6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saṃpradāya Kuno Sampaikah ke Nusantara?*

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 4, 2021
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

— Catatan Harian Sugi Lanus, 4 Maret 2021

Untuk memahami sejarah Hindu secara lebih utuh sebaiknya tidak lupa membaca sejarah saṃpradāya di masa silam.

Kenapa? Beberapa saṃpradāya kuno menduduki tempat penting dalam sejarah Hindu kuno di masa pre-modern India dan Asia Tenggara.

1. Apa itu saṃpradāya?

Saṃpradāya सम्प्रदाय adalah ‘tradisi’, ‘garis silsilah spiritual’, ‘sekte’ atau ‘sistem religius’. Sampradāya berkaitan dengan tampuh pergantian para guru ke murid, yang menjadi garis silsilah perguruan yang disaluran lewat inisiasi spiritual. Artinya ada “pelantikan sakral” yang umum dikenal sebagai dīkśa dan masing-masing saṃpradāya punya kekhasan ritual dīkśa-nya.

Saṃpradāya bentuknya berupa praktik ritual, pembentukan pandangan dan sikap, diwariskan-diajarkan-ditularkan-ditransmisikan ke pengikutnya lewat inisiasi anggota, yang memberikan pedoman yang kadang sangat ketat, yang bahkan bisa bertentangan dengan tradisi dimana para anggotanya dilahirkan atau dibesarkan.

Silsilah perguruan tertentu (saṃpradāya) ini tidak sama dengan soroh atau kawitan, yang berjalan turun-temurun. Saṃpradāya memiliki dīkśa (inisiasi suci) ke dalam parampara seorang guru yang hidup, para guru yang masih hidup yang menjadi pewaris dari guru sebelumnya ini yang disebut sebagai guru saṃpradāya yang menginisiasi pengikut-pengikutnya yang baru. Dalam sampradaya seseorang tidak dapat menjadi anggota sejak lahir, seperti halnya dengan gotra, kawitan, pamaksan, bukan bersifat turun-temurun, tapi lewat inisiasi dīkśa masuk ke dalam parampara guru yang masih hidup.

Setelah masuk keanggotaan saṃpradāya seseorang tidak hanya diberikan “tingkat otoritas” pada klaim seseorang atas “kebenaran” dalam konteks tradisional Hindu, tetapi juga memungkinkan seseorang untuk membuat klaim bahwa ia punya posisi otoritas untuk mengajarkan dan merumuskan “kebenaran” karena telah masuk silsilah ajaran.

2. Bagaimana penjelasan Padma Purāṇa tentang saṃpradāya?

Padma Purāṇa umumnya dijadikan acuan oleh komunitas saṃpradāya berpaham Waisnawa, merupakan  salah satu dari delapan belas Purāṇa utama, menyebutkan: “Ada empat Waisnawa sampradāya yang memelihara mantra-mantra yang bermanfaat”. Dalam kitab ini disebutkan: “Semua mantra yang telah diberikan (kepada siswa) bukan lewat saṃpradāya yang resmi tidak akan membuahkan hasil. Oleh karena itu, di Kali Yuga ini, akan ada empat saṃpradāya yang bonafid atau punya otoritas”.

sampradāyavihīnā ye mantrāste niṣphalā matāḥ|

ataḥ kalau bhaviśyanti catvāraḥ sampradāyinaḥ||

Śrī-brahmā-rudra-sanakā vaiṣṇavā kṣitipāvanāḥ|

catvāraste kalau bhāvya hyutkale puruṣottamāt||

rāmānujaṃ śrī svicakre madhvācaryaṃ caturmukhaḥ|

śrīviṣṇusvāminaṃ rudro nimbādityaṃ catuḥsanāḥ||

Terjemahannya:

Semua mantra yang telah diberikan kepada para siswa bukan melalui saṃpradāya resmi tidak akan membuahkan hasil. Oleh karena itu, di Kali Yuga, akan ada empat saṃpradāya yang bonafid. Saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Śrī Devī dan dikenal sebagai Śrī Sampradāya, saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Dewa Brahmā dan dikenal sebagai Brahmā Sampradāya, saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Lord Rudra dan dikenal sebagai Rudra Sampradāya; dan saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Catur Kumara dan dikenal sebagai Sanakādi Sampradāya. Śrī Devī menjadikan Rāmānujācārya sebagai kepala dari silsilah itu. Demikian pula Dewa Brahmā menunjuk Madhvācārya, Sri Rudra menunjuk Viṣṇusvāmī dan keempat Kumara memilih Nimbāditya (sebutan untuk Śrī Nimbārkācārya).

