3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sastra dan Pemimpin

Tjahjono Widijanto by Tjahjono Widijanto
March 31, 2021
in Esai
Sastra dan  Pemimpin

Foto ilustrasi tatkala.co

“Banyak keajaiban di dunia, tapi tak ada

 yang lebih ajaib selain manusia itu sendiri”

(Sophocles)


Keinginan untuk menjadi pemimpin entah menjadi presiden, gubernur, bupati, lurah,, ketua PSSI bahkan ketua RT merupakan sebuah kewajaran dari bagian upaya manusia meraih aktualisasi dan eksistensinya. Teks sastra jauh-jauh hari dengan tersirat menggambarkan bahwa ambisi menjadi pemimpin merupakan obsesi abadi dari manusia, namun sebaliknya sastra juga mengajarkan bahwa diperlukan sikap mawas diri dan memiliki kebesaran hati untuk menakar kemampuan diri, menakar “kebersihan” diri, etis bahkan moralitas  sebelum seseorang berobsesi menjadi pemimpin.

Tersebutlah pada episode Aranya Kanda dalam kitab Ramayana, seorang wanita bernama Keikayi memimpikan anaknya, Barata, menjadi seorang raja besar. Maka ia menghasut raja untuk mengusir Rama yang menjadi putera mahkota yang juga kakak lain ibu dari Barata. Namun ketika Rama telah terusir, Barata menunjukkan kebesaran hatinya bahwa ia merasa tidak memiliki kecakapan memimpin seperti Rama. Ia menolak menjadi raja bahkan mencari Rama di hutan dan baru bersedia memimpin negara dengan status sebagai wakil sementara sampai Rama selesai menjalankan pengabdiannya di hutan. Pada titik ini Barata secara formal bukan atau gagal menjadi seorang pemimpin tertinggi tetapi pada hakekatnya ia memiliki kebesaran seorang pemimpin sejati.

Demikian juga dalam kisah klasik Mahabarata, yang semestinya pantas mendapat predikat seorang raja atau pemimpin sejati adalah Dewabrata atau Bhisma, kakek para Pandawa dan Kurawa yang justru menolak menjadi seorang raja dan mengorbankan haknya sebagai raja, mengorbankan segenap perasaan, jiwa dan nyawanya untuk Negara. Bisma bahkan rela berperang dalam sebuah peperangan yang ia tahu  tak dapat ia menangkan. Yang terjadi justru Bisma dengan ihlas melepaskan jabatannya, melepaskan jubah kestriyaanya, baju seragam pemimpinnya dan menggantikannya dengan jubah pendeta.

Pada Kitab Pararaton, pembaca juga disuguhi bagaimana liku-liku seorang preman yang kemudia berhasil menjadi  hero bernama Ken Arok yang mampu mendudukan dirinya sebagai penguasa (raja) dengan menghalalkan segala cara baik kekuatan fisik maupun kelicikan seorang politikus. Demikian juga dalam babad Tanah Jawi, Babad Mediun, Babad Gresik, Serat Sorandaka, Serat Ranggalawe, misalnya, dapat dilihat bagaimana berbagai upaya dilakukan manusia untuk mewujudkan obesesi dirinya sebagai pemimpin dan penguasa.

Pada contoh-contoh tersebut, teks sastra seringkali menyimpan kegeraman sekaligus pula menyediakan harapan-harapan. Dengan menyediakan harapan-harapan itu, teks sastra seakan-akan memberikan alternatif atas keterhimpitan, ketersesakan atau ketakpuasan, sekaligus pula menyediakan munculnya hero-hero baru yang mungkin hanya hidup pada alam ide. Pada abad romantik misalnya, novel Don Qouixote de La Manca (Don Kisot) karya Carvantes, memberi pembaca seorang pemimpin imajiner yang mungkin dapat hadir sebagai oase kerinduan masyarakat terhadap lahirnya seorang pemimpin, sekaligus pula dipakai untuk menyindir penguasa yang tidak mampu berlaku sebagai seorang pemimpin.

Karena sastra bukan merupakan kebenaran faktual semata-mata, teks sastra mampu menawarkan sebuah gambaran dunia ideal yang serba makmur, tentram, dan damai di bawah naungan pemimpin yang sangat ideal, justru ketika saat realitas sosial masyarakat berada dalam sistuasi yang frustasi dan kecewa terhadap kualitas pemimpinnya. Dengan demikian teks sastra seolah-olah dapat dijadikan obat penyegar meskipun bisa jadi harapan atau gambaran yang dimunculkan sekedar sebuah utopia belaka.

