23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Interkonektivitas | Dari Lukisan “All Being are Connected”

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
March 31, 2021
in Esai
Interkonektivitas | Dari Lukisan “All Being are Connected”

Lukisan berjudul All being are connected karya buatan I Made Surya Subratha

Sekitar pertengahan Desember 2020   Kulidan Kitchen menyediakan tempat untuk mengadakan pameran seni bertema Membentang Ruang. Pameran kali ini bersifat tunggal yaitu semua karya seni yang ditampilkan adalah buatan I Made Surya Subratha dan dibuka oleh Bapak Popo Danes pada tanggal 18 Desember 2020 dan diulas oleh I Gede Jaya Putra dan Vincent Chandra melalui tulisan mereka berdua. Pameran itu berlangsung hingga 8 Januari 2021. Dari beberapa karyanya ada satu yang menarik. Lukisan itu berjudul All being are connected.  

Karya tersebut berukuran 475 cm dengan lebar 54 cm. Dari pengakuan sang seniman, I Made Surya Subrata, objek dalam karya seninya berupa manusia, hewan dan tumbuhan. Menggunakan tinta akrilik dan cat semprot di atas kanvas dengan warna hitam, merah, putih dan abu abu. Objek berwarna putih dilukis   di atas bidang berwarna hitam. Seniman membuat lukisan ini sebagai bentuk ekspresi bahwa semua mahluk hidup saling terkait satu sama lain dan juga terkait dengan lingkungan dimana mereka berpijak. Bidang yang berwarna hitam dapat ditafsirkan sebagai tanah berhumus karena dalam konteks ekologi, tanah tersebut selalu berwarna gelap. Dalam objek berwarna putih terdapat warna merah darah dan abu abu yang boleh ditafsirkan sebagai dampak buruk yang dihadapi mahluk hidup akibat keterputusan dengan satu sama lain dan lingkungan alamnya. Warna merah darah melambangkan kondisi terluka. Sedangkan warna abu abu menunjukkan kesuraman yang dihadapinya.

Akibat Diskoneksi

Di balik pencemaran air, polusi udara dan tandusnya lahan hingga disebabkan oleh masalah yang sama yaitu diskoneksi. Tiga fenomena pertama terjadi karena lembaga yang ada hanya mementingkan satu faktor yaitu mendapatkan uang tanpa memikirkan efek terhadap lingkungan sehingga air, tanah dan udara hanya dianggap sebagai sumber daya yang dieksploitasi. Industri yang membuang limbah merupakan contoh dari gejala ini karena merasa dirinya terpisah dari sungai dan hanya menganggap sungai itu sesuatu yang terpisah sehingga dianggap kecil dampaknya.

Masalah keterputusan di alam ini adalah akar dari bencana ekologi. Keterputusan ini membuat manusia tidak peka dengan keberadaan dirinya yang saling terkait dengan mahluk hidup dan siklus alam seperti siklus hidrologi, siklus nitrogen, dan siklus karbon. Ketika tiga siklus tersebut rusak maka ancaman bermunculan bahkan peradaban manusia saat ini terancam akan hancur karena tiga siklus itu telah rusak di hampir semua tempat di bumi, bukan seperti dulu dimana hanya terjadi pada wilayah tertentu.

 Kemudian muncul isu yang jadi perhatian akibat dari diskoneksi yaitu pandemi Covid 19. Pandemi ini terjadi karena perusakan lingkungan yang membuat kelelawar dan satwa hutan bermigrasi ke pemukiman manusia dan memperbesar peluang penularan virus. Lalu virus itu menular dari manusia ke manusia. Penebangan hutan merupakan gejala diskoneksi manusia dengan alam yang hanya memikirkan keuntungan jangka pendek dan mengabaikan efek buruk jangka panjang.

Keterputusan ini dimulai dari sistem pengetahuan yang bersifat reduksionis dimana alam dipandang sebagai bagian yang terpisah pisah dan diangap serupa dengan mesin yang dimanipulasi sesuai keinginan manusia. Perubahan ekosistem alami jadi monokultur untuk mendapatkan produk industri seperti sawit yang memberikan pendapatan jangka pendek dengan mengorbankan integritas lingkungan seperti kejernihan air dan biota biota  lain di situ adalah dampak dari penerapan ini dimana lahan adalah mesin pencetak komoditas bukan sebagai penopang habitat untuk keragaman hayati yang tidak dijumpai di tempat lain di bumi, menjalankan siklus air , sumber makanan dan  bagian dari kearifan komunitas. Tanah, mikroba pada humus, hewan, sungai, tanaman dan komunitas yang tinggal di situ adalah suatu kesatuan yang saling terhubung.

