3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saṃpradāya Kuno Sampaikah ke Nusantara?*

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 4, 2021
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

— Catatan Harian Sugi Lanus, 4 Maret 2021

Untuk memahami sejarah Hindu secara lebih utuh sebaiknya tidak lupa membaca sejarah saṃpradāya di masa silam.

Kenapa? Beberapa saṃpradāya kuno menduduki tempat penting dalam sejarah Hindu kuno di masa pre-modern India dan Asia Tenggara.

1. Apa itu saṃpradāya?

Saṃpradāya सम्प्रदाय adalah ‘tradisi’, ‘garis silsilah spiritual’, ‘sekte’ atau ‘sistem religius’. Sampradāya berkaitan dengan tampuh pergantian para guru ke murid, yang menjadi garis silsilah perguruan yang disaluran lewat inisiasi spiritual. Artinya ada “pelantikan sakral” yang umum dikenal sebagai dīkśa dan masing-masing saṃpradāya punya kekhasan ritual dīkśa-nya.

Saṃpradāya bentuknya berupa praktik ritual, pembentukan pandangan dan sikap, diwariskan-diajarkan-ditularkan-ditransmisikan ke pengikutnya lewat inisiasi anggota, yang memberikan pedoman yang kadang sangat ketat, yang bahkan bisa bertentangan dengan tradisi dimana para anggotanya dilahirkan atau dibesarkan.

Silsilah perguruan tertentu (saṃpradāya) ini tidak sama dengan soroh atau kawitan, yang berjalan turun-temurun. Saṃpradāya memiliki dīkśa (inisiasi suci) ke dalam parampara seorang guru yang hidup, para guru yang masih hidup yang menjadi pewaris dari guru sebelumnya ini yang disebut sebagai guru saṃpradāya yang menginisiasi pengikut-pengikutnya yang baru. Dalam sampradaya seseorang tidak dapat menjadi anggota sejak lahir, seperti halnya dengan gotra, kawitan, pamaksan, bukan bersifat turun-temurun, tapi lewat inisiasi dīkśa masuk ke dalam parampara guru yang masih hidup.

Setelah masuk keanggotaan saṃpradāya seseorang tidak hanya diberikan “tingkat otoritas” pada klaim seseorang atas “kebenaran” dalam konteks tradisional Hindu, tetapi juga memungkinkan seseorang untuk membuat klaim bahwa ia punya posisi otoritas untuk mengajarkan dan merumuskan “kebenaran” karena telah masuk silsilah ajaran.

2. Bagaimana penjelasan Padma Purāṇa tentang saṃpradāya?

Padma Purāṇa umumnya dijadikan acuan oleh komunitas saṃpradāya berpaham Waisnawa, merupakan  salah satu dari delapan belas Purāṇa utama, menyebutkan: “Ada empat Waisnawa sampradāya yang memelihara mantra-mantra yang bermanfaat”. Dalam kitab ini disebutkan: “Semua mantra yang telah diberikan (kepada siswa) bukan lewat saṃpradāya yang resmi tidak akan membuahkan hasil. Oleh karena itu, di Kali Yuga ini, akan ada empat saṃpradāya yang bonafid atau punya otoritas”.

sampradāyavihīnā ye mantrāste niṣphalā matāḥ|

ataḥ kalau bhaviśyanti catvāraḥ sampradāyinaḥ||

Śrī-brahmā-rudra-sanakā vaiṣṇavā kṣitipāvanāḥ|

catvāraste kalau bhāvya hyutkale puruṣottamāt||

rāmānujaṃ śrī svicakre madhvācaryaṃ caturmukhaḥ|

śrīviṣṇusvāminaṃ rudro nimbādityaṃ catuḥsanāḥ||

Terjemahannya:

Semua mantra yang telah diberikan kepada para siswa bukan melalui saṃpradāya resmi tidak akan membuahkan hasil. Oleh karena itu, di Kali Yuga, akan ada empat saṃpradāya yang bonafid. Saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Śrī Devī dan dikenal sebagai Śrī Sampradāya, saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Dewa Brahmā dan dikenal sebagai Brahmā Sampradāya, saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Lord Rudra dan dikenal sebagai Rudra Sampradāya; dan saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Catur Kumara dan dikenal sebagai Sanakādi Sampradāya. Śrī Devī menjadikan Rāmānujācārya sebagai kepala dari silsilah itu. Demikian pula Dewa Brahmā menunjuk Madhvācārya, Sri Rudra menunjuk Viṣṇusvāmī dan keempat Kumara memilih Nimbāditya (sebutan untuk Śrī Nimbārkācārya).

