24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Juru Kunci yang Selalu Dikenang – Tentang Bali United, Mbah Maridjan, hingga Wajeeh

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Esai

Foto: YouTube/Bali United TV

JURU kunci, status yang kini disandang Bali United (BU) pada kompetisi Go-Jek Traveloka Liga 1. Dua kali menelan kekalahan sudah cukup membenamkan skuat berjuluk Serdadu Tridatu ini di dasar atau di urutan ke-18 klasemen sementara dengan mengemas 0 poin, memasukkan 1 gol dan kemasukan 4 gol atau minus 3 gol.

Dua kekalahan cukup menyakitkan bagi tim asuhan Hans-Peter Schaller. Laga melawan Madura United pada tandang perdana di Pamekasan, Bali United kalah dengan skor akhir 2-0 pada Minggu (16/04/2017). Laga kedua di kandang  saat menjamu Persipura Jayapura, lagi-lagi BU kalah dengan skor 1-2 pada Minggu (23/04/2017).

Niat memberikan hasil terbaik bagi Semeton Dewata (sebutan suporter BU) yang memadati Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyardibalas dengan ejekan. Kekalahan adalah hasil yang menyakitkan, sebuah “aib”, apalagi di kandang.

Baiklah. Penampilan pemain BU saat meladeni Persipura jelas kalah ngotot ketika melawan Persib Bandung. Ini beda dengan sebelumnya. Padahal pertandingannya bertajuk uji coba,namun pemain BU mampu mengguncang seisi Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Bandung karena di luar prediksi mampu mengalahkan Persib dengan skor akhir 1-2 untuk BU.

Sementara itu, pada pertandingan perdana Go-Jek Traveloka Liga 1 di Stadion Dipta yang seharusnya sudah panas sejak menit awal justru berbalik menjadi petaka. Pada saat pertandingan baru berjalan 3 menit, gawang BU yang dijaga Kadek Wardana jebol lebih dulu melalui sontekan Marinus Mariyanto yang lolos dari jebakan offside. Permainan umpan dengan akurasi tinggi ala Mutiara Hitam Persipura mampu merepotkan barisan belakang BU.

Gol lawan melecut semangat para pemain BU. Beberapa peluang di depan gawang Persipura belum bisa dikonversikan menjadi gol penyeimbang. Striker anyar BU Sylvano Comvalius belum mampu mencetak gol.

Nah, gol yang dinanti publik tuan rumah akhirnya tiba. Tepatnya pada menit ke-31, Comvalius menceploskan bola ke gawang Persipura yang dijaga Yoo Jae Hoon (pernah berseragam BU Pusam). Berawal dari penyerang sayap BU Yabes Roni yang mampu mencuri bola dan diumpan Comvalius yang berada di depan gawang. Skor pun berubah imbang 1-1.

Bunuh diri

Gol penyeimbang melecutkan semangat para pemain BU. Mereka kemudian melakukan serangan demi serangan. Namun petaka justru menghampiri tuan rumah. Di menit ke-42 bek tengah BU, Abdul Rahman yang hendak memotong umpan pemain Persipura justru bola meluncur deras ke gawang Kadek Wardana. Kedudukan berubah  1-2 untuk Persipura yang bertahan hingga babak pertama selesai.

Pada babak kedua, para pemain BU mencoba menyamakan kedudukan. BU bermain dominan dan sukses memperoleh peluang. Namun belum sukses menghasilkan gol. Begitu juga dengan Persipura juga tidak kalah dan memiliki peluang menambah keunggulan. Pada menit ke-68 misalnya, Yustinus Pae melakukan tendangan jarak jauh dari luar kotak penalti. Beruntung bola membentur mistar gawang Kadek Wardana.

Peluang terbaik Persipura datang ketika Addison Alves mampu melewati Abdur Rahman. Praktis tinggal berhadap-hadapan dengan Kadek, bola ditendang lob melewati Kadek. Namun dengan sergapan cepat, melompat, tangan Kadek mampu membuang bola, sehingga tidak menjebol gawangnya. Babak kedua selesai dengan kedudukan tetap 1-2.

Gol bunuh diri pasti disesali dan menyakitkan. Apalagi tim yang dibela kalah. Dan itu diakui pelatih kepala Bali United, Hans-Peter Schaller, usai pertandingan.

