6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ulasan Nominasi Sastra Bali untuk Anugerah Sastra Rancage 2022

I Nyoman Darma Putra by I Nyoman Darma Putra
January 31, 2022
in Ulasan
Ulasan Nominasi Sastra Bali untuk Anugerah Sastra Rancage 2022

Buku-buku sastra Bali modern yang terbit tahun 2021 [Foto Nyoman Darma Putra]

Kumpulan cerpen Punyan Kayu ane Masaput Poleng di Tegal Pekak Dompu [Pohon Kayu yang Berselimut Kain Poleng di Ladang Pekak Dompu] karya IGB Weda Sanjaya [Bajera, Tabanan, Bali, 29 Agustus 1988] ditetapkan sebagai peraih Hadiah Sastera Rancage dalam suatu acara di Bandung, 31 Januari 2022.

Berikut adalah ulasan atas semua sastra yang masuk nominasi dengan penekanan khusus pada kekuatan antologi cerpen yang menjadi buku sastra Bali terbaik.

Sebanyak 12 Judul

Jumlah buku sastra Bali yang terbit pada tahun 2021 adalah 12 judul, meningkat dua judul dibandingkan jumlah terbitan tahun sebelumnya, 2020, yang berjumlah 10 judul. Sama dengan tahun sebelumnya, buku-buku yang terbit tahun 2021 ini pun sebagian besar diterbitkan oleh penerbit Pustaka Ekspresi, Tabanan, Bali. Selain lewat buku, karya sastra Bali juga muncul di media massa (cetak dan daring), seperti rubrik Media Swari (koran Pos Bali), Ajeg Bali (koran Media Bali), dan Suara Saking Bali, majalah daring berbahasa Bali.

Jumlah buku terbit 12 judul ini terdiri atas enam antologi puisi dan enam antologi cerpen (Lihat Tabel). Dari antologi puisi itu, ada satu antologi puisi Chairil Anwar yang terbit dalam terjemahan bahasa Bali dan disertai bahasa aslinya (bahasa Indonesia). Dalam deretan kumpulan cerpen, ada dua antologi cerpen yang merupakan karya bersama. Antologi puisi terjemahan dan antologi cerpen bersama tidak diikutkan dalam penilaian juri. Dengan demikian, hanya sembilan judul buku yang diikutkan dalam pertimbangan nominasi.

Karya Nominasi

Secara umum, karya sastra Bali yang terbit tahun 2021, baik berupa antologi puisi maupun cerpen menunjukkan kreativitas pengarang Bali dalam merespon situasi sosial, terutama masalah wabah pandemi. Tema-tema yang berkaitan dengan pandemi muncul dalam beberapa karya puisi dan cerpen.

Tema lain yang mewarnai karya-karya sastra Bali tahun 2021 adalah tema introspeksi dengan menghayati nilai tradisi, agama, dan kearifan lokal. Usaha pengarang untuk menggunakan gaya bahasa sangat kuat demi menghasilkan karya estetik dalam bahasa dan dalam inti cerita. Berikut adalah tinjauan atas karya-karya sastra Bali yang terbit sepanjang tahun 2021 yang masuk nominasi untuk hadiah sastra Rancage.

Puisi Pengusir Wabah

Antologi puisi Gending Penundung Gering (Nyanyian Pengusir Wabah) karya Putu Suweka Oka Sugiharta menyajikan 43 puisi, yang sengaja dipilih karena angka 43 adalah lambang tahun Icaka (1943 = 2021 masehi). Susunan ke-43 puisi itu pun diatur khusus, dua dimuat di Pengantar, 20 di bagian pertama dan 21 di bagian kedua, yang terangkai menjadi 2021.

Seperti bisa ditebak dari judulnya, puisi dalam kumpulan ini banyak mengungkapkan persoalan pandemi yang diungkapkan secara kreatif, metaforis, dan personifikatif. Puisi “Gending Panundung Gering” misalnya diekspresikan seperti ‘dialog’ di mana si aku-lirik bertanya kepada Sang Wabah: “uli dija jerone nylebseb/../ Nyen ngutus jerone aji silib? (dari mana Anda nyelusup/…/ Siapa mengutus Anda dengan ilmu sunyi?). Inti puisi ini adalah ganasnya wabah karena mematikan.