Jika diuraikan lebih lanjut gambaran umumnya seperti ini:

(a) Sri Saṃpradāya atau Rāmānuja Saṃpradāya

— Pujaan Utama: Śrī Devī (Laksmi) terkait dengan Viṣṇu.

— Acharya: Ramanujacharya      

— Garis Pemikiran/Ajaran: Melukote, Srirangam, Vanamamalai, Tirukkurungudi, Kanchipuram, Ahobila, Parakala

— Sampradaya terkait: Ramanandi Sampradaya

(b) Brahma Saṃpradāya atau Madhva Saṃpradāya

— Pujaan Utama: Tradisi kuno memuliakan Dewa Brahma, namun berkembang menjadi Viśnu (Narayana)/ Kriśna/ Rama/ Vithoba.

— Acharya: Madhvacharya

— Garis Pemikiran/Ajaran: Sri Kriśna Matha, Madhva Mathas, Gaudiya Math, ISKCON

— Sampradaya terkait: Vaiśnavisme Gaudiya

(c) Rudra Saṃpradāya

— Pujaan Utama: Rudra, berkembang ke pemujaan Viśnu dan Kriśna serta para awatara Viṣṇu.

— Acharya: Viṣṇusvāmī / Vallabhacharya

— Garis Pemikiran/Ajaran: –

— Sampradaya terkait: Garis Puśtimarga

(d) Kumara Saṃpradāya

— Dewa Utama: Catur Kumāra, berkembang menjadi Radha-Kriśna

— Acharya: Nimbarka

— Garis Pemikiran/Ajaran: Kathia Baba ka Sthaan, Nimbarkacharya Peeth, Ukhra Mahanta Asthal, Howrah Nimbarka Aśram

— Saṃpradāya terkait: –

Pembagian di atas bersifat gambaran umum saṃpradāya jika merujuk pada kitab Padma Purāṇa.

Mereka percaya bahwa kita masuk dalam era Kaliyuga dan selama Kali yuga akan muncul saṃpradāya-saṃpradāya yang bertugas memurnikan dan menyucikan kembali seluruh bumi. Saṃpradāya-saṃpradāya bekerja untuk menyucikan dunia dan membawa kembali dunia ke periode emas kemanusiaan.

Silsilah Kesadaran Kriśna (ISKCON) menarik garis silsilah dari garis silsilah Sri Brahma-Madhva-Gaudiya Sampradaya yang didirikan oleh Sri Chaitanya Mahaprabhu, yang kemudiaan berkembang menjadi International Society for Kriśna Consciousness (ISKCON) (ISKCON), kalau dicermati pemaparan Padma Purāṇa maka masuk saṃpradāya di bawah garis silsilah Brahma Saṃpradāya atau Madhva Saṃpradāya.

Ada berbagai sampradāya juga muncul dari empat garis silsilah saṃpradāya di atas, yang sangat berbeda dari ISKCON. Seperti Swaminarayan Saṃpradāya, yaitu saṃpradāya Hindu yang didirikan pada tahun 1801 oleh Swaminarayan (3 April 1781 – 1 Juni 1830), juga dikenal sebagai Sahajanand Swami, seorang seorang yogi dan pertapa yang kehidupan dan ajarannya membawa kebangkitan praktik sentral Hindu dharma, ahimsa dan brahmacarya. Sahajanand Swami diyakini oleh para pengikutnya sebagai reikarnasi Tuhan.

