24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menemukan Cinta, Merasakan Patah Hati, dan Menangisi Kematian

Jaswanto by Jaswanto
March 12, 2021
in Ulasan
Menemukan Cinta, Merasakan Patah Hati, dan Menangisi Kematian

Cinta, patah hati, dan kematian, tiga hal yang melekat dalam diri manusia. Sedangkan manusia merupakan pribadi yang sering mempersoalkan eksistensinya seiring dengan perkembangan zaman. Dalam hal ini, manusia mulai kehilangan pandangan tentang hubungan dengan sesama manusia dan nilai pribadi individu yang cenderung menimpakan kesalah kepada diri sendiri tanpa menghiraukan kesanggupan dan keberadaan potensi diri.

Oleh karena itu, banyak ditemukan manusia yang merasa tak berdaya, tidak mampu atau bahkan tidak bertahan dalam menghadapi suatu problematika kehidupan yang ada. Seni sastra, sebagai salah satu pandangan kehidupan manusia bukan hanya sekadar karya seni estetika yang mampu menyajikan unsur kehidupan secara murni, tulus dan menarik pembaca, tetapi juga merupakan faktor lain yang dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca, terlebih bagaimana cara seorang mampu keluar dari berbagai persoalan⸺seperti cinta, patah hati, atau kematian⸺yang terlukiskan dalam karya sastra. Melalui karya sastra, pengarang mempunyai misi untuk membentuk pola kepribadian dari masing-masing karakter tokoh dan menjalankan alur penceritaan yang tidak monoton pada satu peristiwa saja.

Beberapa hari yang lalu saya membaca dua antologi cerpen terbitan Mahima. Pertama antologi cerpen Wayan Agus Wiratama (selanjutnya ditulis Bang Agus) yang berjudul Kado Kematian untuk Pacarmu, dan antologi cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi (selanjutnya ditulis Bang Phebi) yang berjudul Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan.

Dalam kedua antologi cerpen tersebut, agaknya saya menemukan tiga hal: cinta, patah hati, dan kematian.

Antologi cerpen Kado Kematian untuk Pacarmu dan Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan banyak mengungkapkan seputar perasaan, problematika dan pengalaman kehidupan yang selalu diwarnai oleh penderitaan lahir dan batin. Dua belas cerita dalam KKUP atau sebelas cerita dalam KC2DYD ini berkisah tentang mereka yang hidup dalam suatu dunia, yang barangkali memang tidak dibuat untuk mereka, sehingga tampak aroma kekalutan batin dan gangguan kejiwaan (psikis), seperti mungkin yang dialami setiap orang yang terlanjut lahir meski tidak meminta.

Dalam antologi cerpennya Bang Agus, saya menemukan satu hal gila. Tentu dalam cerpen yang kemudian dipakai untuk judul bukunya, Kado Kematian untuk Pacarmu. Tokoh dalam cerita ini barangkali psikisnya memang sudah terganggu, tidak waras. Tokoh “Aku” dalam cerpen tega membunuh pacar mantan kekasihnya⸺lelaki yang telah merebut pacarnya, katanya⸺dan kemudian membunuh mantannya hanya gara-gara dia cemburu. “… Sehari sebelum pisau itu mendarat tepat di hatinya, kulihat kau di pelabuhan itu makan sate dengan begitu nikmat. Sangat nikmat. Ketika itu, api di dalam diriku terasa menyala. Tubuhku terasa panas dan apabila kau melihat, mataku meraj seperti api yang membakar rumahmu ketika dilenyapkan para pembenci ayahmu.” (hal. 22).

Tetapi siapa yang tahan dengan perasaan patah hati. Seorang Napoleon Bonaparte (1769-1821)⸺negarawan dan kaisar Perancis⸺saja pernah mengatakan: “Aku telah berhasil memenangi banyak peperangan besar. Kemenangan-kemenangan spektakuler yang berhasil kuraih tercatat dalam tinta emas sejarah. Tetapi, aku kalah dan terpuruk di hadapan satu wanita”. Atau Julius Caesar dan Marcus Antonius rela berperang hanya karena sosok Cleopatra. Ada yang bilang, “… bahwa dalam perang dan cinta, semua halal dilakukan”.

