24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Linieritas Peristiwa Teks dan Pengalaman Individu | Membaca Persoalan Klasik dalam Cerpen “Pura Subak” Karya DN Sarjana

I Wayan Artika by I Wayan Artika
January 11, 2023
in Kritik Sastra
Linieritas Peristiwa Teks dan Pengalaman Individu | Membaca Persoalan Klasik  dalam Cerpen “Pura Subak” Karya DN Sarjana

Catatan:  Tanggal 19 Desember saya masih menginap di sebuah villa atau resort di Tabanan. Menjelang sarapan saya membaca cerpen “Pura Subak” yang linier dengan cerita yang saya tahu tentang villa tempat saya menginap. Hal ini membuat saya merekam komentar yang sangat panjang dan sulit dilakukan jika harus menulis di gawai. Redaktur Tatkala rupanya membaca kometar itu di FB kemudian menghubungi saya agar menulis dengan menyunting komentar itu. Esai ini ada kaitannya dengan  komunikasi saya dengan Redaktur Tatkala dan saya siapkan khusus untuk merespons cerpen DN Sarjana yang berjudul “Pura Subak” (Tatkala, 18 Desember 2022).

[][][]

CERPEN “Pura Subak” (DN Sarjana, Tatkala 18/12/2022) saya baca di sebuah villa atau resort, yang berlokasi di jalur tengkorak Denpasar-Gilimanuk, di Kabupaten Tabanan bagian barat. Lahan yang digunakan adalah sawah produktif.

Membaca ulasan tofografi Bali Selatan dalam buku Negara Teater (Clifford Geertz) tersimpul satu alasan kuat; mengapa pesisir Bali Selatan dari Mengwi ke Barat, sampai Jembrana, hingga mendekati ketinggian 800 MDPL lereng Gunung Batukaru; dibangun infrastruktur ekonomi subak; tiada lain karena bentang alam yang landai dan aliran belasan sungai besar yang berhulu di Gunung Batukaru atau di Gunung Merbuk. Hal yang sama terjadi di Bali Tengah dan Bali Timur. Sementara itu, Bali Utara tidak karena jarak dari pantai ke kaki bukit sangat pendek dan curam.

Ketika kerajaan Bali menyandarkan seluruh sumber ekonomi pada pertanian maka fungsi utama lahan, selain alas tutupan dan kebun atau abian adalah sawah. Padi menjadi komoditas yang sangat penting. Subak menyerap seluruh angkatan kerja di desa-desa. Infrastruktur air dibangun dan terpelihara dengan sempurna. Empelan-empelan besar(dam/bendungan) yang dibangun di beberapa sungai membuktikan bahwa orang Bali telah mampu memanfaatkan air dengan sangat produktif dan berkelanjutan. Air sungai dengan nutrisi humus yang dilepaskan oleh hutan di hulu tidak terbuang percuma di muara.

Cara kerja subak dalam hal irigasi adalah mengalihkan aliran sungai ke dataran-dataran di atas sungai yang lebih tinggi. Di sini air bergerak sesuai irama musim, melewati ribuan tebih (petak) sawah; untuk kembali ke sungai di bawahnya. Demikian seterusnya, subak-subak yang posisinya lebih di hilir, kembali menggunakan air tadi. Subak adalah instalasi air yang sangat hebat.

Urbanisasi mulai terjadi di Bali setelah 10 tahun Proklamasi ketika orang-orang desa menjadi pegawai pemerintah di kota-kota, seperti Denpasar dan Tabanan. Pembangunan sekolah-sekolah menengah dan universitas di kota menyebabkan anak-anak desa sekolah di kota. Banyak di antara mereka kelak tidak kembali ke desa karena di samping melanjutkan pendidikan tinggi juga karena bekerja, lebih-lebih ketika pariwisata berkembang pesat. Hal ini menimbulkan “gangguan” di tanah pertanian, yakni gejala diskontinyuitas atau regenerasi angkatan kerja mulai muncul yang tentu saja pada awalnya mendapat permakluman secara sosial karena setiap keluarga memandang urbanisasi yang dilakukan oleh anak-anak mereka sebagai perkembangan ekonomi dan sosial yang baik.