Tematik wabah yang menjadi warna antologi puisi Gending Penundung Gering adalah kelebihannya, apalagi diungkapkan dalam berbagai konteks. Selain pertanyaan tentang asal wabah dan jenis-jenis wabah, juga bagaimana masyarakat menerima wabah ini, semisal mahasiswa yang melakukan demonstrasi seolah tidak takut terpapar virus (puisi ‘Mahasisia Rusuh’/ Mahasiswa Rusuh). Puisi ini senada dengan puisi “Demokrasi – Da Mokak Ci (Jangan Kau  Sombong) hanya saja di luar tematik wabah.

Kekurangan dari antologi ini adalah kiranya karena kurang tuntasnya penyair untuk menggali tematik wabah dalam estetik simbolik. Keunikan simbolik yang dijanjikan mulai dari judul menyisakan rasa ingin tahu pada pembaca.

Kunang-kunang

Hadir dengan 47 puisi, antologi Kunang-kunang karya DN Sarjana menunjukkan kekhasan dalam judul puisi yang banyak menggunakan ungkapan kearifan lokal atau perumpamaan dalam bahasa Bali, seperti “idup di don candunge” (hidup di daun talas), “raos tan patanggu” (ungkapan tak bertepi), “depang suba” (biarkan saja), “ada tuara” (ada alasan), dan “tuak ulung” (tuak tumpah). Menghidupkan peribahasa bahasa Bali adalah kontribusi menarik dari antologi ini.

Ada juga judul yang bertolak dari unsur-unsur budaya seperti hari raya “Galungan”, penjor, “tridatu” (benang tiga warna), dan “Siwalatri” (cerita rakyat tentang Malam Siwa). Judul dan tema-tema puisi menarik, hanya saja disajikan dalam ungkapan sehari-hari. Misalnya puisi “Raos tan Patanggu”, diakhiri dengan bait: “Lan ngraos matemu rasa/ Apang raose dadi matanggu/ Anake dadi mangugu// yang berarti “Berkatalah dengan rasa/ Agar kata-kata jelas ujungnya/ Orang ‘kan jadi percaya”. Puisi lain rata-rata demikian, artikulasi tema rata-rata masih memerlukan sentuhan seperti kreativitas dalam menggunakan peribahasa Bali.

Tuyul Ayu

Antologi puisi Bererong Ayu (Tuyul Ayu) karya Ni Kadek Juliantari memuat 50 puisi dengan dua ciri utama: ekspresi orisinal. Orisinalitas ekspresi terasa dalam ungkapan berirama yang terjaga dalam bait-bait puisi yang pendek.

Gaya bahasa metafora yang dipilih penyair memungkinkannya untuk menyampaikan gagasan yang melintas dari persoalan nyata ke simbolik, atau dari simbolik ke persoalan faktual. Contohnya puisi “Belabar Agung” (Banjir Besar) yang dilukiskan tak hanya menghanyutkan berbagai benda tetapi juga kerakusan manusia.

Ada juga tema yang mencerminkan situasi sosial dampak pandemi, seperti terbaca dalam sajak “Mawali ke Bali” (Kembali ke Bali) yang melukiskan pekerja migran Indonesia (PMI) terpaksa pulang karena tidak ada pekerjaan di luar negeri.

Sayangnya, tema sosial seperti itu tidak merata hadir dalam antologi ini, karena banyak terselip tema-tema dengan urgensi dan substansi yang ringan, termasuk ihwal kenakalan tuyul yang menjadi tema puisi “Bererong Ayu” yang menjadi judul antologi ini.

Menjemput Matahari

Antologi puisi Mapag Matan Ai (Menjemput Matahari) karya NW Adnyani memuat 40 puisi dengan tema dominan pada pencerahan tentang ajaran agama, doa-doa memohon perlindungan pada Tuhan, nasehat-nasehat moral, dan kebajikan atau kebijakan.

Puja-puji pada Tuhan dan suasana spiritual terungkap lewat puisi tentang tempat suci dan upacara odalan seperti pada puisi Sasih kadasa ring Pura Besakih (Bulan ke-4 di Pura Besakih), pada serangkaian hari raya seperti Penampahan (Hari Pemotongan Hewan sehari sebelum hari suci Galungan), dan penyucian pikiran pada puisi Kuningan (“Hari Raya Kuningan”).

