6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Banyumili, Karya Neo-Klasik Untuk Gamelan Selonding | Sublimasi Nilai Telaga Sebagai Benih Penciptaan

tatkala by tatkala
November 27, 2022
in Panggung
Banyumili, Karya Neo-Klasik Untuk Gamelan Selonding | Sublimasi Nilai Telaga Sebagai Benih Penciptaan

Latihan untuk pertunjukan seni di Ubud Campuhan budaya, ubud, Bali

PADA MALAM PENUTUPAN acara festival Ubud Campuhan Budaya di Museum Puri Lukisan, Minggu, 27 November 2022, dipentaskan  satu buah karya seni musik baru berjudul “Banyumili”. Pertunjukan ini dibawakan oleh Sekaa Teruna Udyana Taman Kelod di bawah asuhan komposer sekaligus editor buku macandetan, I Wayan Diana Putra.

Seperti apa pertunjukan seni musik Banyumili itu?

I Wayan Diana Putra memberi penjelasan, Gamelan Selonding merupakan salah barungan gamelan Bali yang berlaras tujuh nada. Secara organologi berbentuk bilah tanpa pencon berbahan besi. Teknik permainannya menggunakan dua tangan. Adapun susunan tungguhan dalam barungan gamelan Selonding terdiri dari tungguhan petuduh, peenem, nyong-nyong alit, nyong-nyong ageng, gong dan kempur.

Tungguhan petuduh dan peenem dalam sistem kerja musikalnya bertugas memainkan bantang gending (melodi) serta mempimpin arah progresi melodi dan struktur gending. Tungguhan nyong-nyong alit dan nyong-nyong ageng memainkan pepayasan (ornamentasi) progresi melodi dengan teknik ubitan yang disebut dengan “ngucek”.

“Ngucek adalah sebuah teknik memberikan pepayasan atas progresi melodi dengan mengisi sub divisi dari jarak antara nada satu dengan nada lainnya dalam alur melodi. Cara kerjanya adalah membagi melodi gending menjadi dua pola yang kemudian menjadi satu kaitan jalinan yang dapat memperkaya isian progresi melodi,” kata Diana.

Latihan pertunjukan seni musik Banyumili

Kemudian tungguhan gong dan kempur yang tidak berpencon namun berbilah serta bernada dalam barungan Gamelan Selonding bertugas ganda yaitu sebagai penanda frasa melodi dan berperan sebagai kolotomik struktur gending. Gamelan Selonding awalnya dikenal tumbuh dan berkembang di Kabupaten Karangasem seperti di Desa Tenganan, Bebandem, Bongaya dan juga terdapat di pura-pura besar di Bali seperti Pura Penataran Agung Besakih dan Pura Ulun Danu Batur.

Gamelan Selonding secara konvensional difungsikan sebagai ‘pengramen’ dari jalannya upacara yadnya khususnya Upacara Dewa Yadnya, bahkan beberapa daerah seperti di Desa Tenganan Pegringsingan barungan gamelan Selonding diposisikan sebagai benda sakral. Menurut laporan skripsi Komang Ayu Paramita di Desa Tenganan Pegringsingan gamelan Selonding diposisikan sebagai pretima.

“Semakin berkembangnya pemikiran yang berbasis teknologi dan kreativitas, gamelan Selonding mulai dilirik untuk dikaji lebih dalam lagi dari segi teori estetika, nilai penyajian bahkan formulasi komposisi gending-gending dari gamelan Selonding,” kata Diana Putra.

Lalu apa hubungannya dengan pertunjukan Banyumili?

I Wayan Diana Putra  mengatakan, Banyumili adalah salah satu bentuk karya atas intepretasi terhadap nilai musikal dari gamelan Selonding. Berpijak pada prinsik neo-klasik seperti yang diungkapkan oleh I Wayan Sudirana yaitu adalah sebuah bentuk karya baru yang dilandasi dari suatu yang sudah mapan (pakem) supaya memiliki nilai dan mutu yang bisa disepakati.

Beranjak dari pemikiran Sudirana tersebut karya Banyumili ini sangat jelas berpijak pada cara kerja penyajian gending-gending gamelan Selonding secara tradisi seperti menyajikan satu siklus bantang geding kemudian diberikan pepayasan dengan teknik ngucek adeng dan becat. Diawali oleh frasa melodi yang menuju akhir dan juga diakhir pada frasa melodi yang sama.