Gejala urbanisasi kaum muda desa semakin menjadi-jadi ketika Bali benar-benar mampu membuktikan diri bahwa industri pariwisata mengungguli ekonomi pertanian. Hal ini menimbulkan polarisasi antara pertanian dan pariwisata. Sebagai kutub ekonomi baru, pariwisata menjadi tumpuan dan tujuan kaum muda Bali. Keadaan ini menimbulkan dorongan untuk bekerja di sektor pariwisata. Mereka meninggalkan subak dan angkatan tua yang masih setia bertani.

Masifnya perkembangan pariwisata sering dituduh menghancurkan ekonomi subak dengan segala infrastruktur sosial dan instalasi airnya. Namun sejatinya jika saja mau lebih jujur, hal itu tidak terlepas dengan perubahan sikap masyarakat. Rasionalitas ekonomi pariwisata yang diterima sebagai kebenaran (ekonomi) baru di kalangan masyarakat kemudian membuka pintu-pintu transaksi penjualan subak/sawah dan akan digunakan untuk membangun restoran, hotel, villa, resort, perumahan tenaga kerja,  toko barang antik, kios seni, dan sejenisnya. Penjualan sawah atau jika mau subak karena perkongsian di antara kaum berduit pasti akan sanggup membelinya; dengan sangat mudah terjadi; sebagaimana DN Sarjana menceritakan dalam “Pura Subak”.

Dalam cerpen ini memang tidak disebutkan untuk apa penjualan sawah dan hanya menyisakan pura subaknya. Namun demikian, esensi persoalan sosial dalam cerpen ini adalah transformasi ekonomi subak menuju ekonomi yang lain (pariwisata).

Penjualan subak di Bali atau tanah-tanah lainnya, seperti perkebunan kopi di Desa Batungsel (1994) untuk pembangunan kandang bagi sebuah industri; memiliki satu struktur yang tetap. Di dalamnya selalu hadir (1) pembeli, (2) orang dalam atau makelar, (3) pejabat adat, dan (5) pemilik.

Apakah perubahan sikap masyarakat menjadi alasan satu-satunya betapa pada akhirnya masyarakat Bali sedemikian mudahnya menjual sawah? Apakah demikian hebatnya logika ekonomi baru dan rasionalitas membuat masyarakat Bali melego sawah-sawah mereka? Tiba-tiba mereka tidak sanggup lagi memaknai subak, yang tidak sebatas bentangan pematang indah yang selaras lanskap sebuah munduk, intalasi air, kesetiaan pada varietas padi yang mereka jaga dengan teguh, teknologi ekologi pengendalian hama (nangkluk merana) dan kesuburan tanah dalam sistem kerta masa, budaya subak yang antipestisida atau pupuk kimia –pertanian organik yang sedemikian mengagumkan; kemudian semua ini harus hancur ketika Orde Baru menjadi agen Revolusi Hijau!

Pada setiap kasus jual tanah dalam suatu kawasan, seperti subak (yang juga diceritakan dalam “Pura Subak” akan ada tokoh yang menolak. Namun demikian, tokoh ini sudah bisa ditebak nasibnya: kalah! Tidak ada kesatuan untuk mempertahankan tanah subak. Inilah yang ditegaskan oleh DN Sarjana dalam cerpennya kali ini. Artinya, memori masyarakat Bali masih terisi oleh perasaan tidak rela ketika sawah dijual dan beralih fungsi, kecuali pura subak-nya. Kalau saja, warga subak Yeh Telu memiliki kesatuan sikap untuk bertahan dan menolak investor lewat orang dalam Wayan Degag; maka Bapa Darma, Men Retug, dan Pan Ciri tidak akan sedih dan termarjinalkan.

Waktu terus berlalu. Sawah yang dulunya menghijau, kini ditumbuhi oleh rumah-rumah. Tidak ada lagi tempat untuk bercengkrama dengan para tetua di sawah. Tidak ada lagi cericit suara burung berkicau. Tiada lagi anak-anak bermain layang-layang.

