6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SULUH TULIS #3 : Pentas Karya Mahasiswa di SMIK Sukasada

Kadek Edi Palguna by Kadek Edi Palguna
January 23, 2024
in Khas
SULUH TULIS #3 : Pentas Karya Mahasiswa di SMIK Sukasada

Salah satu pementasan dalam acara SULUH TULIS #3 STAHN Mpu Kuturan Singaraja

SAAT libur semester, saya pikir mahasiswa sepenuhnya sudah pada pulang kampung dan menikmati liburan, apalagi liburan ini dibarengi dengan susasana perayaan tahun baru. Ternyata mahasiswa Prodi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu STAHN Negeri Mpu Kuturan masih berkemelut dengan persiapan untuk menampilkan hasil karya lanjutan dari luaran mata kuliahnya.

Yaa, sebenarnya di bulan Januari ini mahasiswa memang sedang tidak ada perkuliahan setelah mereka sudah menerima nilai hasil perkuliahan semester ganjil.  Namun masa renggang ini merupakan kesempatan yang bagus bagi satu-satunya prodi PSBKH, sebutan pendek dari Prodi Pendidikan Seni an Budaya Keagamaan Hindu di STAHN Mpu Kuturan Singaraja.

Masa ini bisa dimanfaatkan untuk melaksanakan program rutin yang dimiliki oleh PSBKH yakni SULUH TULIS. Yaa, ini nama produk acara, namun dari arti kata yang berasal dari bahasa Bali, suluh artinya repleksi atau berkaca, tulis, yaa, seperti arti umum tentang tulisan, namun bisa saja konteksnya adalah karya.

Jadi konsep acara Suluh Tulis ini fokus pada diskusi, atau pertukaran pikiran yang bisa dilakukan dari berbagai kalangan, baik akademisi, praktisi dan peserta didik atau yang mau belajar.

Program ini ialah yang ketiga telah diselenggarakan oleh PSBKH, sebelumnya kegiatan yang pertama dan kedua telah dilaksanakan di Kampus STAHN Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Untuk kegiatan yang ketiga prodi melaksanakan dengan cara kolaborasi dengan lembaga lain.

Nah, kami sempet berpikir mau dilaksanakan dimana, karena jika acara yang dilaksanakan di luar lembaga pastinya memerlukan waktu dan biaya yang berbeda, karena harus menghitung siapa penonton dan siapa yang tampil, ini penting karena kegiatan yang dimiliki oleh prodi ini pembiayaannya memang mandiri.

Oh iya, begitu dalam pikiran kami, kita ingat punya Kaprodi I Putu Ardiyasa yang merupakan seniman dari Desa Selulung Kintamani yang meyelesaikan studi S2-nya di Jogja yang memiliki banyak relasi khususnya di lembaga kesenian. Tentunya kami tidak lagi harus berpikir banyak, dan saat itu Pak Ardi telah selesai berkomunikasi lewat telepon dengan temannya, hasilnya kami sepakat melaksanakan kegiatan Suluh Tulis #3 di SMK Negeri 1 Sukasada. Waah ini dapurnya seni Bali Utara, pikir kami.  

Tibalah hari pementasan, pagi itu mahasiswa dan dosen sedang berbaur menyiapkan masing-masing pekerjaan dan pementasannya, meskipun persiapan ini sudah dilakukan pada sehari sebelumnya dan diiringi dengan gladi masing-masing karya.

Para penonton yang berasal dari siswa SMK 1 Sukasada semua sudah berkumpul duduk setelah menyelesaikan regristasi dan melihat-melihat karya mahasiswa yang terpajang.

“Kami menyambut baik kolaborasi yang bisa dilaksanakan oleh STAHN Mpu Kuturan Singaraja di tempat kami!” Begitu sepintas saya dengar salah satu kalimat yang disampaikan oleh perwakilan pejabat sekolah saat pembukaan.

Ekosistem Seni itu Penting

Acara pertunjukan pun dimulai setelah pembukaan, masing-masing mahasiswa secara berkelompok kemudian bergilir menampilkan pertunjukan. Karya yang ditampilkan merupakan produk luaran dari mata kuliah Seni Keterampilan semester I kelas A dan B yang didampingi dosen pengampu mata kuliah yakni I Nengah Juliawan dan Kadek Anggara Rismandika.

