13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sastra dan Pemimpin

Tjahjono Widijanto by Tjahjono Widijanto
March 31, 2021
in Esai
Sastra dan  Pemimpin

Foto ilustrasi tatkala.co

“Banyak keajaiban di dunia, tapi tak ada

 yang lebih ajaib selain manusia itu sendiri”

(Sophocles)


Keinginan untuk menjadi pemimpin entah menjadi presiden, gubernur, bupati, lurah,, ketua PSSI bahkan ketua RT merupakan sebuah kewajaran dari bagian upaya manusia meraih aktualisasi dan eksistensinya. Teks sastra jauh-jauh hari dengan tersirat menggambarkan bahwa ambisi menjadi pemimpin merupakan obsesi abadi dari manusia, namun sebaliknya sastra juga mengajarkan bahwa diperlukan sikap mawas diri dan memiliki kebesaran hati untuk menakar kemampuan diri, menakar “kebersihan” diri, etis bahkan moralitas  sebelum seseorang berobsesi menjadi pemimpin.

Tersebutlah pada episode Aranya Kanda dalam kitab Ramayana, seorang wanita bernama Keikayi memimpikan anaknya, Barata, menjadi seorang raja besar. Maka ia menghasut raja untuk mengusir Rama yang menjadi putera mahkota yang juga kakak lain ibu dari Barata. Namun ketika Rama telah terusir, Barata menunjukkan kebesaran hatinya bahwa ia merasa tidak memiliki kecakapan memimpin seperti Rama. Ia menolak menjadi raja bahkan mencari Rama di hutan dan baru bersedia memimpin negara dengan status sebagai wakil sementara sampai Rama selesai menjalankan pengabdiannya di hutan. Pada titik ini Barata secara formal bukan atau gagal menjadi seorang pemimpin tertinggi tetapi pada hakekatnya ia memiliki kebesaran seorang pemimpin sejati.

Demikian juga dalam kisah klasik Mahabarata, yang semestinya pantas mendapat predikat seorang raja atau pemimpin sejati adalah Dewabrata atau Bhisma, kakek para Pandawa dan Kurawa yang justru menolak menjadi seorang raja dan mengorbankan haknya sebagai raja, mengorbankan segenap perasaan, jiwa dan nyawanya untuk Negara. Bisma bahkan rela berperang dalam sebuah peperangan yang ia tahu  tak dapat ia menangkan. Yang terjadi justru Bisma dengan ihlas melepaskan jabatannya, melepaskan jubah kestriyaanya, baju seragam pemimpinnya dan menggantikannya dengan jubah pendeta.

Pada Kitab Pararaton, pembaca juga disuguhi bagaimana liku-liku seorang preman yang kemudia berhasil menjadi  hero bernama Ken Arok yang mampu mendudukan dirinya sebagai penguasa (raja) dengan menghalalkan segala cara baik kekuatan fisik maupun kelicikan seorang politikus. Demikian juga dalam babad Tanah Jawi, Babad Mediun, Babad Gresik, Serat Sorandaka, Serat Ranggalawe, misalnya, dapat dilihat bagaimana berbagai upaya dilakukan manusia untuk mewujudkan obesesi dirinya sebagai pemimpin dan penguasa.

Pada contoh-contoh tersebut, teks sastra seringkali menyimpan kegeraman sekaligus pula menyediakan harapan-harapan. Dengan menyediakan harapan-harapan itu, teks sastra seakan-akan memberikan alternatif atas keterhimpitan, ketersesakan atau ketakpuasan, sekaligus pula menyediakan munculnya hero-hero baru yang mungkin hanya hidup pada alam ide. Pada abad romantik misalnya, novel Don Qouixote de La Manca (Don Kisot) karya Carvantes, memberi pembaca seorang pemimpin imajiner yang mungkin dapat hadir sebagai oase kerinduan masyarakat terhadap lahirnya seorang pemimpin, sekaligus pula dipakai untuk menyindir penguasa yang tidak mampu berlaku sebagai seorang pemimpin.

Karena sastra bukan merupakan kebenaran faktual semata-mata, teks sastra mampu menawarkan sebuah gambaran dunia ideal yang serba makmur, tentram, dan damai di bawah naungan pemimpin yang sangat ideal, justru ketika saat realitas sosial masyarakat berada dalam sistuasi yang frustasi dan kecewa terhadap kualitas pemimpinnya. Dengan demikian teks sastra seolah-olah dapat dijadikan obat penyegar meskipun bisa jadi harapan atau gambaran yang dimunculkan sekedar sebuah utopia belaka.

