7 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hindu Inklusif Nusantara, Paham Eksklusif & Potensi Benturannya

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 13, 2021
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

— Catatan Akhir Tahun Śaka 1942


Pernahkah berpikir kenapa dalam sejarah panjang kedatangannya Hindu ke Nusantara tidak ada jejak benturan dengan suku-suku yang telah memiliki sistem religi kuno Nusantara?

Pernahkah bertanya kenapa Hindu (Sanatana Dharma) yang menyebar ke Nusantara tidak pernah berambisi menghapus nama atau istilah Sanghyang atau Hyang, atau nama-nama dalam bahasa Nusantara lainnya?

Kenapa tidak pernah pembawa ajaran Sanatana Dharma menyalahkan dan menganggap sesat kepercayaan pada leluhur yang telah mengakar di religi Nusantara?

Kenapa bahkan setelah suku-suku Nusantara menerima Hindu mereka tetap memelihara istilah kedewataan masing-masing suku, dan tumbuh bersama mengembangkan berbagai ritual yang telah ada, dipertahankan dan diterima sebagai bagian dari Hinduisme?

1.

Hinduisme yang berkembang dan menyebar di Nusantara adalah Hindu inklusif yang berpaham ADVAITA VEDANTA.

Berdasarkan bukti arkeologis, terhitung setidaknya semenjak tahun 300 Sebelum Masehi di sisi barat Sumatera, awal abad masehi di pulau Jawa, dan sekitar tahun 500 Sebelum Masehi ditemukan peninggalan pengaruh dagang Arikamedu (pusat perdagangan kuno India Selatan) di pesisir Bali Utara (tepatnya Julah-Sembiran), telah terjadi relasi damai India Kuno dan Nusantara.

Baik paham Saiwa (paham Siwa) dan Waisnawa (paham Wisnu dan awataranya) kuno yang berkembang di Nusantara berpaham ADVAITA VEDANTA. Apa itu advaita vedanta? Apa hubungannya dengan semangat inklusivisme Hindu Nusantara?

Secara umum bisa dijelaskan sbb:

Advaita sering diterjemahkan sebagai “non-dualitas,” tetapi terjemahan yang lebih memadai adalah “non-secondness.” Artinya, tidak ada realitas lain selain Yang Tertinggi (Brahman), bahwa “Realitas tidak dibentuk oleh bagian-bagian,” atau “Realitas tidak terbelah-belah”, maksudnya bahwa tidak ada dualitas antara Esensi, atau Wujud, dari Atman dan Brahman.

Kata Vedānta adalah komposisi dari dua kata Sansekerta: “Weda” mengacu pada ‘seluruh korpus teks Weda’ atau semua ajaran Weda tertulis dan lisan, dan kata “anta” berarti ‘akhir’. Arti dari “Vedānta” bisa disederhanakan sebagai ‘kulminasi dari veda’ atau “pengetahuan tertinggi dari veda”. Vedānta dalam filsafat Hindu merupakan salah satu dari enam aliran filsafat Hindu ortodoks.

Pandangan mendasar dari paham ADVAITA VEDANTA yang berkembang di Nusantara adalah apa pun yang disembah atau dipercaya oleh suku-suku di Nusantara, di balik nama-nama pujaan aau dewata yang disembah oleh suku-suku itu “ada landasan realitas terdalam yang hakiki” yang tidak lain dalam istilah Sanatana Dharma dikenal dengan nama Brahman.

ADVAITA VEDANTA — yang menjiwai Saiva Siddhanta yang teks dan ajarannya berkembang di Nusantara — adalah ajaran, sikap dan cara pandangan yang melihat bahwa suku-suku Nusantara dan bangsa lain di luar Bharata Warsa (India Kuno), apa pun nama dan kepercayaan kedewataan yang mengakui Yang Maha Mulia itu juga mendapat berkah, karunia atau anugraha dari Brahman. Brahman hadir memenuhi jagat raya dan semua di balik yang tampak dan yang tidak tampak, dan anugraha Brahman bekerja juga di kalangan mereka yang mungkin belum mengenal istilah Brahman.

Tidak masalah apakah seseorang tidak mengenal istilah Brahman, sepanjang ia mengenal dan memahami esensi yang dirujuk atau yang dimaksud dalam istilah Brahman, seseorang berpotensi bisa mencapai manunggal dengan Brahman. Bisa saja ia menyebut Sanghyang, kalau yang dirujuk adalah “esensi dan hakikat” yang sama dengan Brahman, ia telah memahami esensi dari Sanatana Dharma.

