23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Umat Hindu Bersedekah 10 Persen Dari Penghasilan

Sugi Lanus by Sugi Lanus
September 8, 2023
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

— Catatan Harian, Sugi Lanus, 8 September 2023.

Ada sahabat yang sedang belajar Hindu bertanya dua pertanyaan mendasar yang mungkin juga menjadi pertanyaan di benak masyarakat awam lainnya:

1). Apakah Hindu mengenal sedekah?

2). Apakah Hindu hanya menyumbang untuk ritual-upakara saja?

Dalam ajaran Hindu disebutkan bahwa bersedekah sersepuluhan atau sama dengan 10% dari penghasilan adalah rahasia agar rejeki yang kita dapatkan menjadi berkah dan membawa kita menuju kehidupan yang sejahtera.

Kitab Skandha Purāṇa menjelaskan 10% persen penghasilan umat Hindu dianjurkan untuk disedekahkan:

“nyāyopārjita vittasya daśhamānśhena dhīmataḥ, kartavyo viniyogaśhcha īśhvaraprityarthameva cha” [V.7]

“Dari harta yang kamu peroleh dengan cara yang halal, ambil sepersepuluhnya [10%], dan sebagai kewajiban, sedekahkan. Persembahkan amalmu dengan ikhlas pada-Nya.”

Dalam ajaran Hindu sebutkan bahwa sedekah atau berdana akan melapangkan jalan hidup kita, menghilangkan hambatan karma yang menghadang. Berdana adalah jalan untuk membuka pintu bagi datangnya kebajikan dan melindungi kita dari mara-bahaya. 

Sama dengan keyakinan agama lain, dalam Hindu pun dipercaya dan dinyatakan bahwa sedekah yang kita berikan membuka jalan untuk rejeki yang lebih banyak datang di kemudian hari. Berdana tidak akan membuat seseorang jatuh miskin tapi sebaliknya akan membuat seseorang lebih hoki.

Yang dilarang dan bertentangan dengan ajaran berdana adalah prilaku berfoya-fota dan bermabuk-mabukan (mada). Foya-foya dan mabuk-mabukan adalah kebalikan dari kebajikan bersedekah/berdana. Jika orang yang tidak bersedekah dan bermabuk-mabukan, maka disebutkan prilaku ini akan melipatgandakan SAD RIPU dalam diri yang bersangkutan. Prilaku mabuk dan berfoya-foya, terlebih tanpa peduli lingkungan, apatis dan tidak bersedekah pada masyarakat miskin sekitar, akan melipatgandakan enam musuh yang ada dalam diri manusia (SAD RIPU), yaitu:

1). Kama, artinya keinginan, nafsu, hasrat, kepuasan dan kesenangan sendiri tanpa peduli sekitar,

2). Lobha, artinya tamak memperkaya dan semata-mata demi keuntungan sendiri tanpa peduli nasib orang lain,

3). Krodha, artinya kemarahan yang tidak terkendali dan mementingkan diri sendiri,

4). Moha; artinya bingung, kusut, tak ingat, menyasar, ngawur, membabi buta, tolol, kebodohan, kesesatan, dan kegilaan, akibat tidak ada lagi kejernihan,

5). Mada, artinya mabuk, gila, congkak, dan sombong, baik karena pikiran kalut dan juga karena minuman yang memabukkan dan menghilangkan kesadaran diri,

6). Matsarya, artinya suka membenci dan irihati, yang muncul akibat berbagai tabiat tersebut di atas, dan kegelapan berpikir.

Bersedekah tidak hanya untuk upakara atau persembahyangan

Dalam Bab 17, Shloka 20, Bhagavad Gita disebutkan:

“dātavyam iti yad dānaṁ dīyate ‘nupakāriṇedeśhe kāle cha pātre cha tad dānaṁ sāttvikaṁ smṛitam”

“Sedekah (dāna) yang diberikan kepada orang yang layak dan dengan cara memberi yang tepat, tanpa mempertimbangkan imbalan apa pun, pada waktu dan tempat yang tepat, dinyatakan sebagai kebajikan (yang memberikan berlipat kebahagiaan bagi yang melakukannya)”.

