3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater di Bali Ada Sejak Zaman Kolonial, dan Akan Tetap Ada | Dari Diksi#8 Hiski Bali

tatkala by tatkala
August 3, 2025
in Budaya
Teater di Bali Ada Sejak Zaman Kolonial, dan Akan Tetap Ada | Dari Diksi#8 Hiski Bali

Moderator dan pembicara dalam zoom Diksi#8 Hiski Bali

Teater di Bali sudah ada sejak zaman kolonial, dan akan akan selalu. Teater di Bali kini memang tidak sesemarak era dulu, misalnya tahun 1970-an, namun penilaian yang menyebutkan dunia teater di Bali mati suri juga tidak tepat.

Kenyataannya, kehidupan teater di Bali tetap berdenyut. Jika dilihat dari anak-anak muda Bali yang kini menekuninya, teater di Bali juga punya masa depan yang cukup menjanjikan.

Hal itu terungkap dalam Diskusi Kebahasaan dan Kesastraan Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (Diksi) edisi ke-8 yang dilaksanakan secara daring, Jumat, 24 September 2021. Diskusi yang dipandu dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Ganesha sekaligus pendiri Komunitas Mahima Singaraja, Kadek Sonia Piscayanti itu menghadirkan dua pembicara, yaitu guru besar sastra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana (Unud), Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., dan pegiat seni teater, IB Martinaya, S.Pd., M.Sos.

Menurut Darma Putra, perkembangan teater di Bali dinamis sekali. Dalam paparannya, Darma Putra menceritakan bagaimana sejarah panjang dunia teater di Bali yang dimulai  pada akhir abad ke-19. Pada masa kolonial, masyarakat Bali sudah terbiasa menonton tonil. Begitu juga pada masa Jepang sudah muncul kelompok sandiwara. Pada era tahun 1970-an, dunia teater di Bali cukup bergairah dengan tokoh-tokoh penting, antara lain Abu Bakar, IB Anom Ranuara, dan belakangan muncul Kadek Suardana, maupun Putu Satrya Kusuma.

Dalam pengamatan Darma Putra, di arus bawah, dunia teater di Bali bergerak terus. Walaupun tidak sesemarak pertunjukan tradisional, dunia teater di Bali tidak tenggelam dan tampaknya akan terus bergerak ke masa depan. Mengenai pesimisme atau optimism terhadap masa depan teater di Bali, menurut Darma Putra, sangat tergantung sudut pandang masing-masing. Dari sudut pandang tertentu, masa depan teater di Bali bisa saja menerbitkan pesimisme, sebaliknya dari sudut pandang lain memunculkan optimisme.

“Sebetulnya arus bawahnya ada, apakah dia akan muncul sebagai puncak gunung es di samudara kesenian, sulit sekali meramalkannya. Yang pasti, dunia teater di Bali tidak hilang sama sekali. Analoginya, sebagai rumput, mungkin dia belum tumbuh sekali. Tapi akar-akarnya di bawah permukaan tanah tetap ada,” kata Darma Putra.

Sebelumnya, seniman senior dalam dunia teater di Bali, Abu Bakar, menyatakan dunia teater sekarang menghadapi situasi yang jauh berbeda dengan era tahun 1970-an. Saat itu, televisi tidak sesemarak sekarang. Tahun 1970-an, teater bisa menghidupi para pekerjanya. Di Jakarta saat itu ada 114 grup teater dan bisa melaksanakan pentas setiap hari.

Menurut Abu Bakar, kalau berbicara teater modern, tempatnya memang bukan di Bali. Di Bali, kata Abu Bakar, yang hidup mayoritas teater atau kesenian tradisi. Kalau ada remaja Bali yang bergelut dengan teater modern, itu lebih karena dia tidak menekuni tradisi dan tetapi ingin mendapatkan sesuatu. Selain penekun tradisi, ada juga anak-anak muda Bali yang menekuni acting, musik, atau jazz dan mereka lalu memilih teater modern sebagai media ekspresinya. Sayangnya, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak sekolah sehingga teater kemudian menjadi kegiatan liburan. Setelah liburan selesai, selesai juga urusan berteater.

“Lalu kami akan mulai lagi dengan anak-anak yang baru. Secara kontinu kami tidak bisa mengikuti bakat anak-anak itu. Secara runtut saya tidak bisa terus mengikuti bakat-bakat mereka,” imbuh Abu Bakar.

Teater modern, imbuh Abu Bakar, juga memiliki pakem-pakem tertentu yang berbeda dengan teater tradisi. Pakem itu, antara lain, naskah harus dihapal. Dalam teater tradisi, aktor-aktor itu sudah mandiri, menguasai sastra. Hanya diberikan lakon tertentu, sang aktor bisa melakukannya atau bisa menjabarkan sendiri. Teater modern dengan anak-anak sekolah, kadang-kadang juga menjadi masalah tersendiri untuk mendapatkan kematangan dari seorang aktor.

Permasalahan lain, kata Abu Bakar, kegiatan teater juga kegiatan kolektif, berbeda dengan menulis dan melukis. Dengan latar belakang anak-anak sekolahan itu, teater menjadi kegiatan penuh dengan kompromi, betul-betul memerlukan kesabaran dan melelahkan.

