10 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sastra dan Pemimpin

Tjahjono Widijanto by Tjahjono Widijanto
March 31, 2021
in Esai
Sastra dan  Pemimpin

Foto ilustrasi tatkala.co

“Banyak keajaiban di dunia, tapi tak ada

 yang lebih ajaib selain manusia itu sendiri”

(Sophocles)


Keinginan untuk menjadi pemimpin entah menjadi presiden, gubernur, bupati, lurah,, ketua PSSI bahkan ketua RT merupakan sebuah kewajaran dari bagian upaya manusia meraih aktualisasi dan eksistensinya. Teks sastra jauh-jauh hari dengan tersirat menggambarkan bahwa ambisi menjadi pemimpin merupakan obsesi abadi dari manusia, namun sebaliknya sastra juga mengajarkan bahwa diperlukan sikap mawas diri dan memiliki kebesaran hati untuk menakar kemampuan diri, menakar “kebersihan” diri, etis bahkan moralitas  sebelum seseorang berobsesi menjadi pemimpin.

Tersebutlah pada episode Aranya Kanda dalam kitab Ramayana, seorang wanita bernama Keikayi memimpikan anaknya, Barata, menjadi seorang raja besar. Maka ia menghasut raja untuk mengusir Rama yang menjadi putera mahkota yang juga kakak lain ibu dari Barata. Namun ketika Rama telah terusir, Barata menunjukkan kebesaran hatinya bahwa ia merasa tidak memiliki kecakapan memimpin seperti Rama. Ia menolak menjadi raja bahkan mencari Rama di hutan dan baru bersedia memimpin negara dengan status sebagai wakil sementara sampai Rama selesai menjalankan pengabdiannya di hutan. Pada titik ini Barata secara formal bukan atau gagal menjadi seorang pemimpin tertinggi tetapi pada hakekatnya ia memiliki kebesaran seorang pemimpin sejati.

Demikian juga dalam kisah klasik Mahabarata, yang semestinya pantas mendapat predikat seorang raja atau pemimpin sejati adalah Dewabrata atau Bhisma, kakek para Pandawa dan Kurawa yang justru menolak menjadi seorang raja dan mengorbankan haknya sebagai raja, mengorbankan segenap perasaan, jiwa dan nyawanya untuk Negara. Bisma bahkan rela berperang dalam sebuah peperangan yang ia tahu  tak dapat ia menangkan. Yang terjadi justru Bisma dengan ihlas melepaskan jabatannya, melepaskan jubah kestriyaanya, baju seragam pemimpinnya dan menggantikannya dengan jubah pendeta.

Pada Kitab Pararaton, pembaca juga disuguhi bagaimana liku-liku seorang preman yang kemudia berhasil menjadi  hero bernama Ken Arok yang mampu mendudukan dirinya sebagai penguasa (raja) dengan menghalalkan segala cara baik kekuatan fisik maupun kelicikan seorang politikus. Demikian juga dalam babad Tanah Jawi, Babad Mediun, Babad Gresik, Serat Sorandaka, Serat Ranggalawe, misalnya, dapat dilihat bagaimana berbagai upaya dilakukan manusia untuk mewujudkan obesesi dirinya sebagai pemimpin dan penguasa.

Pada contoh-contoh tersebut, teks sastra seringkali menyimpan kegeraman sekaligus pula menyediakan harapan-harapan. Dengan menyediakan harapan-harapan itu, teks sastra seakan-akan memberikan alternatif atas keterhimpitan, ketersesakan atau ketakpuasan, sekaligus pula menyediakan munculnya hero-hero baru yang mungkin hanya hidup pada alam ide. Pada abad romantik misalnya, novel Don Qouixote de La Manca (Don Kisot) karya Carvantes, memberi pembaca seorang pemimpin imajiner yang mungkin dapat hadir sebagai oase kerinduan masyarakat terhadap lahirnya seorang pemimpin, sekaligus pula dipakai untuk menyindir penguasa yang tidak mampu berlaku sebagai seorang pemimpin.

Karena sastra bukan merupakan kebenaran faktual semata-mata, teks sastra mampu menawarkan sebuah gambaran dunia ideal yang serba makmur, tentram, dan damai di bawah naungan pemimpin yang sangat ideal, justru ketika saat realitas sosial masyarakat berada dalam sistuasi yang frustasi dan kecewa terhadap kualitas pemimpinnya. Dengan demikian teks sastra seolah-olah dapat dijadikan obat penyegar meskipun bisa jadi harapan atau gambaran yang dimunculkan sekedar sebuah utopia belaka.

