24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ditanam, Sudah Jadi Taman | Tribute To Umbu Landu Paranggi di Festival Seni Bali Jani

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
November 7, 2021
in Ulasan
Ditanam, Sudah Jadi Taman  | Tribute To Umbu Landu Paranggi di Festival Seni Bali Jani

Tribute to Umbu oleh JKP Denpasar di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Bali. [Foto Ari Antoni]

“Bung, tenang saja, di taman sudah tumbuh bunga-bunga puisi, rimbun – menarik banyak kupu-kupu dan kumbang,” ujar saya dalam hati setelah menyaksikan Tribute To Umbu Landu Paranggi oleh Jatijagat Kehidupan Puisi  (JKP) – Denpasar, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, Bali, 4 November 2021 malam.

Umbu Landu Paranggi ialah tokoh sastra di Indonesia khususnya puisi, jika dibentangkan cerita serta jejak-jejak beliau dalam menanam puisi di hati setiap orang, mungkin bukan saya orang yang pantas. Ada banyak murid Bung Umbu yang bisa ditanyakan perihal laku hidup puisi yang ia jalani.

Saya sendiri sempat menjadi “korban” lakunya, korban yang merasa tersesat di jalan yang benar, korban yang merasa diri beruntung sempat menulis puisi karena tuntunan Bung Umbu. Hingga sekarang saya masih menulis puisi, kendati untuk diri sendiri serta sejumlah riset pribadi.

Panggung dibuka dengan sejumlah penari yang membawa layang celepuk, pada kain itu bertulis sejumlah kata serta gambar-gambar abstrak. Penari membentuk komposisi ritmis dengan menggerakkan layangan seperti bergetar. Gerakan itu diiringi oleh genderang musik sumba yang melantun monoton, menghantarkan layangan terbang membumbung tinggi ke langit.

Adegan tersebut mengingatkan saya pada kata Metiyem, yang juga merupakan judul buku tentang Bung Umbu terbit tahun 2019. Metiyem dalam konteks Bali artinya terbang tinggi ke langit, bersembunyi di antara awan tanpa ada yang mengetahui. Kata ini sering Bung Umbu bicarakan dalam beberapa kali pertemuan, itu ajaran untuk mencapai suatu raihan hidup tanpa harus menggembar gemborkan ke khalayak luas. Semacam kekidungan yang diciptakan oleh seniman Bali terdahulu, tanpa memberi nama pangarangnya-anonymus. Tapi tembangnya kita gunakan hingga hari ini.

Para penampil dalam pentas Tribute To Umbu oleh JKP Denpasar [Foto-foto: Ari Antoni]

Dalam jalinan pertunjukan JKP,  puisi Bung Umbu menjelma adegan-adegan teaterikal, musikalisasi puisi, laku tubuh, serta kerlipan lampu yang puitis, setiap jeda adegan diselingi rekaman suara Bung Umbu terkait puisi, Bali serta kata-kata.  Rekaman suara itu seolah jadi satu dalam jiwa-jiwa penampil dari anak SMA, mahasiswa, pesilat hingga penyair. Seperti  MM Astra, Dewa Sahadewa, Pranita Dewi, Obe Marzuki, Ayu Chumani, Heri Windi Anggara – Sekali Pentas dan monolog oleh  Muda Wijaya. Alihwahana ini merupakan daya cipta serta upaya tafsir setiap penampil dalam menganalisis serta menyanyikan pertunjukan. Puisi melebur di panggung, cair dinamis dalam tatanan teknis yang mempesona.

Sebut saja musikalisasi Puisi Sabana – Umbu Landu Paranggi oleh Kelompok Sekali Pentas gubahan Heri Windi Anggara

Sabana Sunyi
di sini hidupku
sebuah gitar tua
seorang lelaki berkuda

Sabana tandus
mainkan laguku
harum napas bunda
seorang gembala berpacu

Sungguh ciamik Heri menerjemahkan kata-kata di atas menjadi aksi nyanyian yang melemparkan saya ke tengah sabana. Terbentang luas, panas dan tandus. Tapi ada selusur sunyi di dalamnya, di sanalah Bung Umbu mencari diri, di tengah tak keterdugaan kata, kemungkinan jalan nasib, ia tetap sunyi sendiri berjalan menuju keinginannya. Seorang gembala berpacu – jauh dari lampu-lampu panggung menyilaukan, jauh dari publikasi berlebihan, jauh dari hiruk pikuk politik industrialisasi sastra kita.

