22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memilih Buron

Yoyo Raharyo by Yoyo Raharyo
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Yoyo Raharyo

SUKRI masih duduk termenung di beranda rumah sepupunya, di sebuah desa yang tenang di Kota Air. Sore itu, lelaki 45 tahun ini membayangkan kembali kejadian seminggu lalu ketika seseorang bersama tetangga yang baru ia kenal, serta petugas keamanan adat, tiba-tiba datang ke rumah kontrakan yang ditinggalinya di Kota Pelangi.

Seseorang ini adalah pemilik kain yang dia curi enam bulan lalu. Karena kejadian itu, dia memilih jadi buronan polisi, ketimbang menyelesaikan secara baik-baik. Sukri juga tak berani pulang ke rumah aslinya di Kota Apel. Pikirnya, kalau itu ia lakukan, sangat mudah bagi polisi melakukan penangkapan.

“Pak,” seru Sutinah mengejutkan lamunannya. “Sampai kapan kita begini?”

Usai tergeragap, ia berkata: “Tak tahulah. Mungkin untuk sementara kita begini dulu, sampai kita cukup aman.”

“Tapi, kapan, Pak? Uang kita sudah menipis. Kalau Bapak terus sembunyi, diam begini saja, kita ndak enak sama sepupu kita. Malu Pak, jadi benalu,” katanya nyerocos.

“Sabar dulu, Bu. Aku juga belum bisa mikir.”

***

Sejak setahun lalu, kondisi perekonomian negeri memburuk. Dampak dari krisis ekonomi global yang melanda berbagai negeri. Sukri kena dampak. Ia gelisah karena pembeli sepi. Pelanggannya pun jarang yang datang ke tempat usahanya, di depan sebuah lapangan sepakbola, diapit sejumlah sekolah dan perumahan.

Sebelum masa paceklik, ia bisa menyelip daging sapi sebanyak 2 kilogram ditambah 2 kilogram daging ayam setiap hari. Buruknya daya beli masyarakat membuat dia terpaksa hanya menyelip separonya saja. Itu pun, kadang tidak habis terjual. Dijual kembali keesokan harinya, atau dibagikan kepada tetangga bila tak mampu terjual lagi. Terlalu lama tak laku, bakso pasti basi.

Di sisi yang lain, sang istri, Sutinah sedang mengandung anak kedua dari perkawinannya yang sudah berlangsung 14 tahun. Kalau ekonomi baik-baik saja, pikirnya, tentu dia tak perlu harus berpindah-pindah terus dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain. Rumah kontrakannya yang terakhir adalah sebuah rumah dengan biaya murah, di pinggiran Kota Pelangi, sebuah kota kecil di Pulau Dewata. Rumah tipe 21 meter persegi, dengan satu kamar tidur saja. Dinding tanpa plesteran, dengan lantai berplester kasar.

“Bu, kalau usaha kita begini terus, sepertinya aku tak mampu bayar biaya lahiran anak kedua kita,” katanya sambil membuat pentol bakso di dapur rumah kontrakannya, kala itu.

“Lalu, kita harus bagaimana, Pak? Sedangkan kita tak dapat JKN* yang digembar-gemborkan pemerintah.”

“Mungkin kita harus pakai jaminan kesehatan yang ditanggung pemerintah daerah. Kata Pak Sarto, itu mudah. Yang penting ada KTP provinsi sini.”

“Ya kalau begitu, cepetan diurus ke pak kades, Pak. Soalnya biaya bersalin tak sedikit juga. Belum lagi Adi, anak kita juga butuh biaya sekolah, belum lagi jajan sehari-hari yang tak cukup lima ribu rupiah.”

Dua bulan setelah percakapan itu, ketika tidur-tiduran di kamar, Sutinah merasakan mules. Dia yakin, bayi di kandungannya sudah siap memberontak, ingin menghirup udara bebas. Sukri yang sedang berjualan bakso di pangkalannya, segera pulang ketika mendapat telepon sang istri. Sutinah pun dibawa ke RSUD di Kota Pelangi. Anak pertamanya yang sudah kelas 3 SD pun dititipkan kepada tetangga, agar dia bisa fokus menunggu sang istri di rumah sakit.

“Bapak keluarga Ibu Sutinah?” tanya perawat.

“Ya, Bu. Saya suaminya.”