Untuk semester III yang menampilkan karya pertunjukan teater dan seni rupa diampu oleh Dosen I Nyoman Sugita Rupiana dan I Kadek Abdhiyasa.

Sembari di panggung para mahasiswa sedang mempersiapkan pementasan, saya kesekian kalinya berkeliling-keliling melihat-lihat karya seni rupa mahasiswa yang dipamerkan dibagian belakang pononton. Karya seni rupa yang ditampilkan sangat luar biasa menurut pengamatan saya, baik yang dibuat dalam bentuk lukisan di kanvas maupun kertas.

Ada juga karya yang berupa bentuk patung yang dibuat dengan bahan anyaman bambu yang sangat indah. Saya pikir persiapan acara ini tidak main-main yang hanya bisa disiapkan beberapa hari saja, ternyata mahasiswa sudah mengerjakan dari beberapa bulan sebelumnya, sesuai dengan jawaban dari salah satu mahasiswa.

Ini mengingatkan saya ketika masih terdaftar sebagai sekehaa truna-truni di desa, semangat berkarya itu ada tanpa pamrih dan rela melewati subuh untuk sebuah karya yang dipersembahkan pada tanah kelahiran.

Saat ini saya menyadari bahwa organisasi atau adat tersebut merupakan bagian dari salah satu wadah perkembangan seni di Bali. Jika dalam masyarakat kampus berkreasi atas implementasi teori yang mereka lakukan, tetapi bagi masyarakat di desa berkesenian lebih menekankan pada rasa, baik rasa berkreasi, rasa ngayah maupun rasa patriotisme.

Seni merupakan bagian dari keahlian orang, tentunya tidak semua memiliki potensi yang sama, namun dengan memiliki rasa berkreasi yang sama tentunya dalam hal ini semua memiliki kemampuannya masing-masing yang berguna untuk menghasilkan karya yang terbaik.

Ada tiga dalil atau kaidah utama dari estetika Hindu yang membagun seni di Bali yakni, kebenaran (Satyam), kesucian (Siwam) dan keindahan (Sundaram). Realitas kesenian Bali seperti halnya yang tumbuh di desa-desa secara umum tersaji sebagai sajian atau persembahan kepada Tuhan, seperti yang diungkapkan oleh Tirta pada tulisannya di tahun 2019.

Rasa ngayah merupakan bagian dari pelaksanaan Siwam, mengingat perkembangan seni di Bali pada dasarnya selalu berkaitan dengan kegiatan upacara dan ada juga yang bersifat melekat atau sebagai bagian dari unsur kegiatan upacara agama Hindu. Dalam kegiatan upacara pastinya masyarakat melakukan dengan tulus tanpa harus memikirkan keuntungan dan kerugian. Sehingga apa yang ditampilkan tersebut sangat natural dan selalu menampilkan keindahan baik secara audio visual maupun emosional pertunjukan, sesuai dengan dalil satyam dan sundaram-nya.  

Saya kembali duduk di belakang dengan membuka laptop sembari menonton pertunjukan dan setelah saya sempet memutuskan judul tulisan dan mengetik beberapa kalimat, ternyata pertunjukan yang kedua sudah selesai dilakukan.

Sabha Kritis dalam sebuah karya

Pertunjukan pertama menampilkan tarian yang diciptakan oleh mahasiswa yang saya cermati karakter tariannya dengan gerak yang sangat lincah dan tegas, menurut tangkapan saya secara dangkal, ini menunjukan bagaimana semangat anak muda itu tidak bisa dipisahkan dalam kehidupannya sekalipun dalam sebuah tarian. Sebagai sebuah karya yang diciptakan oleh mahasiswa sendiri, bagi saya ini sangat luar biasa dengan tampilan gerak dan pola yang apik, mereka sudah menunjukan bagaimana naluri keseniannya itu sangat tinggi.

Pertunjukan yang kedua menampilkan kesenian kolaboratif antara seni musik tradisi dengan musik modern. Kesenian yang dibawakan dalam konsep musikal puisi, jadi seni musik kolaborasi tersebut mengiringi bait-bait puisi seperti bentuk lagu. Judulnya Taman Sari, saya menikmati dang mengamati bait-baitnya yang melukiskan keindahan alam, termasuk keindahan laut Bali Utara yang sudah menjadi bagian bagi masyarakat Buleleng sejak sebelum masehi.

