3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater di Bali Ada Sejak Zaman Kolonial, dan Akan Tetap Ada | Dari Diksi#8 Hiski Bali

tatkala by tatkala
August 3, 2025
in Budaya
Teater di Bali Ada Sejak Zaman Kolonial, dan Akan Tetap Ada | Dari Diksi#8 Hiski Bali

Moderator dan pembicara dalam zoom Diksi#8 Hiski Bali

Teater di Bali sudah ada sejak zaman kolonial, dan akan akan selalu. Teater di Bali kini memang tidak sesemarak era dulu, misalnya tahun 1970-an, namun penilaian yang menyebutkan dunia teater di Bali mati suri juga tidak tepat.

Kenyataannya, kehidupan teater di Bali tetap berdenyut. Jika dilihat dari anak-anak muda Bali yang kini menekuninya, teater di Bali juga punya masa depan yang cukup menjanjikan.

Hal itu terungkap dalam Diskusi Kebahasaan dan Kesastraan Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (Diksi) edisi ke-8 yang dilaksanakan secara daring, Jumat, 24 September 2021. Diskusi yang dipandu dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Ganesha sekaligus pendiri Komunitas Mahima Singaraja, Kadek Sonia Piscayanti itu menghadirkan dua pembicara, yaitu guru besar sastra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana (Unud), Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., dan pegiat seni teater, IB Martinaya, S.Pd., M.Sos.

Menurut Darma Putra, perkembangan teater di Bali dinamis sekali. Dalam paparannya, Darma Putra menceritakan bagaimana sejarah panjang dunia teater di Bali yang dimulai  pada akhir abad ke-19. Pada masa kolonial, masyarakat Bali sudah terbiasa menonton tonil. Begitu juga pada masa Jepang sudah muncul kelompok sandiwara. Pada era tahun 1970-an, dunia teater di Bali cukup bergairah dengan tokoh-tokoh penting, antara lain Abu Bakar, IB Anom Ranuara, dan belakangan muncul Kadek Suardana, maupun Putu Satrya Kusuma.

Dalam pengamatan Darma Putra, di arus bawah, dunia teater di Bali bergerak terus. Walaupun tidak sesemarak pertunjukan tradisional, dunia teater di Bali tidak tenggelam dan tampaknya akan terus bergerak ke masa depan. Mengenai pesimisme atau optimism terhadap masa depan teater di Bali, menurut Darma Putra, sangat tergantung sudut pandang masing-masing. Dari sudut pandang tertentu, masa depan teater di Bali bisa saja menerbitkan pesimisme, sebaliknya dari sudut pandang lain memunculkan optimisme.

“Sebetulnya arus bawahnya ada, apakah dia akan muncul sebagai puncak gunung es di samudara kesenian, sulit sekali meramalkannya. Yang pasti, dunia teater di Bali tidak hilang sama sekali. Analoginya, sebagai rumput, mungkin dia belum tumbuh sekali. Tapi akar-akarnya di bawah permukaan tanah tetap ada,” kata Darma Putra.

Sebelumnya, seniman senior dalam dunia teater di Bali, Abu Bakar, menyatakan dunia teater sekarang menghadapi situasi yang jauh berbeda dengan era tahun 1970-an. Saat itu, televisi tidak sesemarak sekarang. Tahun 1970-an, teater bisa menghidupi para pekerjanya. Di Jakarta saat itu ada 114 grup teater dan bisa melaksanakan pentas setiap hari.

Menurut Abu Bakar, kalau berbicara teater modern, tempatnya memang bukan di Bali. Di Bali, kata Abu Bakar, yang hidup mayoritas teater atau kesenian tradisi. Kalau ada remaja Bali yang bergelut dengan teater modern, itu lebih karena dia tidak menekuni tradisi dan tetapi ingin mendapatkan sesuatu. Selain penekun tradisi, ada juga anak-anak muda Bali yang menekuni acting, musik, atau jazz dan mereka lalu memilih teater modern sebagai media ekspresinya. Sayangnya, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak sekolah sehingga teater kemudian menjadi kegiatan liburan. Setelah liburan selesai, selesai juga urusan berteater.

“Lalu kami akan mulai lagi dengan anak-anak yang baru. Secara kontinu kami tidak bisa mengikuti bakat anak-anak itu. Secara runtut saya tidak bisa terus mengikuti bakat-bakat mereka,” imbuh Abu Bakar.

Teater modern, imbuh Abu Bakar, juga memiliki pakem-pakem tertentu yang berbeda dengan teater tradisi. Pakem itu, antara lain, naskah harus dihapal. Dalam teater tradisi, aktor-aktor itu sudah mandiri, menguasai sastra. Hanya diberikan lakon tertentu, sang aktor bisa melakukannya atau bisa menjabarkan sendiri. Teater modern dengan anak-anak sekolah, kadang-kadang juga menjadi masalah tersendiri untuk mendapatkan kematangan dari seorang aktor.

Permasalahan lain, kata Abu Bakar, kegiatan teater juga kegiatan kolektif, berbeda dengan menulis dan melukis. Dengan latar belakang anak-anak sekolahan itu, teater menjadi kegiatan penuh dengan kompromi, betul-betul memerlukan kesabaran dan melelahkan.

Teater modern di Bali juga menghadapi tantangan tantangan penonton yang makin cerdas. Karena itu, para pekerja teater modern dituntut membuat pementasan yang cerdas, tidak menggurui, tetapi pesannya bisa sampai kepada penonton dengan bagus.

“Penonton kita sekarang pintar-pintar sekali. Kita tidak boleh bodoh. Itu tantangan bagi kita. Bagaimana kita bisa memainkan suatu pementasan, di mana tingkat intelektual penonton juga berhasil kita cover. Itu soal. Dengan materi yang amatiran, itu problem besar bagi saya, untuk bisa membuat penonton tidak segera jemu, tidak meninggalkan gedung,” kata Abu Bakar.

