23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kesalahan dalam Mencari Makna Hidup

Krisna Aji by Krisna Aji
June 30, 2023
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

PERNAHKAH terpikir bahwa sebagai manusia, kita membutuhkan makna? Kebutuhan akan makna ternyata bukanlah hal yang remeh. Bahkan, menurut Victor Frankl, depresi lebih mungkin diakibatkan oleh kehilangan makna daripada kehilangan objek cinta–lost of love object. Karena, keberadaan makna dapat menjadi api semangat yang membuat manusia punya alasan untuk terus hidup. Lalu, bagaimana proses terciptanya makna?

Dimulai dari manusia sebagai subjek yang menciptakan keadaan ada–das sein, jika mengutip Martin Heidegger dari interpretasinya terhadap objek yang ditemui. Dalam hal ini, penciptaan ada dapat disebut dengan fenomenologi, di mana kemunculan ada akan sangat subjektif dan tergantung dari masing-masing individu. Jika masih rumit, mari kita bahas menggunakan contoh kotoran sapi di tengah jalan.

Saat ada pejalan kaki dengan panca indera yang tidak bermasalah, berpapasan dengan kotoran sapi di tengah jalan, ia memiliki kebebasan untuk mengartikan kotoran sapi tersebut. Akibat bau, bentuk visual, bising lalat yang berputar di atas kotoran sapi, serta latar belakang si pejalan kaki di mana sejak kecil ditanamkan bahwa kotoran sapi adalah objek yang buruk, maka ia akan memandang bahwa kotoran sapi di depannya sebagai objek yang negatif.

Hal yang berbeda mungkin akan terjadi pada pejalan kaki yang memiliki pekerjaan sebagai produsen pupuk kandang: kotoran sapi akan dilihat sebagai hal positif.

Lalu, bagaimana dengan seseorang yang melewati jalan dengan menjadi penumpang mobil yang sama sekali tak bisa melihat, membaui, bahkan mendengar bising lalat kotoran sapi yang dilaluinya?

Tentu saja, kotoran sapi tidak ada. Pada ketiga contoh tersebut, kotoran sapi sebagai objek dan manusia sebagai subjek tetap hadir dan hanya dibedakan dari munculnya interpretasi akibat pertemuan subjek dan objek.

Jika diperluas lagi, sejatinya manusia memiliki kontrol dalam memunculkan fenomenologi dalam keseharian walaupun realita–objek–tetap menggelinding apa adanya; yang membedakan hanyalah interpretasi. Kebebasan dalam memunculkan interpretasi ini kerap disebut dengan free will.

Dari kebebasan memunculkan interpretasi–free will, selanjutnya manusia memiliki kebebasan untuk memberikan makna bagi setiap interpretasi kecil dalam tiap jengkal perjalanan hidupnya–dikenal dengan will of meaning.

Makna kecil akan interpretasi tersebut pada akhirnya dapat diperluas sebagai makna bagi hidup manusia seutuhnya–meaning of life. Contoh dari kebebasan melakukan interpretasi dan berujung pada kebebasan memaknai hidup dapat dilihat pada kasus berikut:

Ada seorang perwira angkatan laut yang harus putus dari pacarnya akibat pacar tersebut terus menuntut untuk dinikahi. Ia menunda untuk menikah karena memang tidak ada pilihan lain. Kedua adiknya masih sekolah dan kedua orang tuanya sudah pensiun sehingga ia harus menjadi tulang punggung keluarga.

Dari titik itu, perwira laut tersebut menganggap bahwa ia melakukan pengorbanan kecil untuk keluarganya. Lebih luas lagi, perwira laut tersebut mendapatkan makna hidup yang melampaui kehidupannya yang monoton: menjadi pahlawan bagi keluarga.

***

Pencarian makna hidup memang mudah secara teori tetapi jarang dilakukan dengan benar dalam keseharian. Kebanyakan dari kita biasanya akan menempuh cara instan–berakhir dengan salah–tanpa perlu bertanya pondasi filosofis dari pencarian makna tersebut. Misalkan, pencarian makna yang dilekatkan pada pekerjaan dan profesi.

