25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kupu-Kupu Kuning

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 2, 2018
in Cerpen

Cerpen: Agus Wiratama

KETIKA kupu-kupu kuning itu tiba, air matanya mulai menetes. Setiap hari, tetesan air mata itu tak terhitung jumlahnya. Kedua tangannya mengiringi tetesan itu dengan kepalan. Nafasnya tak teratur, bahkan sesak dadanya, turut mengambil bagian mengiringi kehadiran  kupu-kupu kuning itu.

Ia duduk beralaskan sandal jepit. Bersandar pada sebuah tembok usang di bagian rumah tua kami. Sorot matanya tak lagi mewacanakan perannya terdahulu. Tubuhnya, tak lagi bercerita tentang kekuatannya menghadang rezim. Kini,  kakinya pun tak kuat menopang bobot tubuh yang tak lebih dari lima puluh kilogram. Rambutnya yang kian memutih, dan kulitnya yang kendur hanya memberitahuku, ia telah lelah. Setiap hari, dari pagi hingga sore bahkan malam, ia hanya memandangi taman yang ada di depannya.

“Apalagi yang kuharapkan, waktu adalah teman setia, sesegera mungkin seharusnya Hyang Widhi memanggilku.” Begitu yang ia ucapkan dari mulut dengan kulit keriputnya.

“Bukankah kata-kata itu bukan dirimu? Kau adalah satu-satunya pejuang pada masa itu yang masih bisa melihat betapa indahnya taman ini. Kau adalah bagian dari sejarah yang bisa kujumpai, Paman”, jawabku ketika kekesalanku justru diundang dengan kata-kata putus asanya.

Ia melindungi sahabatnya, Made Seken dari ganasnya zaman. Aku hanya menduga-duga, pada masa itu, langit merah setiap hari membendung, burung gagak, anjing kelaparan, serta kadal liar menjemput musim untuk berfoya.

“Apakah kau kini bukan Wayan Regeg yang memiliki kobaran api di dalam diri? Di mana jiwamu itu?” sambungku setelah keheningan di antara kami membuatku tak nyaman.

“Paman, benarkah apabila aku menyarankanmu suatu hal untuk mengubah rasa yang mencekikmu kian hari itu? Aku rasa, dalam kehidupan sosial kita, tak pantas diriku melakukan itu. Tetapi, aku tak ingin melihatmu selalu murung bahkan meneteskan air mata. Seolah-olah, canda tawa cucumu tak memberimu kebahagiaan!”

Ia tak juga menjawab pertanyaan dan celotehanku. Matanya memberitahuku kalau ia tak ingin mendengar sepatah kata pun dari mulutku.

Angin kencang dan tetesan air hujan yang lebat telah bercampur dengan komposisi masing-masing yang sangat tepat. Sesekali kulit kami menjadi pangkalan air hujan itu. Angin yang telah bercampur air itu pun akhirnya membuatku tak ingin beranjak dari tempat duduk meskipun udara dingin memerintahkanku agar meninggalkannya. Berbeda dengan diriku dengan kulit yang masih sensitif, barangkali pamanku enggan beranjak karena kulitnya yang mati rasa mebuatnya tak tahu kalau tetesan air hujan telah membelai kulitnya.

Situasi yang seolah-olah mengurung kami dalam sebuah dimensi dan hanya dihuni oleh dua orang, yaitu aku dan pamanku, membuatku mengingat segala hal yang pernah terjadi pada dirinya. Dalam kesunyian itu aku membayangkan kisahnya yang tak pernah mati hingga kini.

“Wayan Regeg adalah patih sesungguhnya di desa kita!”  Begitu yang sering aku dengar.

Tetapi, cerita yang paling jelas ditangkap oleh telinga ini adalah cerita dari almarhum nenekku. Ketika itu aku masih duduk di bangku SMA. Nenek sedang membuat kopi di dapur, ia ku cegat begitu saja. Aku penasaran dengan mitos tentang pamanku ini. Aku berharap nenek bisa memuaskan rasa ingin tahuku terhadap dirinya.

Benar saja, ketika ku tanya tentang pamanku, ia mengambil sebuah kursi kesayangannya dengan tergopoh-gopoh. Kemudian,ia duduk di sana dan menyeruput kopi hangat yang baru saja dibuatnya.

“Kenapa kau bertanya tentang dia?” ucapnya samar-samar. “Bukankah dia memang seperti itu sedari dulu?”