Oleh karena itu, masyarakat yang terlahir sebagai bagian dari tradisi suku Batak, Dayak-Kaharingan, Toraja, Kei, Sasak, Bali, Jawa-Sunda, dll, yang telah memeluk Hindu dari jaman lampau, sampai periode menjelang kemerdekaan tidak banyak yang mengenal istilah Brahman. Ini bukan ada masalah sama sekali. Sepanjang telah mengenal istilah dalam bahasa dan ungkapan lokal yang esensinya merujuk pada Yang Mutlak Tertinggi Tunggal Maha Segala-nya itu, maka sudah dengan sendirinya mengerti esensi Brahman yang dimaksud.

Dengan semangat inklusif tersebut para guru suci atau maharsi yang membawa ajaran Sanatana Dharma ke Nusantara tidak menggebu-gebu berambisi melakukan “Indianisasi” peristilahan dan ritual di Nusantara. Tugas utama dari para Rsi terdahulu adalah menemukan “spirit kesadaran Sanatana Dharma” yang tumbuh dalam religi-religi Nusantara, untuk kemudian dirawat dan didampingi, untuk bertumbuh mendewasa bersama dengan Sanatana Dharma.

2.

Para pembawa ajaran Siwaisme kuno, dan juga pembawa ajaran Saiwa-Wesnawa, yang semuanya berpaham ADVAITA VEDANTA, datang pertama kali ke Nusantara menerima dan mengakui keberadaan ruh-ruh dan konsepsi religi Nusantara yang telah ada. Para leluhur pembawa Sanatana Dharma berpaham Advaita Vedanta memahami bahwa ada kerja keilahian dan kemuliaan Brahman di balik semua religi-religi purba Nusantara. Sekalipun tidak menyebut Brahman, tapi menyebut dengan bahasa suku masing-masing, seperti Hyang Tunggal, Hyang Licin, Taya, dstnya, dipahami bahwa di baliknya ada keesaan dan kemanunggalan Brahman yang hakiki.

Aliran perguruan Sanatana Dharma yang berbasis garis silsilah perguruan (parampara) dan keluarga (gotra), seperti Agastya Gotra (parampara/silsilah diksa para pewaris ajaran Rasi Agastya) dan Markandeya Gotra (parampara/silsilah diksa para pewaris ajaran Rsi Markandeya) yang dipercaya sebagai pembawa ajaran Sanatana Dharma ke Nusantara secara prinsip menganut paham ADVAITA VEDANTA. Ajaran Saiwa dan Waisnawa tidak dipertentangkan, ditambah dengan Jina dan Buddhisme, dipertemukan dalam bingkai ADVAITA VEDANTA.

3.

Sementara itu, religi suku-suku Nusantara sebagian besar bersifat panteisme (pantheisme). Yang secara harafiah mengandung arti bahwa “Tuhan adalah Semuanya” dan “Semua adalah Tuhan”. Suku-suku di Nusantara punya kesadaran mendalam bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Maha Pencipta dan di dalamnya Maha Pencipta terus bekerja dalam alam dan diri manusia. Bahwa Alam Semesta, atau alam beserta isinya, termasuk manusia di dalamnya, dan Tuhan adalah “manunggal”.

Pandangan panteisme ini di kalangan suku-suku di Nusantara berbaur dengan pandangan panenteisme, yang meyakini bahwa alam adalah bagian dari Tuhan.

Pertemuan paham ADVAITA VEDANTA dengan religi suku-suku Nusantara — yang berkecenderungan memiliki pandangan panteisme yang berbaur dengan pandangan panenteisme — menyebabkan kedua belah pihak tidak pernah saling berbenturan, malah saling sambut, saling melengkapi. Dari sisi pandangan Siwaisme yang ADVAITA VEDANTA, religi purba Nusantara dilihat memiliki potensi kemuliaan yang mana di balik religi suku-suku ini ada esensi Brahman. Demikian juga dari sudut pandang suku-suku kuno Nusantara, kedatangan ajaran ADVAITA VEDANTA bukan ancaman, tapi melengkapi bahkan “menambahkan perbendaharaan Sungsungan/Sesembahan”. Jika disederhanakan, kalau sekelompok orang menganut paham panteisme diberitahu ada istilah Dewata lain dan konsepsi lain dengan berbagai dewa-dewa lain boleh dipilih sebagai dewata, maka pengetahuan kedewataan baru ini adalah “bonus”. Tambahan informasi yang memperkaya pemahaman yang telah mereka miliki. Bukan ancaman.