Orang yang layak diberikan sedekah adalah target atau sasaran dari sedekah. Tujuan dari sedekah atau ‘dānaṁ’ adalah membantu orang lain untuk diringankan beban hidupnya. Meringankan beban orang atau membebaskan seseorang dari derita adalah tindakan mulia yang memberikan kebahagiaan pada sang pelaku.

Sedekah menurut kitab Hindu-Buddha Nusantara

Kitab lontar Sarasamuścaya yang ditulis di atas daun lontar dan sudah dikenal di era Majapahit, dalam sloka 261, 262, 263, disebutkan bagaimana sebaiknya rejeki atau penghasilan seorang penganut dharma dikelola. Sloka dari Kitab Sarasamuścaya isinya sejalan dengan isi lontar Kakawin Ramayana, sargah II bait 53, 34, yang mana disebutkan bahwa rejeki atau kekayaan kita hendaknya dibagi menjadi tiga porsi atau tiga bagian, sesuai kepentingan kita menegakkan dharma:

— 30% kekayaan atau rejeki kita untuk mendukung usaha kita menjalankan dharma atau kebajikan,

— 30 % rejeki kita untuk menjadi biaya kebutuhan harian keluarga dan rekreasi atau hobby lainnya,

— 40% untuk ditabung atau diputar sebagai modal dalam usaha yang sesuai dharma.

Kitab Sarasamuścaya lebih lanjut menjelaskan bagaimana secara tepat mengatur sedekah atau donasi kita ke masyarakat. Jika Anda cukup berada dianjurkan berdana pada desa, berupa pemberian lahan atau tanah untuk kepentingan desa, termasuk bisa menjadi pelaba atau aset desa. Jika Anda memiliki pengetahuan agama atau shastra suci, dianjurkan untuk berdana dalam bentuk “dana punia agama”,  yaitu secara sukarela mengabdi kepada masyarakat untuk berbagi pengetahuan suci dan ilmu pengetahuan terapan lainnya yang membantu orang lain lebih berdaya dan mandiri. Pengetahuan shastra suci dibagi dan disebarkan dengan harapan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya budhi pekerti yang luhur. Sarasamuścaya menyebutkan jenis dāna lainnya adalah “dana punia drewya” yaitu dana bantuan untuk membantu masyarakat yang masih belum bisa memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papannya.

Kitab lontar Wrhaspati Tattwa [26], menyebutkan seorang penganut ajaran Dharma wajib bersedekah. Ini akan membuat jalan Dharmanya menjadi terlengkapi. Syarat untuk menjalankan ajaran Dharma disebutkan: Sila­ (tingkah laku yang baik), Yadnya­ (pengorbanan suci), Tapa­ (pengendalian diri), Dāna (pemberian sedekah), Prawjya­ (menekuni ilmu pengetahuan suci), Diksa­ (penyucian diri secara spiritual), dan Yoga­ (melakukan disiplin untuk tetap terhubung dengan Hyang Widhi).

Sedekah menjamin kebahagiaan masa tua

Kitab suci Rigveda yang 1500 Sebelum Masehi sudah menjadi pedoman pemeluk Hindu Dharma menjelaskan bahwa orang yang tidak punya rasa belas kasih, yang tidak mau berbagi di masa mudanya, tidak berdana atau sedekah, hatinya akan mengeras di masa tua, dan tidak akan ada orang yang mampu menghiburnya di masa tuanya.

Di bawah ini adalah kutipan kitab suci RIGVEDA, X.117.

