17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Adat Dunia Balas Berbalas, Adat Hidup Tolong Menolong’ dalam konteks Geopolitik Kontemporer

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
July 22, 2024
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

PERIBAHASA “Adat Dunia Balas Berbalas, Adat Hidup Tolong Menolong” seolah menjadi cermin yang memantulkan kompleksitas hubungan internasional saat ini. Konsep ini mewakili interaksi antar negara yang kerap kali dilatari oleh prinsip timbal balik, baik dalam bentuk kerjasama maupun konfrontasi.

Dalam arena geopolitik global, kita mendapati bagaimana prinsip “balas berbalas” menjadi pola dominan, terutama dalam situasi konflik atau persaingan. Meski demikian, “tolong menolong” tetap penting dalam diplomasi dan upaya menjaga stabilitas global. Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai kasus, mulai dari krisis Rusia-Ukraina hingga ketegangan di Laut China Selatan, menunjukkan bahwa kearifan lokal ini memiliki resonansi universal dalam hubungan internasional.

Konsep “balas berbalas” dalam hubungan internasional seringkali dipahami melalui lensa teori Realisme, yang menekankan pada kepentingan nasional dan keseimbangan kekuatan. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa negara akan merespons tindakan negara lain dengan cara yang setara atau lebih keras untuk mempertahankan posisi dan kepentingannya.

Teori Permainan (Game Theory) dalam hubungan internasional juga menjelaskan bagaimana negara-negara berinteraksi dalam situasi yang membutuhkan strategi. Hasil akhirnya bergantung pada tindakan semua pihak yang terlibat.

Manifestasi ‘Balas Berbalas’

Perang Rusia-Ukraina merupakan contoh kontemporer yang jelas dari dinamika “balas berbalas”. Invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 memicu respons keras dari komunitas internasional, terutama negara-negara Barat. Sebagai balasan atas tindakan Rusia, Amerika Serikat dan sekutunya memberlakukan serangkaian sanksi ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sanksi-sanksi ini mencakup pembekuan aset, larangan transaksi dengan bank-bank Rusia utama, dan pembatasan ekspor teknologi.

Data dari DetikNews (03/2024) menunjukkan bahwa hingga Maret 2024, lebih dari 16.500 sanksi telah dijatuhkan terhadap Rusia, menjadikannya negara paling banyak terkena sanksi di dunia. Sebagai respons, Rusia membalas dengan membatasi ekspor gas ke Eropa dan meningkatkan kerjasama ekonomi dengan negara-negara seperti China dan India, mengilustrasikan bagaimana pola “balas berbalas” dapat mengubah lanskap geopolitik global.

Sementara itu, ketegangan di Laut China Selatan menyajikan contoh lain dari dinamika “balas berbalas” yang lebih kompleks dan multi-aktor. Klaim tumpang tindih atas wilayah maritim antara China dan beberapa negara Asia Tenggara telah menciptakan siklus aksi-reaksi yang terus-menerus. China, bahkan, telah membangun dan memilitarisasi pulau-pulau buatan di wilayah yang disengketakan.

Laporan Asia Maritime Transparency Initiative menunjukkan bahwa China telah membangun fasilitas militer (termasuk lapangan udara dan pos terdepan lainnya) setidaknya di tujuh fitur di Kepulauan Spratly. Sebagai respons, Amerika Serikat dan sekutunya telah meningkatkan operasi kebebasan navigasi (Freedom of Navigation Operations, FONOP) di wilayah tersebut yang menggambarkan eskalasi “balas berbalas” dalam bentuk demonstrasi kekuatan militer.

Perbandingan kedua kasus ini mengungkapkan pola “balas berbalas” yang berbeda namun saling terkait dalam dinamika geopolitik global. Di Ukraina, kita melihat konfrontasi langsung yang melibatkan tindakan militer dan sanksi ekonomi, sementara di Laut China Selatan, konflik lebih banyak bermanifestasi dalam bentuk postur militer dan klaim teritorial.