Prinsip itulah, kata Diana Putra, yang diambil sebagai pijakan karya Banyumili. Beranjak dari sebuah bantang gending yang diolah dengan cara memenggal frasa dari setiap perjalanan siklusnya, kemudian diberikan pepayasan ngucek sesuai dengan frasa-frasa genap dari bantang gending.

“Kemudian nama Banyumili itu sendiri dalam konteks karya neo-klasik gamelan Selonding ini sebagai sebuah arah dalam membuat melodi yang sifanta pendek dan kemudian dimainkan secara berulang-ulang,” kata Diana Putra.

Bentuk penyajian melodi berulang-ulang seperti itu dalam gamelan Bali disebut dengan ngubeng. Lebih lanjut korelasi antara Banyumili dengan cara bentuk melodi ngubeng adalah mengisi sesuatu ruang yang bersifat mengalir berputar dengan mengisinya dengan pola-pola pengramen yang dalam hal ini merujuk pada pepayasan.

Pemilihan judul Banyumili didasari atas pemikiran Ida Bagus Oka Manobhawa yang menyebutkan berintikan sebuah kebudayaan yang seperti halnya air yang mengalir kemudian mengalir ceruk-ceruk, pori-pori dan celah-celah terkecil kemudian memberikan stimulant untuk memunculnya benih-benih ciptaan.

Berdasakan atas pemikiran Oka Manobhawa tesebut karya neo-klasik gamelan Selonding ini mencoba untuk membuka ceruk-ceruk aliran kekayaan formulasi gending tradisi gamelan Selonding, dianalisis untuk dikembangkan serta diwujudkan dalam bentuk karya baru.

“Karya Banyumili ini terinspirasi dari filosofi telaga yaitu sebuah tempat genangan air yang dalam bentuknya didasari oleh lumpur sebagai penyangga ekosistem segala makhluk hidup yang berhabitat pada ruang tersebut,” ujar Diana Putra.

Latihan pertunjukan seni musik Banyumili

Dari pondasi lumpur sebagai penyangga kejernihan air pada permukaan merupakan sebuah konsepsi keseimbangan serta pertemuan untuk melahirkan benih-benih ‘reka’ atau penciptaan. Kemudian nilai filosofi telaga sebagai benih penciptaan ditarik menjadi arah penciptaan gending neo-klasik untuk gamelan Selonding berjudul Banyumili dengan menyajikan struktur komposisi yang berkembang dari frasa yang pendek-pendek.

Melodi didesain dengan konsep melodi ngubeng (progresi pendek yang berputar), pepayasan ngucek dengan cara kerja mejalan dan diberikan pepayasan berupa tembang palawakya dan chorus cecantungan barong landung dengan teks yang bersumber pada penggalan Kekawin Ramayana tentang keutamaan telaga.

Teks penggalan kekawin Ramayana ditembangkan dengan bentuk palawakya oleh Ida Ayu Komang Diana Pani. Selain itu dalam konteks nakeh nabuh (sikap memainkan gamelan) diinjeksi oleh Ida Ayu Wayan Arya Satyani dan Ida Ayu Prihandari.

“Karya Banyumili ini merupakan salah satu pergerakan untuk memunculkan tunas-tunas karya baru dalam konteks penciptaan gending gamelan,” kata Diana Putra.

Media Penyemai

Ketua Panitia Ubud Campuhan Budaya, Cokorda Gde Bayu Putra alias Cok Bayu, mengatakan, melalui karya Banyumili yang diprakarsai oleh Yayasan Janahita Mandala Ubud sebagai media penyemaian benih-benih potensi gamelan Selonding untuk dikaji dan digarap kembali dalam bentuk baru berpijak pada akar gamelan Selonding yang telah tertancap dengan mapan.

Hal menarik lainnya menurut Cok Bayu, penabuh yang memainkan karya Banyumili adalah sekee Selonding Prami Prani dari Sekee Teruna Udyana Banjar Taman Kelod, Ubud. Antara konsep musikal dan penyaji musikal memiliki nilai benang merah yang menarik, gending Banyumili dengan spirit pergerakan yang mengaliri disajikan oleh tunas-tunas generasi pelanjut (Udyana) sehingga menemukan jalinan dalam bentuk karya neo-klasik gamelan Selonding.