“Jadi begini, Pak. Ibu Sutinah mengalami hipertensi. Tekanan darah tingginya naik jadi 150/100 mmHg. Ini cukup berbahaya. Maka, tekanan darahnya akan diturunkan dulu. Kalau sudah normal, dilakukan tindakan cesar.”

“Bagaimana baiknya saja, Bu. Yang penting ibu dan bayinya bisa selamat.”

Selang beberapa menit, Sukri dipanggil perawat. Dia diberikan resep obat untuk ditebus di apotek rumah sakit. Dan pihak apotek menyerahkan rincian obat dan biayanya. Tercetak angka Rp 845.000. Betapa terkejutnya Sukri. Ingin dia bertanya mengapa bayar, tapi tak berani. Hari kedua juga dia diberikan resep yang tak jauh berbeda. Baik obat-obatan, termasuk beberapa botol cairan infuse. Itu berlangsung sampai hari ketiga. Sekitar Rp 2.730.500 sudah dia keluarkan. Uang di dompetnya tertinggal Rp 125 ribu. Itu uang sisa yang didapat dari menggadaikan BPKB sepeda motor satu-satunya.

Pikiran Sukri kalut. Dia mencoba meminjam uang ke sana-sini. Tidak banyak yang dapat meminjami. Kalaupun ada yang mau meminjami, hanya seratusan sampai dua ratusan ribu rupiah saja.

Dan di  hari kelima, sang istri pun menjalani operasi cesar untuk mengeluarkan si jabang bayi. Ibu dan anak berhasil diselamatkan. Rasa bahagia dan nelangsa bercampur di batinnya. Senang karena istri yang terkasih berikut bayinya dapat tertolong. Tapi, dia masih belum tenang. Ini soal biaya rumah sakit yang terus membengkak. Sampai hari kelima itu, dia sudah mengeluarkan uang Rp 3.605.000. Sudah tidak ada uang di dompet. Hanya tersisa Rp 35 ribu di kantong celananya.

***

Ia berpikir keras. Sesekali menjambak rambut sendiri, memukul-mukul kepalanya menggunakan kepalan tangan. Lalu tertunduk, meratapi nasib. Ia menggugat Tuhan-nya. “Kepada siapa lagi aku mengadu, ya Tuhan. Tolonglah aku. Setiap hari kusembah, apakah Kau akan menelantarkan hambamu ini?”

Dalam gusar, ia teringat Tarno. Tetangga rumah kontrakannya terdahulu. Segera, Sukri menggeber sepeda motornya mencari mantan aktivis mahasiswa itu. Tapi, Tarno sedang tak ada di rumah. Padahal, dia sangat berharap Tarno bisa membantunya. Setidaknya bukan dengan uang, karena ia tahu, kehidupan Tarno juga hanya lebih baik sedikit darinya. Sukri butuh Tarno yang dikenal berani dan luas wawasannya.

“Bapak masih di luar kota, Pak Sukri. Mungkin besok siang sudah kembali,” kata Khodijah, istri Tarno.

Sambil mengendarai sepeda motor untuk kembali ke rumah sakit, pandangan Sukri tertuju pada bungkusan karung ukuran beras setengah kwintal. Seorang kondekturbaru menurunkan dari bus di depan minimarket yang tak terlalu ramai. Mendadak Tarno menghentikan laju sepeda motornya. Mengambil jarak 30 meter dari barang bidikannya, ia menyelidik, duduk di atas motornya yang sudah dimatikan. Sambil membakar rokoknya, lelaki yang tak tamat SD ini mengamati gerak pengunjung minimarket.

Lima menit menunggu, si empunya paket barang itu tak kunjung nongol. Tanpa pikir panjang lagi, Sukri pun segera mendekati karung yang kemudian ia tahu, itu berisi kain. Konon kain mahal, untuk membuat kebaya. Karung berisi paketan ini memang biasa seminggu sekali datang dan diturunkan di depan minimarket. Biasanya anak buah si pemilik paketan ini sudah menunggu sebelum bus tiba. Entah bagaimana, hari itu ia telat datang.

Dengan hati cemas, ia naikkan kain sekarung itu ke atas sepeda motornya, lalu dibawa ke rumah kontrakan. Sayang, tak mudah dia menjualnya. Beberapa kali ditawarkan ke tetangga, atau teman-temannya, baru sedikit saja yang laku. Dia baru bisa mengumpulkan uang Rp 2.500.000 dari menjual seperempat kain itu. Tapi, lagi-lagi hanya tersisa sedikit saja, untuk membeli obat kembali.