3. Saṃpradāya beraliran Śaiwa (Śiwaistik) yang utama

Ada tiga saṃpradāya beraliran Śaiwa utama yang dikenal sebagai “Kailasa Parampara” (Silsilah Kailaś ):

(a) Nandinatha Saṃpradāya

(b) Adinath Saṃpradāya

(c) Meykanda Saṃpradāya.

Nandinatha Saṃpradāya bisa dijejaki jejak awalnya setidaknya mulai 200 Sebelum Masehi. Pendiri sekaligus guru spiritual pertama yang diketahui adalah Maha Riśi Nandinatha, yang dikatakan telah menginisiasi 8 murid utamanya: Sanatkumara, Sanakara, Sanadanara, Sananthanara, Śivayogamuni, Patanjali, Vyaghrapada, dan Tirumulara, dan megutus mereka ke berbagai tempat belahan dunia untuk menyebarkan ajaran Śaiwaisme non-dualistik (advaita) ke seluruh dunia.

Dalam ajaran filsafat Śaiva Siddhanta di Tamil dikenal sebagai garis keturunan dari ajaran Sanatkumara, salah satu Kumara. Garisnya sebagai berikut: Sanatkumara lalu ke Satyanjana Darśini, bersambung ke Paranjyoti riśi yang memberikan garis silsilahnya pada Meykandar.

Ada pula Daśanami Saṃpradāya merupakan tradisi Hindu yang menekankan tradisi monastik dari Sannyasin ēkadaṇḍi umumnya terkait dengan tradisi Advaita Vedanta. Para pewaris tradisi ini — Ekadandis atau Dasanāmis — telah mendirikan pertapaan dan pemujaan di India dan Nepal pada zaman kuno. Setelah kemunduran agama Buddha, satu bagian Ekadani diorganisir oleh Adi Śankara pada abad ke-8, ini terkait dengan empat maṭha atau aliran pemikiran yang berjasa menyediakan pondasi pemikiran bagi pertumbuhan agama Hindu ke tahap lebih lanjut.

Para Dasanāmis terkait erat dengan tradisi Smartha yang sejalan dengan Advaita Vedānta, walaupun tidak mencakup semuanya. Salah satu contohnya adalah tradisi Yoga Kriyā yang menganggap dirinya eklektik dengan kepercayaan kuno yang tidak dapat diubah, dan di luar lingkup perbedaan dalam pemahaman Vedanta. Ekadaṇḍi sannyāsa tidak semuanya bertumbuh dalam kendali maṭha pergurauan Śankara. Banyak bagian Dasanāmis atau Ēkadaṇḍi juga didirikan, berafiliasi dengan maṭha, ashram, dan pusat pemujaan di luar kendali maṭha Śankara. Namun demikian, kesemuanya berada di bawah payung tradisi Advaita Sampradāya.

Advaita Sampradāya bukanlah sekte Śaiva, meskipun ada hubungan historis dengan Śaivisme sangat kental: Advaitin (penganut advaita vedanta) adalah non-sektarian, dan mereka menganjurkan pemujaan Šiva dan Viśnu sama dengan dewa-dewi Hindu lainnya, seperti Sakti, Ganapati dan lain-lain.

Sekalipun dalam perkembangannya pemikiran Śankaracarya memang secara historis  memiliki pengaruh lebih besar di dalam komunitas Śaiva daripada di komunitas garis silsilah Vaisnava. Pengaruh terbesar dari para guru tradisi Advaita adalah di antara pengikut tradisi Smartha, yang mengintegrasikan ritual Veda domestik dengan aspek devosional Hinduisme.

Bhagavad Gita yang diterjemahkan dari teks Sanskrit dan diberi komentar oleh Śankaracarya, adalah komentar tersohor dan paling awal dari Bhagavad Gita. Komentar dan interpretasi Śankaracarya terhadap teks Gita menjadi rujukan yang sangat penting melihat Gita dari sudut advaita vedanta, telah turun-temurun selama berabad-abad sebagai teks otentik dan komentarnya ini telah terbukti menjadi nilai yang sangat penting sejak saat itu dan sampai kini dalam kesusastraan atau kefisafatan India. Terjemahan dan komentar Śankaracarya dianggap sebagai dasar utama dari banyak filosofi Hindu termasuk Vedanta.

