16 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sastra dan Pemimpin

Tjahjono Widijanto by Tjahjono Widijanto
March 31, 2021
in Esai
Sastra dan  Pemimpin

Foto ilustrasi tatkala.co

“Banyak keajaiban di dunia, tapi tak ada

 yang lebih ajaib selain manusia itu sendiri”

(Sophocles)


Keinginan untuk menjadi pemimpin entah menjadi presiden, gubernur, bupati, lurah,, ketua PSSI bahkan ketua RT merupakan sebuah kewajaran dari bagian upaya manusia meraih aktualisasi dan eksistensinya. Teks sastra jauh-jauh hari dengan tersirat menggambarkan bahwa ambisi menjadi pemimpin merupakan obsesi abadi dari manusia, namun sebaliknya sastra juga mengajarkan bahwa diperlukan sikap mawas diri dan memiliki kebesaran hati untuk menakar kemampuan diri, menakar “kebersihan” diri, etis bahkan moralitas  sebelum seseorang berobsesi menjadi pemimpin.

Tersebutlah pada episode Aranya Kanda dalam kitab Ramayana, seorang wanita bernama Keikayi memimpikan anaknya, Barata, menjadi seorang raja besar. Maka ia menghasut raja untuk mengusir Rama yang menjadi putera mahkota yang juga kakak lain ibu dari Barata. Namun ketika Rama telah terusir, Barata menunjukkan kebesaran hatinya bahwa ia merasa tidak memiliki kecakapan memimpin seperti Rama. Ia menolak menjadi raja bahkan mencari Rama di hutan dan baru bersedia memimpin negara dengan status sebagai wakil sementara sampai Rama selesai menjalankan pengabdiannya di hutan. Pada titik ini Barata secara formal bukan atau gagal menjadi seorang pemimpin tertinggi tetapi pada hakekatnya ia memiliki kebesaran seorang pemimpin sejati.

Demikian juga dalam kisah klasik Mahabarata, yang semestinya pantas mendapat predikat seorang raja atau pemimpin sejati adalah Dewabrata atau Bhisma, kakek para Pandawa dan Kurawa yang justru menolak menjadi seorang raja dan mengorbankan haknya sebagai raja, mengorbankan segenap perasaan, jiwa dan nyawanya untuk Negara. Bisma bahkan rela berperang dalam sebuah peperangan yang ia tahu  tak dapat ia menangkan. Yang terjadi justru Bisma dengan ihlas melepaskan jabatannya, melepaskan jubah kestriyaanya, baju seragam pemimpinnya dan menggantikannya dengan jubah pendeta.

Pada Kitab Pararaton, pembaca juga disuguhi bagaimana liku-liku seorang preman yang kemudia berhasil menjadi  hero bernama Ken Arok yang mampu mendudukan dirinya sebagai penguasa (raja) dengan menghalalkan segala cara baik kekuatan fisik maupun kelicikan seorang politikus. Demikian juga dalam babad Tanah Jawi, Babad Mediun, Babad Gresik, Serat Sorandaka, Serat Ranggalawe, misalnya, dapat dilihat bagaimana berbagai upaya dilakukan manusia untuk mewujudkan obesesi dirinya sebagai pemimpin dan penguasa.

Pada contoh-contoh tersebut, teks sastra seringkali menyimpan kegeraman sekaligus pula menyediakan harapan-harapan. Dengan menyediakan harapan-harapan itu, teks sastra seakan-akan memberikan alternatif atas keterhimpitan, ketersesakan atau ketakpuasan, sekaligus pula menyediakan munculnya hero-hero baru yang mungkin hanya hidup pada alam ide. Pada abad romantik misalnya, novel Don Qouixote de La Manca (Don Kisot) karya Carvantes, memberi pembaca seorang pemimpin imajiner yang mungkin dapat hadir sebagai oase kerinduan masyarakat terhadap lahirnya seorang pemimpin, sekaligus pula dipakai untuk menyindir penguasa yang tidak mampu berlaku sebagai seorang pemimpin.

Karena sastra bukan merupakan kebenaran faktual semata-mata, teks sastra mampu menawarkan sebuah gambaran dunia ideal yang serba makmur, tentram, dan damai di bawah naungan pemimpin yang sangat ideal, justru ketika saat realitas sosial masyarakat berada dalam sistuasi yang frustasi dan kecewa terhadap kualitas pemimpinnya. Dengan demikian teks sastra seolah-olah dapat dijadikan obat penyegar meskipun bisa jadi harapan atau gambaran yang dimunculkan sekedar sebuah utopia belaka.