***

Tarno tiba di rumah sesuai rencana. Sang istri memberitahu bahwa Sukri sempat datang kemarin siang. Meski hidup dengan kesederhanaan, dia orang yang ringan tangan. Kerap membantu orang tanpa berpamrih. Sebagai mantan aktivis mahasiswa, ia memang pintar bersilat lidah. Argumentasinya sering masuk akal. Dengan dibumbui sedikit gertakan, aparatur pelayanan publik kerap tak berkutik menghadapinya.

“Sudah sewajarnya kita membantu sesama,” katanya kepada sang istri. “Bukankah yang kuat harus membantu yang lemah, atau yang pintar membantu yang bodoh, yang tahu membantu yang belum mengetahui?”

“Iya, tapi tak dapat apa-apa dari itu semua. Hanya dapat capek.”

“Apakah semua hal harus dinilai dengan materi, harus diuangkan? Tentu tidak. Alangkah sebaiknya kita tetap saling membantu. Suatu saat, mungkin kita yang membutuhkan bantuan orang lain,” tuturnya seperti berceramah.

Di saat asyik berbincang di beranda rumahnya, Sukri yang ditunggu-tunggu datang. Dia menceritakan masalahnya. “Jadi, sebetulnya, kalau pakai jaminan kesehatan ini harusnya gratis atau tidak sih, Pak? Tolong saya, Pak. Saya sudah tidak punya uang lagi.”

“Memang, itu gratis kalau pelayanan, fasilitas, termasuk obat yang diberikan sesuai formula dari jaminan kesehatan ini. Kalau tidak, maka bayar. Ada kemungkinan, pelayanan yang didapatkan, termasuk obatnya tidak sesuai formula itu. Masalahnya, waktu diberikan resep obat yang bayar itu, apakah Pak Sukri sempat dijelaskan atau diberikan pilihan untuk memakai obat yang gratis atau bayar?”

“Saya ndak pernah diberikan penjelasan apa-apa, Pak. Hanya diberikan resep dan disuruh menebusnya di apotik. Saya ndak tahu yang gitu-gitu, Pak.”

“Baik,” kata Tarno. “Saya akan coba tanyakan hal ini ke manajemen rumah sakit ini.”

***

Di hadapan direktur operasional RSUD Kota Pelangi, Tarno dan Sukri pun menjelaskan duduk perkaranya. Dengan segala argumentasinya, Tarno seperti mengadili direktur operasional itu.

“Waduh, maaf kalau ada kesalahan. Mungkin petugas kami sibuk. Jadi tidak sempat menjelaskan, Pak. Nanti akan saya sampaikan kepada petugas terkait masalah ini.”

“Masalahnya,” tohok Tarno. “Bukan kali ini saja pasien jaminan kesehatan daerah dimintai biaya. Padahal pemerintah sudah bilang ini gratis. Kami khawatir, ini modus dari oknum di dalam rumah sakit. Mudah-mudahan ini bukan berjamaah,” katanya lagi menohok. “Terkait masalah pasien Sutinah, istri Pak Sukri ini, karena sudah kadung membayar, untuk selanjutnya kami minta agar pelayanannya sesuai formula jaminan kesehatan daerah ini. Tak perlu obat-obat paten, generik pun cukup, tak masalah. Yang penting bisa sembuh.”

“Baik, Pak. Akan kami usahakan, dan kami perbaiki ke depannya.”

Tarno dan Sukri pun pamit meninggalkan ruangan kantor RSUD. Tarno pulang ke rumahnya, dan Sukri kembali ke ruang perawatan pasien di kelas III yang berjubel pasien dan penunggunya. Hanya ada kipas angin di ruang perawatan itu.

Selepas pertemuan dengan manajemen RS, wajah Sukri tampak semringah. Walau, uang yang dia miliki makin menipis. Untuk menutup kekurangan, sekaligus sebagai jaga-jaga bila dibutuhkaan, dia kembali menjual beberapa meter kain curiannya.

***

Setelah dirawat 10 hari, pihak dokter menyatakan sang istri dan bayinya sudah bisa pulang.

”Bayar berapa?” tanya keluarga pasien di bed sebelah istrinya.

“Ndak bayar.”

“Kok bisa? Sebelum-sebelumnya masih ada tagihan lagi sampai Rp 2,5 juta. Pasti ada orang bermain dalam di Rumah Sakit, ya?”

