29 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Strategi Propaganda di Kemelut Pro Kontra Mahasabha Luar Bisa PHDI

Gede Suardana by Gede Suardana
September 30, 2021
in Opini
Tatkala Pandemi, (Bali) Jangan Berhenti Menggelar Ritual Seni dan Budaya

Gde Suardana

Tiba-tiba wall media sosial dipenuhi dengan foto beberapa orang berjajar di depan angkul-angkul Pura Samuan Tiga, Gianyar dengan narasi “Selamat dan sukses kepada jajaran pengurus PHDI Pusat periode 2021-2026”.

Sontak publik tersentak melihat narasi itu di layar lima inci (smartphone). Terkejut, terkaget-kaget kenapa tiba-tiba ada pihak yang mengklaim sebagai pengurus PHDI yang sah melalui mahasabha luar biasa.

Bagi yang mendukung narasi itu, meluapkan euforia. Membagikan cerita kesuksesan menggelar mahasabha luar biasa karena dilakulan dengan dalih menyelamatkan PHDI dari pengaruh sampradaya, baik Sai Baba, Hare Krisna, atau ISCON. Klaim didukung 2/3 anggota PHDI Provinsi se-Indonesia. Dan sesuai AD/ART PHDI. Selain klaim 2/3 pemilik suara, pihak penggagas mahasabha luar biasa juga memiliki klaim lainnya, yaitu didukung 80 persen umat Hindu

Tentu banyak juga orang yang bertanya-tanya dari mana asal-usulnya tiba-tiba menyeruak ada pihak yang mengklaim kemenangan padahal kompetisi belum dimulai. Mereka mudah menelusuri fakta bahwa PHDI yang sah masih ada. Persiapan mahasabha XII sudah dilakukan. Pelaksanaannya akan dihelat sebulan lagi pada Oktober 2021.

Organisasi keumatan PHDI yang sah langsung merespon dengan menyatakan bahwa mahasabha luar bisa itu tidak sah/ilegal. Mahasabha luar biasa tidak sesuai dengan AD/ART organisasi.

Ormas berskala nasional serentak memberikan dukungan moral kepada PHDI di bawah kendali Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya.

Dukungan kepada PHDI diawali dengan sikap DPP Persadha Nusantara kemudian disusul ormas lainnya, yaitu DPP Majapahid Nusantara, DPP Ikatam Cendikiawan Hindu Indonesia (ICHI), DPP Prajaniti Hindu Indonesia, PP Kesatuan Mahasiswa Hindu Indonesia (KMHDI), PP Pandu Nusa, DPN Peradah Indonesia, FA KMHDI Pusat, PP MGPSSR, dan DPP Dosen Hindu Indonesia (DHI).

Selain dukungan dari ormas, dukungan PHDI provinsi dan kabupaten bergulir deras, diawali oleh PHDI Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Jambi, Papua, Sulawesi Tengah, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, dan Banten.

Dukungan dari PHDI Kabupaten juga mengalir ke PHDI Pusat, yaitu PHDI Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cimahi, Kabupaten Bekasi, Balangan (Kalsel), Kabupaten Banyuwangi (Jawa Timur), Kabupaten Tangerang Provinsi Banten.

Dukungan besar dari PHDI provinsi bukti untuk dengan mudah mematahkan klaim bahwa mahasabha luar biasa didukung 2/3 pemilik suara sebagai syarat digelar mahasabha luar biasa.

Klaim dari penggagas mahasabha luar biasa dan fakta dukungan kepada PHDI Pusat periode 2016-2021 biarlah menjadi arena mereka untuk saling membuktikan yang mana legal dan yang mana ilegal.

Yang menarik bagi penulis dari isu kisruh majelis keumatan Hindu menjelang mahasbha XII adalah perdebatan di media sosial dari perspektif strategi komunikasi, yaitu propaganda.

Propaganda,  menurut Encylopedia International merupakan strategi komunikasi massa yang dilakukan oleh individun atau kelompok dengan tujuannya untuk menyebarluaskan opini tanpa disertai alasan serta tanpa bukti kebenaran atau ketidakbenaran dari pesan yang disampaikan dengan tujuan untuk mempengaruhi opini publik.

Propaganda untuk memenangkan pertarungan opini  dilakukan oleh kelompok yang mendukung mahasabha luar biasa melalui “orkestrasi” dengan cara membangun narasi yang sangat tajam, “siapa yang tidak mendukung mahasabha luar biasa adalah pro sampradaya”.

Dalam strategi propaganda tak jarang dilakukan dengan menghalakan segala cara, seperti menyebarkan kabar bohong (hoak), fitnah, adu domba, ujaran kebencian, perundungan, menuduh tanpa bukti, hingga tuduhan yang menyentuh ranah privat.