Namun, Abu Bakar juga mengkritik pementasan teater anak-anak muda sekarang yang disebutnya terburu-buru melompat ke gaya absurd dan menganggap remeh teater gaya realis. Bahkan, kata Abu Bakar, ada yang berpandangan bahwa jika suatu pementasan maskin sulit dipahami penonton, berarti pementasan itu makin sukses.

IB Martinaya berbeda pandangan dengan Abu Bakar mengenai masa depan teater di Bali. Pegiat Teater Agustus yang kerap dipanggil Gus Martin ini justru optimistis terhadap masa depan teater di Bali. Persoalan yang diceritakan Abu Bakar, mengenai anak-anak sekolahan yang sulit dijaga kontinuitasnya di teater, menurut Gus Martin, itu lebih sebagai riak-riak dalam perjuangan seni teater. “Riak-riak itu selalu akan ada dan masa depan teater akan berjalan seperti apa adanya,” kata Gus Martin.

Mengenai penonton yang cerdas, Gus Martin berpandangan semua memiliki jalur-jalurnya masing-masing. Menurut Gus Martin, ada teater konvensional, teater pembaruan, dan teater kontemporer. Semuanya memiliki segmentasi penonton sendiri-sendiri.

Darma Putra sepakat dengan Abu Bakar mengenai seniman teater yang harus terus meningkatkan kemampuannya. Menurutnya, seniman harus punya kelebihan dalam banyak hal untuk bisa memberikan tontonan dan tuntunan. Kalau seorang seniman tidak mempunyai kelebihan, penontonya jauh lebih hebat, ya, akan ditinggalkan. Oleh karena itu seniman harus selalu menggali pengetahuan untuk dikemas untuk disajikan kepada penonton. “Novelis atau cerpenis sekarang, ya, juga kurang lebih begitu. Banyak sastrawan sekarang haus melakukan penelitian agar apa yang ditulis berbobot dan tidak sampai salah,” kata Darma Putra.

Mengenai minimnya jumlah penonton teater, menurut Darma Putra, hal itu harus diterima dan tidak bisa dibandingkan dengan hal lain, misalnya pertandingan sepak bola yang selalu ramai karena memang tidak bisa dibandingkan. Orang tidak bisa dipaksa untuk menonton sebuah pertunjukan teater. Selain itu, hal itu juga berkaitan dengan kemampuan si pegiat teater sendiri untuk menyajikan pementasan yang memikat sehingga penonton tertarik.

Gus Martin senada dengan Darma Putra mengenai penonton teater itu. Banyak atau sedikit jumlah penonton teater ditentukan oleh berbagai faktor. Dia mengambil contoh pementasan Teater Koma di Jakarta yang dikelola dengan manajemen yang kuat. Tidak hanya manajemen pementasan, tetapi juga manajemen penonton. Para penonton tidak lagi ditunggu untuk datang menonton, melainkan juga didatangi untuk bisa menonton.

Sonia Piscayanti yang juga pegiat teater di Komunitas Mahima menutup diskusi dengan menegaskan bahwa soal masa depan teater di Bali sangat tergantung kepada preferensi dan referensi yang digunakan. Namun, Sonia menyatakan tetap optimistis terhadap masa depan teater di Bali dengan melihat munculnya sejumlah anak-anak muda yang mau suntuk bergiat di teater dengan preferensi dan referensi yang lebih luas. “Teater akan selalu ada. Teater adalah refleksi masyarakat, cermin masyarakat. Selama manusia ada, selama itu teater ada,” tandas Sonia. [T/*]

Tags: baliHiskiHiski BaliTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Strategi Propaganda di Kemelut Pro Kontra Mahasabha Luar Bisa PHDI

Next Post

Menanam Kedelai Dahulu, Latihan Bikin Tempe Kemudian

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

by tatkala
July 25, 2026
0
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

Read moreDetails

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

Read moreDetails

Daftar Juara Wimbakara Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Diumumkan, Gianyar dan Denpasar Bersinar

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
0
Daftar Juara Wimbakara Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Diumumkan, Gianyar dan Denpasar Bersinar

PESTA Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 resmi mengumumkan para pemenang berbagai kategori lomba. Dalam pengumuman yang disiarkan secara langsung...

Read moreDetails

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

by tatkala
June 23, 2026
0
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

Read moreDetails

 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
0
 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

DENPASAR – TATKALA.CO |  Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta...

Read moreDetails

Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

by tatkala
June 13, 2026
0
Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita...

Read moreDetails

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

by Satria Aditya
May 31, 2026
0
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

Read moreDetails

The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional

by Nyoman Budarsana
May 30, 2026
0
The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional

Kemegahan karya seni “The Octopus Queen” di kawasan Broken Beach, Nusa Penida, sukses mencuri perhatian salah satu perhelatan dunia dalam...

Read moreDetails

Patinget Lepas Ida Betara Lingga, Dipuncaki Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung: 508 Pupuh Sampaikan Pesan Menjaga Bali

by Nyoman Budarsana
May 19, 2026
0
Patinget Lepas Ida Betara Lingga, Dipuncaki Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung: 508 Pupuh Sampaikan Pesan Menjaga Bali

Ketika geguritan Dwijendra Stawa dan Astapaka Stawa ditembangkan, suasana sore itu berubah menjadi hening. Tanpa tersadari, orang-orang yang duduk sejak...

Read moreDetails

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
0
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

Read moreDetails
Next Post
Menanam Kedelai Dahulu, Latihan Bikin Tempe Kemudian

Menanam Kedelai Dahulu, Latihan Bikin Tempe Kemudian

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co