Kurang lebih kutipan inilah yang sedang terjadi dan saya amati langsung saat saya menginap di sebuah villa di wilayah Kabupaten Tabanan bagian barat itu. Jalan paving block selebar enam meter membentang turun ke arah pangkung dan di sini air masih setia mengalir. Jalan ini berbelok ke arah kiri tepat di atas pangkung yang di seberangnya dibangun perkemahan. Di ujung jalan ini dibangun beberapa unit villa yang lebih besar dan mewah dengan kolam renang pribadi. Di sebelahnya, di mana jalan ini masih berlanjut alat berat beroperasi dan seperti pandangan Bapa Darma dalam cerpen “Pura Subak”.

“Bapa Darma merasa ditipu dan sedih melihat pematang sawah sudah hancur. Tidak lagi bisa dikenali sawah milik siapa.” (DN Sarjana, 2022, “Pura Subak”).

Karena tugas kampus, membimbing KKN di Desa Serampingan, dan tugas pribadi lainnya, seperti menemukan materi tulisan; saya cukup sering menginap di villa atau resort di Tabanan bagian barat itu.

Pada suatu pagi, beberapa bulan lalu, saya bertemu dengan seorang petani di salah satu sudut indah properti ini; ketika seperti biasa, setiap menginap dan setiap pagi harinya, sebelum mulai aktivitas; saya jalan-jalan. Selalu ada perasaan tidak bisa menerima dengan sepenuhnya kenyataan: bahwa resort ini dibangun di atas sawah yang telah dihancurkan tata jalan airnya, pematangnya, dan berbagai titik religiusnya, seperti andungan, pepuun, sanggah anak, pengalapan, dan lain sebagainya.

Pura Subak | Cerpen DN Sarjana

Kini saya memang menyimak tidak cuma cerita pahit atau getir Bapak Tani yang saya jumpai suatu pagi itu, tepat di antara tembok villa berbahan kayu antik; masih ada jalan setapak dan telabah yang berfungsi mengalirkan air yang telah digunakan untuk mengairi pematang di atasnya, dikembalikan ke pangkung untuk digunakan oleh persawahan yang lebih di hilir. Jalan setapak itulah yang dilewati oleh Bapak tadi dari dan menuju sawahnya di seberang pangkung.

Pagi dari restoran yang berada lebih tinggi daripada kamar-kamar resort, masih tampak potongan-potongan pematang. Cantik itu luka! Demikianlah kesan saya menyaksikan alih fungsi sawah itu, sebagaimana pagi ini pula saya membaca “Pura Subak” dari situs Tatkala. Saya sedang berada dalam satu garis lurus  (linieritas) pengalaman tekstual dan realitas. Cara pembacaan cerpen seperti ini sangat kuat maknanya walaupun harus berhati-hati untuk menjadikan realitas sebagai alat ukur sebuah cerpen.

Yang paling moderat adalah komplemensasi. Cerpen sebagai realitas teks yang imajinatif dikplomenterkan dengan realitas yang sedang dialami pembaca. Maka cerpen “Pura Subak” ini memiliki ruang realitas yang sangat luas yang dapat digunakan untuk melakukan pemaknaan, interpretasi, dan ujungnya adalah sebuah apresiasi.

Pembacaan ini adalah sebuah metode kritik teks (sastra) dan metode mengajarkan sastra yang belum banyak dicoba, baik oleh mahasiswa, peneliti, dosen sastra, dan guru-guru bahasa di sekolah. Namun demikian, pengalaman yang linier dengan teks mungkin akan menjadi satu tantangan.

Pendekatan ini dibangun di atas prinsip pembacaan karya sastra dengan berpijak pada satu linieritas peristiwa yang nyata dan faktual. Hal ini didasari oleh pendekatan mimesis (M.H. Abrams) yang kelak membuka studi interdisipliner untuk kajian sastra. Di sini sastra berkesempatan menggunakan teori-teori di luar sastra, seperti pendidikan, politik, gender, emansipasi, antropologi, sejarah, ideologi, ilmu jiwa, dan lingkungan.