“Iya, memang seperti itu, tetapi dia pasti memiliki masa bahagia. Bukankah setiap manusia berhak atas kebahagiaannya sendiri, Nek?” tanyaku untuk memastikannya memberikanku potongan cerita yang kuharapkan.

Ketika kopinya tinggal setengah, ia memulai cerita tentang pamanku. Cerita Wayan Regeg sesungguhnya dimulai sejak ia berumur empat puluh tahun. Ketika itu kira-kira sekitar tahun 60-an. Tubuhnya yang tegap dan kakinya yang kokoh membuat tak ada satupun pemuda berkeinginan mengundang masalah dengannya. Wajahnya yang rupawan membuat setiap gadis ketika itu bergumam dalam hati.Mereka menyimpan kekaguman pada dirinya.

Ia menjadi dihormati karena ia adalah orang yang tak segan-segan membantu orang lain. Ketika itu, beras merupakan barang yang sangat berharga. Namun, ia banyak menyumbangkan berasnya pada para tetangga yang memerlukan. Beberapa kamben songket pun ia berikan pada tetangga yang tak pernah ke pura lantaran tak punya kamben untuk dikenakan. Wajar saja bila kekaguman orang terhadap dirinya dijaga hingga kini.

Nenek juga bercertia bahwa ia adalah seorang petani yang memiliki banyak sawah. Ia menggarap sawahnya dengan seorang sahabat yang kini sering ia sebut namanya dengan berbisik “Made Seken”. Seken adalah sahabatnya dari kecil hingga dewasa yang sesekali menjadi penasihatnya. Kini, sepasang cangkul yang dulu sehari-hari mereka gunakan,masih tersimpan rapi di samping lumbung kami.

Persahabatan mereka adalah persahabatan yang telah mendobrak jarak. Wajah mereka yang mirip membuat orang yang baru bertemu dengan dua orang itu mengira bahwa mereka adalah saudara kembar. Ada pula tetangga yang mengatakan bahwa pamanku adalah saudara kembar Made Seken yang lahir dari rahim ibu yang berbeda.

Persahabatan yang mereka ukir dari kecil mulai melapuh ketika partai politik masuk ke desa kami. Pamanku telah menyarankan Made Seken untuk tidak terjun ke dunia politik, namun dia bersikukuh berkecimpung di dunia itu. Katanya, demi mewujudkan cita-cita bangsa. Nenekku pun paham betul, bahwa masuk ke dunia politik itu penuh dengan resiko dan kepentingan politik lain yang akan menggerus keberadaan lawannya.

Semenjak Seken bergabung partai politik, mereka tak lagi bersama seperti sebelumnya. Tak ada lagi cerita tentang menyeruput segelas kopi di sawah, atau cerita tentang perjalanan menembus kabut di pagi hari untuk memastikan air membasahi sawah.

Beberapa tahun setelah Made Seken masuk ke sebuah partai, pamanku mendengar kabar bahwa terjadi pengepungan di mana-mana dan banyak korban yang berjatuhan. Penjagalan mewabah dengan liarnya, air sawah pun terkadang bercampur dengan warna merah darah yang masih segar. Hal itu kian hari menjadi sesuatu yang biasa. Made Seken mulai resah dengan peristiwa itu karena ia adalah anggota partai yang akan dilenyapkan. Ia mulai mendekati pamanku lagi dengan maksud minta perlindungan karena semua anggota keluarga Made Seken dianggap tergabung dalam partai itu.

Orang-orang dari desa sebelah yang ada di jalur pemerintah memanfaatkan kesempatan itu untuk memuaskan kebiadaban mereka. Rumah Made Seken akhirnya dibakar. Api berkobar sejadinya. Tangisan keluarganya bercampur dengan kekesalan tak berdaya.hewan ternaknya seperti sapi, babi, ayam, dan bebek telah dibunuh, kemudian dijadikan hidangan untuk berpesta. Untungnya, sebelum pemberangusan rumah itu terjadi, Made Seken dan keluarganya telah kabur ke ladang pamanku. Dari sana ia mengintip kebiadaban orang-orang itu.

Ketika nenek merasa lelah bercerita, sejenak ia beranjak dari kursi kesayangannya. Ketika itu pula mataku terasa panas, air mata perlahan membasahi pelupuk. Tetapi, aku tidak berani berkomentar, sebab aku tak tahu kekuatanseperti apa yang menggerakkan pikirkan warga desa sebelah.