Dari perdebatan di media sosial sangat mudah mengenalinya. Pilihan diksi, yaitu sampradaya, Sai Baba, ISCON, terpapar sampradaya, sudah bisa ditebak berasal dari akun baik asli ataupun akun artifisial (tidak jelas pemilik akun) berasal dari akun pro mahasabha luar biasa.

Pemilik akun ini senantiasa menggunakan narasi dan diksi “terpapar sampradaya” untuk menuduh pihak yang mendukung PHDI Pusat. Mereka dituduh sebagai bagian dari Sai Baba, ISCON dan sebagainya.

Pilihan diksi dan narasi “terpapar sampradaya” nampaknya sengaja dibangun oleh “thingtank” dari gerakan pro mahasabha luar biasa. Hal ini tujuannya untuk membuat garis batas pemisah yang tegas bahwa yang pro mahasabha luar biasa adalah si penyelamat Hindu Bali dan nusantara. Sedangkan yang pro PHDI pusat adalah pihak yang tidak peduli Hindu Bali dan Nusantara.

Narasinya di-framing sedemikian rupa dengan tujuan netizen yang merasa memiliki dan menjaga Hindu akan tergerak untuk menentukan pilihannya, yakni membela dan menyelamatkan Hindu dari pengaruh sampradaya dan pada akhirnya mengakui mahasabha luar biasa PHDI sah dan legal.

Narasi yang telah di-framing sedemikian rupa itu kemudian disebar melalui media sosial. Para influencer atau key opinion leader menyebarkan narasi itu ke masing-masing jejaringnya yang telah ada di grup-grup media sosial, seperti facebook.

Mobilisasi pun dimulai. Setiap akun (asli atau palsu) pendukung mahasabha luar biasa menggerakkan jemarinya di layar lima inci (baca smartphone) membagikan narasi itu dengan cepat dan terorganisir. Orkestrasi narasi ini mudah mereka lakukan karena memiliki pendukung yang militan.

Akun-akun ini juga akan menyerang akun siapa saja yang mencoba memberikan argumen yang berbeda dengan memberikan stigma sebagai “pro sampradaya”.

Di awal, saat gerakan ini fokus pada sasaran tunggal yaitu sampradaya, orkestrasi dan mobilisasi memiliki pengaruh sangat kuat. Tak banyak  yang mencoba membantah narasi itu.

Namun begitu narasi itu dibangun untuk melegalkan gerakan mahasabha luar biasa, perlawanan mulai bermunculan.

Tokoh-tokoh muda Hindu, ormas Hindu skala nasional, PHDI provinsi dan kabupaten melakukan counter isu terhadap narasi “pro sampradaya”. Perlawanan itu memberikan angin segar karena media sosial tidak lagi dijejali dengan narasi tersebut.

Dalam beberapa hari terakhir, opini nitizen di media sosial pun mulai kembali terpolarisasi. Tidak hanya didominasi oleh narasi yang diorkestrasi dan dimobilisasi oleh satu pihak untuk menyerang pihak yang berbeda pendapat.

Tentu saja, orkestrasi dan mobilisasi narasi dengan menstigma “orang yang tidak mendukung mahasabha luar biasa adalah pro sampradaya” jika berlangsung berlarut-larut akan sangat berbahaya.

Potensi perundungan itu tidak hanya akan terjadi di media sosial namun berpeluang menjadi gesekan di masyarakat. Sudah saatnya orkestrasi dan mobilisasi itu diakhiri.

Persaingan untuk ngayah di lembaga keumatan PHDI lakukanlah secara sehat. Bangun narasi dengan mengedepankan visi dan misi membangun Hindu. Tunjukkanlah kompetensi yang dimilik, karya membangun keumatan yang telah dilakukan, serta legacy akan akan ditorehkan untuk umat.

Bagi siapapun yang memiliki hasrat membangun Hindu melalui lembaga keumatan PHDI lakukanlah kompetisi dengan dengan semangat yang diwariskan tetua kita, “Sagilik-Saguluk Salunglung Sabayantaka, Paras-Paros Sarpanaya, Saling Asah, Asih, Asuh, yang artinya bersatu-padu, saling menghargai pendapat orang lain, dan saling mengingatkan, saling menyayangi, saling tolong-menolong.

Swaha!

Tags: hinduPHDI
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Trilogi Jirah: Perspektif Mindfulness dan Reader Response Theory

Next Post

Teater di Bali Ada Sejak Zaman Kolonial, dan Akan Tetap Ada | Dari Diksi#8 Hiski Bali

Gede Suardana

Gede Suardana

Mantan wartawan, kini akademisi Undiknas Denpasar

Related Posts

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
0
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

Read moreDetails

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails
Next Post
Teater di Bali Ada Sejak Zaman Kolonial, dan Akan Tetap Ada | Dari Diksi#8 Hiski Bali

Teater di Bali Ada Sejak Zaman Kolonial, dan Akan Tetap Ada | Dari Diksi#8 Hiski Bali

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co