23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Dag Dig Dug” Sebelum Main “HP” – Curhat Kecil Aktris Monolog Pemula

Ni Putu Purnamiati by Ni Putu Purnamiati
February 2, 2018
in Esai

Ni Putu Purnamiati (penulis) saat memainkan monoloh berjudul HP./ Foto-foto: Kardian Narayana

“HP” adalah judul naskah monolog karya Putu Wijaya. Naskah itu saya mainkan pada saat saya mengawali debut sebagai aktris monolog dan pentas serangkaian Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya. Sebelum memainkan naskah “HP”, saya justru merasa “Dag Dig Dug” seperti judul naskah drama Putu Wijaya yang lain.

Ini adalah pementasan monolog ke-31 serangkaian Festival Monolog 100 Putu Wijaya. Saya mewakili Komunitas Cemara Angin. Saya memainkan monolog “HP” yang disutradarai I Gede Manik Sukadana. Pementasan dilaksanakan di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Jalan Pantai Indah, Singaraja, 30 Juni 2017 malam.

Pementasan itu bisa dikatakan cukup sukses walaupun masih jauh dari kata sempurna. Pementasan ini bisa berjalan lancar karena banyak pihak yang membantu seperti tata lampu yang hebat, tata rias, properti yang digunakan saat pementasan, bloking yang harus diperhatikan, dan perlu penonton juga untuk mengapresiasi atau dapat menilai pementasan yang telah ditampilkan.

Yang paling penting, bagaimana proses atau usaha yang telah saya lakukan untuk mempersiapkan pementasan itu, seperti proses latihan. Tiga minggu adalah waktu yang saya gunakan untuk menghapal naskah. Menghapal naskah selama satu minggu dan latihan secara serius bersama sutradara selama dua minggu. Saya mengalami kesulitan dalam proses latihan karena jarang menonton pementasan monolog. Dan saya baru pertama kali mementaskan monolog. Apalagi harus membagi waktu antara latihan, membuat tugas kampus, serta rapat di organisasi.

Saat itu saya sempat kewalahan dan terkadang bolos latihan agar bisa megerjakan tugas dan rapat organisasi. Saya juga sempat pulang ke kampung di Gianyar karena ada rahinan, padahal pementasan sudah dekat. Bahkan saat itu saya mendapatkan ajakan untuk ikut pentas tari pembukaan di kampung dalam acara pelantikan Sekaa Teruna. Saya sangat rindu menari. Tapi begitulah waktu, terkadang susah diajak kompromi. Jadwal pentas tari itu sangat mepet dengan kadwal pentas monolog, tepatnya dua hari sebelum pentas monolog.

Saya sempat berpikir untuk ikut pentas tari, dan pulang kampung satu hari lagi. Tapi monolog belum rampung sepenuhnya, masih perlu latihan lagi. Saya putuskan tidak pulang kampung dan bertekad tampil maksimal dalam pentas monolog. Apalagi banyak hal yang masih harus diperbaiki, misalnya latihan olah tubuh yang terasa masih belum bisa dilakukan maksimal karena sudah lama saya tidak berolahraga. Saya juga perlu latihan pernapasan dan olah vokal. Usai latihan, saya harus menahan sakit pada kaki. Sakitnya hingga keesokan harinya. Tapi monolog harus sukses.

Setelah beberapa hari, saya mulai terbiasa. Tetapi ketika latihan untuk dialog saya malah kesusahan, karena tidak bisa membedakan antara membaca puisi dengan monolog. Ketika dijelaskan bagaimana perbedaanya, saya mencoba untuk membacanya terlebih dahulu naskahnya. Dan betul saja masih banyak kata atau kalimat yang tidak cocok atau tidak sinkron dengan adegan yang dimainkan. Saya masih membaca polos-polos saja, banyak nada-nada yang tidak enak didengar, semuanya masih kacau.

Naskah yang Ringan

Naskah “HP” ini sebenarnya adalah naskah yang ringan, saya sudah dipilihkan naskah yang ringan untuk dipentaskan bagi pemula dan naskah ini tidak seperti naskah Putu Wijaya lainnya yang perlu pemahaman tinggi untuk menjiwainya. Tetapi, jika kita tidak memahami isi naskahnya tetap saja kita akan mengalami kesulitan seperti yang saya alami. Saya justru seperti memainkan judul naskah Putu Wijaya yang lain: yakni “Dag Dig Dug” di dada saya.

