22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Akar Jenggot atau Akar Pohon?

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
January 17, 2023
in Esai
Akar Jenggot atau Akar Pohon?

Ilustrasi tatkala.co

“Democracy grows into its being, Democracy has no ends” – Robert Mac Iver

Begitulah yang dikatakan oleh Robert Mac Iver, bahwa perjuangan untuk mewujudkan cita-cita demokrasi bahkan demokrasi itu sendiri tidak akan pernah mencapai bentuk final. Pernyataan tersebut tampak relevan dengan persoalan yang dihadapi oleh Indonesia hari ini.

Jelang Pemilu 2024, diskursus tentang sistem pemilu yang akan diterapkan pun hangat diperbincangkan. Berawal dari permohonan uji materi sistem proporsional terbuka ke Mahkamah Konstitusi (MK) dan kemudian berlanjut dengan pernyataan Ketua KPU RI, “Jadi barangkali bagi calon peserta pemilu bisa bersiap-siap dan mengikuti perkembangan jika gugatan tersebut dikabulkan MK”, dan perdebatan soal sistem pemilu proporsional terbuka dan tertutup pun menyeruak ke permukaan.

Kilas Balik Pemilu di Indonesia

Pertama kali Indonesia melaksanakan Pemilu adalah pada tahun 1951 yang masih bersifat daerah di Yogyakarta, Sangir-Talaud, dan Minahasa. Kemudian pada Februari 1952 dilanjutkan di Makassar. Pemilu ini sangat penting untuk mengukur kesiapan pelaksanaan pemilu nasional yang akan dilaksanakan tahun 1955.

Pemilu tahun 1955 menjadi salah satu peristiwa besar yang baru pertama kali diikuti secara langsung oleh seluruh lapisan penduduk Indonesia pasca kemerdekaan. Tidak hanya sebagai pemilu nasional pertama yang terselenggara di Indonesia, Pemilu 1955 juga menjadi pemilu dengan tingkat partisipasi pemilih yang tinggi—sebanyak 87,65 persen atau dengan kehadiran 39 juta orang ke tempat pemilihan dari total daftar pemilih sebanyak 43.104.464 orang[1].

Pemilu tahun 1955 menjadi satu-satunya pemilu nasional yang terselenggara di masa Orde Lama setelah diterbitkannya Dekrit Presiden tahun 1959 yang menutup kemungkinan dilaksanakannya pemilu kedua yang rencananya akan dilaksanakan pada tahun 1959-1960. Dekrit Presiden tersebut juga memulai era Demokrasi Terpimpin ala Sukarno.

Kemudian memasuki Orde Baru, pemilu nasional kurang lebih dilaksanakan sebanyak lima kali dengan tingkat partisipasi selalu di atas 90 persen. Hal ini tidak terlepas dari campur tangan penguasa dalam penyelenggaraannya—mobilisasi pegawai negeri sipil untuk memilih Golongan Karya (Golkar), membatasi akses kampanye partai selain Golkar, dan memberi ancaman kepada pihak-pihak yang mencoba untuk tidak memilih Golkar. Lewat cara-cara tersebut kemudian Presiden Soeharto mempertahankan kekuasaannya di eksekutif dan juga menguasai kursi-kursi di legislatif.

Pemilu di era Reformasi pertama kali dilaksanakan pada tahun 1999. Pemilu ini dapat terlaksana karena paket undang-undang politik yang disahkan di masa kepemimpinan Presiden B.J. Habibie. Produk undang-undang tersebut diantaranya, UU tentang Partai Politik, UU tentang Pemilu, dan UU tentang Susunan Kedudukan DPR/MPR.

Pemilu pertama di era Reformasi ini pun memenangkan PDI-P dengan 35.689.073 suara atau 153 kursi parlemen. Kemudian dilanjutkan dengan pemilu di tahun 2004, 2009, 2014, 2019, dan nanti pada tahun 2024.

Sistem Pemilu di Indonesia Bergerak Maju

Berangkat dari uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa pemilu di Indonesia telah bergerak maju. Bahkan pada pemilu di tahun 2004 telah melibatkan rakyat untuk memilih secara langsung presiden dan wakil presiden yang akan memimpin negara selama lima tahun mendatang. Kemudian disusul dengan sistem yang memungkinkan rakyat memilih wakil rakyatnya sendiri. Artinya rakyat telah memiliki kedaulatannya untuk memilih pemimpinnya sendiri. Kedaulatan tersebutlah yang disuguhkan oleh sistem pemilu proporsional terbuka yang sedang diterapkan Indonesia hari ini.