Dengan tulang punggung yang tak mampu menegakkan tubuhnya, ia mengambil sapu untuk membersihkan sampah makanan di dapur. Debu dapur yang menghitam, ia siram dengan air agar tak mengganggu penciuman dan penghlihatannya yang tua. Beberapa tetes air matanya turut membersihkan debu yang menempel di pipinya yang keriput.kemudian, Ia kembali duduk di kursi tua kesayangannya sambil mengusap mata untuk melanjutkan cerita.

Suatu hari terdengar isu bahwa warga desa sebelah akan memburu sahabat pamanku lagi. Made Seken lari dengan kakinya yang kurus ke rumah-rumah tetangga untuk menginap. Para tetangga mengizinkannya tidur di lumbung. Tetapi, tak ada yang berani membiarkannya menginap dalam waktu yang lama karena takut dianggap ikut melindungi anggota partai yang menjadi musuh negara.

Ia juga sempat lari ke rumah kami dengan kaki yang gemetar, rambut yang tak rapi seperti biasa, dan keringat yang mengucur dari seluruh bagian kulitnya. Setelah diberi secangkir kopi dan sepiring nasi,nenek pun menyuruhnya pergi karena alasan yang sama dengan tetangga kami.

“Di mana peran paman ketika itu, Nek?” Aku sudah tidak sabar mendengar kisah heroik, Pamanku.

Aku baru paham setelah nenek melanjutkan ceritanya sambil mengunyah buah pinang. Suatu pagi, warga desa sebelah benar-benar ingin menjagal semua anggota partai itu di desa kami. Sembilan keluarga dianggap tergabung partai buruan. Rata-rata setiap keluarga itu terdiri dari enam orang. Siapa pula yang rela jika saudaranya dibantai dengan liar dan masal seperti itu. Pamanku orang yang cerdas, Ia mengatur taktik sendiri. Semua warga ia sarankan untuk mengintipnya dari balik tembok rumah masing-masing.

Ia menunggu kedatangan warga desa sebelah yang hendak melakukan aksi liar itu. Begitu terlihat, ia tatap mata orang-orang itu satu per satu. Suasana begitu mencekik. Yang terdengar hanya suara kaki menghantam tanah dan gesekan batang bambu yang diembuskan angin. Ketika itulah, dengan gagah dan berani,pamanku berteriak sekencang-kencangnya, “Seeerrrbbbuuu!”

Mendengar kata itu, para tetangga ikut berteriak sesuka mereka. Warga desa sebelah itu seketika berlari sekencang-kencangnya karena mengira pamanku telah menyiapkan pasukan yang banyak untuk bertempur. Ketika itu nenekku pun ikut mengintipnya dari balik tembok tetangga.

Dalam hati, sesungguhnya ada pertanyaan yang gelisah, “Tidakkah ia merasa bersalah telah melawan negara dengan melindungi orang-orang partai yang katanya telah melakukan pemberontakan?”

Ketika pertanyaan itu mengawang-awang, nenek langsung menyambar dengan kata-kata yang menjawab pertanyaan itu. “Pamanmu merasa bersalah bila membela pemberontak negara, tapi baginya melindungi nyawa orang-orang di desa kita adalah suatu keharusan. Ia menentang keras cara pemerintah yang keji itu. Membantai orang tanpa penjelasan, padahal belum tentu mereka telah melakukan kesalahan”, katanya.

Jawaban itu membuatku tercengang. Alasan paman itu adalah kobaran api keberanian yang jarang kutemui.

Setelah beberapa tahun, gejolak di mana-mana dan pembantaian akhirnya usai. Mimpi buruk sembilan kepala keluarga di desa kami telah lenyap. Made Seken masih hidup dalam ketakukan meski tak ada satu orang pun yang berhasil dibunuh di desa kami. Memang, di desa sebelah ada beberapa orang yang meninggal karena dianggap berbau partai itu. Mereka diikat tangan dan kakinya, kemudian diseret di atas aspal pada siang hari secara massal hingga benar-benar tak bernyawa. Di desa kami semua nyawa yang terancam telah terselamatkan.

