22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Diserang 7 Hari 7 Malam”, Indonesia Harus Tetap Tegak

Ida Bagus Pandit Parastu by Ida Bagus Pandit Parastu
February 2, 2018
in Esai

Sumber foto: muchlis/menpora.go.id

LEWAT di depan warung, di sebuah desa di Jembarana, orang-orang Indonesia yang sedang ngopi masih membicarakan semifinal Piala AFF 2016, Indonesia lawan Vietnam, yang mereka tonton di TV, Rabu (7?12) malam. Kebanyakan dari mereka memuji Vietnam, dan kerapkali mengejek permaianan Indoneisa.

Tapi semua itu mereka ungkapkan dengan senang. Karena Indonesia mujur dan masuk final. “Garuda di dada, Vietnam di hati,” begitu kata seseorang sebelum nyiup kopi – mungkin mengutip salah satu komentar dalam status facebook.

Indonesia hanya perlu mendapat hasil imbang atau paling buruk minimal kalah 3-2 untuk bisa lolos ke final.  Kalau menang, ya lebih bagus lagi. Bagaimanapun, kemenangan 2-1 di Pakansari pada leg pertama sudah jadi modal berarti, apalagi menghadapi tim sekelas Vietnam.

Tim yang kemajuannya bak roket, jadi begitu diperhitungkan meski hanya level Asia Tenggara. Hanoi tampak bergemuruh. Suporter tuan rumah tumpah ruah menyesaki tribun. Tentu saja, Vietnam akan main bak kerbau gila bin kepanasan, demi meraih kemenangan.

Di pihak Indonesia, grogi sedikit saja akibat suporter bah itu, bola bakal menembus jala sendiri. Hmmm, sudah diduga. Vietnam galak sekali, meneror di sepanjang laga. “7 hari 7 malam terornya”, begitu kata komentator salah satu stasiun televisi yang belakangan terkenal akibat intonasi dan diksi nyentriknya. Untunglah tidak seribu satu malam, memangnya Abunawas! Atau satu malam seribu candi, Loro Jonggrang lah jadinya.

Sial sekali, Indonesia hanya bisa bertahan, menahan perihnya disakiti skill-skill individu, kolektivitas dan kecepatan para pemain Vietnam. Sungguh, super defensif Indonesia vs ultra ofensif Vietnam.

Sesekali Indonesia melakukan serangan balik, selebihnya ya kebanyakan salah passing dan cepat hilang bola. Pokoknya seperti parkir bus. Tak ada bus, bajaj atau metromini pun jadi. Beruntung, di sela antara badai petir tornado bernama Vietnam itu, Indonesia berhasil mencetak 2 gol lewat cocoran kaki Stefano Lilipaly dan penalti Manahati Lestusen.

Yang ajaib tentu Vietnam. Bermain dengan 10 orang akibat kipernya dikartu merah, plus bek yang ngelekas alias berubah raga jadi kiper akibat habisnya kuota pergantian pemain, Vietnam tetap mampu bermain bak kesetanan dan dengan heroik berhasil bikin 2 gol. Tak ketinggalan, wasit juga jadi sorotan pada laga ini, akibat keputusan kontroversialnya yang membatalkan satu penalti untuk Indonesia.

Ah, tak bisa dibayangkan kalau ini terjadi di Indonesia. Bisa jadi kepala wasit akan berubah jadi bola, atau bahkan jadi tong sampah karena dilempar botol air mineral. Paling buruk bisa-bisa kepala sama kakinya misah (seperti kata Alm. Kasino Warkop).

Melalui perpanjangan waktu, skor akhir 2-2, agregat 4-3. Indonesia melenggang ke final AFF 2016, menunggu lawan Thailand atau Myanmar.

Barangkali terasa tak adil bagi Vietnam, karena permainan mereka sungguh luar biasa. Tapi itulah sepakbola. Masih ingat timnas Portugal di Euro beberapa waktu lalu? Nah begitulah. Semoga di final, Indonesia masih dinaungi bau harum Sang Dewi Fortuner, eh, Fortuna.

Yaa, terlepas dari itu, setidaknya semangat dan perjuangan itu sudah terasa. Terasa memenuhi sanubari tiap-tiap individu publik negeri ini. Negeri yang belakangan gerah didera wabah pertentangan politik bercampur agama.

Indonesia memang harus menang, meski “diserang 7 hari 7 malam”. Kemenangan itu bisa memberi kekuatan bagi seluruh warga Indonesia karena telah memberi vibrasi yang sama bagi warga yang berbeda-beda agama dan keyakinan politik ini. Mungkin peserta dan pendukung aksi 212 pada Rabu malam itu memanjatkan doa yang sama dengan peserta dan pendukung aksi 412.

Umat Kristiani di Bandung, setelah acara kebaktian mereka dibubarkan oleh ormas tertentu mungkin juga memanjatkan doa yang sama dengan yang dipanjatkan anggota ormas yang membubarkan acara kebaktian mereka. Doa yang sama untuk kemenangan tim Indonesia.

Untuk itulah Indonesia harus menang, demi membuktikan bahwa kita masih memiliki sejumlah hal yang sama, di luar agama dan keyakinan politik. Indonesia harus tegak berdiri, agar kita tetap bisa melihat keajaiban.

Jika Vietnam ajaib karena dengan 10 pemain bisa memporak 11 pemain, Indonesia juga bisa disebut ajaib. Ingatlah, hampir 1,5 tahun tim sepakbola Indonesia vakum akibat sanksi FIFA. Ketika AFF tiba, liga kopi malah tetap bergulir, sehingga tiap klub yang ada hanya bisa menyumbang maksimal 2 pemain saja. Nama-nama seperti Raphael Maitimo, Johan Alfarizi, dan Sergio Van Dijk tak bisa memperkuat timnas akibat hal itu. Skuat jadi amat terbatas.

Persiapan pun cuma kurang lebih 2,5 bulan. Wajar saja kalau lantas pelatih Riedl berkata, “Saya tak peduli kritik”. Nyatanya, timnas memang lebih instan daripada mie. Entah itu Thailand atau Myanmar yang mesti dihadapi di final, entah akan juara atau tidak, Indonesia sudah bisa berbangga hati. Tak ada yang pasti, apapun bisa terjadi dalam sepakbola selama mau berjuang.

Peterpan pun bisa berubah jadi Noah dan lagu-lagunya bisa meledak meski sebelumnya Ariel disanksi oleh FIFA. Eh! Eh, sori. (T)

Tags: IndonesiaolahragaPiala AFFsepakbola
Share66TweetSendShareSend
Previous Post

Guru Honorer dengan Segala Keistimewaannya

Next Post

Taktik “Godel” Hindari Serudukan “Banteng” – Analisa Galau Pilkada Buleleng

Ida Bagus Pandit Parastu

Ida Bagus Pandit Parastu

Pelukis agak gila tapi sangat gila sepakbola. Sedang pacaran. Salah satu ilustrator tetap di tatkala.co ini tinggal di Jembrana

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post

Taktik "Godel" Hindari Serudukan "Banteng" – Analisa Galau Pilkada Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co