Pada ulasan ini, pengalaman atau realitas yang dilinierkan dengan realitas teks adalah kebetulan milik penulis dan bahkan ketika terjadi peristiwa membaca cerpen, langsung berada di lokasi, sebagaimana persoalsnnya sama dengan yang ada di dalam cerpen (“Pura Subak”). Hal ini hanya satu model yang bisa dikembangkan.

Model lain adalah menggunakan pengalaman orang lain atau sekelompok masyarakat. Misalnya ketika mengkaji atau menyoroti “Ketika Kentongan Dipukul di Bale Banjar” (Nyoman Rasta Sindu, 1972) dapat menggunakan pengalaman-pengalaman linier dari mereka yang pernah memiliki atau tersandung kasta dalam percintaannya. Pengalaman-pengalaman itu dianalisis dan dilakukan anlisisi lanjutan yakni dengan kajian linieritas dengan realitas di dalam “Ketika Kentongan Dipukul di Bale Banjar” atau sebaliknya. Hal ini digunakan untuk membaca cerpen dengan suatu aktivitas pemaknaan.

Makna teks bagi pembaca secara reseptif tidak bersifat umum atau cenderung subjektif (individual, dan bukan pertentangan terhadap yang ilmiah). Atas dasar itu, kajian ini memiliki pijakan teori yang kuat. Mengingat beberapa realitas mengandung karakteristik yang sama, pembacaan linieritas cerpen “Pura Subak” juga dapat dilakukan terhadap pelinieritasan pada peristiwa serupa sehingga dasar pemaknaannya semakin kuat dan kaya.

Dalam rangka itu, saya memiliki pengalaman yang sama ketika menginap di sebuah villa di kawasan Pantai Kedungu, Kecamatan Kediri, Tabanan. Belasan unit villa dibangun di tengah-tengah areal persawahan yang sangat luas. Satu villa dihubungkan dengan jalan semen kasar selebar 3 meter. Di sekeliling villa-villa aktivitas petani masih tetap berlangsung. Terlepas dari bagaimana negosiasi antarberbagai pihak dalam alih fungsi sawah menjadi villa di lokasi ini,apapun yang terjadi di villa itu adalah suatu jalan tengah; atau batu loncatan untuk benar-benar merombak subak menjadi sarana turis di kawasan persawahan sekaligus kawasan pantai itu.

Masih ada jalan lain. Model pengembangan wisata dan perkemahan dengan sistem kontrak, seperti yang terjadi di kawasan destinasi wisata Tirta Gangga. Di sini sawah sama sekali tidak beralih fungsi. Aktivitas wisata dan bertani berjalan sesuai dengan jadwal masing-masing.

Mencermati model kajian teks sastra seperti pada esai ini, adalah satu risiko kajian dengan pendekatan mimesis yang berkembang pesat setelah sastra dijadikan studi interdisipliner dan dinamik dengan menggunakan teori-teori ekstrasastra. Kajian cerpen, sebagaimana pada esai ini, “Pura Subak”; adalah kajian sosial yang harus dilandasi oleh sumber data dan analisis terhadap berbagai data transformasi sosial. Namun dalam kajian ini ditekankan pada konsep linieritas pengalaman pribadi, yang memicu lahirnya esai ini. [T]

[][][]

BACA artikel lain dari penulis WAYAN ARTIKA

Antitesis Dunia Lisan, Sensasi Dunia Tulis, Merambah Dunia Pengetahuan, Merespons Tulisan, dan Peristiwa Cerita
Literasi Mahasiswa dan Ideologi Wirausaha: Meretas Jalan dari Ontologi ke Aksiologi, Ketika Teori dan Teorema Menjadi Prototipe
Puisi dan Topi Baja | Esai Bagi Pengajaran Sastra
Tags: Cerpenkritik sastraPariwisatapariwisata balipertaniansastraSastra Indonesiasastra indonesia di Balisubak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gede Adi Indrawan, Guru SD yang Sukses Jadi Youtuber dan DJ

Next Post

Cuah-Cauh Sebelum Kepus Pungsed

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails
Next Post
Cuah-Cauh Sebelum Kepus Pungsed

Cuah-Cauh Sebelum Kepus Pungsed

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co