Selain cerpen Kado Kematian untuk Pacarmu⸺yang menyeramkan itu⸺, Bang Agus mencoba menghadirkan realitas lain yang dekat dengan kehidupan saya: pembelian lahan oleh pabrik. Ya, dalam cerpen berjudul Karba dan Perahu Biru yang Meninggalkan Istri, seorang Karba yang dengan tegas menolak pabrik. “Tidak! Tidak boleh ada pabrik di kampung kami! Kalau ada yang berani mendirikan pabrik, aku akan menyiapkan banyak orang! Kau pahami kata-kata itu!” (hal.75). Dan dalam cerpen Pada Bagian itu, Yo Terbunuh, Bang Agus melihat realitas sawah yang berubah menjadi bermacan-macam bangunan: perumahan, restoran, hotel, villa, dan perkantoran. Ah, sebenarnya saya ingin mengurai fenomena ini, cuma saya terlalu sentimentil jadi manusia. Tuban, kampung halaman saya itu, lekat sekali dengan hal ini.

Tema cerpen pemuda kelahiran Pengembungan, Gianyar, ini, dekat sekali dengan kita, manusia. Ironi-ironi tentang cinta, patah hati, dan kematian yang tak wajar, seperti bumbu pelengkap dalam kehidupan manusia. Lagi pula siapa manusia yang tak pernah merasakan cinta, patah hati, dan kematian nantinya? Saya pikir tak ada. Ketiga hal tersebut adalah sambal dalam menu pecel lele, atau acar dalam sebungkus martabak telur. Selalu ada, walau kadang tak dinikmati, atau bahkan dicampakkan begitu saja.

Sedangkan dalam antologinya Bang Phebi, walaupun mengusung tema yang hampir sama dengan Bang Agus, akan tetapi perbedaan sudut pandang dan cara penulisan tentunya sangat berbeda. Dalam cerpen Bang Phebi, ada sedikit unsur magis di dalamnya. Seperti dalam cerpen berjudul Cemani, yang bercerita tentang Pustakawan Uban dan seekor kucing bernama Cemani⸺kucing peninggalan istrinya⸺yang dituduh telah menjadi penyebab kematian istrinya. Dalam cerpen berjudul Bolup, yang bercerita tentang sekelompok suku yang memiliki tradisi “primitif”⸺dan menakutkan. Bagaimana mungkin seorang pembunuh harus dibunuh dan kemudian tubuhnya akan dimakan beramai-ramai. Sungguh mengerikan.

Selain magis, Bang Phebi juga menghadirkan kisah-kisah yang jauh dari Bali. Serperti cerpen Bolup, Orkes Stasiun, Perempuan di Distrik Reykjavik, Perempuan dan Senja Kematian. Saya baru menemukan Bali ketika membaca cerpen Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan⸺cerpen yang mengisahkan Masula-Masuli yang konon adalah bayi kembar buncing anak raja Bali Kuno. Dalam cerpen ini Bang Phebi menyampaikan satu kepercayaan Bali Kuno⸺kepercayaan tentang bayi kembar buncing yang lahir dari golongan biasa akan dikenakan sanksi karena membawa nasib buruk. Dan dalam cerpen Wayang Warisan Jero Dalang. Tetapi hampir semua cerpen yang termuat dalam antologi Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan ini mistis-magisnya. Saat membacanya saya seperti berada di dunia lain atau seperti mendengarkan siaran “JIMAT: Sajian Malam Jumat” di radio Istana 95 FM. Saya membayangkan setiap kejadian mistis dalam cerpen-cerpen Bang Phebi.

Terlepas dari itu semua, kedua antologi ini membahas tiga hal: cinta, patah hati, dan kematian⸺ tiga hal yang melekat dalam diri manusia. Saya selesai membaca kedua buku antologi ini, setelah kekasih saya memutuskan untuk berhenti mencintai saya. Saya patah hati, dan riskan sebenarnya untuk membaca buku yang tak jauh dari cinta, patah hati, dan kematian. Tetapi tenang, saya tak akan melakukan apa-apa setelah membaca kedua antologi ini kecuali menulis ulasan yang sedang Anda baca saat ini.

  • Artikel ini disampaikan dalam acara Mahima March March March di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Selasa 9 Maret 2021.

Tags: BukuCerpenresensi buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sekilas Ekofeminisme

Next Post

Menyepi dalam Krisis

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Menyepi dalam Krisis

Menyepi dalam Krisis

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co