14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater di Bali Ada Sejak Zaman Kolonial, dan Akan Tetap Ada | Dari Diksi#8 Hiski Bali

tatkala by tatkala
August 3, 2025
in Budaya
Teater di Bali Ada Sejak Zaman Kolonial, dan Akan Tetap Ada | Dari Diksi#8 Hiski Bali

Moderator dan pembicara dalam zoom Diksi#8 Hiski Bali

Teater di Bali sudah ada sejak zaman kolonial, dan akan akan selalu. Teater di Bali kini memang tidak sesemarak era dulu, misalnya tahun 1970-an, namun penilaian yang menyebutkan dunia teater di Bali mati suri juga tidak tepat.

Kenyataannya, kehidupan teater di Bali tetap berdenyut. Jika dilihat dari anak-anak muda Bali yang kini menekuninya, teater di Bali juga punya masa depan yang cukup menjanjikan.

Hal itu terungkap dalam Diskusi Kebahasaan dan Kesastraan Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (Diksi) edisi ke-8 yang dilaksanakan secara daring, Jumat, 24 September 2021. Diskusi yang dipandu dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Ganesha sekaligus pendiri Komunitas Mahima Singaraja, Kadek Sonia Piscayanti itu menghadirkan dua pembicara, yaitu guru besar sastra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana (Unud), Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., dan pegiat seni teater, IB Martinaya, S.Pd., M.Sos.

Menurut Darma Putra, perkembangan teater di Bali dinamis sekali. Dalam paparannya, Darma Putra menceritakan bagaimana sejarah panjang dunia teater di Bali yang dimulai  pada akhir abad ke-19. Pada masa kolonial, masyarakat Bali sudah terbiasa menonton tonil. Begitu juga pada masa Jepang sudah muncul kelompok sandiwara. Pada era tahun 1970-an, dunia teater di Bali cukup bergairah dengan tokoh-tokoh penting, antara lain Abu Bakar, IB Anom Ranuara, dan belakangan muncul Kadek Suardana, maupun Putu Satrya Kusuma.

Dalam pengamatan Darma Putra, di arus bawah, dunia teater di Bali bergerak terus. Walaupun tidak sesemarak pertunjukan tradisional, dunia teater di Bali tidak tenggelam dan tampaknya akan terus bergerak ke masa depan. Mengenai pesimisme atau optimism terhadap masa depan teater di Bali, menurut Darma Putra, sangat tergantung sudut pandang masing-masing. Dari sudut pandang tertentu, masa depan teater di Bali bisa saja menerbitkan pesimisme, sebaliknya dari sudut pandang lain memunculkan optimisme.

“Sebetulnya arus bawahnya ada, apakah dia akan muncul sebagai puncak gunung es di samudara kesenian, sulit sekali meramalkannya. Yang pasti, dunia teater di Bali tidak hilang sama sekali. Analoginya, sebagai rumput, mungkin dia belum tumbuh sekali. Tapi akar-akarnya di bawah permukaan tanah tetap ada,” kata Darma Putra.

Sebelumnya, seniman senior dalam dunia teater di Bali, Abu Bakar, menyatakan dunia teater sekarang menghadapi situasi yang jauh berbeda dengan era tahun 1970-an. Saat itu, televisi tidak sesemarak sekarang. Tahun 1970-an, teater bisa menghidupi para pekerjanya. Di Jakarta saat itu ada 114 grup teater dan bisa melaksanakan pentas setiap hari.

Menurut Abu Bakar, kalau berbicara teater modern, tempatnya memang bukan di Bali. Di Bali, kata Abu Bakar, yang hidup mayoritas teater atau kesenian tradisi. Kalau ada remaja Bali yang bergelut dengan teater modern, itu lebih karena dia tidak menekuni tradisi dan tetapi ingin mendapatkan sesuatu. Selain penekun tradisi, ada juga anak-anak muda Bali yang menekuni acting, musik, atau jazz dan mereka lalu memilih teater modern sebagai media ekspresinya. Sayangnya, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak sekolah sehingga teater kemudian menjadi kegiatan liburan. Setelah liburan selesai, selesai juga urusan berteater.

