26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumpek Krulut Adopsi Hari Valentine?

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
April 13, 2024
in Esai
Tumpek Krulut Adopsi Hari Valentine?

Fopto: repro dari penulis

CINTA kasih adalah rasa yang tidak dapat dijelaskan secara pasti. Ia lahir dari hati sanubari setiap insan untuk menabur aura positif dengan sesama. Untuk itulah banyak jalan untuk mencurahkan rasa kasih sayang. Ia dapat berwujud pemberian yang tulus ikhlas, kepedulian dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan, atau wujud lainnya sesuai keinginan yang mencurahkannya. Cinta kasih menjadi unsur penting yang patut dijaga oleh insan berbudaya untuk mencurahkan rasa.

Berbicara mengenai kasih sayang secara lebih lanjut, terdapat sebuah tanggal yang dikenal populis sebagai hari peringatannya. Ialah tanggal 14 Februari yang dikenal dengan istilah Hari Valentine. Hari ini dikenal sebagai hari kasih sayang, dan dirayakan oleh beberapa negara di dunia tak terkecuali masyarakat Indonesia. Dari sisi perayaan, berbagi cokelat dan bunga kepada orang tersayang menjadi ciri khas. Hal ini juga tidak lepas dari promo atau turunnya harga cokelat dan bunga di beberapa toko yang membuat kedua benda tersebut menjadi laris di pasaran setiap bulan Februari.

Populisnya hari Valentine di era sekarang khususnya di Indonesia ternyata juga turut andil dalam menyentil eksistensi salah satu Hari Suci Agama Hindu. Hari suci tersebut adalah Hari Suci Tumpek Krulut yang diperingati setiap 210 hari sekali tepatnya hari Sabtu (Saniscara) Kliwon Wuku Krulut menurut Kalender Bali/Primbon Jawa. Banyak pihak yang menghubungkan keduanya karena memiliki esensi yang mirip sebagai hari kasih sayang. Bahkan tidak jarang beberapa pihak menganggap Hari Suci Tumpek Landep sebagai Hari Valentine-nya versi umat Hindu Bali (Suastini dan Suparwati, 2021).

Penyamaan persepsi demikian bukanlah sesuatu yang salah. Bahkan jika dipandang dari sisi kacamata positif, penyamaan Hari Suci Tumpek Krulut dengan Hari Valentine sesungguhnya dapat mendongkrak popularitas Tumpek Krulut sebagai hari suci yang mengandung nilai luhur dan filosofi yang kuat. Namun di era sekarang, tidak banyak masyarakat terutama generasi muda Hindu yang berkenan untuk menggali nilai filosofi luhur dari Hari Suci Tumpek Krulut sebagai entitas yang dimiliki oleh Agama Hindu.

Tidak jarang mereka justru terbuai dengan gempitanya perayaan hari Valentine dibandingkan meluangkan waktu untuk menggali ke dalam, dibalik luhurnya Hari Suci Tumpek Krulut. Hal ini tentu merupakan sesuatu hal yang merisaukan, karena bisa saja generasi Hindu baik di masa kini atau di masa yang akan datang, memandang Hari Suci Tumpek Krulut hanya sebagai adopsi dari Hari Valentine. Namun benarkah demikian?

Dari sisi literatur, sejarah Hari Valentine tertuang di dalam sastra cerita berjudul “Parlement of Foules”(Percakapan Burung-Burung) karya pujangga Inggris bernama Geoffrey Chaucer.

Perayaan Hari Valentine diperkirakan dimulai sekitar abad ke-14 sampai 15 Masehi tepatnya di negara Inggris dan Perancis. Hal ini erat kaitannya dengan kisah perjuangan dan kisah romantis Santo Valentinus kepada anak sipir penjara yang ia sembuhkan dengan cara menulis surat cinta sebelum dieksekusi mati. Hari itu diperkirakan bertepatan dengan tanggal 14 Februari sebagai hari yang juga dipercaya sebagai masa burung-burung untuk mencari pasangan hidup (Suastini dan Suparwati, 2021).

