1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Umat Hindu Bersedekah 10 Persen Dari Penghasilan

Sugi Lanus by Sugi Lanus
September 8, 2023
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

— Catatan Harian, Sugi Lanus, 8 September 2023.

Ada sahabat yang sedang belajar Hindu bertanya dua pertanyaan mendasar yang mungkin juga menjadi pertanyaan di benak masyarakat awam lainnya:

1). Apakah Hindu mengenal sedekah?

2). Apakah Hindu hanya menyumbang untuk ritual-upakara saja?

Dalam ajaran Hindu disebutkan bahwa bersedekah sersepuluhan atau sama dengan 10% dari penghasilan adalah rahasia agar rejeki yang kita dapatkan menjadi berkah dan membawa kita menuju kehidupan yang sejahtera.

Kitab Skandha Purāṇa menjelaskan 10% persen penghasilan umat Hindu dianjurkan untuk disedekahkan:

“nyāyopārjita vittasya daśhamānśhena dhīmataḥ, kartavyo viniyogaśhcha īśhvaraprityarthameva cha” [V.7]

“Dari harta yang kamu peroleh dengan cara yang halal, ambil sepersepuluhnya [10%], dan sebagai kewajiban, sedekahkan. Persembahkan amalmu dengan ikhlas pada-Nya.”

Dalam ajaran Hindu sebutkan bahwa sedekah atau berdana akan melapangkan jalan hidup kita, menghilangkan hambatan karma yang menghadang. Berdana adalah jalan untuk membuka pintu bagi datangnya kebajikan dan melindungi kita dari mara-bahaya. 

Sama dengan keyakinan agama lain, dalam Hindu pun dipercaya dan dinyatakan bahwa sedekah yang kita berikan membuka jalan untuk rejeki yang lebih banyak datang di kemudian hari. Berdana tidak akan membuat seseorang jatuh miskin tapi sebaliknya akan membuat seseorang lebih hoki.

Yang dilarang dan bertentangan dengan ajaran berdana adalah prilaku berfoya-fota dan bermabuk-mabukan (mada). Foya-foya dan mabuk-mabukan adalah kebalikan dari kebajikan bersedekah/berdana. Jika orang yang tidak bersedekah dan bermabuk-mabukan, maka disebutkan prilaku ini akan melipatgandakan SAD RIPU dalam diri yang bersangkutan. Prilaku mabuk dan berfoya-foya, terlebih tanpa peduli lingkungan, apatis dan tidak bersedekah pada masyarakat miskin sekitar, akan melipatgandakan enam musuh yang ada dalam diri manusia (SAD RIPU), yaitu:

1). Kama, artinya keinginan, nafsu, hasrat, kepuasan dan kesenangan sendiri tanpa peduli sekitar,

2). Lobha, artinya tamak memperkaya dan semata-mata demi keuntungan sendiri tanpa peduli nasib orang lain,

3). Krodha, artinya kemarahan yang tidak terkendali dan mementingkan diri sendiri,

4). Moha; artinya bingung, kusut, tak ingat, menyasar, ngawur, membabi buta, tolol, kebodohan, kesesatan, dan kegilaan, akibat tidak ada lagi kejernihan,

5). Mada, artinya mabuk, gila, congkak, dan sombong, baik karena pikiran kalut dan juga karena minuman yang memabukkan dan menghilangkan kesadaran diri,

6). Matsarya, artinya suka membenci dan irihati, yang muncul akibat berbagai tabiat tersebut di atas, dan kegelapan berpikir.

Bersedekah tidak hanya untuk upakara atau persembahyangan

Dalam Bab 17, Shloka 20, Bhagavad Gita disebutkan:

“dātavyam iti yad dānaṁ dīyate ‘nupakāriṇedeśhe kāle cha pātre cha tad dānaṁ sāttvikaṁ smṛitam”

“Sedekah (dāna) yang diberikan kepada orang yang layak dan dengan cara memberi yang tepat, tanpa mempertimbangkan imbalan apa pun, pada waktu dan tempat yang tepat, dinyatakan sebagai kebajikan (yang memberikan berlipat kebahagiaan bagi yang melakukannya)”.