Selain memuja Tuhan, puisi dalam antologi ini juga mendorong pembaca untuk selalu teguh dalam menghadapi realitas kehidupan. Puisi yang dijadikan judul antologi ini, Mapag Matan Ai adalah contohnya. Di dalamnya tersirat gagasan perlunya manusia teguh dalam mencari atau menjaga mata pencaharian (matan ai = matahari, bersosiasi pada mata penca-hari-an), ibarat matahari yang terus berputar meski langit berawan atau mendung, melaksanakan mata pencaharian tidak boleh berhenti.

Terlepas dari beberapa puisi yang bagus, masih ada  beberapa puisi yang begitu lugas, tanpa menawarkan tantangan keras untuk pembaca mengupas.

Meniup Langit

Antologi puisi Ngupin Langit (Meniup Langit) karya I Gde Nala Antara hadir dengan 104 puisi. Sebagian besar puisi pendek-pendek, antara 1-3 bait seperti syair, termuat dalam setengah halaman. Setiap halaman puisi disertai ilustrasi foto yang sesuai, diambil dari internet, termasuk foto penyairnya (p.41).

Kelebihan utama antologi ini adalah puisi-puisinya rata menonjolkan irama, seperti tampak dakam bentuk syair dan puisi bebas yang bunyi akhir sama, seperti puisi “Tulus” yang terdiri dari satu bait delapan baris yang bunyi akhirnya –us (belus, lukus, dudus.. dan seterusnya) dan puisi “Cicing Jaruh” (Anjing Libido) yang terdiri dari 25 baris dan bunyi akhirnya sama -uh.

Selain irama akhir, estetika bunyi juga terasa lewat pemakaian kata ulang berubah bunyi seperti ‘galah gilih tan pasapa/ jinar jenar nyuti rupa’ (tongkat pilih tanpa sapa/ kuning merah ganti rupa). Ungkapan ini bisa dibaca dalam puisi “Yuan” (mata uang China) yang ditulis penyairnya sebagai catatan perjalanan ke negeri Tirai Bambu. Dalam antologi ini, terdapat beberapa puisi simbol luar negeri seperti Angkor Wat (Kamboja) dan Paris tanda tempat yang pernah dikunjungi penyairnya.

Sajak “Ngupin Langit” yang menjadi judul antologi ini mengungkapkan tradisi Bali mengusir hujan dengan mantra. Nilai Bali cukup kental dalam puisi ini dan lainnya, hanya saja tidak merata karena dalam beberapa karya puisi perlu pendalaman substansi sehingga tampil sama indah dengan irama yang membangunnya.

Cerpen Tiga Jam

Kumpulan cerpen Telung Jam Satonden I Meme Ngalahin (Tiga Jam sebelum Ibu Meninggal) menyajikan 13 cerita pendek, dengan dua karakteristik utama. Pertama, isi cerita sangat padat. Setiap ungkapan, alinea, dialog, narasi, menyajikan maksud dan makna yang sangat berarti pada alur dan narasi cerita. Tidak ada ungkapan, deskripsi, narasi yang sia-sia.

Walaupun ceritanya pendek, 4-5 halaman, rasanya panjang karena memerlukan perhatian sungguh dalam menyimak. Kedua, tema cerita kebanyakan mengukuhkan mitos-mitos dalam sistem kepercayaan Bali seperti soal setan, leak, wong samar, dan juga soal cinta bersegi banyak yang merusak harmoni keluarga.

Cerpen “Caleg” (Calon Legislatif) dan “Tiang Bengong Ningeh Adanne Ento” (Aku Bengong Mendengar Nama Itu) adalah dua cerita yang bercerita tentang takhyul, yaitu leak dan wong samar, sedangkan cerpen Telung Jam Satonden I Meme Ngalahin yang menjadi judul antologi ini adalah kisah cinta bercabang dan rumit yang menimbulkan cemburu sampai pelampiasan rasa dengan kekerasan yang mengakibatkan pihak terlibat meninggal. Cerita ini, dan cerpen-cerpen lainnya menarik, hanya saja kontennya belum sampai pada tafsir kreatif atas realitas lama.