Sistem proporsional terbuka merupakan sebuah sistem yang memungkinkan pemilih untuk memilih individu yang dicalonkan oleh partai politik, dalam hal ini adalah calon anggota DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Sistem ini mengharuskan calon legislatif bertemu dan bersosialisasi ke pemilihnya, dan rakyat pun dapat mengenal siapa saja calon legislatif yang akan menyuarakan aspirasinya di gedung parlemen.

Sistem ini juga membuka ruang-ruang diskusi secara langsung antara calon legislatif dan pemilih. Meski demikian, sistem pemilu proporsional juga membuka ruang praktik transaksi suara di dalamnya. Bagi calon legislatif yang nihil gagasan, maka jalan pintas ini menjadi cara terbaik bagi mereka—rakyat yang dalam urusan perut belum tuntas pun akan terhanyut dalam praktik ini. Kemudian, apakah sistem pemilu proporsional tertutup lebih baik tinimbang sistem pemilu proporsional terbuka?

Para politisi yang sering lewat di layar kaca maupun di platform youtube kerap kali menyebut sistem pemilu proporsional tertutup dengan “akar jenggot”. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana—karena jamak terjadi dalam sistem ini para calon legislatif lebih mendekatkan diri kepada pemimpin partai untuk memperoleh nomor urut pertama atau kedua. Hal ini penting untuk memperbesar peluang keterpilihan mereka.

Sistem pemilu proporsional tertutup tidak memberikan kedaulatan penuh pada pemilih untuk memilih wakil rakyatnya. Pemilih hanya dipersilakan untuk memilih partai, kemudian untuk memilih siapa yang berhak duduk di kursi parlemen adalah partai politik itu sendiri. Hal ini tentu sama saja dengan rakyat “membeli kucing dalam karung”.

Lantas apakah praktik transaksional tidak ada dalam sistem ini? Tentu jawabannya adalah ada. Transaksi berlangsung antara calon legislatif dengan partainya sendiri. Kalau boleh secara kasar saya menyebutkan lebih baik praktik transaksional melibatkan rakyat, setidak-tidaknya rakyat menerima sedikit dampaknya—tapi bukan berarti saya memaklumi adanya praktik transaksional yang lebih akrab kita sebut dengan istilah “politik uang”.

Menjamin Kedaulatan Rakyat Lewat Sistem Proporsional Terbuka

Hari ini adalah eranya keterbukaan—termasuk di dalamnya keterbukaan dalam memilih wakil rakyat yang akan duduk di kursi parlemen dengan segala kewenangannya. Sudah tidak zamannya dan tidak ada yang perlu ditutupi, apalagi hal tersebut menyangkut kepentingan bersama.

Untuk menyempurnakan sistem yang sudah berjalan, maka sudah tentu itu adalah tugas anak-anak muda seperti saya dan anda. Memberikan edukasi secara massive kepada pemilih terkait dengan pemilu, menjadi mitra kritis pemerintah terhadap segala kebijakan yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan rakyat, dan tentu saja memetakan berbagai persoalan yang bisa saja terjadi jelang Pemilu 2024.

Lalu, apa yang sudah saya dan anda lakukan untuk kemajuan demokrasi di Indonesia? Coba sebutkan! [T]


[1] Faishal Hilmy Maulida, Sejarah Pemilu yang Dihilangkan: Pemilihan Umum dalam Kemelut Politik Indonesia Tahun 1950-an (Yogyakarta: Media Pressindo, 2020), hlm. 15.

Curik Bali, Maskot Pemilu 2024 Itu Dilepas 60 Ekor di Alam Liar Hutan Bali Barat
Pemilu, Politik & Stres
Investasi Politik dan Ingatan Pemilih dalam Kontestasi Pemilu
Tags: DPRpemiluPemilu 2024Politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nasi Kuning Bu Ayu di Baktiseraga, Sambal Nikmat untuk Nasi Kuning yang Nikmat

Next Post

Bondres Bicara Arak, 26 Sekaa Ikut Audisi, Ada Rare Kual dan MKP Mersi

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Bondres Bicara Arak, 26 Sekaa Ikut Audisi, Ada Rare Kual dan MKP Mersi

Bondres Bicara Arak, 26 Sekaa Ikut Audisi, Ada Rare Kual dan MKP Mersi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co