Kini, rumah Made Seken yang dulu dibakar oleh warga desa sebelah menjadi tempat yang aku senangi, karena tumbuh pohon jambu yang begitu subur dengan buahnya yang lebat. Mungkin, tak kurang dari seminggu, aku dan teman-temanku meluangkan waktu untuk singgah di sana, kemudian memetik beberapa buah jambu untuk dibawa pulang. Sesungguhnya para warga enggan ke sana karena tragedi tersebut. Hanya kami yang berani bermain ke sana karena sebelumnya kami memang tidak tahu tentang sejarah tumpukan bata merah yang menyimpan air mata dan amarah itu.

Kuperhatikan, nenek nampaknya sudah tidak nyaman lagi berada di kursinya yang tua dan kotor. Ku ambilkan ia sebuah bantal. Tetapi, nenek menolak. Ia keluar dari dapur. Tangannya melambai-lambai memanggilku untuk mengikutinya.

Ia berkata, “Senja telah tiba, lihatlah langit yang merah itu. Memang sangat indah, tetapi langit indah itu menyimpan sejuta kesedihan”.

Aku tidak paham apa yang dimaksud nenek. Aku hanya bisa menganggukkan kepala dengan ragu-ragu.

Ia mengajakku untuk duduk di beranda rumah. Kemudian menyuruhku mengambilkannya tembakau dan buah pinang di kamarnya. Di beranda rumah ia melanjutkan kisah tentang pamanku.

“Kesedihannya berawal dari sebuah senja”, ucapnya dengan lugas.

Setelah pembantaian itu berakhir, Made Seken masih bisa menghirup udara bebas. Tidak ada panggilan dari pihak pemerintah. Tidak ada setetes darah pun yang keluar dari kulitnya. Made benar-benar selamat dari kiamat. Tetapi, Made Seken memilih untuk berhenti menjadi guru karena traumanya yang begitu dalam terhadap peristiwa keji itu. Ia memilih untuk berkebun.

Cerita tentang persahabatan pamanku dan Made Seken menjadi berbeda dengan yang sebelumnya. Made Seken merasa sangat berhutang budi pada pamanku. Semenjak itu ia begitu menghormatinya seperti warga yang lainnya di desa kami.

Suatu hari ketika senja tiba, Made Seken tak kunjung pulang. Istrinya menanyakan pamanku tentang keberadaan Seken, tetapi pamanku pun tidak tahu. Ketika itulah semua warga ikut membantu mencari Made Seken. Mereka mencarinya ke setiap tepi sungai yang sering ia lewati, kemudian di ladang miliknya,tapi tak juga ditemukan. Pencarian masih berlanjut, sedangkan cahaya matahari semakin menipis hanya menyisakan warna emas yang begitu mempesona.

Ketika mereka telah putus asa, tak sengaja mereka lewat di ladang pamanku. Made Seken telah tertidur lelap di bawah pohon kelapa gading. Celurit telah menembus perutnya. Matanya terpejam. Setiap daun di sekitarnya dilumuri darah, kelapa gading yang telah ia petik pun dibalut darah segar. Ususnya berkeliaran di atas perut yang menganga. Di ujung robekan luka pada perut itu tertancap celurit dengan sangat rapi. Tetapi, sepasang kupu-kupu kuning dengan setia hinggap di ujung hidungnya.

“Merekalah yang menjemput sahabat pamanmu,” kata nenek dengan suara yang kecil.

Ketika itulah penyesalan pamanku berawal. Ia menahan segala tangisan. Tak ada setetes air pun yang terjatuh dari matanya. Ia hanya mengingat perkataan yang terlontar dari mulutnya di siang hari sebelum Made Seken dijemput kupu-kupu berwarna kuning itu.

“Esok pagi, ketika kita ke sawah, kita sirami padi-padi kita dengan air kelapa gading untuk menebus darah yang pernah mengaliri sawah ini.”

“Kupu-kupu kuning, aku sering melihat mereka bermain di bawah pohon beringin keramat,” gumamku dalam hati.

Ku harap paman bisa melupakan segala kesedihan di umurnya yang renta ini.

“Senja sudah terganti malam, hujan dan angin juga telah beristirahat, sebaiknya kau istirahat di dalam kamarmu, atau kuambilkan secangkir kopi untukmu, Paman?” (T)

Tags: Cerpen
Share36TweetSendShareSend
Previous Post

Hitam-Putih Film Barat dan Evolusi Negeri Kita

Next Post

Kata-kata yang Memberi Detak pada Pengalaman – Pengantar Buku “Seribu Pagi Secangkir Cinta”

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post

Kata-kata yang Memberi Detak pada Pengalaman – Pengantar Buku “Seribu Pagi Secangkir Cinta”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co