Jika diuraikan lebih lanjut gambaran umumnya seperti ini:

(a) Sri Saṃpradāya atau Rāmānuja Saṃpradāya

— Pujaan Utama: Śrī Devī (Laksmi) terkait dengan Viṣṇu.

— Acharya: Ramanujacharya      

— Garis Pemikiran/Ajaran: Melukote, Srirangam, Vanamamalai, Tirukkurungudi, Kanchipuram, Ahobila, Parakala

— Sampradaya terkait: Ramanandi Sampradaya

(b) Brahma Saṃpradāya atau Madhva Saṃpradāya

— Pujaan Utama: Tradisi kuno memuliakan Dewa Brahma, namun berkembang menjadi Viśnu (Narayana)/ Kriśna/ Rama/ Vithoba.

— Acharya: Madhvacharya

— Garis Pemikiran/Ajaran: Sri Kriśna Matha, Madhva Mathas, Gaudiya Math, ISKCON

— Sampradaya terkait: Vaiśnavisme Gaudiya

(c) Rudra Saṃpradāya

— Pujaan Utama: Rudra, berkembang ke pemujaan Viśnu dan Kriśna serta para awatara Viṣṇu.

— Acharya: Viṣṇusvāmī / Vallabhacharya

— Garis Pemikiran/Ajaran: –

— Sampradaya terkait: Garis Puśtimarga

(d) Kumara Saṃpradāya

— Dewa Utama: Catur Kumāra, berkembang menjadi Radha-Kriśna

— Acharya: Nimbarka

— Garis Pemikiran/Ajaran: Kathia Baba ka Sthaan, Nimbarkacharya Peeth, Ukhra Mahanta Asthal, Howrah Nimbarka Aśram

— Saṃpradāya terkait: –

Pembagian di atas bersifat gambaran umum saṃpradāya jika merujuk pada kitab Padma Purāṇa.

Mereka percaya bahwa kita masuk dalam era Kaliyuga dan selama Kali yuga akan muncul saṃpradāya-saṃpradāya yang bertugas memurnikan dan menyucikan kembali seluruh bumi. Saṃpradāya-saṃpradāya bekerja untuk menyucikan dunia dan membawa kembali dunia ke periode emas kemanusiaan.

Silsilah Kesadaran Kriśna (ISKCON) menarik garis silsilah dari garis silsilah Sri Brahma-Madhva-Gaudiya Sampradaya yang didirikan oleh Sri Chaitanya Mahaprabhu, yang kemudiaan berkembang menjadi International Society for Kriśna Consciousness (ISKCON) (ISKCON), kalau dicermati pemaparan Padma Purāṇa maka masuk saṃpradāya di bawah garis silsilah Brahma Saṃpradāya atau Madhva Saṃpradāya.

Ada berbagai sampradāya juga muncul dari empat garis silsilah saṃpradāya di atas, yang sangat berbeda dari ISKCON. Seperti Swaminarayan Saṃpradāya, yaitu saṃpradāya Hindu yang didirikan pada tahun 1801 oleh Swaminarayan (3 April 1781 – 1 Juni 1830), juga dikenal sebagai Sahajanand Swami, seorang seorang yogi dan pertapa yang kehidupan dan ajarannya membawa kebangkitan praktik sentral Hindu dharma, ahimsa dan brahmacarya. Sahajanand Swami diyakini oleh para pengikutnya sebagai reikarnasi Tuhan.

