling kaldera. Seakan tempat ini kini begitu nikmat dinikmati usai tidur lelap.

Di tengah aneka rasa itu, di tengah kenikmatan tanah kaldera, di tengah rejeki melimpah tanah kaldera, apa yang bisa diwariskan bagi generasi kaldera? Selain rasa segala hedonis, masihkah terbersit rasa “cemer”, rasa kontaminasi, dan rasa “carub”. Atau yang tersisa hanya rasa campah yang melimpah?

 Adakah tersisa cerita “Datonta/kisah Ratu Pancering jagat”? Bahwa perjalanan hidup ini sarat godaan. Tentu ketika kalah oleh godaan, bersiaplah pada sebuah kutukan. Walau kutukan itu tidak secara eksplisit dan serta merta. Tentu di antara kita tak ingin menjadi manusia yang terkutuk karena terlalu “mabuk” pada kenikmatan. Terkutuk karena telah lupa pada esensi hidup. Lupa karena kenikmatan terlalu melimpah di tanah kaldera hingga “menggadaikan” hidup. Lupa karena tanah ini begitu subur untuk pemuas diri. Atau entah lupa karena apa lagi? [T]

BACA artikel lain tentang BATUR atau KINTAMANI atau artikel lain dari penulis I GEDE EKA PUTRA ADNYANA

Tradisi “Madunungan” di Pura Jati, Batur, dan Upaya Berulang-ulang Merawat Ingatan
Harapan atau Kecemasan? | Geliat Pariwisata di Wilayah Kaldera, Kintamani
Selamatkan Pendidikan Anak-Anak Desa Terpencil di Bangli
Tags: BaturDanau BaturGunung Baturkaldera kintamaniKintamaniSutan Takdir Alisyahbana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tulang, Tubuh, dan Puisi dalam Ruang-Waktu | Dari Pameran Seni Instalasi Sampi Duwe di Desa Tambakan

Next Post

24 Perupa dalam Tema “Karma Wong Kawya” di Pameran Bali Megarupa 2024

I Gede Eka Putra Adnyana

I Gede Eka Putra Adnyana

Ceo_Kumunitas Tanpa Laut,Pengajar, Penulis, Pekerja freelance

Related Posts

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails
Next Post
24 Perupa dalam Tema “Karma Wong Kawya” di Pameran Bali Megarupa 2024

24 Perupa dalam Tema "Karma Wong Kawya" di Pameran Bali Megarupa 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co