Cerita gol bunuh diri hampir menghiasi jagat sepak bola. Jamie Carragher misalnya, selama 17 membela Liverpool, ia telah mengemas 14 gol dan hanya 4 gol yang bersarang ke gawang lawan, sisanya berstatus gol bunuh diri. Hampir semua bintang lapangan hijau pernah melakukan gol bunuh diri. Bahkan pemain megabintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo pernah melakukan gol bunuh diri.

Belum lagi cerita menyakitkan gol bunuh diri yang dilakukan bek Alaves, Delfi Geli, pada final piala UEFA 2001. Pada waktu itu, Alaves dan Liverpool sama-kuatnya 4-4 pada 90 waktu normal. Petaka itu terjadi pada menit 177 atau hanya 3 menit menjelang masa adu penalti. Bermaksud menghalau bola, namun sundulan Geli malah masuk ke gawangnya sendiri. Lebih menyesakkan lagi, karena waktu itu sistem golden goal, maka Alaves tidak mendapatkan kesempatan membalas, dan skor akhir 4-5.

Kisah gol bunuh diri dalam sepak bola paling tragis adalah apa yang dialami bek Kolombia, Andres Escobar, pada ajang Piala Dunia 1994. Escobar yang berusaha memotong laju bola umpan silang yang dilepaskan pemain Amerika Serikat (AS) justru masuk ke gawangnya sendiri. Pertandingan yang berakhir dengan skor  2-1 untuk AS itu berbuntut panjang. Meski menang pada pertandingan terakhir melawan Swiss, namun Kolombia tidak lolos ke fase berikutnya.

Lebih dari itu berita mengejutkan, 10 hari setelah pertandingan tersebut, Escobar ditemukan tewas di luar sebuah bar di kota kelahirannya, Medelin dengan 12 butir peluru bersarang di tubuhnya.  Belakangan diketahui penembak Escobar bagian dari sindikat judi yang yakin Kolombia lolos ke babak kedua.Namun hasilnya, Kolombia berstatus juru kunci.

Juru Kunci

Status juru kunci Bali United akan selalu dikenang dan tidak mudah dilupakan oleh para suporter. Prestasi dan prestise yang layak disematkan dalam sepak bola menjadi ukuran. Bagaimana mungkin stadion bergemuruh, kalau prestasi tim tidak pernah menang di tandang apalagi kandang. Atau sorak-sorai pendukung, berjingkrak di sepanjang pertandingan jika ternyata tim tersungkur kalah di depan mata suporter tuan rumah. Maka tidak mengherankan jika ada suara, teriakan dari tribun suporter mengejek tim kesayangan karena pemain memang bermain jelek. Juru kunci adalah tempat paling dasar di klasemen.

Di luar sepak bola, frasa juru kunci sudah dikenal lebih dulu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) juru kunci dijelaskan peserta pertandingan atau kompetisi yang menempati nomor terakhir. Dalam entri KBBI, kuncen diartikan “juru kunci”. Frasa ini diadopsi dari Baoesastra Djawa WJS Poerwadaminta, “djoeroe kontji-wong sing pinatah ngrekso pakoeboeran oetawa papan sing keramat” yang berarti penjaga dan pengurus makam atau tempat keramat, makam, dan sebagainya.

Jika dirunut lebih jauh lagi, dalam wikipedia.org misalnya, juru kunci merupakan penjaga tempat-tempat keramat di pulau Jawa. Jika makam kerajaan (di Yogyakarta atau Surakarta) juru kunci diberi nama, status, dan gelar.

Juru kunci lazim ada di makam raja-raja Surakarta dan Yogyakarta. Misalnya di Imogiri terdapat dua juru kunci yaitu juru kunci Surakarta dan Yogyakarta. Juru kunci seperti jabatan budaya yang biasanya tidak memiliki gaji atau pembayaran apapun, tetapi mereka memiliki kedudukan penting dan terhormat di kalangan masyarakat adat.

Nama juru kunci yang menjadi catatan sejarah dan akan selalu dikenang satu di antaranya Mbah Maridjan atau Raden Ngabehi Surakso Hargo. Almarhum kakek 83 tahun dengan nama asli Mas Penewu Surakso Hargo ini adalah tokoh juru kunci gunung Merapi. Mbah Maridjan menjadi rujukan setiap gunung Merapi akan meletus, warga selalu menunggu komando darinya untuk mengungsi.

