13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saṃpradāya Kuno Sampaikah ke Nusantara?*

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 4, 2021
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

— Catatan Harian Sugi Lanus, 4 Maret 2021

Untuk memahami sejarah Hindu secara lebih utuh sebaiknya tidak lupa membaca sejarah saṃpradāya di masa silam.

Kenapa? Beberapa saṃpradāya kuno menduduki tempat penting dalam sejarah Hindu kuno di masa pre-modern India dan Asia Tenggara.

1. Apa itu saṃpradāya?

Saṃpradāya सम्प्रदाय adalah ‘tradisi’, ‘garis silsilah spiritual’, ‘sekte’ atau ‘sistem religius’. Sampradāya berkaitan dengan tampuh pergantian para guru ke murid, yang menjadi garis silsilah perguruan yang disaluran lewat inisiasi spiritual. Artinya ada “pelantikan sakral” yang umum dikenal sebagai dīkśa dan masing-masing saṃpradāya punya kekhasan ritual dīkśa-nya.

Saṃpradāya bentuknya berupa praktik ritual, pembentukan pandangan dan sikap, diwariskan-diajarkan-ditularkan-ditransmisikan ke pengikutnya lewat inisiasi anggota, yang memberikan pedoman yang kadang sangat ketat, yang bahkan bisa bertentangan dengan tradisi dimana para anggotanya dilahirkan atau dibesarkan.

Silsilah perguruan tertentu (saṃpradāya) ini tidak sama dengan soroh atau kawitan, yang berjalan turun-temurun. Saṃpradāya memiliki dīkśa (inisiasi suci) ke dalam parampara seorang guru yang hidup, para guru yang masih hidup yang menjadi pewaris dari guru sebelumnya ini yang disebut sebagai guru saṃpradāya yang menginisiasi pengikut-pengikutnya yang baru. Dalam sampradaya seseorang tidak dapat menjadi anggota sejak lahir, seperti halnya dengan gotra, kawitan, pamaksan, bukan bersifat turun-temurun, tapi lewat inisiasi dīkśa masuk ke dalam parampara guru yang masih hidup.

Setelah masuk keanggotaan saṃpradāya seseorang tidak hanya diberikan “tingkat otoritas” pada klaim seseorang atas “kebenaran” dalam konteks tradisional Hindu, tetapi juga memungkinkan seseorang untuk membuat klaim bahwa ia punya posisi otoritas untuk mengajarkan dan merumuskan “kebenaran” karena telah masuk silsilah ajaran.

2. Bagaimana penjelasan Padma Purāṇa tentang saṃpradāya?

Padma Purāṇa umumnya dijadikan acuan oleh komunitas saṃpradāya berpaham Waisnawa, merupakan  salah satu dari delapan belas Purāṇa utama, menyebutkan: “Ada empat Waisnawa sampradāya yang memelihara mantra-mantra yang bermanfaat”. Dalam kitab ini disebutkan: “Semua mantra yang telah diberikan (kepada siswa) bukan lewat saṃpradāya yang resmi tidak akan membuahkan hasil. Oleh karena itu, di Kali Yuga ini, akan ada empat saṃpradāya yang bonafid atau punya otoritas”.

sampradāyavihīnā ye mantrāste niṣphalā matāḥ|

ataḥ kalau bhaviśyanti catvāraḥ sampradāyinaḥ||

Śrī-brahmā-rudra-sanakā vaiṣṇavā kṣitipāvanāḥ|

catvāraste kalau bhāvya hyutkale puruṣottamāt||

rāmānujaṃ śrī svicakre madhvācaryaṃ caturmukhaḥ|

śrīviṣṇusvāminaṃ rudro nimbādityaṃ catuḥsanāḥ||

Terjemahannya:

Semua mantra yang telah diberikan kepada para siswa bukan melalui saṃpradāya resmi tidak akan membuahkan hasil. Oleh karena itu, di Kali Yuga, akan ada empat saṃpradāya yang bonafid. Saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Śrī Devī dan dikenal sebagai Śrī Sampradāya, saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Dewa Brahmā dan dikenal sebagai Brahmā Sampradāya, saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Lord Rudra dan dikenal sebagai Rudra Sampradāya; dan saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Catur Kumara dan dikenal sebagai Sanakādi Sampradāya. Śrī Devī menjadikan Rāmānujācārya sebagai kepala dari silsilah itu. Demikian pula Dewa Brahmā menunjuk Madhvācārya, Sri Rudra menunjuk Viṣṇusvāmī dan keempat Kumara memilih Nimbāditya (sebutan untuk Śrī Nimbārkācārya).

