23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pikiran Salah terhadap Depresi

Krisna Aji by Krisna Aji
June 9, 2024
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

SIAPA yang tidak tahu istilah depresi? Dengan maraknya media sosial yang membahas masalah mental, depresi adalah label yang mudah muncul saat melihat orang lain mengalami kesedihan. Atau, saat diri sendiri sedang tertekan akibat mengalami masalah besar. Padahal, gejala perasaan sedih saja tidak cukup untuk menegakkan diagnosa depresi.

Perlu tambahan gejala mayor lain seperti mudah kelelahan dan hilangnya semangat serta kegembiraan dalam menjalani keseharian. Belum lagi, tambahan gejala minor seperti insomnia, nafsu makan menurun, konsentrasi menurun, percaya diri yang menurun, rasa bersalah serta tidak berguna, pandangan akan masa depan yang suram, dan ide untuk melukai diri—bahkan mengakhiri hidup.

Dari berbagai gejala tersebut, depresi pun terbagi menjadi tiga tingkatan—menurut ICD 11—menjadi depresi ringan, sedang, dan berat berdasarkan banyaknya gejala mayor dan minor yang dialami oleh seseorang.

Dari berbagai gejala yang ada, terdapat benang merah di mana seseorang yang mengalami depresi memiliki kecenderungan berkesimpulan negatif terhadap diri sendiri, dunia—atau lingkungan, dan masa depan. Tiga kesimpulan negatif ini pertama kali disodorkan oleh Aaron Beck pada tahun 1967 dan dikenal dengan Trias Kognitif Beck.

Walaupun tampak merugikan, kesimpulan negatif awalnya dibentuk manusia untuk melindungi diri dari ancaman yang mungkin terjadi. Masalahnya, senjata yang awalnya dipakai untuk bertahan, berakhir dengan memakan tuannya sendiri.

Menyimpulkan sesuatu merupakan proses evolusi untuk bertahan hidup. Jika berkaca dari proses tersebut, pada dasarnya manusia memerlukan waktu yang cukup untuk berpikir, menyimpulkan, dan akhirnya memutuskan sesuatu. Saat waktu yang tersedia cukup banyak, berpikir dengan tenang dan menyimpulkan sesuatu dengan bijak dapat dilakukan.

Tetapi, jika kondisi semakin darurat, waktu yang tersedia pun akan memendek dan muncul kesimpulan otomatis yang menggantikan pikiran rasional, yang sering kali didasarkan pada pola-pola kesimpulan yang pernah dilakukan sebelumnya. Misalkan saja, seseorang akan langsung berlari saat dikejar anjing tanpa berpikir panjang.

Pada konteks tersebut, menghabiskan waktu untuk berpikir sebelum keputusan lari diambil akan membuat anjing dapat mengejar dan menggigit. Keputusan untuk lari pun didasarkan pada pola lama yang pernah dilakukan. Dalam psikoterapi kognitif, pola ini sering disebut dengan schema.

Kemungkinan munculnya schema akan meningkat saat kondisi semakin mengancam—dan mengesankan makin sedikitnya waktu yang dimiliki. Pola kesimpulanyang muncul saat kondisi mengancam sebenarnya adalah mode bertahan hidup dengan cara mengidentifikasi kemungkinan buruk yang akan terjadi dengan cepat—walau kurang presisi.

Awalnya pola ini bersifat positif karena membuat seseorang berada dalam posisi berjaga-jaga. Tetapi, pada kebanyakan kasus yang berujung pada depresi, pola iniberubah menjadi sangat negatif: seolah-olah semuanya berakhir buruk dan tanpa harapan.

Pada Trias Kognitif Beck yang terjadi di depresi, kesimpulan negatif mengenai diri yang bersalah dan tidak berdaya adalah bentukan dari kesalahan berpikir yang bernama personalisasi. Personalisasi adalah sikap untuk menaruh beban tanggung jawab akan segala nasib sial di diri sendiri walaupun segala nasib sial tersebut tidak sepenuhnya berada di bawah kontrol diri.

Misalkan saja, seorang anak yang merasa bersalah akibat perceraian orang tuanya. Anak tersebut menganggap bahwa jika ia bisa menjadi penengah yang baik bagi perselisihan orang tua, perceraian tidak mungkin terjadi.

Variabel penyebab perceraian tidak sesederhana itu. Penyebab perceraian yang ditumpukan ke anak merupakan kesalahan logika yang dipaksakan agar sesuai dengan kebutuhan personalisasi yang menyalahkan diri sendiri.

Selain perasaan diri yang bersalah, dua variabel lain dari Trias Kognitif Beck juga sering muncul pada depresi, yaitu pandangan akan dunia dan masa depan yang suram. Kedua pandangan salah tersebut dapat berakar pada berbagai kesalahan berpikir.

Dari banyaknya kesalahan berpikir yang mendasari, beberapa di antaranya adalah abstraksi selektif, magnifikasi, generalisasi yang berlebihan, dan arbitrary inference.

Abstraksi selektif adalah menyimpulkan sesuatu dengan hanya mengambil sedikit fakta secara selektif. Padahal, ada banyak fakta lain di luar fakta yang dipilih. Cara ini menjadi bermasalah akibat dari banyaknya fakta-fakta positif, hanya fakta negatif yang diambil sehingga menghasilkan kesimpulan akhir yang negatif.

Contoh dari kasus ini adalah seseorang wanita single parent yang sangat sibuk di tempat kerja sehingga tidak bisa merayakan ulang tahun anaknya. Wanita tersebut menjadi sangat bersalah dan beranggapan bahwa dirinya bukanlah ibu yang baik bagi tumbuh kembang anaknya sehingga masa depan yang suram bagi anak adalah sebuah kepastian.