“Lalu kami akan mulai lagi dengan anak-anak yang baru. Secara kontinu kami tidak bisa mengikuti bakat anak-anak itu. Secara runtut saya tidak bisa terus mengikuti bakat-bakat mereka,” imbuh Abu Bakar.

Teater modern, imbuh Abu Bakar, juga memiliki pakem-pakem tertentu yang berbeda dengan teater tradisi. Pakem itu, antara lain, naskah harus dihapal. Dalam teater tradisi, aktor-aktor itu sudah mandiri, menguasai sastra. Hanya diberikan lakon tertentu, sang aktor bisa melakukannya atau bisa menjabarkan sendiri. Teater modern dengan anak-anak sekolah, kadang-kadang juga menjadi masalah tersendiri untuk mendapatkan kematangan dari seorang aktor.

Permasalahan lain, kata Abu Bakar, kegiatan teater juga kegiatan kolektif, berbeda dengan menulis dan melukis. Dengan latar belakang anak-anak sekolahan itu, teater menjadi kegiatan penuh dengan kompromi, betul-betul memerlukan kesabaran dan melelahkan.

Teater modern di Bali juga menghadapi tantangan tantangan penonton yang makin cerdas. Karena itu, para pekerja teater modern dituntut membuat pementasan yang cerdas, tidak menggurui, tetapi pesannya bisa sampai kepada penonton dengan bagus.

“Penonton kita sekarang pintar-pintar sekali. Kita tidak boleh bodoh. Itu tantangan bagi kita. Bagaimana kita bisa memainkan suatu pementasan, di mana tingkat intelektual penonton juga berhasil kita cover. Itu soal. Dengan materi yang amatiran, itu problem besar bagi saya, untuk bisa membuat penonton tidak segera jemu, tidak meninggalkan gedung,” kata Abu Bakar.

Namun, Abu Bakar juga mengkritik pementasan teater anak-anak muda sekarang yang disebutnya terburu-buru melompat ke gaya absurd dan menganggap remeh teater gaya realis. Bahkan, kata Abu Bakar, ada yang berpandangan bahwa jika suatu pementasan maskin sulit dipahami penonton, berarti pementasan itu makin sukses.

IB Martinaya berbeda pandangan dengan Abu Bakar mengenai masa depan teater di Bali. Pegiat Teater Agustus yang kerap dipanggil Gus Martin ini justru optimistis terhadap masa depan teater di Bali. Persoalan yang diceritakan Abu Bakar, mengenai anak-anak sekolahan yang sulit dijaga kontinuitasnya di teater, menurut Gus Martin, itu lebih sebagai riak-riak dalam perjuangan seni teater. “Riak-riak itu selalu akan ada dan masa depan teater akan berjalan seperti apa adanya,” kata Gus Martin.

Mengenai penonton yang cerdas, Gus Martin berpandangan semua memiliki jalur-jalurnya masing-masing. Menurut Gus Martin, ada teater konvensional, teater pembaruan, dan teater kontemporer. Semuanya memiliki segmentasi penonton sendiri-sendiri.

Darma Putra sepakat dengan Abu Bakar mengenai seniman teater yang harus terus meningkatkan kemampuannya. Menurutnya, seniman harus punya kelebihan dalam banyak hal untuk bisa memberikan tontonan dan tuntunan. Kalau seorang seniman tidak mempunyai kelebihan, penontonya jauh lebih hebat, ya, akan ditinggalkan. Oleh karena itu seniman harus selalu menggali pengetahuan untuk dikemas untuk disajikan kepada penonton. “Novelis atau cerpenis sekarang, ya, juga kurang lebih begitu. Banyak sastrawan sekarang haus melakukan penelitian agar apa yang ditulis berbobot dan tidak sampai salah,” kata Darma Putra.

Mengenai minimnya jumlah penonton teater, menurut Darma Putra, hal itu harus diterima dan tidak bisa dibandingkan dengan hal lain, misalnya pertandingan sepak bola yang selalu ramai karena memang tidak bisa dibandingkan. Orang tidak bisa dipaksa untuk menonton sebuah pertunjukan teater. Selain itu, hal itu juga berkaitan dengan kemampuan si pegiat teater sendiri untuk menyajikan pementasan yang memikat sehingga penonton tertarik.