Namun, kedua kasus ini sama-sama menunjukkan bagaimana prinsip “balas berbalas” dapat mengakibatkan eskalasi ketegangan dan mempersulit resolusi konflik. Analisis dari International Crisis Group menunjukkan bahwa dalam kedua kasus, siklus aksi-reaksi telah menciptakan lingkungan yang semakin tidak stabil dan meningkatkan risiko konflik yang lebih luas.

Mencari Keseimbangan

Meski “balas berbalas” sering dominan, “tolong menolong” tetap berperan dalam menjaga stabilitas global. Pada krisis Ukraina, PBB terus mengupayakan resolusi damai, dengan dukungan mayoritas negara anggota mengecam invasi Rusia. Di Laut China Selatan, ASEAN berusaha menjadi mediator melalui negosiasi Code of Conduct. Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan bahwa dalam konflik, komunitas internasional masih berupaya menerapkan prinsip “tolong menolong” untuk kepentingan bersama.

Dinamika “balas berbalas” dan “tolong menolong” dalam konflik-konflik ini memiliki implikasi signifikan bagi tatanan dunia. Kita menyaksikan pergeseran keseimbangan kekuatan global, dengan munculnya blok-blok baru dan realignment strategis. Sebagai contoh, laporan dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengeluaran militer global, mencapai USD 2,24 triliun pada 2022, dengan AS, China, dan Rusia sebagai tiga negara teratas.

Tren ini mengindikasikan bahwa prinsip “balas berbalas” sedang mendorong perlombaan senjata baru. Di sisi lain, krisis-krisis ini juga telah menguji efektivitas institusi multilateral seperti PBB dan ASEAN, menunjukkan perlunya reformasi dan penguatan mekanisme kerjasama internasional untuk lebih efektif dalam menangani konflik modern.

Refleksi atas relevansi peribahasa “Adat Dunia Balas Berbalas, Adat Hidup Tolong Menolong” dalam konteks geopolitik modern mengungkapkan baik kekuatan maupun keterbatasannya. Di satu sisi, peribahasa ini dengan akurat menangkap esensi interaksi antar negara yang sering didasari oleh prinsip timbal balik. Namun, penerapan yang terlalu kaku dari prinsip “balas berbalas” dapat mengakibatkan eskalasi konflik yang berbahaya.

 Sebuah studi dari Harvard Belfer Center menunjukkan bahwa dalam 31% kasus krisis internasional sejak 1918 terjadi karena salah perhitungan atau reaksi berlebihan terhadap tindakan pihak lawan. Ini menunjukkan perlunya keseimbangan yang lebih baik antara “balas berbalas” dan “tolong menolong” dalam diplomasi modern.

Oleh sebab itu, kompleksitas geopolitik saat ini menuntut penerapan prinsip “balas berbalas” dan “tolong menolong” secara lebih bijak. Pembuat kebijakan perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang tindakan mereka dan mencari peluang kerjasama bahkan saat konflik.

Bagi akademisi dan peneliti, ada kebutuhan untuk mengembangkan kerangka teoretis yang lebih komprehensif yang dapat menjelaskan interaksi kompleks antara kompetisi dan kerjasama dalam hubungan internasional. Sementara itu, masyarakat umum perlu memahami bahwa dinamika global tidak selalu hitam-putih; solusi konflik sering membutuhkan keseimbangan antara ketegasan dan kompromi. [T]

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

Refleksi di Hari Media Sosial Nasional
“Putin-Kim Summit”: Manuver Geopolitik Rusia Mengimbangi AS
Hijab vs Identitas Nasional: Pertaruhan Besar Tajikistan
Dari Retorika ke Peluru: Warisan Kekerasan Politik Amerika dari Lincoln hingga Trump
Tags: politik luar negeri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Anak Kecil” Bicara Eksistensi: Proses Kreatif Yuni Lestari

Next Post

Inveigh Rilis Debut Single “Nyala” untuk DSP: Menjaga Api Semangat di Tengah Krisis Paruh Baya

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails
Next Post
Inveigh Rilis Debut Single “Nyala” untuk DSP: Menjaga Api Semangat di Tengah Krisis Paruh Baya

Inveigh Rilis Debut Single "Nyala" untuk DSP: Menjaga Api Semangat di Tengah Krisis Paruh Baya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co