Alam tidak bekerja seperti mesin dimana bila seseorang ingin mesinnya bekerja lebih berat dan lebih cepat, harus dimodifikasi bentuk dan ukurannnya. dan diperbesar kapasitasnya. Di lingkungan alam , sebagai contoh bila ekosistem bakau diubah jadi tambak dan pemukiman pesisir berskala besar, akan terjadi efek yang tidak diinginkan seperti pengikisan air laut ke daratan (abrasi)dan penyusupan air laut ke dalam tanah (intrusi). Kemudian, tambak dan pemukiman yang tidak memiliki fasilitas penyaluran dan pengolahan limbah yang memadai akan mencemari laut.  Lalu ada efek sosial dimana rakyat yang hidup dari bakau secara langsung maupun tidak langsung kehilangan mata pencahariannya. Perubahan ekosistem hutan bakau di  atas terjadi karena manusia memandang lingkungan hidup dari satu dimensi yaitu uang sehingga mengabaikan efek beruntun yang terjadi berikutnya.

Dalam masyarakat , prinsip interkonektivitas seperti alam dengan efek beruntun juga berlaku. Contohnya , kasus jembatan roboh akibat buruknya kontruksi menyebabkan kecelakaan yang menguras harta benda bahkan nyawa. Selain itu koneksi antar wilayah jadi terhambat yang mengakibatkan penyaluran barang dan jasa tidak tercapai. Ini menyebabkan perekonomian terganggu. Kemudian harus mengeluarkan biaya tambahan untuk perbaiki atau bangun jembatan yang sama. Ini salah satu pemborosan akibat kelalaian dalam proses pengerjaan, rancangan yang kurang tepat, hingga korupsi anggaran pembangunan yang mana kualitas materialnya dipilih yang lebih rendah. Kasus jembatan roboh disebabkan diskoneksi antar manusia dimana si pekerja, kontraktor, arsitek dan pembuat kebijakan terdiskoneksi dengan sesama manusia sehingga hanya peduli dengan dirinya sendiri tidak pertimbangkan dampak yang terjadi pada orang banyak.

Koneksi Tak Terpisahkan dari Tiga Elemen

Jika kita berada di taman dekat danau yang jernih menikmati bunga yang banyak warna dan memancarkan keharuman sambil menyantap kopi dan teh serta memakan hidangan sore, akan terungkap bahwa semua itu terbentuk berkat kombinasi tiga elemen yang tak terpisahkan di planet bumi. Koneksi tiga elemen ini yang membuat kehidupan di bumi terus berlangsung dan menjadi dasar dari peradaban manusia.  Tiga hal yang saling terkoneksi  yaitu tanah yang hidup, air dan sinar matahari. Dari tanah yang kaya dengan materi organik dan mikroorganisme , rumput untuk makanan ternak, bunga dengan kecantikannya herba untuk obat-obatan dan sayuran, dan pohon untuk diambil buah serta kayunya sebagai bahan bangunan menjadi tempat berpijak baginya. Ia menjadi tempat untuk mendapatkan nutrisi seperti manusia memperoleh makanan.

Air merupakan elemen vital bagi semua mahluk hidup dan menentukan kelangsungan hidup manusia, hewan, tumbuhan dan organisme di tanah. Air merupakan elemen untuk mengolah nutrisi menjadi zat zat yang berguna. Lebih dari 50% tubuh mahluk hidup tersusun atas air dan setiap hari tubuh tersebut mengeluarkan air melalui organ ekskresi dan kulit agar suhu tubuh terjaga sehingga air merupakan unsur utama penyambung kehidupan.  Air yang ada di daratan dan kita gunakan sehari hari dibentuk dari siklus hidrologi. Hujan adalah hasil  koneksi antara air tawar, air laut dan sinar matahari yang membentuk siklus hidrologi. Bagi semua mahluk hidup di darat siklus hidrologi merupakan penghasil air tawar yang digunakan tiap hari. Air sebagai elemen paling penting bagi kehidupan  diperoleh dari kombinasi siklus alam yaitu penguapan dari laut yang membentuk awan. Lalu awan tersebut bergerak ke daratan mengembun. Embun ini yang membentuk hujan dan membasahi daratan. Kemudian tanah yang kaya humus, materi organik dan keragaman tanaman di suatu tempat menjaga cadangan air yang jatuh dari langit atau mengalir menuruni pegunungan membuat sungai mengalir sepanjang tahun dan air tanah diperbaharui. Yang tidak mengalir terkumpul dalam suatu cekungan dan membentuk danau.