Sebagai contoh adalah beberapa teks sastra karya  Ronggowarsita yang karena kecewa pada pemimpin dan kondisi realitas sosial politik yang terlampau reseptif menghadirkan mitos-mitos tentang datangnya zaman yang gemilang dengan pemimpinnya ‘Sang Ratu Adil’ yang sangat misterius dan  dirahasiakan kemunculannya (satriya piningit).  Satriya piningit atau Ratu Adil inilah yang dianggap akan mampu membawa masyarakat keluar dari zaman kalatida (zaman edan/kalabendu) menuju zaman keemasan (kalasabu).

Teks sastra juga mengingatkan bahwa memimpikan pemimpin sebagai sesuatu yang sangat diidealkan (dicitrakan) dalam angan-angan  dalam realitasnya seringkali tidak seindah kenyataannya. Dalam naskah drama The Leader yang ditulis Ionesco dikisahkan sebuah masyarakat yang menanti-nantikan datangnya seorang pemimpin yang dicitrakan betapa adil, betapa tampan, betapa agung dan betapa idealnya pemimpin yang bakal datang itu. Lalu suatu saat setelah begitu panjang menanti datanglah sang pemimpin. Betapa tragis dan ironisnya sang pemimpin itu karena ia ternyata tidak berkepala!

Demikianlah sastra mengajarkan untuk mencari bahkan menjadi seorang pemimpin yang ideal sekaligus mengingatkan masyarakat untuk tak terlampau melambungkan harapan untuk mencitrakan sosok pemimpin. Sastra mengajarkan  untuk “biasa-biasa” saja menyikapi fenomena kemunculan calon tokoh pemimpin, dengan demikian masyarakat tidak menjadi terlalu gampang kecewa dan frustasi dengan realitas pemimpin yang semula begitu diidolakan. Dan yang lebih penting, sastra memberikan pelajaran bahwa masing-masing di antara kita dapat menjadi seorang pemimpin tanpa harus memakai jubah  pemimpin.

“Hamlet” karya legendaris William Shakespeare dengan monolognya yang mahsyur: ‘to be or not to be’ merupakan sebuah contoh teks sastra yang berhasil menghadirkan sosok manusia  lengkap dengan segala konflik batinnya, proses, dan perubahan struktur kejiwaannya dalam upaya meraih eksistensinya. Shakespeare mampu tampil tak ubahnya seperti seorang psikolog yang mampu memahai jiwa manusia yang seringkali berada antara kegamangan dan kenekatan. Begitu bernilainya karya Shakespeare sehingga seorang anggota parlemen Inggris bernama John Ruskin jauh-jauh hari sebelum India lepas sebagai koloni Inggris berkata: “Shakespeare bagi Inggris jauh lebih penting daripada India. Inggris tanpa  India tetap Inggris, tetapi Inggris tanpa Shakespeare Inggris akan kehilangan citranya!” 

Di kurun waktu yang berbeda, pengarang Yunani, Sopochles, juga menjadi begitu mahsyur karena ia menciptakan tragedi Oedipus. Sebuah karya tragedi yang berdasarkan sebuah pandangan filosofis bahwa  banyak keajaiban terjadi di dunia tetapi tak ada sesuatu yang lebih ajaib kecuali manusia. Berdasarkan penyataan filosofis itulah muncul tokoh-tokoh semacam Oedipus yang mencucuk kornea matanya sendiri sebagai sosok manusia yang selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan berikut segala konsekuensinya sebagai seorang pemimpin (penguasa).

Dalam konteks kekinian, gonjang-ganjing seputar pemilihanPSSI sebenarnya memberikan bahan renungan untuk sadar diri apakah seseorang merasa dirinya dalam cermin masyarakat sebagai Bisma, sebagai Oedipus yang mesti mencucuk matanya sendiri, sebagai pemimpin yang sebenarnya tak punya kepala, sebagai Don Kisot yang sok sakti sok pahlawan, atau bahkan seperti Cakil yang suka “pencilakan”. Dan itu juga berarti berpulang kembali pada PSSI sendiri, apakah ingin dipimpin oleh Bisma, Oedipus, Don Kisot, Buto Ijo, atau Cakil. Anda pilih siapa? [T]

Tags: pemimpinsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bergerak dengan Luka ala “Nomadland”

Next Post

Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu | Cerpen Leo Tolstoy

Tjahjono Widijanto

Tjahjono Widijanto

Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Menulis puisi, esai, dan cerpen di berbagai media nasional. Sudah menulis berbagai buku dan memenangkan berbagai penghargaan di bidang sastra

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu | Cerpen Leo Tolstoy

Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu | Cerpen Leo Tolstoy

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co