Berbeda dengan Hari Valentine yang berasal dari cerita sastra, perayaan Hari Suci Tumpek Krulut sesungguhnya lebih luhur karena bersumber dari pustaka suci yakni lontar Sundharigama dan Aji Ghurnnita yang dipercaya diwahyukan oleh Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai pijakan hidup umat manusia.

Dari dua sumber pustaka suci tersebut diketahui bahwa, Tumpek Krulut sejatinya merupakan hari Pemujaan kepada Sang Hyang Taksu yang dipercaya sebagai kekuatan Tuhan untuk menghadirkan karisma atau menghidupkan benda-benda seni. Hal ini tidak lepas dari asal kata “Krulut” berasal dari kata “Kelulut” yang berarti terpikat, daya pikat, atau karisma.

Sehingga tepatlah, apabila perayaan Tumpek Krulut biasanya dirayakan oleh umat Hindu dengan melaksanakan piodalan penyucian terhadap benda-benda seni seperti, Gong, Tapel, Gender, dan lain sebagainya. Benda-benda seni itulah yang dijadikan sebagai media pengungkapan rasa cinta atau kasih sayang baik kepada Tuhan maupun ciptaann-Nya oleh masyarakat Hindu sejak zaman dahulu (Sudarsana, 2003: 90).

 Lebih dari pada itu, masyarakat Hindu Bali juga mengenal Tumpek Krulut sebagai Tumpek Lulut. Kata “Lulut”, dapat diartikan sebagai jalinan, perasaan senang, gembira, bahagia, atau sukacita. Sehingga atas dasar tersebut, masyarakat Hindu khususnya di Bali juga menghubungkan perayaan Tumpek Krulut sebagai hari kasih sayang untuk mempererat jalinan persaudaraan atau kekeluargaan.

Benda-benda seni yang diyakini memiliki Taksu, kemudian yang digunakan sebagai media untuk mewujudkan rasa tersebut kepada Sang Hyang Iswara sebagai manifestasi Tuhan yang menciptakan atau menurunkan suasana Satyam (Kebenaran), Sivam (Kesucian), dan Sundharam (Keindahan) (Putra, 2021).

 Dengan mengetahui penjelasan tersebut sudah jelas bahwa, Hari Suci Tumpek Krulut yang dilaksanakan oleh umat Hindu di Nusantara, bukanlah hari suci yang mengadopsi dari hari Valentine.

Meskipun dari esensi hampir mirip sebagai peringatan hari pencurahan rasa kasih sayang, Hari Suci Tumpek Krulut lebih mengarah kepada pengehormatan luhur terhadap benda-benda seni tradisonal yang diyakini mengandung Ketaksuan dibandingkan hari berbagi cokelat atau bunga yang dipandang sebagai media pengungkapan rasa kasih sayang di Hari Valentine.

Dengan penjelasan ini pula, diharapkan generasi muda Hindu menjadi lebih peka dan peduli terhadap hari sucinnya yang mengandung nilai luhur, dibandingkan hari raya yang berasal dari budaya lain. [T]

Referensi:

Putra, I. W. S. (2021). Teo Estetis dalam Ritual Tumpek Krulut pada Masyarakat Bali (Suatu Upaya dalam Mewujudkan Etika Kasih Sayang). Jnanasiddhanta: Jurnal Teologi Hindu, 2(2), 56-65.

Suastini, N. N. dan Suparwati, N. P. (2021). Tumpek Krulut Hari Valentine Versi Umat Hindu Bali.Vidya Samhita: Jurnal Penelitian Agama, 7(1), 154-160. Sudarsana, I. B. Putu. 2003. Ajaran Agama Hindu Acara Agama.Denpasar: Yayasan Dharma Acarya


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Rwa Bhineda Pasti Ada
Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni
Tags: baliHari ValentinehinduHindu BaliTumpek Krulut
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha

Next Post

Kue Apakah yang Menduduki Kasta Tertinggi di Kelas Kue Kering Saat Hari Raya?

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails
Next Post
Kue Apakah yang Menduduki Kasta Tertinggi di Kelas Kue Kering Saat Hari Raya?

Kue Apakah yang Menduduki Kasta Tertinggi di Kelas Kue Kering Saat Hari Raya?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co