Sebagai contoh adalah beberapa teks sastra karya  Ronggowarsita yang karena kecewa pada pemimpin dan kondisi realitas sosial politik yang terlampau reseptif menghadirkan mitos-mitos tentang datangnya zaman yang gemilang dengan pemimpinnya ‘Sang Ratu Adil’ yang sangat misterius dan  dirahasiakan kemunculannya (satriya piningit).  Satriya piningit atau Ratu Adil inilah yang dianggap akan mampu membawa masyarakat keluar dari zaman kalatida (zaman edan/kalabendu) menuju zaman keemasan (kalasabu).

Teks sastra juga mengingatkan bahwa memimpikan pemimpin sebagai sesuatu yang sangat diidealkan (dicitrakan) dalam angan-angan  dalam realitasnya seringkali tidak seindah kenyataannya. Dalam naskah drama The Leader yang ditulis Ionesco dikisahkan sebuah masyarakat yang menanti-nantikan datangnya seorang pemimpin yang dicitrakan betapa adil, betapa tampan, betapa agung dan betapa idealnya pemimpin yang bakal datang itu. Lalu suatu saat setelah begitu panjang menanti datanglah sang pemimpin. Betapa tragis dan ironisnya sang pemimpin itu karena ia ternyata tidak berkepala!

Demikianlah sastra mengajarkan untuk mencari bahkan menjadi seorang pemimpin yang ideal sekaligus mengingatkan masyarakat untuk tak terlampau melambungkan harapan untuk mencitrakan sosok pemimpin. Sastra mengajarkan  untuk “biasa-biasa” saja menyikapi fenomena kemunculan calon tokoh pemimpin, dengan demikian masyarakat tidak menjadi terlalu gampang kecewa dan frustasi dengan realitas pemimpin yang semula begitu diidolakan. Dan yang lebih penting, sastra memberikan pelajaran bahwa masing-masing di antara kita dapat menjadi seorang pemimpin tanpa harus memakai jubah  pemimpin.

“Hamlet” karya legendaris William Shakespeare dengan monolognya yang mahsyur: ‘to be or not to be’ merupakan sebuah contoh teks sastra yang berhasil menghadirkan sosok manusia  lengkap dengan segala konflik batinnya, proses, dan perubahan struktur kejiwaannya dalam upaya meraih eksistensinya. Shakespeare mampu tampil tak ubahnya seperti seorang psikolog yang mampu memahai jiwa manusia yang seringkali berada antara kegamangan dan kenekatan. Begitu bernilainya karya Shakespeare sehingga seorang anggota parlemen Inggris bernama John Ruskin jauh-jauh hari sebelum India lepas sebagai koloni Inggris berkata: “Shakespeare bagi Inggris jauh lebih penting daripada India. Inggris tanpa  India tetap Inggris, tetapi Inggris tanpa Shakespeare Inggris akan kehilangan citranya!” 

Di kurun waktu yang berbeda, pengarang Yunani, Sopochles, juga menjadi begitu mahsyur karena ia menciptakan tragedi Oedipus. Sebuah karya tragedi yang berdasarkan sebuah pandangan filosofis bahwa  banyak keajaiban terjadi di dunia tetapi tak ada sesuatu yang lebih ajaib kecuali manusia. Berdasarkan penyataan filosofis itulah muncul tokoh-tokoh semacam Oedipus yang mencucuk kornea matanya sendiri sebagai sosok manusia yang selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan berikut segala konsekuensinya sebagai seorang pemimpin (penguasa).

Dalam konteks kekinian, gonjang-ganjing seputar pemilihanPSSI sebenarnya memberikan bahan renungan untuk sadar diri apakah seseorang merasa dirinya dalam cermin masyarakat sebagai Bisma, sebagai Oedipus yang mesti mencucuk matanya sendiri, sebagai pemimpin yang sebenarnya tak punya kepala, sebagai Don Kisot yang sok sakti sok pahlawan, atau bahkan seperti Cakil yang suka “pencilakan”. Dan itu juga berarti berpulang kembali pada PSSI sendiri, apakah ingin dipimpin oleh Bisma, Oedipus, Don Kisot, Buto Ijo, atau Cakil. Anda pilih siapa? [T]

Tags: pemimpinsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bergerak dengan Luka ala “Nomadland”

Next Post

Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu | Cerpen Leo Tolstoy

Tjahjono Widijanto

Tjahjono Widijanto

Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Menulis puisi, esai, dan cerpen di berbagai media nasional. Sudah menulis berbagai buku dan memenangkan berbagai penghargaan di bidang sastra

Related Posts

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails
Next Post
Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu | Cerpen Leo Tolstoy

Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu | Cerpen Leo Tolstoy

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co