Menurut James Suzan, pekerjaan dapat mendefinisikan manusia. Hal tersebut terjadi karena pekerjaan akan mendikte tentang di mana dan dengan siapa manusia tersebut akan menghabiskan sebagian besar waktu. Secara subtil, pekerjaan akan memberikan “nilai diri” dan bagaimana posisi manusia di lingkungan sosial.

Kondisi tersebut mulai marak sejak revolusi industri di mana manusia terpisah dari komunitas lamanya karena menghabiskan sebagian besar waktu di pabrik. Di pabrik, komunitas baru, para pekerja tidak lagi membawa identitas diri yang pada awalnya melekat saat berada di komunitas lama. Ketiadaan identitas diri itu pada akhirnya menuntut manusia untuk mencari identitas baru dengan mencari posisi di mana sebagian besar waktunya dihabiskan pekerjaan.

Lebih jauh lagi, identitas baru tidak hanya berlaku di tempat kerja saja, tetapi juga melebar ke keseharian.

Contoh kasus adalah hirarki yang masih terasa saat bertemu dengan atasan tempat kerja walau pertemuan tersebut terjadi di luar ruang-ruang profesional; panggilan “Prof” saat bertemu dengan guru besar di kolam pemancingan; panggilan “Dokter” yang disematkan oleh redaktur yang berbalas pesan dengan seorang penulis karbitan yang berprofesi sebagai dokter–secara pribadi, ini membuat saya sangat sungkan saat berbalas pesan dengan redaktur Tatkala.

Padahal, atasan berperan sebagai pembeli saat berada di minimarket; profesor menjadi tukang pancing saat berada di kolam pemancingan; dokter bukan lagi dokter ketika tidak sedang berpraktik. Walau tampak sederhana, jika tetap dilakukan, kondisi itu tentu saja memiliki banyak sekali sisi negatif yang dapat menghancurkan. Salah satu yang paling sering adalah post power syndrome.

Post power syndrome terjadi akibat hilangnya pekerjaan yang dijadikan pegangan untuk mendefinisikan diri; tempat makna dilekatkan sudah waktunya pergi. Tidak sampai di situ, ternyata ada hal yang lebih fundamental pada post power syndrome–yang nantinya dapat dijadikan sebagai bahan kesimpulan dalam memahami konsep kemaknaan dengan lebih jelas.

Pada kondisi post power syndrome, manusia mengalami dua hal sekaligus: tidak adanya kemaknaan dan lost of love object akan kemaknaan itu sendiri. Hal tersebut terjadi karena adanya bias akan konsep kemaknaan di mana konsep dasar bahwa free will yangseharusnya tetap terpaku pada realita di masa kini ternyata bergeser menjadi kelekatan terhadap ilusi masa lalu atau masa depan yang penuh harapan. Harapan akan masa lalu dengan selebrasi posisi yang ingin diulang kembali, atau masa depan dengan cita-cita tinggi yang ingin diraih untuk pertama kali.

Jika berbicara mengenai pencarian makna yang lebih luas dan tidak hanya terpaku pada konteks pekerjaan semata, menaruh makna pada harapan adalah tindakan menempatkan kebahagiaan pada kondisi yang semu. Karena, satu-satunya kenyataan adalah kekinian–yang terus berubah–di mana kekinian tersebut bisa jadi tidak sesuai dengan harapan. Dalam hal ini, adaptasi persepsi terhadap kekinian yang temporer adalah jalan keluar dari kesalahan pencarian makna yang menjerumuskan.

Free of will, will of meaning, meaning of life.[T]

Masa Depan Perasaan Manusia
Setiap Manusia Adalah Filsuf bagi Kehidupannya Masing-masing
Dendam pada Musuh yang Imaginer
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental
Tags: filsafatkemanusiaanManusia BaliPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Kebyar Semadhi Yasa Desa Ababi Karangasem “Bersuara” Sejak 1928

Next Post

Pendidikan Inklusif: Menciptakan Lingkungan Belajar yang Merangkul Semua Individu

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Pendidikan Inklusif: Menciptakan Lingkungan Belajar yang Merangkul Semua Individu

Pendidikan Inklusif: Menciptakan Lingkungan Belajar yang Merangkul Semua Individu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co