Orang yang layak diberikan sedekah adalah target atau sasaran dari sedekah. Tujuan dari sedekah atau ‘dānaṁ’ adalah membantu orang lain untuk diringankan beban hidupnya. Meringankan beban orang atau membebaskan seseorang dari derita adalah tindakan mulia yang memberikan kebahagiaan pada sang pelaku.

Sedekah menurut kitab Hindu-Buddha Nusantara

Kitab lontar Sarasamuścaya yang ditulis di atas daun lontar dan sudah dikenal di era Majapahit, dalam sloka 261, 262, 263, disebutkan bagaimana sebaiknya rejeki atau penghasilan seorang penganut dharma dikelola. Sloka dari Kitab Sarasamuścaya isinya sejalan dengan isi lontar Kakawin Ramayana, sargah II bait 53, 34, yang mana disebutkan bahwa rejeki atau kekayaan kita hendaknya dibagi menjadi tiga porsi atau tiga bagian, sesuai kepentingan kita menegakkan dharma:

— 30% kekayaan atau rejeki kita untuk mendukung usaha kita menjalankan dharma atau kebajikan,

— 30 % rejeki kita untuk menjadi biaya kebutuhan harian keluarga dan rekreasi atau hobby lainnya,

— 40% untuk ditabung atau diputar sebagai modal dalam usaha yang sesuai dharma.

Kitab Sarasamuścaya lebih lanjut menjelaskan bagaimana secara tepat mengatur sedekah atau donasi kita ke masyarakat. Jika Anda cukup berada dianjurkan berdana pada desa, berupa pemberian lahan atau tanah untuk kepentingan desa, termasuk bisa menjadi pelaba atau aset desa. Jika Anda memiliki pengetahuan agama atau shastra suci, dianjurkan untuk berdana dalam bentuk “dana punia agama”,  yaitu secara sukarela mengabdi kepada masyarakat untuk berbagi pengetahuan suci dan ilmu pengetahuan terapan lainnya yang membantu orang lain lebih berdaya dan mandiri. Pengetahuan shastra suci dibagi dan disebarkan dengan harapan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya budhi pekerti yang luhur. Sarasamuścaya menyebutkan jenis dāna lainnya adalah “dana punia drewya” yaitu dana bantuan untuk membantu masyarakat yang masih belum bisa memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papannya.

Kitab lontar Wrhaspati Tattwa [26], menyebutkan seorang penganut ajaran Dharma wajib bersedekah. Ini akan membuat jalan Dharmanya menjadi terlengkapi. Syarat untuk menjalankan ajaran Dharma disebutkan: Sila­ (tingkah laku yang baik), Yadnya­ (pengorbanan suci), Tapa­ (pengendalian diri), Dāna (pemberian sedekah), Prawjya­ (menekuni ilmu pengetahuan suci), Diksa­ (penyucian diri secara spiritual), dan Yoga­ (melakukan disiplin untuk tetap terhubung dengan Hyang Widhi).

Sedekah menjamin kebahagiaan masa tua

Kitab suci Rigveda yang 1500 Sebelum Masehi sudah menjadi pedoman pemeluk Hindu Dharma menjelaskan bahwa orang yang tidak punya rasa belas kasih, yang tidak mau berbagi di masa mudanya, tidak berdana atau sedekah, hatinya akan mengeras di masa tua, dan tidak akan ada orang yang mampu menghiburnya di masa tuanya.

Di bawah ini adalah kutipan kitab suci RIGVEDA, X.117.