Saat kita perhatikan vitalnya hujan dalam membasahi daratan sehingga berwarna hijau dan di masa ketika mayoritas penduduk adalah bertani momen seperti ini yang paling ditunggu. Koneksi antara air dan tanah dibuktikan dengan kondisi air tawar yang ada. Tanah yang kaya humus dan banyak airnya lengket dan berwarna gelap. Sedangkan di tanah yang tandus air tawarnya cenderung menipis dan tidak diperbaharui. Ketika hutan gundul atau berubah jadi monokultur dengan satu jenis tanaman, air terkuras karena tanaman itu hanya mengonsumsinya saja. Lalu tanah tersebut jadi seperti debu dan mudah tererosi.

Tanah yang jadi tempat berpijak dan air sebagai pemberi kehidupan,  berikutnya adalah sinar matahari dimana elemen tersebut berperan sama pentingnya dengan dua elemen di atas. Tanaman di darat dan plankton di laut berfotosintesis memanfaatkan cahaya matahari menghasilkan nutrisi bagi mahluk lain. Tidak ada cahaya matahari membuat tanaman tidak dapat hidup.   Kombinasi dari tiga element ini menentukan kelangsungan hidup. Jika tidak ada air maka semua organisme akan mati. Jika matahari berhenti bersinar tidak ada nutrisi dan oksigen bahkan hampir tidak dapat bernafas karena makanan dan oksigen dihasilkan oleh tumbuhan dan plankton. Jika tanah itu rusak parah, hanya segelintir organisme yang hidup layak. Itulah sebabnya konektivitas tanah , air dan sinar matahari adalah sesuatu yang paling berharga bagi semua orang apapun keyakinan dan pemikiran yang dianutnya.

Membangun Kontektivitas Manusia dengan Alam dan Sesamanya

Merupakan hal yang sulit di zaman sekarang untuk mewujudkan itu dimana manusia sudah terasing dari satu sama lain. Kemudian terasing dari alam hingga tidak menyadari hal hal di atas. Teknologi memperparah keterasingan ini dimana manusia lebih dekat kepada yang jauh dan larut dalam dunia tidak penting seperti hiburan  dan fiksi hingga mengabaikan hal hal yang nyata dan vital bagi masyarakat dan planet bumi. Lingkungan modern dimana kita hidup cenderung mengecilkan kesadaran diri manusia terhadap elemen vital seperti tanah dan air tawar. Perhatikan degradasi tanah dan menipisnya air yang tidak disadari karena dipikir makanan dan air tersedia terus saat membayar.

Di Indonesia, ekosistem hutan, sawah, sungai, gunung, laut dan kota saling terkait satu sama lain. Kita yang tinggal di kota memakan ikan sarden dan tongkol yang berasal dari lautan. Beras dan jerami diperoleh dengan mengairi lahan dengan menggunakan air dari tanah, hujan dan sungai. Bahan baku kursi dan meja adalah tanaman hutan. Hutan di pegunungan menjadi sumber mata air penting jutaan penduduk di bawahnya bahkan di perkotaan.  Inilah bukti bahwa hidup kita tidak terlepas dari ekosistem alam.

Membangun konektivitas dimulai dari pergeseran paradigma yang bersifat terpisah pisah dimana telah dianut selama lima abad yang menyebabkan berbagai kerusakan ini karena hanya mengejar segelintir tujuan dengan mengabaikan efek yang terjadi berikutnya seperti kasus kebun sawit dengan paradigma holistik yang mana faktor faktor sosial, ekonomi, tanah, air, keragaman hayati dan komunitas menjadi pertimbangan dalam mendirikan suatu proyek.

Kedua, menyadari bahwa ekonomi yang paling esensial dari manusia dan mahluk hidup adalah ekonomi yang berbasis pada kombinasi matahari, tanah yang hidup dan air. Maksudnya sebagai berikut ini:

“Segala kehidupan di bumi itu ditopang oleh tanah, air dan matahari. Perekonomian manusia yang utama yaitu pangan , sandang dan papan bahkan rekreasi , pendidikan dan kesehatan berasal dari kombinasi tiga faktor itu secara langsung maupun tidak langsung. Padi dan ikan sarden yang menghasilkan beras, protein hewani, dan produk turunan seperti jerami yang digunakan untuk bahan kerajinan hidup berkat sinar matahari, air dan tanah. Padi memperoleh kehidupan dari kombinasi unsur hara tanah, pengairan dan sinar matahari. Dalam kasus ikan sarden, dia mendapat makanan dari plankton yang memanfaatkan nutrient dari dasar laut yang muncul ke permukaan dan mengolahnya dengan sinar matahari seperti tanaman padi.

