23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepak Bola dan Mitos Pahlawan – Catatan Bara Puputan di Gelora Bandung Lautan Api

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Esai

Yabes Roni (kanan) disambut Irfan Bachdim (kiri) usai mencetak gol kedua bagi Bali United pada laga uji coba Bali United lawan Persib Bandung di GBLA, Sabtu (8/4/2017)/ Foto: www.baliutd.com

LUAR biasa baru kali ini melihat semangat I Gede Sukadana bermain sepak bola selama berseragam Bali United. Karakter pantang menyerah diperagakan dalam laga penuh drama antara Bali Unitedmeladeni tuan rumah Persib Bandung, Sabtu 8 April 2017, malam. Meski laga bertajuk uji coba yang berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) ini tak ubahnya pertunjukan para pahlawan Bali melawan penjajah.

Melihat pentas malam itu, seolah jiwa para gerilyawan Bali United bak disusupi bara puputan yang menggelora di tengah lautan api. Diprediksi bakal kalah bertandang di tanah Sunda, Serdadu Tridatu (julukan Bali United) menang 1-2. Perlu diingat, Persib Bandung adalah tim kuat digadang-gadangkan bakal menjadi juara Liga Indonesia 2017.

Laga itu juga disaksikan ribuan suporter fanatik Persib “Bobotoh” dan “Viking”. Istimewanya Persib memainkan pemain termahal di Indonesia bertitel marquee player Michael Essien. Ya, pemain yang pernah membela klub top Eropa di antaranya Chelsea, Real Madrid, dan AC Milan. Lebih istimewa lagi, sejak menit ke-73, Bali United harus bermain 10 orang karena Yabes Roni diusir wasit setelah insiden tendangan ke arah sang mega bintang Essien.

Malam sejarah baru bagi Bali United. Namun, bagi pendukung tuan rumah seperti fans Nirvana yang meratap penuh ketidakpercayaan bahwa sang idola Kurt Cobain ditemukan tewas di rumahnya tepat pada 8 April 1994 lalu.

Lalu; Sukadana malam itu menguasai peran barunya gelandang bertahan dari biasanya gelandang serang. Pemain asal Pegok, Sesetan, Denpasar ini tampak garang. Ia tak segan-segan beradu fisik hingga emosi dengan pemain tuan rumah. Dan benar saja, ia beberapa terlibat adu mulut dan hampir terlibat perseteruandengan gelandang pengangkut air “Maung” Bandung, Hariono.

Hanya Sukadana? Tentu tidak. Nama lain yang tak kalah moncernya dalam laga malam itu, I Made Andhika Pradana Wijaya. Ontong, panggilan akrab Andhika Wijaya yang notebene putra legenda hidup sepak bola Bali I Made Pasek Wijaya ini mampu menjaga daerahnya dari gempuran barisan penyerang Persib. Ontong tampak lugas menyapu meski ia berstatus pemain promosi. Pemain yang beroperasi di jantung pertahanan kiri Bali United mampu mematikan sayap lincah Persib Febri.

Begitu juga kiper I Kadek Wardana patut diacungi jempol. Ia mampu mengamankan gawangnya hingga menit-menit terakhir. Tak gentar dengan incaran eksekusi bola mati ala Essien. Mau bukti lain, pada menit ke-64, Bli Kadek mempelihatkan kelasnya. Ia mampu menyapu bersih bola berbahaya yang masih dikontrol pemain Persib Atep. Meski akhirnya ia harus memungut bola dari gawangnya setelah pada menit ke-87 sepakan keras Maitimo tak bisa ia jangkau.

Dalam balutan rasa bangga tidak perlu ragu dan setuju nama Irfan Bachdim pantas dielu-elukan. Betapa tidak, pemain kelahiran Belanda ini adalah pencipta petaka bagi sang tuan rumah. Pada menit ke-14 habitus Bali United menciptakan gol perdana sejak berseragam hitam-putih-merah. Melalui akselerasi kilat, hampir setengah lapangan Bachdim menggiring bola ke kotak penalti Persib. Lalu diselesaikan dengan tendangan cannonball.

