24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musikalisasi Puisi atau Vokal Grup Puisi? | Catatan Lomba Musikalisasi Puisi Festival Bali Jani

Satria Aditya by Satria Aditya
October 28, 2021
in Ulasan
Musikalisasi Puisi atau Vokal Grup Puisi? | Catatan Lomba Musikalisasi Puisi Festival Bali Jani

Salah satu peserta dalam Lomba Musikalisasi Puisi, Festival Seni Bali Jani III/2021

Hampir dua tahun kegiatan-kegiatan sastra terbelenggu karena pandemi. Beberapa penggiat sastra lantas menyiasatinya dengan melakukan olah kreatif melalui digital atau daring. Segalanya sudah serba daring. Yang biasanya setiap acara bedah buku, pembacaan puisi, musikalisasi puisi dan lain-lain, selalu berlangsung secara tatap muka sekarang kita sudah bisa menikmatinya lewat internet.

Akhir-akhir ini kesibukan untuk tugas kuliah, PPL dan juga mulai mengejar judul skripsi membuat saya memaksa untuk meminimalisir kegiatan-kegiatan untuk berporses di dunia sastra. Proses untuk meraih cita-cita untuk menjadi sastrawan yang berbudaya, rajin menabung dan tidak sombong harus terhenti sejenak. Tidak lama, hanya masih menerka.

Syahdan, tempat saya melakukan PPL mempercayakan saya menggarap musikalisasi puisi untuk berlomba di acara Festival Bali Jani III/2021 yang diselenggarakan pada 24 Oktober lalu. Persiapan yang begitu mendadak juga membuat saya harus berpikir dua kali. Ditambah lagi, proses latihan memiliki sejumlah kendala. Apalagi, siswa masih banyak yang labil.

Singkat cerita saja, beberapa peraturan yang ada pada Festival Bali Jani sangat-sangat membuat saya kewalahan. Umumnya, anggota dalam satu kelompok musikalisasi puisi (muspus) hanya berjumlah 6 orang dan maksilmal adalah 8.

Tetapi tidak untuk di Festival Bali Jani, mungkin mereka tidak puas hanya melihat orang dengan jumlah sedikit. Tidak neko-neko kawan-kawan. Panitia mepersilahkan jumlah di masing-masing kelompok sebanyak 11 orang atau lebih. Wah! Luar biasa.

Tetapi, saya tidak akan memaksakan dan mengambil resiko untuk memberikan orang sebanyak itu di atas panggung.

Walhasil, ketika berlomba peserta sudah memenuhi kriteria panitia. Ya, panitia. Tidak tahu juga untuk juri. Ini adalah satu-satunya ketidakpuasan saya untuk mengikuti sebuah lomba muspus.

Lomba diadakan dua hari. 24 dan 25 Oktober. Tetapi, di sinilah peserta bisa saling mengintip kekurangan dan kelebihan lawannya sebelum lomba. Pihak yang diuntungkan adalah mereka yang mendapatkan nomor undi untuk tampil pada tanggal 25. Mereka bisa saling menerka, menyiasati dan merubah alat pada saat akan berlomba ketika melihat lawannya yang berbeda dari mereka.

Ketika perlombaan tanggal 24 ada beberapa catatan yang mungkin harus diubah oleh panitia. Ini menurut saya. Karena saya bukan ahli kritik dan saran ketika menulis sebuah karya ilmiah. Jadi, jikalau ada salah dalam beberapa catatan ini mungkin bisa kawan-kawan telaah kembali atau diabaikan.

Catatan pertama adalah, kecenderungan peserta dalam membawakan sebuah puisi dan dijadikan lagu. Kecendrungan ini adalah ketika membuat sebuah puisi berbahsa Indonesia maupun Bali, mereka masih memilih untuk membawakan khas seperti musik pop Bali pada umumnya.