Para Dewa tidak menetapkan kelaparan sebagai kematian kita: bahkan bagi orang yang berkecukupan, kematiannya akan datang dalam berbagai bentuk,Kekayaan orang yang bermurah hati tidak akan pernah habis, sedangkan sebaliknya orang yang tidak bersedekah tidak akan mendapat kebahagiaan,

Orang yang mempunyai simpanan makanan, ketika melihat orang miskin datang dalam keadaan yang menyedihkan meminta makan untuk dimakan, mengeraskan hatinya (tidak peduli) terhadap orang yang mengemis tersebut, maka orang yang tidak peduli dan tidak memiliki belas kasih itu ketika di masa tuanya hatinya akan mengeras tidak ada seorang pun yang dapat menghiburnya.

Orang yang pemurah adalah orang yang memberi kepada pengemis yang datang kepadanya karena kekurangan makanan, dan orang yang lemah, Kemenangan akan menyertainya dalam sorak-sorai peperangan.  Pahala sedekahnya akan menjadi temannya yang akan melindunginya dalam kesulitan-kesulitan yang akan datang,

Orang yang tidak bersedekah makanan kepada pengemis tidak akan memilliki seorang teman yang datang membantu ketika ia kesusahan.

Adalah sudah sepantasnya orang kaya bersedekah kepada pengemis yang miskin, dan mengarahkan pandangannya ke jalan yang lebih jauh,Kekayaan datang kepada seseorang, terkadang kepada orang lain, dan seperti roda kendaraan yang terus berputar,Orang bodoh mendapatkan makanan dengan kerja yang tidak berkah: makanan itu – sejujurnya – akan menjadi kehancurannya, Dia yang tidak berbagi rejeki kepada sahabat kepercayaannya, tidak akan dicintai oleh siapa pun. Pendosa adalah dia yang makan tanpa berbagi.

Jika kita garis bawahi wahyu dalam Rig Weda di atas, jelas disebutkan: Kebiasaan berdana atau bersedekah di masa muda akan melembutkan hati Anda. Hati yang lembut di masa muda akan membuat hati Anda lapang dan gembira di kemudian hari. Ketika Anda menolak bersedekah, Anda sedang membekukan hati Anda. Hati yang telah mengeras di masa muda sulit melunak di masa tua. Hati yang terus mengeras dan beku membuat masa tua Anda bermurung durjana.

Penelitian hubungan kebahagiaan dan sedekah (dāna)

Dalam sebuah penelitian tahun 2006, Jorge Moll dan rekannya di National Institutes of Health menemukan bahwa ketika seseorang menyumbang untuk amal, kedermawanannya ini mengaktifkan bagian otak yang terkait dengan kesenangan, hubungan sosial, dan juga kepercayaan.

Penelitian lain pada tahun 2008 yang dilakukan oleh profesor Harvard Business School Michael Norton dan rekannya menemukan bahwa bersedekah kepada orang lain lebih meningkatkan kebahagiaan orang yang bersedekah daripada membelanjakannya untuk diri mereka sendiri.

Kedua penelitian tersebut punya kesimpulan senada — terlepas Anda ateis atau menganut agama apapun — bahwa bersedekah meningkatkan kapasitas batin Anda untuk berbahagia. [T]

  • BACA artikel dan esai lain dari penulis SUGI LANUS
Yadnya Keenam, Yadnya Melindungi Lingkungan
Manusia Mentah Menurut Hindu Bali
Kepala Kelamin & Pusat Kendali Padmahṛdaya
Jiwa, Jiwa-Atma & Atma — Apa Bedanya?



Tags: dana puniahinduHindu BaliHindu NusantarasedekahSugi Lanus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Terdapat Sekitar 110 Tradisi dan Upacara Unik di Kabupaten Buleleng

Next Post

Puisi-puisi Arif Billah | Elegi Dewi Lanjar

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Arif Billah | Elegi Dewi Lanjar

Puisi-puisi Arif Billah | Elegi Dewi Lanjar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co