Yabes Roni, satu nama menjadi bintang duel malam itu. Yabes menciptakan gol kedua bagi Bali United di menit 68. Melalui skema counter full speed ala Yabes dilanjutkan umpan silang ke Hamdi yang terbuka. Hamdi shooting, ditepis kiper Persib M Natsir. Namun bola muntah, ditendang Yabes dan gol.

Namun bukan karena gol itu yang mungkin akan selalu diingat Essien dan pencinta sepak bola Tanah Air. Namun insiden tendang bola Yabes mengenai Essien. Debut perdana Essien di Indonesia “tercoreng”. Essien mengejar penuh emosi setelah terkena bola tendangan anak muda asal NTT itu. Yabes lalu diganjar kartu merah dan diusir wasit. Setelah laga itu, Essien dan Yabes menjadi trending topic mengalahkan skor akhir pertandingan. Beritanya bukan hanya ramai di Indonesia, namun merambah media-media luar negeri.

Siapa Pahlawan

Nah, siapa sebenarnya pahlawan dalam laga itu? Sukadana? Ontong? Bli Kadek, Bachdim, ataukah Yabes? Atau juru taktik pelatih Bali United Hans Peter Schaller? Yapria asal Austria ini memberikan sentuhan magis skema 4-1-4-1 dan motivasi sehingga mampu meredam Persib yang berkarakter bermain lebih agresif. Pemain cadangan, suporter, atau pemilik klub? Kalau itu hitungan hanya di tengah lapangan maka sudah cukup man of match atau pemain yang paling menonjol perannya dalam sebuah laga itu. Mari kita telisik pahlawan itu.

Dalam KBBI,kata pahlawan/pah·la·wan/ termasuk kata bendayang berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya membela kebenaran, pejuang gagah berani. (Tulisan ini pun sengaja ditulis berapi-api, daya kobar). Sedangkan bahasa Inggris pahlawan disebut “hero” sosok legendaris dalam mitologi yang memiliki kekuatan luar biasa. Keberanian dan kemampuan, serta diakui keturunan dewa. Juga sosok yang selalu membela kebenaran.

Ada juga yang mendefinisikan pahlawan adalah seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya yang memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain, mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat bangsa atau umat manusia.

Mumpung masih hangat, kita lihat tulisan Gde Aryantha Soethama dalam buku “Menitip Mayat di Bali” (Kompas: 2016). Dalam esainya “Pahlawan Puputan” ada identifikasi gambaran pahlawan dan hakikat puputan. Ia menyebutkan pahlawan lazimnya lahir dalam perang, ketika situasi onar, dan saat kawan atau lawan susah diukur. Dalam kemelut, ketika harapan terus-menerus didengung-dengungkan, seseorang bisa muncul menjadi pahlawan. Zaman kacau-balau, hiruk-pikuk, penuh sumpah serapah, di situlah pahlawan-pahlawan lahir, muncul menjadi sosok yang dielu-elukan. Kepahlawanan tidak semata-mata dikaitkan dengan keberanian, tetapi juga kekuasaan.

Lantas apakah ada pahlawan dalam laga sepak bola? Atau sekadar mitos?

Hakikat puputan lebih jelas diulas. Puputan, bagi orang Bali, menjadi perang paling dahsyat. Puputan Badung, Margarana, Klungkung adalah puncak perang. Puputan menjadi sejarah perang yang tidak hanya membahas tentang serangan, bukan sekadar perihal serbuan untuk merampas, tidak pula tentang kegigihan bertahan.

Puputan menurutnya adalah klimaks sebuah perang. Kalah menang bukan lagi persoalan. Sikap satria adalam puputan, kendati harus terkapar kalah, jauh lebih dihargai tinimbang keberhasilan menikam musuh atau kemahiran menyusun strategi. Apakah para pemain Bali United memiliki punya jiwa puputan? (T)

Tags: bali unitedpahlawansepakbola
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Seperti Nonton Drama, Bali Ikut Deg-degan Menunggu Ending Pilkada DKI

Next Post

Jero Nyoman Franklin

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post

Jero Nyoman Franklin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co