Para Dewa tidak menetapkan kelaparan sebagai kematian kita: bahkan bagi orang yang berkecukupan, kematiannya akan datang dalam berbagai bentuk,Kekayaan orang yang bermurah hati tidak akan pernah habis, sedangkan sebaliknya orang yang tidak bersedekah tidak akan mendapat kebahagiaan,

Orang yang mempunyai simpanan makanan, ketika melihat orang miskin datang dalam keadaan yang menyedihkan meminta makan untuk dimakan, mengeraskan hatinya (tidak peduli) terhadap orang yang mengemis tersebut, maka orang yang tidak peduli dan tidak memiliki belas kasih itu ketika di masa tuanya hatinya akan mengeras tidak ada seorang pun yang dapat menghiburnya.

Orang yang pemurah adalah orang yang memberi kepada pengemis yang datang kepadanya karena kekurangan makanan, dan orang yang lemah, Kemenangan akan menyertainya dalam sorak-sorai peperangan.  Pahala sedekahnya akan menjadi temannya yang akan melindunginya dalam kesulitan-kesulitan yang akan datang,

Orang yang tidak bersedekah makanan kepada pengemis tidak akan memilliki seorang teman yang datang membantu ketika ia kesusahan.

Adalah sudah sepantasnya orang kaya bersedekah kepada pengemis yang miskin, dan mengarahkan pandangannya ke jalan yang lebih jauh,Kekayaan datang kepada seseorang, terkadang kepada orang lain, dan seperti roda kendaraan yang terus berputar,Orang bodoh mendapatkan makanan dengan kerja yang tidak berkah: makanan itu – sejujurnya – akan menjadi kehancurannya, Dia yang tidak berbagi rejeki kepada sahabat kepercayaannya, tidak akan dicintai oleh siapa pun. Pendosa adalah dia yang makan tanpa berbagi.

Jika kita garis bawahi wahyu dalam Rig Weda di atas, jelas disebutkan: Kebiasaan berdana atau bersedekah di masa muda akan melembutkan hati Anda. Hati yang lembut di masa muda akan membuat hati Anda lapang dan gembira di kemudian hari. Ketika Anda menolak bersedekah, Anda sedang membekukan hati Anda. Hati yang telah mengeras di masa muda sulit melunak di masa tua. Hati yang terus mengeras dan beku membuat masa tua Anda bermurung durjana.

Penelitian hubungan kebahagiaan dan sedekah (dāna)

Dalam sebuah penelitian tahun 2006, Jorge Moll dan rekannya di National Institutes of Health menemukan bahwa ketika seseorang menyumbang untuk amal, kedermawanannya ini mengaktifkan bagian otak yang terkait dengan kesenangan, hubungan sosial, dan juga kepercayaan.

Penelitian lain pada tahun 2008 yang dilakukan oleh profesor Harvard Business School Michael Norton dan rekannya menemukan bahwa bersedekah kepada orang lain lebih meningkatkan kebahagiaan orang yang bersedekah daripada membelanjakannya untuk diri mereka sendiri.

Kedua penelitian tersebut punya kesimpulan senada — terlepas Anda ateis atau menganut agama apapun — bahwa bersedekah meningkatkan kapasitas batin Anda untuk berbahagia. [T]

  • BACA artikel dan esai lain dari penulis SUGI LANUS
Yadnya Keenam, Yadnya Melindungi Lingkungan
Manusia Mentah Menurut Hindu Bali
Kepala Kelamin & Pusat Kendali Padmahṛdaya
Jiwa, Jiwa-Atma & Atma — Apa Bedanya?



Tags: dana puniahinduHindu BaliHindu NusantarasedekahSugi Lanus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Terdapat Sekitar 110 Tradisi dan Upacara Unik di Kabupaten Buleleng

Next Post

Puisi-puisi Arif Billah | Elegi Dewi Lanjar

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Arif Billah | Elegi Dewi Lanjar

Puisi-puisi Arif Billah | Elegi Dewi Lanjar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co