Her aku harus akui semua penonton terpukau saat ketiga penyanyi perempuanmu bersahutan panjang, sepertinya mereka berada luas lapang Sabana. Aku di bangku penonton seperti bukit-bukit menjulang, tanah-tanah gersang, ilalang panjang, serta langit biru yang kukuh diam tak bergeming. Apa kamu hendak memanggil Bung Umbu hari itu, atau meneriaki kematian yang jalannya masih simpang ?

Penampilan Kelompok Sekali Pentas dalam Tribute To Umbu [Foto: Ari Antoni]

Penampil lainnya membawa puisi dengan diiringi teaterikal yang seolah-olah menjadi jiwa hidup kata-kata. Panggung tersihir, lampu-lampu menyisir laku tubu itu, mata penonton khawatir – menanyakan kematian selanjutnya sementara jawabannya masih beku di udara.

Selain pementasan rangkaian acara juga diselingi diskusi singkat yang dipandu oleh Moch Satrio Welang bersama Putri Suastini Koster, Prof Dharma Putra dan Budayawan Hartanto Yudo Prasetyo.

Ketiga narasumber menceritakan bagaimana pandangannya terhadap sosok Bung Umbu. Satu ulasan menarik oleh Prof Dharma Putra bahwa Bung Umbu disejajarkan dengan Walter Spies, Bonnet dan sejumlah pelukis dari luar negeri, yang memberi pemaknaan hidup kepada orang Bali. Sehingga hadir satu budaya untuk mempengaruhi laku orang Bali dalam berkesenian.

“Ketika Umbu datang ke Bali, Bali sangat beruntung kedatangan orang yang extra ordinary seperti dia,” ujar Prof Dharma Putra

Diskusi singkat yang dipandu oleh Moch Satrio Welang bersama Putri Suastini Koster, Prof Dharma Putra dan Budayawan Hartanto Yudo Prasetyo. [Foto: Ari Antoni]

Keberuntungan itu juga saya rasakan, dari SMP hingga hari ini saya masih menyusun kata-kata, memilah, memilih untuk bisa disebut sebagai puisi. Saya masih ingat Bung, saat saya jumpai dikantor Bali Post sewaktu SMP, bersama kawan penyair dan kawan muda lainnya. Kemudian pertemuan terakhir kita di depan Jalan  Veteran di depan pasar burung Satria. Saya tidak sengaja berhenti lalu menanyakan kabar Bung Umbu.

“Hai Santiasa, tetaplah menulis ya, saya jalan kaki saja,” ujar Bung, saat saya menawari tumpangan.

Sampai saat ini walau saya tahu Bung berpulang, saya masih mencari-mencari sosok Bung  jika melintasi jalan Veteran. Siapa tahu saya bertemu puisi yang Bung tinggalkan di sana. Sama seperti malam itu bung, semua murid-muridmu hadir membacakan puisi untukmu, merangkai makna dalam penghayatan panjang.

Oh ya, Bung Umbu sudah bertemu Pak Abbas (Ketut Syahruwardi Abbas) di sana?

Beberapa hari lalu ia bergegas berangkat, menemui puisi yang paling Umbu. Doa kami di sini untuk perjalanan panjang Bung dan pak Abbas .[T]

Tags: Festival Seni Bali JaniJati Jagat Kampung PuisiJatijagat Kehidupan PuisiTribute to Umbu Landu ParanggiUmbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesan Gubernur Koster: Rawat Festival Seni Bali Jani

Next Post

Menafsir Romantisme Pada Pementasan Raya Raya Cinta

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Menafsir Romantisme Pada Pementasan Raya Raya Cinta

Menafsir Romantisme Pada Pementasan Raya Raya Cinta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co