Kesimpulan tersebut berakhir negatif akibat fakta yang dipakai hanyalah satu kejadian negatif tanpa peduli berbagai fakta positif lain yang dapat membuat kesimpulan akhir menjadi berkebalikan, seperti rela bekerja siang malam agar anak dapat hidup layak. Pada contoh kasus ini, jika kembali pada Trias Kognitif Beck, selain pandangan akan masa depan yang suram, muncul juga pandangan negatif terhadap diri.

Terlalu memperbesar sebuah kejadian (magnifikasi) juga sering terjadi pada depresi. Contoh dari tindakan ini adalah menganggap bahwa segalanya sudah berakhir saat seseorang baru saja dipecat dari tempatnya bekerja. Padahal, diberhentikannya seseorang dari tempat kerja bukanlah akhir dari dunia.

Lagi pula, dunia tidak hanya berputar sebatas pekerjaan semata. Terlalu memperbesar masalah akhirnya membuat kesimpulan akan dunia yang sudah berakhir dan masa depan yang suram pun muncul.

Selain magnifikasi, generalisasi yang berlebihan terhadap sebuah kejadian sering terjadi pada berbagai kasus depresi yang saya tangani di praktik klinis. Generalisasi adalah menganggap satu kejadian pasti mewakili semua kejadian.

Contoh dari cara berpikir ini adalah seorang laki-laki yang menganggap bahwa semua orang di lingkungan kerja tidak menyukai dirinya akibat pernah ada satu orang pegawai yang secara terang-terangan mengatakan tidak menyukai laki-laki tersebut.

Kesimpulan ini menjadi tidak tepat karena sikap satu pegawai yang tidak menyukai laki-laki tersebut tidak bisa mewakili sikap semua pegawai. Kesalahan logika ini pada akhirnya memunculkan pandangan negatif dan pesimisme terhadap lingkungan.

Jika meneruskan contoh kasus laki-laki yang merasa lingkungan kerjanya adalah tempat yang tidak kondusif, kesalahan logika lain bisa saja ikut muncul. Misalkan, pada akhirnya laki-laki tersebut semakin menganggap bahwa tidak ada yang menyukainya di tempat kerja karena ia tidak pernah mendapatkan pujian dari pegawai lain saat hasil kerjanya baik.

Dalam konteks ini, ketiadaan bukti yang dipakai untuk menyimpulkan sesuatu adalah contoh dari arbitrary inference yang juga dapat berujung pada pesimisme terhadap lingkungan.

Jika logika yang salah dapat menyebabkan depresi, maka cara untuk terhindar dari depresi adalah dengan membetulkan kesalahan logika tersebut. Cara untuk mengatasi logika yang terdistorsi adalah dengan merunut akar logika dengan memahami ulang berbagai fakta yang ada dan menganalisis kembali kesimpulan yang terbentuk.

Cara yang sering dipakai untuk merunut kesalahan logika dalam psikoterapi berbasis kognitif—salah satunya, cognitive behaviour therapy—adalah dengan melakukan pertanyaan sokrates (socratic question).

Pertanyaan sokrates adalah menanyakan kembali pikiran; berpikir ulang mengenai apa yang dipikirkan. Beberapa contoh dari pertanyaan ini adalah: “Apa alasan dari munculnya kesimpulan bahwa dunia ini sudah berakhir? Apakah dasar dari kesimpulan bahwa diri ini penyebab dari semua masalah? Apakah ada fakta-fakta lain yang terlewat dan tidak dilibatkan dalam membangun kesimpulan ini?”

Walaupun tampak sederhana, pertanyaan sokrates sering terkesan menyerang dan memberikan rasa tidak nyaman. Hal tersebut terjadi akibat seseorang sudah merasa aman dengan kesimpulan otomatisnya—walaupun kesimpulan itu bersifat negatif.

Lagi pula, jika pertanyaan akan suatu pikiran terus dilakukan, ketidaktahuan akan selalu hadir sebagai jawaban akhir. Bahkan, jika jawaban akan ketidaktahuan awal akhirnya tercapai, ketidaktahuan baru akan tetap membayangi.

Dalam kondisi ini, amygdala akan menemui sumber ketakutan terbesarnya, yaitu ketidaktahuan. Selain itu, jika melihat pikiran dan perasaan sebagai dua entitas berbeda yang saling berhubungan secara timbal balik, perasaan negatif yang memuncak akan memaksa kesimpulan otomatis tetap muncul dan menghambat hadirnya pikiran logis walaupun sudah diarahkan dengan cara berpikir yang benar.

Lalu, apa solusi agar otak dapat diajak berpikir logis saat derasnya perasaan negatif masih membuat kesimpulan salah tidak dapat dibendung? Seperti halnya mesin yang tidak dapat dipegang dan diperbaiki saat masih sangat panas, tentu saja caranya adalah dengan mendinginkan dahulu mesin tersebut.

Dalam hal ini, diperlukan terapi obat yang berfungsi mendinginkan perasaan untuk sementara waktu sampai kerusakannya pikiran dapat diperbaiki kembali. Pernyataan ini senada dengan banyaknya penelitian metaanalisis yang menyebutkan bahwa terapi obat yang diberikan bersamaan dengan psikoterapi menunjukan hasil yang jauh lebih baik daripada terapi obat tunggal atau intervensi psikoterapi tunggal.[T]

  • BACA ESAI-ESAI KRISNA AJA
Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness
Tags: depresipsekiaterPsikologistress
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra, Singosari, dan Indonesia   

Next Post

Membincang Etika Komunikasi

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Membincang Etika Komunikasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co