3. Saṃpradāya beraliran Śaiwa (Śiwaistik) yang utama

Ada tiga saṃpradāya beraliran Śaiwa utama yang dikenal sebagai “Kailasa Parampara” (Silsilah Kailaś ):

(a) Nandinatha Saṃpradāya

(b) Adinath Saṃpradāya

(c) Meykanda Saṃpradāya.

Nandinatha Saṃpradāya bisa dijejaki jejak awalnya setidaknya mulai 200 Sebelum Masehi. Pendiri sekaligus guru spiritual pertama yang diketahui adalah Maha Riśi Nandinatha, yang dikatakan telah menginisiasi 8 murid utamanya: Sanatkumara, Sanakara, Sanadanara, Sananthanara, Śivayogamuni, Patanjali, Vyaghrapada, dan Tirumulara, dan megutus mereka ke berbagai tempat belahan dunia untuk menyebarkan ajaran Śaiwaisme non-dualistik (advaita) ke seluruh dunia.

Dalam ajaran filsafat Śaiva Siddhanta di Tamil dikenal sebagai garis keturunan dari ajaran Sanatkumara, salah satu Kumara. Garisnya sebagai berikut: Sanatkumara lalu ke Satyanjana Darśini, bersambung ke Paranjyoti riśi yang memberikan garis silsilahnya pada Meykandar.

Ada pula Daśanami Saṃpradāya merupakan tradisi Hindu yang menekankan tradisi monastik dari Sannyasin ēkadaṇḍi umumnya terkait dengan tradisi Advaita Vedanta. Para pewaris tradisi ini — Ekadandis atau Dasanāmis — telah mendirikan pertapaan dan pemujaan di India dan Nepal pada zaman kuno. Setelah kemunduran agama Buddha, satu bagian Ekadani diorganisir oleh Adi Śankara pada abad ke-8, ini terkait dengan empat maṭha atau aliran pemikiran yang berjasa menyediakan pondasi pemikiran bagi pertumbuhan agama Hindu ke tahap lebih lanjut.

Para Dasanāmis terkait erat dengan tradisi Smartha yang sejalan dengan Advaita Vedānta, walaupun tidak mencakup semuanya. Salah satu contohnya adalah tradisi Yoga Kriyā yang menganggap dirinya eklektik dengan kepercayaan kuno yang tidak dapat diubah, dan di luar lingkup perbedaan dalam pemahaman Vedanta. Ekadaṇḍi sannyāsa tidak semuanya bertumbuh dalam kendali maṭha pergurauan Śankara. Banyak bagian Dasanāmis atau Ēkadaṇḍi juga didirikan, berafiliasi dengan maṭha, ashram, dan pusat pemujaan di luar kendali maṭha Śankara. Namun demikian, kesemuanya berada di bawah payung tradisi Advaita Sampradāya.

Advaita Sampradāya bukanlah sekte Śaiva, meskipun ada hubungan historis dengan Śaivisme sangat kental: Advaitin (penganut advaita vedanta) adalah non-sektarian, dan mereka menganjurkan pemujaan Šiva dan Viśnu sama dengan dewa-dewi Hindu lainnya, seperti Sakti, Ganapati dan lain-lain.

Sekalipun dalam perkembangannya pemikiran Śankaracarya memang secara historis  memiliki pengaruh lebih besar di dalam komunitas Śaiva daripada di komunitas garis silsilah Vaisnava. Pengaruh terbesar dari para guru tradisi Advaita adalah di antara pengikut tradisi Smartha, yang mengintegrasikan ritual Veda domestik dengan aspek devosional Hinduisme.

Bhagavad Gita yang diterjemahkan dari teks Sanskrit dan diberi komentar oleh Śankaracarya, adalah komentar tersohor dan paling awal dari Bhagavad Gita. Komentar dan interpretasi Śankaracarya terhadap teks Gita menjadi rujukan yang sangat penting melihat Gita dari sudut advaita vedanta, telah turun-temurun selama berabad-abad sebagai teks otentik dan komentarnya ini telah terbukti menjadi nilai yang sangat penting sejak saat itu dan sampai kini dalam kesusastraan atau kefisafatan India. Terjemahan dan komentar Śankaracarya dianggap sebagai dasar utama dari banyak filosofi Hindu termasuk Vedanta.