Saya tidak tahu ini benar atau salah, tetapi seperti pengalaman yang sudah saya jalani dalam dunia muspus ini, kecendrungan itu akan membuat puisi itu biasa saja. Dalam artian, musikalitas dari puisi itu hanya itu-itu saja, tidak ada musiklaitas yang benar-benar merasuk ke dalam setiap bait dan baris puisi.

Catatan kedua adalah, kecendrungan ketika membawakan sebuah alat yang sesuai dengan interpretasi puisi itu sendiri. Kebanyak peserta seperti memaksanakan dengan membawakan gambelan Bali, padahal alat itu sebenarnya tidak sangat dibutuhkan dalam puisi yang dibawakan.

Catatan ketiga, dalam hal berpakaian. Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan peserta memakai pakaian adat bali, payas agung ataupun pakaian untuk parade. Tetapi apakah hal itu sangat-sangat diperlukan dalam membawakan musikalisasi puisi? Atau mereka hanya memikirkan estetika dalam hal berpakian?

Jikalau mereka membawakan puisi bertema pahlawan misalnya, lalu mereka memakai pakaian Bali seperti payasan agung sudah pasti itu melenceng dalam hubungan tema puisi dan pembawaan nyatanya.

Catatan keempat. Orang-orang yang terlalu banyak dan menjadi tidak diperlukan dalam panggung. Ini adalah hal yang paling membuat saya bingung. Terlalu banyak orang dalam setiap kelompok. Sebagian besar kelompok musikalisasi puisi menempatkan 11 sampai 15 orang di atas panggung. Ini menjadikan lomba ini seperti lomba vokal grup. Ada yang memegang perananan sebagai pemain gitar, pemain gangsa, vokal yang mencapai 5 orang dan beberapa instrumen yang mirip vokal grup.

Catatan terakhir adalah kecendrungan membawakan puisi dan interpretasi dalam menyanyikan puisi. Ini adalah catatan terpenting. Saya rasa, sebagian peserta tidak terlalu perduli dengan penyampian puisi dari penulis yang seharunya disalurkan ke penonton, juri dan diri mereka sendiri.

Hanya 1 atau 2 peserta yang saya lihat dapat membawakan puisi itu dengan dinamika yang tepat. Mereka saya lihat hanya memikirkan estetika dan tidak terlalu peduli dalam hal penyampian puisi itu sendiri. Puisi bahasa Indonesia maupun bahasa Bali. Musiklitas dan puisi itu sangat jauh dari penyampiannya.

Kesimpulannya kawan-kawan, apa pun yang terlalu dipaksakan kecenderungan hasilnya akan menjadi tidak baik. Banyak penikmat musikalisasi puisi sebenarnya tidak terlalu mementingkan bagaimana kita bagusnya cara berpakaian kita, senyum sumringah ketika bernyanyi seperti di cafe dan akting di atas panggung terlalu berlebihan.

Catatan-catatan itu sebenarnya tidak akan ada jika mereka mengerti apa itu musikalisai puisi. Sayangnya, ketika tanggal 25 saya tidak sempat untuk menonton peserta lain karena kesibukan yang mendakan. Lomba ini sangat-sangat tidak terlihat seperti perlombaan musikalisasi puisi melainkan vokal grup.

Akhir dari catatan ini adalah, jangan terlalu dihiraukan. Ini adalah catatan orang yang masih menerka jati diri. [T]

Tags: Festival Bali Janimusikalisasi puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tubuh Tradisional + Tubuh Modern = Bukan Kelatahan Kontemporer | Dari Pentas “Tadah Asih” Bumi Bajra Sandhi

Next Post

Menemukan Mindfulness dan Cinta pada Titik Keseimbangan Chaos dan Cosmos | Catatan Jelang Pentas “Raya Raya Cinta”

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Menemukan Mindfulness dan Cinta pada Titik Keseimbangan Chaos dan Cosmos | Catatan Jelang Pentas “Raya Raya Cinta”

Menemukan Mindfulness dan Cinta pada Titik Keseimbangan Chaos dan Cosmos | Catatan Jelang Pentas “Raya Raya Cinta”

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co