Gus Martin senada dengan Darma Putra mengenai penonton teater itu. Banyak atau sedikit jumlah penonton teater ditentukan oleh berbagai faktor. Dia mengambil contoh pementasan Teater Koma di Jakarta yang dikelola dengan manajemen yang kuat. Tidak hanya manajemen pementasan, tetapi juga manajemen penonton. Para penonton tidak lagi ditunggu untuk datang menonton, melainkan juga didatangi untuk bisa menonton.

Sonia Piscayanti yang juga pegiat teater di Komunitas Mahima menutup diskusi dengan menegaskan bahwa soal masa depan teater di Bali sangat tergantung kepada preferensi dan referensi yang digunakan. Namun, Sonia menyatakan tetap optimistis terhadap masa depan teater di Bali dengan melihat munculnya sejumlah anak-anak muda yang mau suntuk bergiat di teater dengan preferensi dan referensi yang lebih luas. “Teater akan selalu ada. Teater adalah refleksi masyarakat, cermin masyarakat. Selama manusia ada, selama itu teater ada,” tandas Sonia. [T/*]

Tags: baliHiskiHiski BaliTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Strategi Propaganda di Kemelut Pro Kontra Mahasabha Luar Bisa PHDI

Next Post

Menanam Kedelai Dahulu, Latihan Bikin Tempe Kemudian

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
0
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

Read moreDetails

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

by Nyoman Budarsana
May 4, 2026
0
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

DESA Adat Batur melaksanakan upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let (pusat permukiman Desa Adat...

Read moreDetails

Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini

by tatkala
May 1, 2026
0
Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini

Di antara program Kartini sepanjang bulan April 2026, ada yang berbeda yang dilakukan oleh salah satu komunitas perempuan di Buleleng...

Read moreDetails

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
0
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

Read moreDetails

14 Ogoh-Ogoh, Menghidupkan Bencingah Kembali, Menyemarakkan Ruang Budaya di Kesiman

by Nyoman Budarsana
March 18, 2026
0
14 Ogoh-Ogoh, Menghidupkan Bencingah Kembali, Menyemarakkan Ruang Budaya di Kesiman

SEBANYAK 14 Sekaa Teruna Teruni (STT) se-Kesiman, Denpasar, mengikuti Parade Fragmentari Ogoh-ogoh pada malam pengerupukan Nyepi, Rabu (18/3/2026) malam. Selain...

Read moreDetails

2 April, Puncak Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur Tahun 2026 —Nyejer 11 Hari

by tatkala
March 17, 2026
0
2 April, Puncak Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur Tahun 2026 —Nyejer 11 Hari

Pujawali Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur tahun Saka 1948/tahun 2026 dilaksanakan dari tanggal 20 Maret 2026 sampai dengan...

Read moreDetails

Buleleng International Rhythm Festival, Ajang Pertunjukan Seni dan Ruang Persahabatan Antar Negara

by tatkala
March 12, 2026
0
Buleleng International Rhythm Festival, Ajang Pertunjukan Seni dan Ruang Persahabatan Antar Negara

Rasa bangga dan syukur karena Buleleng kembali dipercaya menjadi tuan rumah pertemuan budaya dunia. Buleleng International Rhythm Festival (BIRF) ini...

Read moreDetails

Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh

by tatkala
March 12, 2026
0
Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh

Masyarakat Desa Adat Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, melaksanakan upacara Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas Pura Ulun Danu...

Read moreDetails

Anak-anak Ceria dalam Buka Puasa Bersama IHKA BPD Bali dan Yayasan Fastabhikul Khoirut

by Nyoman Budarsana
March 7, 2026
0
Anak-anak Ceria dalam Buka Puasa Bersama IHKA BPD Bali dan Yayasan Fastabhikul Khoirut

Anak-anak itu datang dengan wajah ceria. Busananya sopan, terlihat nyaman dan segar. Jika diajak bicara mereka sangat ramah, dan cepat...

Read moreDetails

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
0
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

Read moreDetails
Next Post
Menanam Kedelai Dahulu, Latihan Bikin Tempe Kemudian

Menanam Kedelai Dahulu, Latihan Bikin Tempe Kemudian

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co