Teater modern di Bali juga menghadapi tantangan tantangan penonton yang makin cerdas. Karena itu, para pekerja teater modern dituntut membuat pementasan yang cerdas, tidak menggurui, tetapi pesannya bisa sampai kepada penonton dengan bagus.

“Penonton kita sekarang pintar-pintar sekali. Kita tidak boleh bodoh. Itu tantangan bagi kita. Bagaimana kita bisa memainkan suatu pementasan, di mana tingkat intelektual penonton juga berhasil kita cover. Itu soal. Dengan materi yang amatiran, itu problem besar bagi saya, untuk bisa membuat penonton tidak segera jemu, tidak meninggalkan gedung,” kata Abu Bakar.

Namun, Abu Bakar juga mengkritik pementasan teater anak-anak muda sekarang yang disebutnya terburu-buru melompat ke gaya absurd dan menganggap remeh teater gaya realis. Bahkan, kata Abu Bakar, ada yang berpandangan bahwa jika suatu pementasan maskin sulit dipahami penonton, berarti pementasan itu makin sukses.

IB Martinaya berbeda pandangan dengan Abu Bakar mengenai masa depan teater di Bali. Pegiat Teater Agustus yang kerap dipanggil Gus Martin ini justru optimistis terhadap masa depan teater di Bali. Persoalan yang diceritakan Abu Bakar, mengenai anak-anak sekolahan yang sulit dijaga kontinuitasnya di teater, menurut Gus Martin, itu lebih sebagai riak-riak dalam perjuangan seni teater. “Riak-riak itu selalu akan ada dan masa depan teater akan berjalan seperti apa adanya,” kata Gus Martin.

Mengenai penonton yang cerdas, Gus Martin berpandangan semua memiliki jalur-jalurnya masing-masing. Menurut Gus Martin, ada teater konvensional, teater pembaruan, dan teater kontemporer. Semuanya memiliki segmentasi penonton sendiri-sendiri.

Darma Putra sepakat dengan Abu Bakar mengenai seniman teater yang harus terus meningkatkan kemampuannya. Menurutnya, seniman harus punya kelebihan dalam banyak hal untuk bisa memberikan tontonan dan tuntunan. Kalau seorang seniman tidak mempunyai kelebihan, penontonya jauh lebih hebat, ya, akan ditinggalkan. Oleh karena itu seniman harus selalu menggali pengetahuan untuk dikemas untuk disajikan kepada penonton. “Novelis atau cerpenis sekarang, ya, juga kurang lebih begitu. Banyak sastrawan sekarang haus melakukan penelitian agar apa yang ditulis berbobot dan tidak sampai salah,” kata Darma Putra.

Mengenai minimnya jumlah penonton teater, menurut Darma Putra, hal itu harus diterima dan tidak bisa dibandingkan dengan hal lain, misalnya pertandingan sepak bola yang selalu ramai karena memang tidak bisa dibandingkan. Orang tidak bisa dipaksa untuk menonton sebuah pertunjukan teater. Selain itu, hal itu juga berkaitan dengan kemampuan si pegiat teater sendiri untuk menyajikan pementasan yang memikat sehingga penonton tertarik.

Gus Martin senada dengan Darma Putra mengenai penonton teater itu. Banyak atau sedikit jumlah penonton teater ditentukan oleh berbagai faktor. Dia mengambil contoh pementasan Teater Koma di Jakarta yang dikelola dengan manajemen yang kuat. Tidak hanya manajemen pementasan, tetapi juga manajemen penonton. Para penonton tidak lagi ditunggu untuk datang menonton, melainkan juga didatangi untuk bisa menonton.

Sonia Piscayanti yang juga pegiat teater di Komunitas Mahima menutup diskusi dengan menegaskan bahwa soal masa depan teater di Bali sangat tergantung kepada preferensi dan referensi yang digunakan. Namun, Sonia menyatakan tetap optimistis terhadap masa depan teater di Bali dengan melihat munculnya sejumlah anak-anak muda yang mau suntuk bergiat di teater dengan preferensi dan referensi yang lebih luas. “Teater akan selalu ada. Teater adalah refleksi masyarakat, cermin masyarakat. Selama manusia ada, selama itu teater ada,” tandas Sonia. [T/*]

Tags: baliHiskiHiski BaliTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Strategi Propaganda di Kemelut Pro Kontra Mahasabha Luar Bisa PHDI

Next Post

Menanam Kedelai Dahulu, Latihan Bikin Tempe Kemudian

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
0
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

Read moreDetails

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

by tatkala
September 23, 2026
0
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

Read moreDetails

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
0
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

Read moreDetails

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

by tatkala
September 20, 2026
0
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

Read moreDetails

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

by Rusdy Ulu
September 19, 2026
0
Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

Read moreDetails

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
0
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

Read moreDetails

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

by tatkala
August 23, 2026
0
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

Read moreDetails

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

by tatkala
August 19, 2026
0
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

Read moreDetails

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

by tatkala
August 10, 2026
0
MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

KEMENTERIAN Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya berkolaborasi dengan Buruan.co menggelar program bertajuk “MTN Presentasi: Buruan.co...

Read moreDetails
Next Post
Menanam Kedelai Dahulu, Latihan Bikin Tempe Kemudian

Menanam Kedelai Dahulu, Latihan Bikin Tempe Kemudian

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co