Dengan latihan yang cukup keras, akhirnya saya memahami betul-betul maksud dari naskah “HP” dengan dibantu oleh senior. Saya mendapatkan nada, atau suara yang pas untuk setiap kata yang harus diucapkan. Walaupun begitu, selain pelafalan saya juga harus mendapatkan rasa di setiap adegan seperti bagaimana kita beradegan mesra dengan suami, bagaimana kita genit dengan selingkuhan, dan lain-lain. Sehingga adegan itu memang terlihat benar-benar nyata dan tidak dibuat-buat. Setelah itu, satu minggu yang masih tersisa digunakan untuk mencari bloking yang pas serta mendalami karakter di setiap kata yang diucapkan. Saya dan sutradara latihan satu minggu secara ngebut, misalnya pagi latihan selama 3 jam dan malamnya latihan lagi kurang lebih selama 3 jam.

Dan yang paling parah adalah saya tidak percaya diri. Ketika menunjukan permainan saya kepada sutradara, saya lumayan percaya diri. Tetapi ketika orang lain yang menontonnya, apalagi senior yang bisa dikatakan sudah profesional di bidang teater, tiba-tiba semuanya kembali seperti semula, semuanya kacau karena saya terlalu memikirkan setiap adegan demi adegan dengan begitu gugup, dan selalu memikirkan seakan-akan saya diejek atau ditertawai. Padahal sutradara sudah mengatakan bahwa semua penonton sama saja, anggap saja ketika pentas penonton itu seperti batu, tapi tetap saja sulit rasanya. Apalagi saya tahu bahwa penonton pementasan ini pasti bukan orang-orang biasa, melainkan orang-orang yang sudah mengenal dunia teater dan sudah menekuni dunia teater.

Akhirnya saya pasrah saja saat itu bahkan di setiap latihan menjelang pementasan, ada saja bloking yang diubah-ubah yang membuat saya kebingungan. Bahkan saat satu hari sebelum pementasan, saya bersama sutradara masih mencoba untuk latihan dan lagi-lagi ada beberapa adegan dan bloking yang harus diubah. Padahal kemarinnya sudah melakukan gladi langsung di tempat pementasan di Rumah Belajar Komunitas Mahima. Tapi besoknya bersama sutradara saya latihan lagi di kampus bawah Undiksha, dan masih tetap ada perubahan.

Saya juga memikirkan pakaian yang pas untuk dipakai dan akhirnya saya meminjam kepada bibi sebuah daster, celemek, dan sandal rumahan.  Saya sempat berpikir bahwa hari esok ketika pementasan dimulai adalah hari yang sangat berat untuk dilewatkan. Tetapi saya mencoba sekuat tenaga untuk selalu berpikir positif, saya tidak masalah dengan teman-teman yang sudah menikmati libur di rumah atau di kampungnya masing-masing. Karena ketika mereka sedang asyik-asyikan tidur, saya justri menikmati proses kehidupan yang lain, saya mendapatkan ilmu baru dan pengalaman baru.

Pementasan Tak Penting

Sutradara mengatakan bahwa pementasan tidak terlalu penting, yang penting adalah bagaimana proses terbentuknya suatu pementasan bisa dipertunjukan dan kita bisa puas terhadap apa yang ditampilkan. Karena di setiap proses latihan kita akan mendapatkan ilmu baru. Proses latihan sebelum pementasan ini mungkin terasa sulit bagi saya, tapi saya senang menjalankannya. Saya puas dengan pementasannya walaupun masih banyak kekurangan. Saya senang pementasan saya diberikan masukan oleh orang-orang hebat seperti Putu Satria Kusuma dan Kadek Sonia Piscayanti, serta penonton lain.

Saya merasa beruntung diberikan kesempatan untuk memainkan naskah monolog ini walaupun pada awalnya saya menerima ajakan itu karena merasa tidak enak dengan senior. Tetapi berkat dukungan semua pihak seperti senior, keluarga, teman-teman dan yang lainnya saya merasa senang dan bersemangat. Saya ingin mendalami dunia teater lebih dari apa yang saya dapatkan saat ini. (T)

Tags: Festival Monolog Bali 100 Putu WijayaMonologseni pertunjukanTeater
Share52TweetSendShareSend
Previous Post

Menerka Nasib Drama Gong Lewat Koetkoetbi

Next Post

Mempercakapkan Transportasi Publik di Bali – Sebuah Percakapan yang Agak Sia-sia…

Ni Putu Purnamiati

Ni Putu Purnamiati

Biasa dipanggil dengan nama Ami. Lahir di Keliki, Gianyar, 12 Februari 1998. Hobinya seperti anak muda lainnya: mendengarkan musik. Kini mencoba masuk dunia teater. Punya motto imut-imut: Jadikan kegagalan sebagai langkah awal untuk maju

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post

Mempercakapkan Transportasi Publik di Bali – Sebuah Percakapan yang Agak Sia-sia…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co