Keterkenalan Bhagavad Gita sekarang tidak terpisahkan dari komentar dan terjemahan Śankaracarya, sang pematik lahirnya Daśanami Saṃpradāya.

4. Saṃpradāya Purva-Mimamsa, Śakta, Saura dan Gana.

Saṃpradāya Śrauta sangat langka di India, yang paling terkenal adalah Brahmana Nambudiri dari Kerala yang ultra-ortodoks. Mereka mengikuti Purva-Mimamsa (bagian awal dari Veda) berbeda dengan Vedanta yang diikuti oleh Brahmana lainnya. Mereka menempatkan pentingnya kinerja Kurban Weda (Yajna). Brahmana Nambudiri terkenal dengan pelestarian Somayaagam kuno, ritual Agnicayana yang telah lenyap di bagian lain India.

Tersisa Śakta Saṃpradāya dalam 2 pilah, yaitu:

(a). Kalikula ada di Bengal, Assam, Nepal & Odiśa. Pujaan utamanya adalah Dewi Kali.

(b). Srikula menyebar di Tamil Nadu, Andhra , Telangana, Karnataka, Kerala & Sri Lanka. Pujaan utamanya adalah Lalita Devi atau Sri Devi.

Dari tradisi Srikula dalam Śaktisme, adalah Tripura Sundari yang paling utama dari Mahavidya, aspek tertinggi dari Dewi Adi Paraśakti. Tripura Upaniśad menempatkannya sebagai Śakti (energi, kekuatan) tertinggi di alam semesta, yang digambarkan sebagai kesadaran tertinggi, lebih atas dari Brahma, Wisnu, Rudra dan Iśwara.  Tripurasundari dikisahkan duduk di pangkuan Sadaśiva dalam wujudnya sebagai Kāmeśvara, “Penguasa Keinginan”. Dia juga dewi utama yang terkait dengan tradisi Tantra Śakta yang dikenal sebagai Sri Vidya. Apakah ini yang menjiwai pemujaan Dewi Sri di Nusantara?

Terdapat juga garis silsilah pemuja Surya atau Saura adalah pengikut Hindu yang jejaknya bisa dilihat awal mulanya sangat awal dalam tradisi Weda, dan memuliakan keagungan Surya sebagai bentuk utama dari Saguna Brahman. Sejarah tradisi Saura telah dijejaki oleh para peneliti mempunyai pengaruh yang berpengaruh luas dan mendalam di Asia Selatan, terutama di barat, utara, dan wilayah lainnya, dengan banyak pemujaan Surya yang dibangun antara 800 dan 1000 Masehi. Salah satunya Kuil Konark dibangun pada pertengahan abad ke-13. Tradisi Hinduisme pemuliaan Surya disebutkan mulai menurun pada sekitar abad ke-12 dan ke-13 M. Saat ini disebutkan masih ada tetap menjadi gerakan sangat kecil di berbagai wilayah tersebut. Sementara itu yang masih kuat pemujaan Surya tetap menjadi praktik dominan di Bihar-Jharkhand dan Uttar Pradesh Timur dalam bentuk Chhath Puja yang dianggap sebagai festival utama yang sangat penting di wilayah ini. Di Bali ditemukan lontar Puja Bwat Sora yang merupakan manual khusus pemujaan Surya yang diwariskan dalam silsilah keluarga Bhujangga di Bali, ini semacam Argapatra dalam versi yang kemungkinan lebih kuno.

Pemujaan Ganapati masuk dalam saṃpradāya yang sangat kuno walaupun baur dengan pemujaan Śiwaisme lainnya, namun terdapat tradisi kuno di mana Dewa Ganeśa dipuja sebagai bentuk utama dari Saguna Brahman. Garis ajaran ini tersebar luas dan berpengaruh di masa lalu dan tetap penting sampai kini di wilayah Maharaśtra.