Latihan pertunjukan seni musik Banyumili

Lebih lanjut Ketua Yayasan Janahita Mandala Ubud, Cokorda Agung Ichiro Sukawati menambahkan bahwa karya Banyumili ini merupakan sebuah penyeimbang dalam pergerakan kebudayaan gamelan mengingat sudah terpublikasi jalinan pemikiran dalam bentuk eksplanasi pengetahuan gamelan.

Cokorda Agung Ichiro Sukawati juga lebih lanjut mengatakan bahwa penciptaan karya untuk gamelan Selonding untuk mengaktualisasikan konsep Manacika, Wacika dan Kayika.

“Manacika berorientasi pada pengembangan kebudayaan gamelan, Wacika memberikan ruang persemaian gagasan dan terkahir harus berdasarkan laku kayika yaitu berbuat dengan aktualisasi penciptaan karya Banyumili,” kata Cok Ichiro. [T][ole]

Ubud Campuhan Budaya 2022: Ibarat Telaga Sebagai Ruang Imaji Demi Tumbuhnya Pusparagam Kreativitas
Tags: gamelan selondingmusikUbudUbud Capuhan Budaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ubud Campuhan Budaya 2022: Ibarat Telaga Sebagai Ruang Imaji Demi Tumbuhnya Pusparagam Kreativitas

Next Post

“Sakit Gegaen Anak” | Cerpen Putu Arya Nugraha

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

Sasolahan “I Sigir Jlema Tuah Asibak” bakal menutup perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII yang telah berlangsung selama sebukan penuh, 1-28...

Read moreDetails

Teater Tari ‘Swarga Rohana Parwa’ dari IHDN Mpu Kuturan: Teks-teks Kuno yang Digerakkan, Ditarikan dan Disuarakan

by Nyoman Budarsana
February 26, 2026
0
Teater Tari ‘Swarga Rohana Parwa’ dari IHDN Mpu Kuturan: Teks-teks Kuno yang Digerakkan, Ditarikan dan Disuarakan

LAMPU panggung menyala. Seorang penari perempuan masuk panggung. Ia membaca puisi bahasa Bali. Suaranya menggema dari panggung ke seluruh ruangan....

Read moreDetails

‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
0
‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

MESKI tetap menampilkan suasana magis ala Bali, Drama "Basur" yang dipentaskan Teater Jineng SMA Negeri 1 Tabanan (Smasta) sesungguhnya lebih...

Read moreDetails

‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
0
‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

SANGGAR Nong Nong Kling adalah kelompok seni pertunjukan yang lebih sering mementaskan drama gong, misalnya di ajang Pesta Kesenian Bali...

Read moreDetails

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 21, 2026
0
Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

SELASA pagi, 10 Februari 2026, ruang rapat Gedung A lantai 2 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) mendadak berubah fungsi....

Read moreDetails

Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

by Dede Putra Wiguna
February 19, 2026
0
Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

SORE itu, di atas panggung utama, lima penari perempuan berdiri dalam sikap anggun nan tegas. Jemari mereka lentik, sorot mata...

Read moreDetails

Kreativitas Aransemen dan Penggunaan Alat-alat Musik Baru Masih Minim pada Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 17, 2026
0
Kreativitas Aransemen dan Penggunaan Alat-alat Musik Baru Masih Minim pada Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

PESERTA Wimbakara (Lomba) Musikalisasi Puisi Bali serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 di Gedung Ksirarnbawa, Taman Budaya Bali,...

Read moreDetails

Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

by tatkala
February 16, 2026
0
Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

DI Bali, seni tumbuh seperti napas: alami, dekat, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Namun tidak semua seni mendapat panggung...

Read moreDetails

Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

by Radha Dwi Pradnyani
February 15, 2026
0
Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

DI tengah arus modernisasi dan industri hiburan yang masif, upaya pelestarian kesenian terus dihidupkan melalui berbagai ruang kolaborasi. Salah satunya...

Read moreDetails

‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

by Nyoman Budarsana
February 11, 2026
0
‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

PANGGUNG gelap, kecuali panggung di sisi kiri. Di situ cahaya jatuh pada bangunan berbentuk pondok beratap alang-alang. Di teras pondok...

Read moreDetails
Next Post
“Sakit Gegaen Anak” | Cerpen Putu Arya Nugraha

“Sakit Gegaen Anak” | Cerpen Putu Arya Nugraha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co