Sebagai contoh adalah beberapa teks sastra karya  Ronggowarsita yang karena kecewa pada pemimpin dan kondisi realitas sosial politik yang terlampau reseptif menghadirkan mitos-mitos tentang datangnya zaman yang gemilang dengan pemimpinnya ‘Sang Ratu Adil’ yang sangat misterius dan  dirahasiakan kemunculannya (satriya piningit).  Satriya piningit atau Ratu Adil inilah yang dianggap akan mampu membawa masyarakat keluar dari zaman kalatida (zaman edan/kalabendu) menuju zaman keemasan (kalasabu).

Teks sastra juga mengingatkan bahwa memimpikan pemimpin sebagai sesuatu yang sangat diidealkan (dicitrakan) dalam angan-angan  dalam realitasnya seringkali tidak seindah kenyataannya. Dalam naskah drama The Leader yang ditulis Ionesco dikisahkan sebuah masyarakat yang menanti-nantikan datangnya seorang pemimpin yang dicitrakan betapa adil, betapa tampan, betapa agung dan betapa idealnya pemimpin yang bakal datang itu. Lalu suatu saat setelah begitu panjang menanti datanglah sang pemimpin. Betapa tragis dan ironisnya sang pemimpin itu karena ia ternyata tidak berkepala!

Demikianlah sastra mengajarkan untuk mencari bahkan menjadi seorang pemimpin yang ideal sekaligus mengingatkan masyarakat untuk tak terlampau melambungkan harapan untuk mencitrakan sosok pemimpin. Sastra mengajarkan  untuk “biasa-biasa” saja menyikapi fenomena kemunculan calon tokoh pemimpin, dengan demikian masyarakat tidak menjadi terlalu gampang kecewa dan frustasi dengan realitas pemimpin yang semula begitu diidolakan. Dan yang lebih penting, sastra memberikan pelajaran bahwa masing-masing di antara kita dapat menjadi seorang pemimpin tanpa harus memakai jubah  pemimpin.

“Hamlet” karya legendaris William Shakespeare dengan monolognya yang mahsyur: ‘to be or not to be’ merupakan sebuah contoh teks sastra yang berhasil menghadirkan sosok manusia  lengkap dengan segala konflik batinnya, proses, dan perubahan struktur kejiwaannya dalam upaya meraih eksistensinya. Shakespeare mampu tampil tak ubahnya seperti seorang psikolog yang mampu memahai jiwa manusia yang seringkali berada antara kegamangan dan kenekatan. Begitu bernilainya karya Shakespeare sehingga seorang anggota parlemen Inggris bernama John Ruskin jauh-jauh hari sebelum India lepas sebagai koloni Inggris berkata: “Shakespeare bagi Inggris jauh lebih penting daripada India. Inggris tanpa  India tetap Inggris, tetapi Inggris tanpa Shakespeare Inggris akan kehilangan citranya!” 

Di kurun waktu yang berbeda, pengarang Yunani, Sopochles, juga menjadi begitu mahsyur karena ia menciptakan tragedi Oedipus. Sebuah karya tragedi yang berdasarkan sebuah pandangan filosofis bahwa  banyak keajaiban terjadi di dunia tetapi tak ada sesuatu yang lebih ajaib kecuali manusia. Berdasarkan penyataan filosofis itulah muncul tokoh-tokoh semacam Oedipus yang mencucuk kornea matanya sendiri sebagai sosok manusia yang selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan berikut segala konsekuensinya sebagai seorang pemimpin (penguasa).

Dalam konteks kekinian, gonjang-ganjing seputar pemilihanPSSI sebenarnya memberikan bahan renungan untuk sadar diri apakah seseorang merasa dirinya dalam cermin masyarakat sebagai Bisma, sebagai Oedipus yang mesti mencucuk matanya sendiri, sebagai pemimpin yang sebenarnya tak punya kepala, sebagai Don Kisot yang sok sakti sok pahlawan, atau bahkan seperti Cakil yang suka “pencilakan”. Dan itu juga berarti berpulang kembali pada PSSI sendiri, apakah ingin dipimpin oleh Bisma, Oedipus, Don Kisot, Buto Ijo, atau Cakil. Anda pilih siapa? [T]

Tags: pemimpinsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bergerak dengan Luka ala “Nomadland”

Next Post

Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu | Cerpen Leo Tolstoy

Tjahjono Widijanto

Tjahjono Widijanto

Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Menulis puisi, esai, dan cerpen di berbagai media nasional. Sudah menulis berbagai buku dan memenangkan berbagai penghargaan di bidang sastra

Related Posts

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
0
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

Read moreDetails

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails
Next Post
Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu | Cerpen Leo Tolstoy

Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu | Cerpen Leo Tolstoy

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co