Sebagai contoh adalah beberapa teks sastra karya  Ronggowarsita yang karena kecewa pada pemimpin dan kondisi realitas sosial politik yang terlampau reseptif menghadirkan mitos-mitos tentang datangnya zaman yang gemilang dengan pemimpinnya ‘Sang Ratu Adil’ yang sangat misterius dan  dirahasiakan kemunculannya (satriya piningit).  Satriya piningit atau Ratu Adil inilah yang dianggap akan mampu membawa masyarakat keluar dari zaman kalatida (zaman edan/kalabendu) menuju zaman keemasan (kalasabu).

Teks sastra juga mengingatkan bahwa memimpikan pemimpin sebagai sesuatu yang sangat diidealkan (dicitrakan) dalam angan-angan  dalam realitasnya seringkali tidak seindah kenyataannya. Dalam naskah drama The Leader yang ditulis Ionesco dikisahkan sebuah masyarakat yang menanti-nantikan datangnya seorang pemimpin yang dicitrakan betapa adil, betapa tampan, betapa agung dan betapa idealnya pemimpin yang bakal datang itu. Lalu suatu saat setelah begitu panjang menanti datanglah sang pemimpin. Betapa tragis dan ironisnya sang pemimpin itu karena ia ternyata tidak berkepala!

Demikianlah sastra mengajarkan untuk mencari bahkan menjadi seorang pemimpin yang ideal sekaligus mengingatkan masyarakat untuk tak terlampau melambungkan harapan untuk mencitrakan sosok pemimpin. Sastra mengajarkan  untuk “biasa-biasa” saja menyikapi fenomena kemunculan calon tokoh pemimpin, dengan demikian masyarakat tidak menjadi terlalu gampang kecewa dan frustasi dengan realitas pemimpin yang semula begitu diidolakan. Dan yang lebih penting, sastra memberikan pelajaran bahwa masing-masing di antara kita dapat menjadi seorang pemimpin tanpa harus memakai jubah  pemimpin.

“Hamlet” karya legendaris William Shakespeare dengan monolognya yang mahsyur: ‘to be or not to be’ merupakan sebuah contoh teks sastra yang berhasil menghadirkan sosok manusia  lengkap dengan segala konflik batinnya, proses, dan perubahan struktur kejiwaannya dalam upaya meraih eksistensinya. Shakespeare mampu tampil tak ubahnya seperti seorang psikolog yang mampu memahai jiwa manusia yang seringkali berada antara kegamangan dan kenekatan. Begitu bernilainya karya Shakespeare sehingga seorang anggota parlemen Inggris bernama John Ruskin jauh-jauh hari sebelum India lepas sebagai koloni Inggris berkata: “Shakespeare bagi Inggris jauh lebih penting daripada India. Inggris tanpa  India tetap Inggris, tetapi Inggris tanpa Shakespeare Inggris akan kehilangan citranya!” 

Di kurun waktu yang berbeda, pengarang Yunani, Sopochles, juga menjadi begitu mahsyur karena ia menciptakan tragedi Oedipus. Sebuah karya tragedi yang berdasarkan sebuah pandangan filosofis bahwa  banyak keajaiban terjadi di dunia tetapi tak ada sesuatu yang lebih ajaib kecuali manusia. Berdasarkan penyataan filosofis itulah muncul tokoh-tokoh semacam Oedipus yang mencucuk kornea matanya sendiri sebagai sosok manusia yang selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan berikut segala konsekuensinya sebagai seorang pemimpin (penguasa).

Dalam konteks kekinian, gonjang-ganjing seputar pemilihanPSSI sebenarnya memberikan bahan renungan untuk sadar diri apakah seseorang merasa dirinya dalam cermin masyarakat sebagai Bisma, sebagai Oedipus yang mesti mencucuk matanya sendiri, sebagai pemimpin yang sebenarnya tak punya kepala, sebagai Don Kisot yang sok sakti sok pahlawan, atau bahkan seperti Cakil yang suka “pencilakan”. Dan itu juga berarti berpulang kembali pada PSSI sendiri, apakah ingin dipimpin oleh Bisma, Oedipus, Don Kisot, Buto Ijo, atau Cakil. Anda pilih siapa? [T]

Tags: pemimpinsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bergerak dengan Luka ala “Nomadland”

Next Post

Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu | Cerpen Leo Tolstoy

Tjahjono Widijanto

Tjahjono Widijanto

Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Menulis puisi, esai, dan cerpen di berbagai media nasional. Sudah menulis berbagai buku dan memenangkan berbagai penghargaan di bidang sastra

Related Posts

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails
Next Post
Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu | Cerpen Leo Tolstoy

Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu | Cerpen Leo Tolstoy

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co