“Ndak juga,” sergahnya. ”Cuma saya bersama teman sempat menyampaikan masalah ini ke pihak manajemen. Dan manajemen mengakui salah. Sehingga, ndak perlu bayar lagi.”

 ***

Enam bulan setelah istrinya melahirkan, Sukri pun kembali berjualan bakso. Namun, kondisi ekonomi memang belum pulih sepenuhnya. Maka, usahanya pun masih kembang kempis. Dan untuk memenuhi kebutuhan hidup, Sukri masih bergantung dari sisa kain curiannya yang masih sekitar separo karung. Apalagi, kelahiran anak keduanya meninggalkan utang di sana-sini, termasuk di koperasi untuk menebus BPKB sepeda motor satu-satunya.

Dia menawarkan kain-kain itu kepada beberapa tetangga. Ada yang berminat, tak sedikit pula yang menolak. Tapi, apes memang. Salah satu tetangga yang ditawari kain ini ternyata malah anak buah pemilik kain yang dicurinya. Sang anak buah bernama Ami itu pun memberitahukan kepada sang majikan. Mendengar kabar itu,  si majikan dan pekerjanya ini langsung datang ke rumah kontrakan Sukri.

“Kami tidak mau cari masalah,” kata pemilik kain didampingi petugas keamanan adat pula. “Kami hanya minta uang kami dikembalikan sekitar Rp 20 juta. Itu uang modal saya. Saya tak cari untung, dan saya anggap masalah hukumnya selesai.”

Sukri tak bisa berkata banyak,  “Saya usahakan, Bu.”

***

Sampai malam hari, Sukri belum mampu juga mengembalikan uang yang dijanjikan. Setelah berembuk dengan sang istri, Sukri memilih kabur. Istri dan kedua anaknya ikut serta. Barang-barang miliknya, ia tinggalkan. Termasuk sepeda motor dan rombong bakso dititipkan kepada temannya. Dia menyeberangi pulau, menggunakan bus, untuk menghindari pemeriksaan di pelabuhan.

***

Saat nonton tivi di ruang keluarga, Tarno dan istrinya membicarakan nasib keluarga Sukri. Mereka tak menyangka Sukri bisa senekat itu. Padahal, selama bertetangga dua tahun lalu, Tarno tahu Sukri orang yang baik.

“Kalau kepepet, apa pun bisa terjadi, Bu.”

“Memang betul, Pak. Tapi, kasihan anak-anaknya. Khususnya Adi yang harus meninggalkan sekolahnya.”

“Ya, kesalahan ini ndak bisa ditimpakan sepenuhnya kepada Sukri. Oknum-oknum di rumah sakit juga turut berkontribusi. Seandainya mereka jujur, bekerja sesuai SOP, tentu jaminan kesehatan bisa dijalankan semestinya, gratis. Bukan mempermainkan kebodohan orang untuk mencari keuntungan semata.”

***

Di tempat persembunyiannya, Sukri termenung. Ia berpikir keras, mencari jalan jeluar atas masalah yang dihadapi. Dia memikirkan nasib Adi, anak pertamanya yang belum bisa bersekolah lagi. Ia takut Adi putus sekolah, mengikuti jejaknya yang tak pernah tamat SD. Sedangkan, untuk berdagang bakso lagi di tempat barunya ini pun, ia belum bisa. Belum memiliki keberanian untuk itu.

“Apakah aku harus menyerahkan diri kepada polisi?” tanyanya dalam hati.

 

Catatan:

*) JKN = Jaminan Kesehatan Nasional. Program pemerintah ini hanya menanggung premi sekitar 40 persen warganya, agar bisa mendapat pelayanan kesehatan gratis. Sedangkan, sisanya harus membayar premi atau iuran sendiri, dan tak sedikit orang miskin yang tercecer, tidak masuk tanggungan pemerintah.

Lembah Kauripan, 28/11/2016, di waktu Subuh

Tags: Cerpen
Share39TweetSendShareSend
Previous Post

Wajah Komik Indonesia Hari Ini: Dari “Tahilalats”, “Trickster”, sampai “Nusantara Droid War”

Next Post

Banjir di Bali: Kita Korban atau Pelaku Utama?

Yoyo Raharyo

Yoyo Raharyo

Wartawan dan penulis esai yang belakangan berminat nulis fiksi yang diolah dari kisah-kisah nyata. Tinggal di Bali

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post

Banjir di Bali: Kita Korban atau Pelaku Utama?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co