Cerpen Mencari Arjuna

Kumpulan cerpen Ngalih Arjuna di Kamasan (Mencari Arjuna di Desa Kamasan) karya IBW Widiasa Keniten terbit dengan 15 cerita, yang latarnya semuanya di Kabupaten Klungkung, Bali. Widiasa Keniten adalah pengarang yang sangat produktif, setiap tahun minimal menerbitkan satu kumpulan cerpen, dan karya-karyanya senantiasa bersifat tematik tunggal, seperti antologi Wangchi Wuhan, berisi cerpen yang semuanya tematik covid.

Berbeda dengan itu, cerpen-cerpen dalam Ngalih Arjuna di Kamasan unik karena latarnya yang semuanya di desa atau daerah yang  ada di Klungkung. Isi narasi beraneka, seperti percintaan dan pariwisata, tetapi pesan tersiratnya adalah promosi wisata daerah-daerah yang dijadikan latar, seperti Kamasan adalah desa yang terkenal di Bali sebagai pusat lukisan tradisional Bali gaya khas Kamasan. Cerpen lain seperti “Inget Singgah di Gua Jepang” (Ingat Mampir di Gua Jepang) dan Satua Uli Nusa Lembongan (Kisah dari Nusa Lembongan) adalah kisah dengan tema dan subtema pariwisata di balik latar tempat itu.

Cerpen “Inget Singgah di Gua Jepang” adalah kisah turis Jepang yang disuruh oleh kakeknya untuk mampir di gua-gua Jepang di Klungkung ketika berlibur di Bali. Ketika turis Jepang perempuan itu mengunjungi gua dimaksud, kakeknya yang dulu ada di Bali saat penjajahan akhirnya meninggal, bermakna bahwa tugasnya memperkenalkan kepada cucunya gua lambang penjajahan itu sudah tercapai. Cerpen-cerpen dalam antologi ini unik dengan latar di satu daerah, cerita menarik dengan surprise di akhir, hanya saja kisahnya agak jauh dari kompleksitas alur yang bisa menambah nikmat sebuah cerita.

Cerpen Keris Pengantin

Kumpulan cerpen Keris Penganten (Keris Pengantin) karya Pande Putu Alit Antara memuat 15 cerita, yang kebanyakan berkisah tentang kearifan lokal budaya Bali, adat, kepercayaan, mitos, tradisi, dan tentu saja pariwisata. Cerita “Keris Penganten” melukiskan mitos tentang keris dan saung (tutup) yang terpisah, dan pertemuan antara keduanya menjadi simbol pernikahan seorang laki-laki dan perempuan. Ada hal mistis dan kebetulan yang menjadi kerangka cerita, yaitu seorang lelaki yang menjadi dukun berkat kesaktian keris yang dimiliki, sementara pasiennya adalah perempuan yang keluarganya menyimpan tutup keris. Cerita ini secara kental merefleksikan kehidupan, tradisi, dan sistem kepercayaan masyarakat Bali.

Cerpen lain juga demikian, seperti “Dalang Calonarang” yang berkisah tentang kesaktian dan kepercayaan akan black magic. Cerita-cerita tipikal Bali ini memang menarik, hanya saja pengarang tidak tampak memilih untuk mengukuhkan bukan memberikan tafsir baru atas mitos yang ada.

Cerpen Pohon Kayu

Kumpulan cerpen Punyan Kayu ane Masaput Poleng di Tegal Pekak Dompu (Pohon Kayu yang Berselimut Kain Poleng di Ladang Pekak Dompu) karya IGB Weda Sanjaya menyajikan12 cerita pendek dengan kisah-kisah warna lokal Bali yang sangat kental dan dikisahkan dengan cara yang orisinal. Kumpulan cerpen ini mendapat juara pertama lomba cerpen yang dilaksanakan oleh penerbit Pustaka Ekspresi tahun 2021. Atas keunggulannya, cerpen ini mendapat anugerah “Gerip Maurip” (Kalam Kencana). 

  • BACA: Weda Sanjaya, Peraih Hadiah Sastra Rancage 2022 | Ia Dengar Pengumuman Sambil Mengajar

Cerpen-cerpen dalam antologi ini memiliki setidaknya lima kekuatan. Pertama, tema-tema cerita sangat kental dengan warna lokal Bali, meski demikian disajikan dengan narasi yang orisinal. Pembaca bisa menikmati cara pandang baru tentang isu, nilai, sistem kepercayaan masyarakat Bali dengan kreatif, kadang bercanda tetapi bermakna.