Sebagai contoh: Punden Berundak dan Menhir tidak dipertentangkan dengan Percandian dan Lingga. Pengarcaan dewata ajaran Sanatana Dharma tidak pernah dipertentangkan dengan pemuliaan “pratima suci” dari leluhur Nusantara. Keduanya adalah perwujudan luar yang bisa saling menggantikan. Semua ritual dan sebutan pada kedewataan dalam suku-suku Nusantara adalah “perbedaan bahasa” untuk memuliakan Hyang Maha Mulia, hakikat Dewata yang universal sama. Semua tatacara persembahyangan pada Mulajadi na Bolon,  Hyang Taya, Hyang Guru, Hyang Maha Mulia, yang ada dalam suku-suku Nusantara diterima sebagai cara memuliakan Brahman.

4.

Nusantara mungkin tidak akan pernah dijiwai Hinduisme jika saja yang dahulu datang adalah Hinduisme ekslusif. Apakah itu Hinduisme ekslusif? Hinduisme ekslusif adalah paham yang akarnya Hinduisme tapi berkembang dan mengarah belakangan mengusung ekslusivisme, menjadi fanatik menganggap satu nama Tuhan atau satu figur saja yang disembah kelompoknya yang “superior” dan yang lain dianggap “inferior” bahkan keliru.  Demikian juga dalam pembacaan teks suci atau interpretasi kitab, interpretasi kelompoknya disebut sebagai “superior”, paling dianggap benar, di luar kelompoknya dianggap “inferior”. Jika Hinduisme ekslusif yang datang ke Nusantara di masa lalu, maka tidak bisa dibayangkan Hinduisme bisa diterima di tengah suku-suku kuno di Nusantara. Hinduisme inklusif, bukan ekslusif, yang menorehkan sejarah penting yang penuh kedamaian dalam sejarah religi di Nusantara.

Beberapa suku di Nusantara yang sekarang secara formalnya menganut Hindu, masih cukup kuat memegang konsepsi religi kuno Nusantara, yang secara spirit berpaham panteisme, dan berbaur dengan pandangan panenteisme, hanya bisa nyaman dengan ajaran Hindu berpaham ADVAITA VEDANTA atau paham Hindu inklusif. Jika ada pihak-pihak yang membelokkan ke ajaran yang bersifat ekslusif, yang mengajarkan hanya satu interpretasi kitabnya saja yang paling benar, atau hanya satu nama Tuhan saja paling “superior”, bisa dipastikan akan ditolak dan memunculkan benturan internal umat.

5.

Inklusivisme Hindu di Nusantara telah melalui jalan panjang, berjalan dan bertumbuh bersama dengan religi-religi kuno suku-suku Nusantara, yang telah ada bertumbuh jauh sebelum kedatangan Hinduisme. Hanya dengan memahami dua sisi yang bisa saling berjumpa ini, dalam jiwa insklusivisme Hindu — bukan dengan mengembangkan dan menyebarkan ekslusivisme Hindu — masyarakat kita akan bertumbuh sehat tanpa benturan internal. Munculnya potensi benturan, terjadinya gesekan mengarah benturan, atau penolakan keras, serta kegaduhan internal umat Hindu di Nusantara bisa diinvestigasi dan bisa dimonitor titik sentrumnya terletak pada seberapa agresif penyebaran “Hindu berpaham ekslusif” menyebar dan berkembang, pasang ancang-ancang menguasai institusi dan komunitas Hindu di Indonesia. Ini bisa melebar, bukan akan menimbulkan kejadian benturan internal, tapi akan berkembang ke benturan eksternal dengan agama lain jika paham Hindu ekslusif berkembang menjadi paham mayoritas di kalangan Hindu di Nusantara.

Tags: hinduHindu InklusifHindu Nusantaraintelektual hindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Misteri di Balik Lagu Ogoh-Ogoh

Next Post

Tanpa Wisatawan, Ritual Nyepi (Kembali) Hanya Dipertontonkan kepada Dewata

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails
Next Post
Tanpa Wisatawan, Ritual Nyepi (Kembali) Hanya Dipertontonkan kepada Dewata

Tanpa Wisatawan, Ritual Nyepi (Kembali) Hanya Dipertontonkan kepada Dewata

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co