2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Diserang 7 Hari 7 Malam”, Indonesia Harus Tetap Tegak

Ida Bagus Pandit Parastu by Ida Bagus Pandit Parastu
February 2, 2018
in Esai

Sumber foto: muchlis/menpora.go.id

LEWAT di depan warung, di sebuah desa di Jembarana, orang-orang Indonesia yang sedang ngopi masih membicarakan semifinal Piala AFF 2016, Indonesia lawan Vietnam, yang mereka tonton di TV, Rabu (7?12) malam. Kebanyakan dari mereka memuji Vietnam, dan kerapkali mengejek permaianan Indoneisa.

Tapi semua itu mereka ungkapkan dengan senang. Karena Indonesia mujur dan masuk final. “Garuda di dada, Vietnam di hati,” begitu kata seseorang sebelum nyiup kopi – mungkin mengutip salah satu komentar dalam status facebook.

Indonesia hanya perlu mendapat hasil imbang atau paling buruk minimal kalah 3-2 untuk bisa lolos ke final.  Kalau menang, ya lebih bagus lagi. Bagaimanapun, kemenangan 2-1 di Pakansari pada leg pertama sudah jadi modal berarti, apalagi menghadapi tim sekelas Vietnam.

Tim yang kemajuannya bak roket, jadi begitu diperhitungkan meski hanya level Asia Tenggara. Hanoi tampak bergemuruh. Suporter tuan rumah tumpah ruah menyesaki tribun. Tentu saja, Vietnam akan main bak kerbau gila bin kepanasan, demi meraih kemenangan.

Di pihak Indonesia, grogi sedikit saja akibat suporter bah itu, bola bakal menembus jala sendiri. Hmmm, sudah diduga. Vietnam galak sekali, meneror di sepanjang laga. “7 hari 7 malam terornya”, begitu kata komentator salah satu stasiun televisi yang belakangan terkenal akibat intonasi dan diksi nyentriknya. Untunglah tidak seribu satu malam, memangnya Abunawas! Atau satu malam seribu candi, Loro Jonggrang lah jadinya.

Sial sekali, Indonesia hanya bisa bertahan, menahan perihnya disakiti skill-skill individu, kolektivitas dan kecepatan para pemain Vietnam. Sungguh, super defensif Indonesia vs ultra ofensif Vietnam.

Sesekali Indonesia melakukan serangan balik, selebihnya ya kebanyakan salah passing dan cepat hilang bola. Pokoknya seperti parkir bus. Tak ada bus, bajaj atau metromini pun jadi. Beruntung, di sela antara badai petir tornado bernama Vietnam itu, Indonesia berhasil mencetak 2 gol lewat cocoran kaki Stefano Lilipaly dan penalti Manahati Lestusen.

Yang ajaib tentu Vietnam. Bermain dengan 10 orang akibat kipernya dikartu merah, plus bek yang ngelekas alias berubah raga jadi kiper akibat habisnya kuota pergantian pemain, Vietnam tetap mampu bermain bak kesetanan dan dengan heroik berhasil bikin 2 gol. Tak ketinggalan, wasit juga jadi sorotan pada laga ini, akibat keputusan kontroversialnya yang membatalkan satu penalti untuk Indonesia.

Ah, tak bisa dibayangkan kalau ini terjadi di Indonesia. Bisa jadi kepala wasit akan berubah jadi bola, atau bahkan jadi tong sampah karena dilempar botol air mineral. Paling buruk bisa-bisa kepala sama kakinya misah (seperti kata Alm. Kasino Warkop).

Melalui perpanjangan waktu, skor akhir 2-2, agregat 4-3. Indonesia melenggang ke final AFF 2016, menunggu lawan Thailand atau Myanmar.

Barangkali terasa tak adil bagi Vietnam, karena permainan mereka sungguh luar biasa. Tapi itulah sepakbola. Masih ingat timnas Portugal di Euro beberapa waktu lalu? Nah begitulah. Semoga di final, Indonesia masih dinaungi bau harum Sang Dewi Fortuner, eh, Fortuna.

Yaa, terlepas dari itu, setidaknya semangat dan perjuangan itu sudah terasa. Terasa memenuhi sanubari tiap-tiap individu publik negeri ini. Negeri yang belakangan gerah didera wabah pertentangan politik bercampur agama.

Indonesia memang harus menang, meski “diserang 7 hari 7 malam”. Kemenangan itu bisa memberi kekuatan bagi seluruh warga Indonesia karena telah memberi vibrasi yang sama bagi warga yang berbeda-beda agama dan keyakinan politik ini. Mungkin peserta dan pendukung aksi 212 pada Rabu malam itu memanjatkan doa yang sama dengan peserta dan pendukung aksi 412.

Umat Kristiani di Bandung, setelah acara kebaktian mereka dibubarkan oleh ormas tertentu mungkin juga memanjatkan doa yang sama dengan yang dipanjatkan anggota ormas yang membubarkan acara kebaktian mereka. Doa yang sama untuk kemenangan tim Indonesia.

Untuk itulah Indonesia harus menang, demi membuktikan bahwa kita masih memiliki sejumlah hal yang sama, di luar agama dan keyakinan politik. Indonesia harus tegak berdiri, agar kita tetap bisa melihat keajaiban.

Jika Vietnam ajaib karena dengan 10 pemain bisa memporak 11 pemain, Indonesia juga bisa disebut ajaib. Ingatlah, hampir 1,5 tahun tim sepakbola Indonesia vakum akibat sanksi FIFA. Ketika AFF tiba, liga kopi malah tetap bergulir, sehingga tiap klub yang ada hanya bisa menyumbang maksimal 2 pemain saja. Nama-nama seperti Raphael Maitimo, Johan Alfarizi, dan Sergio Van Dijk tak bisa memperkuat timnas akibat hal itu. Skuat jadi amat terbatas.

Persiapan pun cuma kurang lebih 2,5 bulan. Wajar saja kalau lantas pelatih Riedl berkata, “Saya tak peduli kritik”. Nyatanya, timnas memang lebih instan daripada mie. Entah itu Thailand atau Myanmar yang mesti dihadapi di final, entah akan juara atau tidak, Indonesia sudah bisa berbangga hati. Tak ada yang pasti, apapun bisa terjadi dalam sepakbola selama mau berjuang.

Peterpan pun bisa berubah jadi Noah dan lagu-lagunya bisa meledak meski sebelumnya Ariel disanksi oleh FIFA. Eh! Eh, sori. (T)

Tags: IndonesiaolahragaPiala AFFsepakbola
Share66TweetSendShareSend
Previous Post

Guru Honorer dengan Segala Keistimewaannya

Next Post

Taktik “Godel” Hindari Serudukan “Banteng” – Analisa Galau Pilkada Buleleng

Ida Bagus Pandit Parastu

Ida Bagus Pandit Parastu

Pelukis agak gila tapi sangat gila sepakbola. Sedang pacaran. Salah satu ilustrator tetap di tatkala.co ini tinggal di Jembrana

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Taktik "Godel" Hindari Serudukan "Banteng" – Analisa Galau Pilkada Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co