23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ramadan, Jalan Jeruk, dan Wajah Pluralisme di Bali

Oktavian Aditya by Oktavian Aditya
March 7, 2024
in Esai
Ramadan, Jalan Jeruk, dan Wajah Pluralisme di Bali

Suasana Jalan Jeruk saat Ramadan | Gambar diolah dari internet

TIDAK terasa Ramadan tahun 2024 sudah di depan mata. Rasanya tinggal menghitung hari, seperti melihat matahari yang mulai muncul dari timur, perlahan-perlahan namun berlalu. Tidak sedikit orang yang merasakan hal ini. “Perasaan baru kemarin, ini kok sudah Ramadan lagi.” Begitu celotehan seorang kawan seusai mengisap rokoknya.

Memang benar. Barangkali kita terlalu sibuk dengan dunia yang fana ini. Sampai-sampai kita sering kali luput dengan hal yang penting bagi umat Islam diseluruh dunia ini. Bulan Ramadan adalah bulan penuh ampunan—bahkan doa orang yang penuh dosa seperti saya ringan saja diampuni.

Ramadan merupakan bulan suci yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat Islam—walaupun mungkin tidak semua. Di mana bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan Allah ini, seringkali menjadikan diri kita merasa dekat dengan kebaikan-kebaikan dan pantang melakukan kemaksiatan.

Beberapa tahun belakangan ini, saya menjalankan ibadah puasa Ramadan di tempat yang istimewa, yakni di Bali—tempat eksotik yang memanjakan mata para turis. Selain eksotis, Bali juga terkenal dengan pluralismenya. Barangkali ini juga termasuk salah satu keistimewaan Pulau Seribu Pura ini.

Kalau membahas soal ini, sering sekali saya teringat kata-kata Gus Dur bahwa Bali memang tempat paling pluralis di Indonesia. Kelima agama—yang resmi diakui pemerintah—hidup damai dan saling toleran satu sama lain, dan nyaris tanpa ada perpecahan, meski kadang ada sedikit riak-riak itu.

Tapi, selama enam tahun hidup di Bali, tepatnya di Buleleng, alih-alih menemukan pertikaian, justru malah lebih banyak mendapati keharmonisan.

Contoh paling sederhana, hampir setiap bulan Puasa di Buleleng, tentu juga di tempat lain, saat menjelang berbuka, banyak sekali warung atau pasar kaget yang menjajakan sembarang kudapan.

Saat Ramadan, di beberapa tempat di Buleleng sangatlah ramai, apalagi saat sore hari. Banyak orang menghabiskan waktu untuk sekadar jalan-jalan atau mencari makanan dan minuman untuk menu berbuka puasa. Kita sering menyebut kegiatan itu “ngabuburit”.

Orang ngabuburit bisa tersebar di mana-mana, tapi biasanya paling banyak di tempat-tempat permukiman umat Islam, seperti misalnya di Jalan Jeruk Kampung Anyar—yang sering saya kunjungi.

Di Jalan Jeruk Kampung Anyar banyak kuliner yang tersaji. Mulai dari jajanan kue basah, kolak buah, aneka es, gorengan, serta menu berbuka lainnya, yang tak bisa saya sebutkan satu per satu.

Semua kudapan sangat terjangkau—bahkan beli 2000 perak pun dilayani sama penjualnya. Hal ini tentu sangat membantu mahasiswa perantau seperti saya di tengah harga sembako yang makin hari makin melambung.

Sebagai mahasiswa yang minim buget, tentu saja saya senang menghabiskan waktu sore di sana. Bahkan, kadang, saya ke sana bukan untuk membeli makanan buka puasa, tapi sekadar jalan-jalan saja—karena bagi saya, kalau tidak bisa belanja, jalan-jalan saja sudah cukup.

Dan ini yang indah, pembeli bukan hanya dari kalangan Muslim saja, tapi juga orang Hindu dan umat beragama lainnya. Banyak rekan kampus saya yang non Muslim tak jarang ikut memborong jajanan di sana. Sebuah wajah pluralisme yang harmonis.

Sampai sini saya berpikir bahwa kesenangan, keceriaan, kegembiraan Ramadan sepertinya memang bukan hanya untuk orang Islam saja, tapi untuk semua yang hidup di muka bumi.

Tapi tampaknya wajah harmonisasi antarumat beragama di Buleleng, saat puasa, tidak hanya muncul di pasar kaget di dalam gang, seperti Jalan Jeruk saja. Wajah itu juga tampak pada saat salat Tarawih—salah satu ibadah di bulan Puasa yang hukumnya sunah yang biasanya dikerjakan saat sehabis salat Isya.

Pasalnya, saat salat Tarawih di Bali, banyak Pecalang—semacam petugas keamanan adat yang notabene mayoritas Hindu—yang membantu Banser atau Kokam dalam mengamankan dan menjaga umat Islam saat beribadah di masjid dari gangguan-gangguan yang mungkin tak terduga. Meski terkenal dengan kota yang toleran, tidak ada salahnya juga melakukan pengamanan, ibarat sedia payung sebelum hujan.

Hal tak biasa itu, setidaknya bagi saya yang dari Jawa, saat pertama kali menginjakan kaki di Bali, saat baru masuk kuliah, sempat membuat saya bertanya-tanya. “Kenapa di masjid ada Pecalang?” Belakangan saya tahu bahwa mereka sedang membantu, memastikan, dan menjaga ketertiban, keamanan, kenyamanan umat Islam saat beribadah.

Pada akhirnya saya paham bahwa Bali tidak hanya sekadar yang saya bayangkan sebelumnya—atau bayangan masyarakat Indonesia pada umumnya—yang menganggap Bali hanya memiliki keindahan alam saja, tapi lebih dari itu, selain banyak keunikan kultur budaya yang menarik, juga memiliki sesuatu seperti yang saya jelaskan di atas.

Sampai di sini, saya berharap, bulan Ramadan tahun ini bisa menjadi tonggak awal perdamaian seluruh umat yang ada di dunia. Karena, di bulan suci—yang penuh berkah—tahun ini, umat Hindu juga akan merayakan Hari Raya Nyepi. Ini sesuatu yang baik, yang saya percaya bukan sebuah kebetulan belaka, yang perlu kita renungi bersama.[T]

Tags: balibulan puasabulelengJalan Jeruk Kampung AnyarpecalangRamadantoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ngurit Padi Bali, Usaha Perbaikan Genetik Padi Merah di Buleleng

Next Post

Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”

Oktavian Aditya

Oktavian Aditya

Seorang pria asal Blitar, Jawa Timur, yang lahir pada 11 Oktober 1998. Sekarang aktif sebagai kader HMI Cabang Singaraja dan senang menggeluti dunia pendakian dan olahraga.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan  Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”

Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co