Kedua, alur cerita menyajikan banyak kejutan karena orisinalitas narasi. Contohnya adalah cerpen “Ujan Ai du Desa Kawiswara” (Hujan Saat Mentari Bersinar Terang di Desa Kawiswara) mengisahkan dua desa yang masyarakatnya terbelah menjadi dua kubu karena menyukai dua jenis bunga berbeda yang berbeda warna: mawar merah dan gemitir kuning. Warna ini mudah membawa asosiasi kepada warna dua partai politik di Indonesia, namun yang dieksplorasi dalam cerpen ini adalah watak bunga mawar yang akan tumbuh baik kalau ada mentari cerah tanpa hujan, sedang gemitir baru akan tumbuh mekar bila banyak hujan. Kedua kubu di desa itu tiap hari mengucapkan doa berbeda: kubu fanatik mawar berdoa semoga terang tidak ada hujan; kubu fanatik gemitir berdoa semoga turun hujan. Tuhan mahapenyayang dan mengabulkan kedua doa sehingga tiap hari di desa tersebut turun ujan ai, sebuah paradok yaitu hujan tetapi mentari terang. Ending cerita mengalir lewat alur menarik dan memberikan kejutan, sementara masyarakat tetap terbelah seperti api dalam sekam.

Ketiga, bahasa dalam antologi cerpen ini menarik karena dituangkan dalam kalimat pendek akan tetapi mampu mengeksplorasi rasa, suasana, dan latar yang mendukung jalan cerita. Dengan gaya bahasa demikian, pengarang bisa menyajikan cerita realistik dan juga cerita yang absurd.

Keempat, latar cerita senantiasa dilukiskan terjadi atau berkaitan dengan Desa Kawiswara. Secara etimologi, ‘Kawi’ artinya ‘pengarang’, sedangkan ‘swara’ artinya suara. Kawiswara adalah nama desa imajinantif ciptaan pengarang. Cerpen yang berbeda-beda seperti tersambung oleh latar yang sama, walau bukan latar utama, Kawiswara senantiasa muncul dalam cerpen sebagai tempat narasi dilukiskan terjadi.

Kelima, amanat cerita disajikan dengan realistik, artinya cerita tidak bertendens menyajikan moral cerita yang muluk apalagi absolut. Setiap orang memiliki kelebihan, setiap orang memiliki kekurangan. Bukan rasa hipokrit yang diungkapkan dalam cerita, tetapi kejujuran diri mengakui kelemahan, seperti dalam kisah anak yang menuturkan ibunya selingkuh padahal dia sendiri juga memiliki selingkuhannya. Bukan maksud cerita ini mempromosikan pentingnya perselingkuhan tetapi pentingnya bersikap jujur atas perilaku diri. Di sinilah, sebuah karya sastra mendorong pembacanya untuk introspeksi, jujur mengakui bahwa hidupnya juga tiada bebas dari noda.

Karya Juara

Berdasarkan pertimbangan di atas maka, karya yang ditetpakan sebagai juara adalah kumpulan cerpen Punyan Kayu ane Masaput Poleng di Tegal Pekak Dompu [Pohon Kayu yang Berselimut Kain Poleng di Ladang Pekak Dompu] karya IGB Weda Sanjaya [Bajera, Tabanan, Bali, 29 Agustus 1988]

Tags: Hadiah Rancagesastrasastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Weda Sanjaya, Peraih Hadiah Sastra Rancage 2022 | Ia Dengar Pengumuman Sambil Mengajar

Next Post

Tamblingan, Teks dan Aksi | Catatan dari FGD STAHN Mpu Kuturan dan Yayasan Puri Kauhan Ubud

I Nyoman Darma Putra

I Nyoman Darma Putra

Juri Hadiah Sastera Rancage untuk Bali sejak 2000. Dia adalah dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Bukunya yang berkaitan dengan sastra Bali modern adalah Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2010). Sejak 2011, dia menjadi pemimpin redaksi Jurnal Kajian Bali, awalnya teakreditasi Sinta-2, sejak 2024 terindeks Scopus Q1, dan kemudian Sinta-1.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Tamblingan, Teks dan Aksi | Catatan dari FGD STAHN Mpu Kuturan dan Yayasan Puri Kauhan Ubud

Tamblingan, Teks dan Aksi | Catatan dari FGD STAHN Mpu Kuturan dan Yayasan Puri Kauhan Ubud

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co