25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kegagalan Partai Politik dalam Merekrut Kader

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
November 24, 2023
in Esai
Kekuatan Politik Baru Itu Bernama Majelis Desa Adat

Gambar ilustrasi: tatkala.co

“Tanggung jawab pertama seorang politisi itu adalah kepada rakyat” – Sabam Sirait

PADA TAHUN 1950 hingga 1970-an, politisi dianggap sebagai profesi yang mulia. Banyak orang tua yang menginginkan anaknya menjadi seorang politisi, dengan harapan dapat menciptakan kesejahteraan bagi orang banyak. Setidaknya itu yang disampaikan oleh Anies Baswedan pada Dialog Publik yang diinisiasi Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surakarta beberapa waktu lalu.

Memang benar, politisi adalah jalan untuk merengkuh kekuasaan, dan melalui kekuasaan yang dibarengi dengan kewenangan tertentu, maka si pemilik kekuasaan dapat melahirkan kebijakan-kebijakan yang dapat memudahkan kehidupan rakyat.

Namun, belakangan ini fenomena yang terjadi justru berbeda. Jamaknya pejabat publik yang notabene seorang politisi tertangkap tangan melakukan korupsi menggerus kepercayaan publik. Benarkah politisi masih menjadi profesi yang mulia dan dianggap mampu menghadirkan kesejahteraan bagi orang banyak? Pertanyaan ini perlu terus dihidupkan sebagai bentuk evaluasi terhadap pemimpin-pemimpin bangsa yang menyelewengkan kepercayaan rakyat.

Sebelum menyoroti politisi lebih mendalam, peran dari partai politik tentu tidak bisa dilepaskan dari situasi saat ini. Politisi lahir dari rahim-rahim partai politik yang memiliki ideologinya masing-masing—setidaknya ideologi yang dianut partai politik di Indonesia tidak lepas dari Pancasila dan UUD NRI 1945.

Partai politik oleh UUD NRI diberikan kewenangan yang sangat besar, karena hanya melalui partai politiklah pemimpin-pemimpin bangsa dapat dilahirkan. Anda ingin duduk di kursi eksekutif maupun legislatif wajib melalui sebuah organisasi yang bernama partai politik. Mengingat pentingnya peran yang diemban, partai politik tidak boleh setengah-setengah dalam menjalankan fungsinya ini.

Menurut Miriam Budiardjo dalam Dasar-Dasar Ilmu Politik, salah satu fungsi penting dari partai politik adalah “rekrutmen politik”—hal-hal yang berkaitan erat dengan masalah seleksi kepemimpinan, baik kepemimpinan di internal partai maupun kepemimpinan nasional. Partai politik memiliki tanggung jawab untuk mencetak kader-kader berkualitas, tidak hanya demi kepentingan internal partai, tetapi yang lebih penting lagi adalah untuk kepentingan bangsa yang lebih luas.

Jalan Pintas

Sayangnya partai politik hari ini menyuguhkan cara-cara yang instan dalam merekrut kader di internal partainya. Berlandaskan atas popularitas yang dimiliki individu, partai politik melakukan rekrutmen demi kepentingan meraih suara di ajang pemilu. Tidak heran banyak partai politik di Indonesia merekrut pesohor-pesohor negeri yang telah memiliki popularitas di tengah masyarakat, sehingga memudahkan mereka dalam memperkenalkan diri.

Mengutip apa yang dikatakan oleh Alissa Wahid, “Negeri ini membutuhkan orang yang cerdas dalam memimpin, bukan orang yang ngetop”, maka partai politik di negeri ini telah keliru dalam memahami fungsinya.

Salah satu rekrutmen yang membikin gempar negeri adalah bergabungnya Kaesang Pangarep (putra bungsu Joko Widodo) ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Hanya butuh dua hari saja pasca menerima kartu tanda anggota (KTA), Kaesang langsung didapuk sebagai Ketua Umum oleh Dewan Pembina PSI. Apa yang terjadi di tubuh PSI tentu membuat banyak pakar geleng-geleng kepala.

Keberhasilan Kaesang menjadi Ketua Umum tentu tidak lepas dari kelebihan yang dimilikinya—putra seorang Presiden RI, hehe. Saya menduga bahwa popularitas, media, serta akses yang dimiliki oleh Kaesang menjadi pertimbangan utama bagi PSI mengangkatnya sebagai Ketua Umum, meski baru dua hari secara resmi menjadi anggota.

Saya pun tidak pernah membayangkan bahwa partai politik dapat melakukan rekrutmen secepat kilat semacam itu. Sebagai orang yang aktif di organisasi, saya pikir untuk menjadi pemimpin sebuah organisasi, harus ada proses yang harus dilalui, setidaknya jenjang kaderisasi di internal organisasi—begitu pun dengan partai politik.

Fenomena tersebut menunjukkan secara terang ke hadapan publik bahwa partai politik telah gagal melakukan kaderisasi di internal partainya. Langkah merekrut pesohor negeri jelang pemilu demi meraup suara lebih yang nantinya dikonversi sebagai kursi, juga langkah kilat mengangkat seseorang menjadi ketua umum meski baru menjadi anggota selama dua hari adalah fakta politik yang menunjukkan bahwa partai politik telah gagal dalam menjalankan fungsinya.

Fenomena partai politik seperti ini sudah dijelaskan oleh Andrew Heywood. Menurutnya, partai politik modern hari ini telah masuk dalam kategori yang diistilahkan oleh Otto Kirchheimer sebagai “catch all party” atau “partai tangkap semua”.

Sebuah istilah yang menunjukkan bahwa partai politik secara drastis mengurangi muatan ideologis mereka dalam rangka memenuhi sebanyak mungkin jumlah pemilih dan kemenangan dalam pemilu. Singkatnya, partai politik hari ini lebih mengedepankan pragmatisme semata tinimbang kepentingan-kepentingan besar lainnya.

Fenomena-fenomena semacam ini menunjukkan bahwa demokrasi hari ini sedang mengalami defisit. Turunnya kepercayaan publik terhadap partai politik yang notabene memiliki peran penting dalam menyiapkan pemimpin bangsa masa depan justru mempertontonkan cara-cara instan dalam mencapai kepentingan kelompoknya.

Hal ini kemudian yang menyebabkan banyak partai dan wakil rakyat kehilangan hubungan dengan rakyat yang diwakilinya. Kalau sudah begini, apakah kita akan tetap begini-begini saja tanpa melakukan penghakiman terhadap mereka?[T]

  • Baca esai-esai politik TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA lainnya DI SINI
Tags: Partai PolitikPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Refleksi Hari Guru Nasional 2023: Karmayoga Seorang Guru

Next Post

Whoosh…Mencari Kerja Secepat Laju Kereta Api Ekspres

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Whoosh…Mencari Kerja Secepat Laju Kereta Api Ekspres

Whoosh…Mencari Kerja Secepat Laju Kereta Api Ekspres

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co