Kemudian dalam aspek rekreasi dan pendidikan, kita mengamati produk seni rupa, tempat rekreasi, peralatan kesenian dan musik serta bangku dan meja tulis berasal dari kayu pepohonan yang tidak terpisahkan  dengan kombinasi surya, tanah dan air. Beberapa spesies tanaman berkayu ini juga dimanfaatkan getah , nira, buah dan daunnya dan mungkin ada lagi manfaat yang muncul di kemudian hari. Lalu, jika kita berlibur ke taman nasional menikmati keindahan terumbu karang, satwa liar yang berukuran besar, bunga yang berwarna warni, dan air  yang jernih semuanya ditopang oleh kombinasi tiga faktor utama. Bahkan di masa depan nanti dimana energi surya disemarakkan, seseorang yang merasa dirinya terpisah dari tiga faktor itu akan menyadari bahwa ia tidak akan hidup tanpa sinar matahari. Semua ini merupakan dasar dari perekonomian yang sejati bukan seperti sekarang dimana basisnya adalah uang fiat yang berbasis utang dicetak oleh bank sentral dan disahkan oleh pemerintah dan nilai uang itu dijadikan tolak ukur keberhasilan ekonomi bukan kelestarian konektivitas tiga faktor esensial”.

Ketiga, pengelolaan hutan, ekosistem air tawar, padang penggembalaan, pantai , lautan, perikanan, lahan pertanian, satwa liar , kualitas udara dan masyarakat secara holistik dan partisipatif. Semua hal di atas mulai dari hutan hingga masyarakat saling terhubung. Ketika salah pengelolaan hutan, dapat  muncul erosi yang menyebabkan keruhnya sungai dan bibir pantai. Kepunahan satwa liar amat rentan karena habitatnya hilang. Masyarakat menderita banjir, tanah longsor, kekeringan bahkan wabah penyakit.  Ingat bahwa semua hal di atas bersifat saling terhubung antar komponennya. Pengelolaan yang salah memicu efek beruntun yang tidak terduga.

Saat ini pembagian ilmu pengetahuan yang semakin terspesialisasi membuat komunikasi menjadi sulit sehingga sering muncul hal hal di atas. Ahli ekonomi menginginkan pertumbuhan PDB yang positif sehingga harus ditebang pohonnya. Lalu pakar kehutanan menginginkan hutan produksi industri dengan tujuan dapat kayu  N ton tiap hektar sekali panen. Ahli konservasi dan lingkungan menentangnya karena ingin melestarikan satwa liar dan biota yang mereka sayangi dan kadang kurang peduli dengan kehidupan komunitas lokal karena bukan bidangnya. Komunitas setempat dipandang sebelah mata oleh pakar ekonomi dan kehutanan karena hidupnya bukan berbasis industri  serta kurang diajak partisipasi untuk melestarikan satwa hutan karena tidak punya pengetahuan formal. Dalam hal ini masyarakat harus tahu dan sadar akan hal hal di atas. Penguatan kesadaran secara efektif dilakukan dengan partisipasi. Inilah hakekat utama dari demokrasi partisipatif. Jadi pengelolaan yang holistik adalah pengelolaan yang memperhatikan kondisi tanah, air (termasuk laut), keragaman hayati dan sistem sosial. Allan Savory , seorang penggembala ternak dan biolog satwa liar meringkas kontek holistik pengelolaan hal hal di atas sebagai berikut:

“Semua orang ingin keluarga yang stabil, kehidupan yang damai dan layak, rasa aman sambil punya kebebasan untuk menjalankan keyakinan spiritual. Makanan bernutrisi yang berkecukupan dan air bersih. Menikmati pendidikan dan kesehatan yang berkualitas dan hidup seimbang dengan waktu untuk keluarga, teman dan komunitas serta hiburan untuk budaya( kesenian ) dan tujuan lain yang mirip. Semuanya terjamin selama bergenerasi generasi yang akan datang , dengan berdasarkan pada kesuburan tanah dan keragaman hayati di daratan, sungai, danau dan lautan”. [T]

Tags: lingkunganSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan Bali | Sastra dan Mode Berpakaian

Next Post

“Rizoma” | Pameran Empat Perupa di Rumah Paros

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
“Rizoma” | Pameran Empat Perupa di Rumah Paros

“Rizoma” | Pameran Empat Perupa di Rumah Paros

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co