Keterkenalan Bhagavad Gita sekarang tidak terpisahkan dari komentar dan terjemahan Śankaracarya, sang pematik lahirnya Daśanami Saṃpradāya.

4. Saṃpradāya Purva-Mimamsa, Śakta, Saura dan Gana.

Saṃpradāya Śrauta sangat langka di India, yang paling terkenal adalah Brahmana Nambudiri dari Kerala yang ultra-ortodoks. Mereka mengikuti Purva-Mimamsa (bagian awal dari Veda) berbeda dengan Vedanta yang diikuti oleh Brahmana lainnya. Mereka menempatkan pentingnya kinerja Kurban Weda (Yajna). Brahmana Nambudiri terkenal dengan pelestarian Somayaagam kuno, ritual Agnicayana yang telah lenyap di bagian lain India.

Tersisa Śakta Saṃpradāya dalam 2 pilah, yaitu:

(a). Kalikula ada di Bengal, Assam, Nepal & Odiśa. Pujaan utamanya adalah Dewi Kali.

(b). Srikula menyebar di Tamil Nadu, Andhra , Telangana, Karnataka, Kerala & Sri Lanka. Pujaan utamanya adalah Lalita Devi atau Sri Devi.

Dari tradisi Srikula dalam Śaktisme, adalah Tripura Sundari yang paling utama dari Mahavidya, aspek tertinggi dari Dewi Adi Paraśakti. Tripura Upaniśad menempatkannya sebagai Śakti (energi, kekuatan) tertinggi di alam semesta, yang digambarkan sebagai kesadaran tertinggi, lebih atas dari Brahma, Wisnu, Rudra dan Iśwara.  Tripurasundari dikisahkan duduk di pangkuan Sadaśiva dalam wujudnya sebagai Kāmeśvara, “Penguasa Keinginan”. Dia juga dewi utama yang terkait dengan tradisi Tantra Śakta yang dikenal sebagai Sri Vidya. Apakah ini yang menjiwai pemujaan Dewi Sri di Nusantara?

Terdapat juga garis silsilah pemuja Surya atau Saura adalah pengikut Hindu yang jejaknya bisa dilihat awal mulanya sangat awal dalam tradisi Weda, dan memuliakan keagungan Surya sebagai bentuk utama dari Saguna Brahman. Sejarah tradisi Saura telah dijejaki oleh para peneliti mempunyai pengaruh yang berpengaruh luas dan mendalam di Asia Selatan, terutama di barat, utara, dan wilayah lainnya, dengan banyak pemujaan Surya yang dibangun antara 800 dan 1000 Masehi. Salah satunya Kuil Konark dibangun pada pertengahan abad ke-13. Tradisi Hinduisme pemuliaan Surya disebutkan mulai menurun pada sekitar abad ke-12 dan ke-13 M. Saat ini disebutkan masih ada tetap menjadi gerakan sangat kecil di berbagai wilayah tersebut. Sementara itu yang masih kuat pemujaan Surya tetap menjadi praktik dominan di Bihar-Jharkhand dan Uttar Pradesh Timur dalam bentuk Chhath Puja yang dianggap sebagai festival utama yang sangat penting di wilayah ini. Di Bali ditemukan lontar Puja Bwat Sora yang merupakan manual khusus pemujaan Surya yang diwariskan dalam silsilah keluarga Bhujangga di Bali, ini semacam Argapatra dalam versi yang kemungkinan lebih kuno.

Pemujaan Ganapati masuk dalam saṃpradāya yang sangat kuno walaupun baur dengan pemujaan Śiwaisme lainnya, namun terdapat tradisi kuno di mana Dewa Ganeśa dipuja sebagai bentuk utama dari Saguna Brahman. Garis ajaran ini tersebar luas dan berpengaruh di masa lalu dan tetap penting sampai kini di wilayah Maharaśtra.