Lirik-lirik yang mengangungkan laut Bali Utara, mengingatkan saya pada eksistensi laut Bali Utara sejak jaman prasejarah hingga masa Bali Kuno yang diketahui berdasarkan benda dan catatan-catatan kuno. Berdasarkan beberapa hasil kajian Prof Ardika Guru Besar UNUD, Laut Bali Utara merupakan salah satu jalur perdagangan internasional yang sangat penting. Hal tersebut dapat diketahui dengan banyaknya temuan-temuan yang tersebar di situs Julah, Pangkung Paruk, dan Kalibukbuk. Benda-benda purbakala yang beurpa keramik, kaca dengan lapisan logam, gerabah dan manik-manik perhiasan dari masa prasejarah yang berasal dari India, Cina, Vietnam dan ada juga manik-manik yang diperkirakan ada korelasi hubungan dengan kebudayaan Meditarian Eropa.

Eksistensi pada masa Bali Kuno juga dapat diketahui berdasarkan catatan-catatan Prasasti yang dikeluarkan saat itu, yang banyak membahas tentang tawan karang, pengaturan perdagangan dan keberadaan pelabuhan kuno di Julah dan Manasa di Sangsit. Untuk lebih jelasnya bisa dibaca lebih lengkap di Buku karya beliau salah satunya di Buku Sejarah Bali dari Prasejarah Hingga Modern.

Begitu besar peradaban yang dimiliki oleh Bali Utara terutama di sektor laut yang ternyata bagian dari jalur penting dalam perdagangan internasional pada jaman sebelum masehi hingga abad pertengahan. Tentunya bagi masyarakat Buleleng ini adalah kebanggaan yang luar biasa yang diberikan oleh alam, patut mereka melestarikan dan mengagungkannya salah satunya dalam sebuah inspirasi kesenian yang patut dipertontonkan untuk mengembalikan sepirit peradaban besar tersebut.

Tidak terasa setelah saya menghabiskan ubi rebus yang disediakan panitia dengan pelancar segelas kopi, pertunjukan sudah dilakukan oleh peserta ketujuh sebagai penutup yang menampilkan tarian yang berjudul Taru Agung. Yaa, pastinya sebelum tampilan penutup ini ada persembahan yang telah ditampilkan dengan apik, yakni karya SMK 1 Sukasada, Ancak-ancak Alis, Karya Puisi Keni Sengsara, dan Akara Manubawa. Karya-karya tersebut dibawakan secara berkelompok dengan berbagai inovasi perpaduan alat modern, ini sangat susah kalau saya lukiskan satu-persatu dalam sebuah kalimat cerita, karena akan jauh lebih nikmat jika disaksikan secara langsung.

Tibalah sesi diskusi yang merupakan bagian dari yang penting juga dalam acara Suluh Tulis #3b ini. Jika sesi sebelumnya adalah bagian dari kegiatan praktiknya, sesi berikutnya adalah sesi mengupas dan tukar pikiran antara pengamat, seniman dan penonton.

Sesi ini sangat penting bagi seniman salah satunya, mereka kemudian digenjot lagi agar bisa terbangun pondasi karakteristik kesenian yang mereka ambil. Yaa, bisa dibilang sesi ini seperti suasana ujian bagi seniman, karena mereka diajak bercermin, bukan pujian yang melemahkan yang mereka akan dapatkan, tapi kritik pahit yang akan membangunkan naluri seninya agar lebih memukau lagi.

Salah satu narasumber diskusi yang dikatakan oleh salah satu staff sarpras kami, “Bapak itu sering saya lihat di acara pertunjukan seni, siapa ya namanya?” Begitu ia sampaikan ke saya saat di belakang sembari menunggu untuk mengambil peralatan kampus yang juga dibawa kesana. Iya belum tahu kalau beliau adalah Pak Made Adnyana Ole nama akrabnya, yang tentunya susah saya jelaskan kalau beliau memang orang hebat, salah satunya ialah di bidang pemerhati seni.

Sembari berbincang dengan staff kami, saya ingat betul salah satu kalimat yang merupakan penting untuk dipahami dalam dunia kesenian, yakni “Lebih baik menerima krtitik daripada ditinggal penonton!” ucap Pak Made Ole.