Jejak Saṃpradāya dalam Perjumpaan Nusantara

Banyak temuan lontar-lontar Rsi Gana terwariskan di Nusantara, kini disimpan dalam kekhususan tradisi Bhujangga Sangguru yang mewarisi sistem puja Rsi Gana yang secara spesifik, tergabung dalam kompilasi sistem puja Wesnawa-Śaiwa di Bali yang khas mungkin hanya ada dalam tradisi Jawa Kuno dan Bali, tidak ditemukan di bagian manapun di India, kemungkinan telah punah, atau memang sebagai koalisi-pembuahan bijak kepanditaan Nusantara yang lebih memilih berjumpa daripada berpisah. Ada lagi Petra Puja yang khas sebagai bagian dari Garuda Purana yang terwariskan di Bali, viṣṇupūjā atau visnuapañjara berbaur dengan śivapūjā, aṣṭākṣara, mantra japa dvādaśākṣara, semua terdamaikan dalam kompilasi yang terikat setara dan masing-masing punya tempat khusus dan keistimewaan. Sistem kepanditaan kuno Nusantara yang tercermin di tanah Sunda, Jawa dan Bali, lebih memilih menyatukan niat baik, dari pada berpisah karena selisih.

Perjumpaan semua saṃpradāya kuno yang sempat menjadi garis pewarisan tradisi Weda yang berkembang dari arus ke India Selatan dan ke Asia Tenggara, atau lewat jalur Nepal dan Asia Tenggara, semuanya berujung manis di titik terjauh karena di perjalan yang panjang yang ditempuh semua ego-sentris telah pupus diterpa angin laut dan buih ombak yang menguji keimanan para pandita, telah melalui pulau dan pegunungan hijau yang menenangkan, sampai akhirnya semua ego-sentris saṃpradāya luluh berjumpa saripatinya. Semuanya dalam panjang perjalanan laut dan perjalanan panjang sejarah, tertinggal sarinya, bunga-bunga dan buah baiknya yang unggul, yang jumpa dalam damai esensi vedic yang menjernihkan, menghilangkan semua kulit perbedaan, temu dalam kemurnian tujuan batiniah yang tidak lagi rajas dan tamas, tapi satwam dan satwam, lalu satyam dan sundaram menjadi ujungnya terwariskan dalam kompilasi tidak terpisah Śiwa, Waisnawa, Ganapati, Saura, Śakta, Śrauta, advaita dan dvaita, semuanya manunggal dalam sang-hyang-suci yang tinggal ruh agung tersucinya.

Sebagai “perantau” mereka berdamai. Dimana ada “rantau” yang jauh di tanah seberang yang tidak mungkin pulang saling sikut? Di titik temu “para rantau” berjumpa dengan tangan terbuka anak-anak bumi Nusantara yang santun dan sahaja, semuanya berpelukan, melupakan mana rantau mana pribumi, dari titik itulah berangkat “kita Nusantara” membangun peradaban bersama yang berlapang hati, berpikir baik dan jernih saling menguatkan.

Pada titik itu kebudayaan Nusantara adalah ujung perjalanan yang diimpikan, berjumpa dengan tanah yang subur. Berjumpa dan bertumbuh. Satu menyediakan benih, satu menyediakan ladang suburnya.[T]

*Catatan ini adalah jawaban tertulis atas sebuah pertanyaan yang disampaikan salah satu peserta Rapat Koordinasi Pejabat Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dengan Tokoh-Tokoh Umat Hindu, Senin, 22 Februari 2021, Hotel Grand Mercure, Jakarta. Beberapa pertanyaan peserta tidak terjawab tuntas karena hambatan teknis daring. Penulis (Sugi Lanus) diundang sebagai narasumber dan menyampaikan hasil presentasi berjudul: Perjumpaan India Kuno & Nusantara: Sebuah Kilas Balik Pertalian Religi Pre-Modern India & Religi Nusantara.

Tags: balihinduNusantarasampradaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Alangkah Sulitnya Menghapus Stigma

Next Post

Kupetik Puisi di Langit | Buku Puisi dari SMAK Harapan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Kupetik Puisi di Langit | Buku Puisi dari SMAK Harapan

Kupetik Puisi di Langit | Buku Puisi dari SMAK Harapan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co