Mbah Maridjan bukan hanya juru kunci namun teladan, sosok yang amanah menjalankan dan melaksanakan tugas dari Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Ia diangkat menjadi juru kunci sejak tahun 1982 silam. Selain itu, ia seorang pemberani dan hal itu telah dikenal masyarakat. Sejak kejadian Gunung Merapi akan meletus tahun 2006, Mbah Maridjan semakin terkenal. Mbah Maridjan juga pernah menjadi bintang iklan produk minuman energi.

Mbah Maridjan meninggal dunia saat menjalankan tugas pada 26 Oktober 2010 silam.  Waktu itu, gunung Merapi kembali meletus disertai awan panas setinggi 1,5 kilometer. Gulungan awan panas meluncur melewati kawasan tempat Mbah Maridjan bermukim.  Dan Mbah Maridjan pun meninggal saat bertugas. Atas semua itu, Mbah Maridjan diberikan penghargaan Anugerah Budaya 2011 dari Pemerintahan Provinsi DIY, kategori pelestari adat dan tradisi.

Ada satu nama juru kunci lagi yang melegenda. Dalam tulisan yang dilansir bintang.com, ada juru kunci yang terbilang legenderis secara historis. Juru kunci gereja “The Holly Sepulchre” di Kota Tua Yerusalem. Gereja yang diyakini menjadi tempat disalib, dimakamkan, dan kebangkitan Yesus.

Gereja tersebut dimiliki enam golongan Kristen, yaitu Ortodoks Yunani, Ortodoks Armenia, Katholik, Ortodoks Siria, Ortodoks Koptik Aleksandria-Mesir, dan Ortodoks Ethiopia Tewahedo. Dalam artikel tersebut disebutkan keenam golongan itu tidak akur, bahkan urusan pembersihan gereja mereka selalu memulai dengan pertengkaran.

Kekhawatiran pertengkaran itu semakin memuncak, maka diputuskan kunci gereja atau juru kunci dipegang keluarga Muslim. Sudah selama 1.300 tahun keluarga Muslim yang menjadi juru kunci adalah keluarga Nusseibeh. Sekarang ini, juru kunci bernama Wajeeh Nusseibeh. Ia bertugas mengunci gereja sebelum matahari terbenam dan membuka sebelum fajar.

Status juru kunci tak selamanya menjadi aib namun justru sebagai jabatan sosial yang dihormati masyarakat. Semangat juru kunci menjalankan tugas terlihat dari kegigihan, kesabaran, dan rela berkorban dalam menjalankan tugas.

Namun dalam dunia sepak bola, juru kunci memang harus segera dihindari jika tim tidak ingin terdegradasi pada musim berikutnya. Minimal menjaga kewibawaan klub, pemain, suporter, dan daerah yang ditempati klub.Cukup berat bergeser dari dasar klasemen.

Harapan untuk Bali United

Lalu bagaimana dengan status Bali United? Harapan beranjak dari juru kunci sangat terbuka lebar. Harapan dan cita-cita ada, karena kompetisi baru berjalan dua pekan. Syaratnya menang pada laga kesempatan ketiga pada Minggu (30/04/2017).

Namun pada laga pekan ketiga itu, jelas bukan pekerjaan gampang. Apalagi, lawan yang bakal dihadapi tuan rumah Laskar Joko Tingkir Persela Lamongan. Namun semangat dan rasa optimisme selalu ada dalam benak pemain Bali United. “Jeg puputan” dan “menolak menyerah” selalu membangkitkan gairah bermain Irfan Bachdim dan kawan-kawan.

Harapannya BU menang dan mendapatkan poin. Kemenangan demi kemenangan ditunggu Semeton Dewata bukan sekadar permainan bagus, tetapi hasil akhir kalah.  Baiklah kita tunggu perubahan apa yang akan dilakukan Hans-Peter.

Sebab, jika tak berubah, jika Bali United menjadi juru kunci dalam waktu yang panjang, apalagi sampai akhir liga, tentu saja tim kebanggaan ini akan dikenang juga seperti Mbah Maridjan. Hanya, bedanya, Bali United akan dikenang sebagai juru kunci dengan rasa yang amat pahit. Semoga tidak.  (T)

Tags: bali unitedGo-Jek Traveloka Liga 1Indonesiasepakbola
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Tak Hanya dengan Mata – Pengantar Buku Bianglala, Cerpen Anak-anak Muda Berkebutuhan Khusus

Next Post

Cerita Konyol Tentang Kunci, Tukang Kunci, dan Nasib Sial

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post

Cerita Konyol Tentang Kunci, Tukang Kunci, dan Nasib Sial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co