Dan benar sekali, saya memperhatikan beliau dari awal pertunjukan hingga selesai beliau selalu memandang ke arah panggung tanpa sempat saya lihat menengok ke belakang. Ada banyak hal yang disampaikan oleh beliau dan tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Salah satu yang saya tangkap, yakni terkait dengan pakem atau bentuk yang dipilih jangan terlalu jauh dari bentuk-bentuk atau jenis kesenian yang diambil, agar para penonton bisa menikmati karakteristik dari jenis kesenian yang ditampilkan.

Selain itu salah satu guru di sekolah tersebut yang juga menjadi narasumber acara, menyampaikan banyak hal terhadap kesenian dan apresiasinya.

Salah satu kalimat yang saya dengar adalah, “Setiap seniman atau kelompok seni memiliki rasa berkesenian yang berbeda-beda!” ucap Pak Nasa panggilan akrabnya.

Mungkin maksudnya adalah di dunia seni inovasi dan kreatifitas memang benar-benar mempengaruhi sebuah karya, sehinga muncul berbagai jenis kesenian baru sesuai bakat dan karakter seniman itu sendiri. Namun tak kalah penting jika para pemain sudah menentukan jenis dan bentuk karya yang ditampilkan sesuai dengan bentuk-bentuk umum yang telah disepakati, sebaiknya jangan meninggalkan ciri khas dan pakem-pakem yang dimilikinya.

Peserta Suluh Tulis #3

Bagi saya ini adalah hal pertama kali yang saya alami, menonton pertunjukan namun begitu selesai tidak langsung ditinggal pulang, namun dilanjutkan untuk diskusi-diskusi tentang penampilan ataupun seni secara umum diwilayahnya.

Menurut saya ini sangat keren, tidak hanya menghibur diri dengan pertunjukan karya namun juga bisa menambah pengetahun yang sangat penting untuk diikuti. Pada diskusi ini sangat interaktif antara seniman, pengamat dan penonton. Jadi interaksi ini penting, selain untuk menyempurnaan karya, namun juga bisa membangun karya-karya yang lainnya dan tentunya bisa dijadikan inspirasi bagi semua kalangan.

Hingga saatnya acara benar-benar selesai dan ditutup oleh moderator tidak terasa kami telah melaksanakan acara ini hingga lewat 1 jam dari jam makan siang umumnya. Saya juga merasakan kelarutan itu yang diingatkan oleh perut saya sendiri dan sudah saatnya harus diajak menikmati dunia.

Saya pun bergegas dengan merapikan semua alat dan barang saya gunakan, dan tidak lupa saya harus mengambil lukisan saya yang ikut pameran di acara itu, dan saya bilang, “Ayo kakek kita pulang,” karena yang saya lukis di atas kanvas dengan cat minyak aliran realis adalah wajah almarhum kakek saya yang dibuat iseng dengan sukaria.

Trimakasih pada para pembaca sudah menyimak cerita yang harus saya sampaikan sesuai tugas yang diberikan oleh panitia acara.

Sumber refrensi

Ardika, I., Bawono, R., & Srijaya, I. (2018). Prasejarah Bali. In I. Ardika, I. Parimartha, & A. Wirawan, Sejarah Bali dari Prasejarah Hingga Modern (p. 7). Denpasar: Udayana University Press.

Tirta, I. M. D. (2019). Konstruk Estetika Hindu dalam Realitas Seni di Bali. Pangkaja: Jurnal Agama Hindu, 22(1), 90-102.

Tags: kesenian baliseni mahasiswaSTAHN Mpu Kuturan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sarjana Pertanian Harus Punya Passion dan Mimpi

Next Post

Wanita Hebat Itu Megawati Soekarno Putri

Kadek Edi Palguna

Kadek Edi Palguna

I Kadek Edi Palguna, kelahiran Tampaksiring, Gianyar, Bali. Lulusan Arkeologi Udayana dan Kajian Budaya Udayana, sekarang aktif sebagai Dosen Ilmu Budaya di Kampus STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Aktif sebagai anggota dalam organisasi PAEI (Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia Komda Bali).

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Wanita Hebat Itu Megawati Soekarno Putri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co