Jejak Saṃpradāya dalam Perjumpaan Nusantara

Banyak temuan lontar-lontar Rsi Gana terwariskan di Nusantara, kini disimpan dalam kekhususan tradisi Bhujangga Sangguru yang mewarisi sistem puja Rsi Gana yang secara spesifik, tergabung dalam kompilasi sistem puja Wesnawa-Śaiwa di Bali yang khas mungkin hanya ada dalam tradisi Jawa Kuno dan Bali, tidak ditemukan di bagian manapun di India, kemungkinan telah punah, atau memang sebagai koalisi-pembuahan bijak kepanditaan Nusantara yang lebih memilih berjumpa daripada berpisah. Ada lagi Petra Puja yang khas sebagai bagian dari Garuda Purana yang terwariskan di Bali, viṣṇupūjā atau visnuapañjara berbaur dengan śivapūjā, aṣṭākṣara, mantra japa dvādaśākṣara, semua terdamaikan dalam kompilasi yang terikat setara dan masing-masing punya tempat khusus dan keistimewaan. Sistem kepanditaan kuno Nusantara yang tercermin di tanah Sunda, Jawa dan Bali, lebih memilih menyatukan niat baik, dari pada berpisah karena selisih.

Perjumpaan semua saṃpradāya kuno yang sempat menjadi garis pewarisan tradisi Weda yang berkembang dari arus ke India Selatan dan ke Asia Tenggara, atau lewat jalur Nepal dan Asia Tenggara, semuanya berujung manis di titik terjauh karena di perjalan yang panjang yang ditempuh semua ego-sentris telah pupus diterpa angin laut dan buih ombak yang menguji keimanan para pandita, telah melalui pulau dan pegunungan hijau yang menenangkan, sampai akhirnya semua ego-sentris saṃpradāya luluh berjumpa saripatinya. Semuanya dalam panjang perjalanan laut dan perjalanan panjang sejarah, tertinggal sarinya, bunga-bunga dan buah baiknya yang unggul, yang jumpa dalam damai esensi vedic yang menjernihkan, menghilangkan semua kulit perbedaan, temu dalam kemurnian tujuan batiniah yang tidak lagi rajas dan tamas, tapi satwam dan satwam, lalu satyam dan sundaram menjadi ujungnya terwariskan dalam kompilasi tidak terpisah Śiwa, Waisnawa, Ganapati, Saura, Śakta, Śrauta, advaita dan dvaita, semuanya manunggal dalam sang-hyang-suci yang tinggal ruh agung tersucinya.

Sebagai “perantau” mereka berdamai. Dimana ada “rantau” yang jauh di tanah seberang yang tidak mungkin pulang saling sikut? Di titik temu “para rantau” berjumpa dengan tangan terbuka anak-anak bumi Nusantara yang santun dan sahaja, semuanya berpelukan, melupakan mana rantau mana pribumi, dari titik itulah berangkat “kita Nusantara” membangun peradaban bersama yang berlapang hati, berpikir baik dan jernih saling menguatkan.

Pada titik itu kebudayaan Nusantara adalah ujung perjalanan yang diimpikan, berjumpa dengan tanah yang subur. Berjumpa dan bertumbuh. Satu menyediakan benih, satu menyediakan ladang suburnya.[T]

*Catatan ini adalah jawaban tertulis atas sebuah pertanyaan yang disampaikan salah satu peserta Rapat Koordinasi Pejabat Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dengan Tokoh-Tokoh Umat Hindu, Senin, 22 Februari 2021, Hotel Grand Mercure, Jakarta. Beberapa pertanyaan peserta tidak terjawab tuntas karena hambatan teknis daring. Penulis (Sugi Lanus) diundang sebagai narasumber dan menyampaikan hasil presentasi berjudul: Perjumpaan India Kuno & Nusantara: Sebuah Kilas Balik Pertalian Religi Pre-Modern India & Religi Nusantara.

Tags: balihinduNusantarasampradaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Alangkah Sulitnya Menghapus Stigma

Next Post

Kupetik Puisi di Langit | Buku Puisi dari SMAK Harapan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Kupetik Puisi di Langit | Buku Puisi dari SMAK Harapan

Kupetik Puisi di Langit | Buku Puisi dari SMAK Harapan

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co