Jika diuraikan lebih lanjut gambaran umumnya seperti ini:

(a) Sri Saṃpradāya atau Rāmānuja Saṃpradāya

— Pujaan Utama: Śrī Devī (Laksmi) terkait dengan Viṣṇu.

— Acharya: Ramanujacharya      

— Garis Pemikiran/Ajaran: Melukote, Srirangam, Vanamamalai, Tirukkurungudi, Kanchipuram, Ahobila, Parakala

— Sampradaya terkait: Ramanandi Sampradaya

(b) Brahma Saṃpradāya atau Madhva Saṃpradāya

— Pujaan Utama: Tradisi kuno memuliakan Dewa Brahma, namun berkembang menjadi Viśnu (Narayana)/ Kriśna/ Rama/ Vithoba.

— Acharya: Madhvacharya

— Garis Pemikiran/Ajaran: Sri Kriśna Matha, Madhva Mathas, Gaudiya Math, ISKCON

— Sampradaya terkait: Vaiśnavisme Gaudiya

(c) Rudra Saṃpradāya

— Pujaan Utama: Rudra, berkembang ke pemujaan Viśnu dan Kriśna serta para awatara Viṣṇu.

— Acharya: Viṣṇusvāmī / Vallabhacharya

— Garis Pemikiran/Ajaran: –

— Sampradaya terkait: Garis Puśtimarga

(d) Kumara Saṃpradāya

— Dewa Utama: Catur Kumāra, berkembang menjadi Radha-Kriśna

— Acharya: Nimbarka

— Garis Pemikiran/Ajaran: Kathia Baba ka Sthaan, Nimbarkacharya Peeth, Ukhra Mahanta Asthal, Howrah Nimbarka Aśram

— Saṃpradāya terkait: –

Pembagian di atas bersifat gambaran umum saṃpradāya jika merujuk pada kitab Padma Purāṇa.

Mereka percaya bahwa kita masuk dalam era Kaliyuga dan selama Kali yuga akan muncul saṃpradāya-saṃpradāya yang bertugas memurnikan dan menyucikan kembali seluruh bumi. Saṃpradāya-saṃpradāya bekerja untuk menyucikan dunia dan membawa kembali dunia ke periode emas kemanusiaan.

Silsilah Kesadaran Kriśna (ISKCON) menarik garis silsilah dari garis silsilah Sri Brahma-Madhva-Gaudiya Sampradaya yang didirikan oleh Sri Chaitanya Mahaprabhu, yang kemudiaan berkembang menjadi International Society for Kriśna Consciousness (ISKCON) (ISKCON), kalau dicermati pemaparan Padma Purāṇa maka masuk saṃpradāya di bawah garis silsilah Brahma Saṃpradāya atau Madhva Saṃpradāya.

Ada berbagai sampradāya juga muncul dari empat garis silsilah saṃpradāya di atas, yang sangat berbeda dari ISKCON. Seperti Swaminarayan Saṃpradāya, yaitu saṃpradāya Hindu yang didirikan pada tahun 1801 oleh Swaminarayan (3 April 1781 – 1 Juni 1830), juga dikenal sebagai Sahajanand Swami, seorang seorang yogi dan pertapa yang kehidupan dan ajarannya membawa kebangkitan praktik sentral Hindu dharma, ahimsa dan brahmacarya. Sahajanand Swami diyakini oleh para pengikutnya sebagai reikarnasi Tuhan.

3. Saṃpradāya beraliran Śaiwa (Śiwaistik) yang utama

Ada tiga saṃpradāya beraliran Śaiwa utama yang dikenal sebagai “Kailasa Parampara” (Silsilah Kailaś ):

(a) Nandinatha Saṃpradāya

(b) Adinath Saṃpradāya

(c) Meykanda Saṃpradāya.

Nandinatha Saṃpradāya bisa dijejaki jejak awalnya setidaknya mulai 200 Sebelum Masehi. Pendiri sekaligus guru spiritual pertama yang diketahui adalah Maha Riśi Nandinatha, yang dikatakan telah menginisiasi 8 murid utamanya: Sanatkumara, Sanakara, Sanadanara, Sananthanara, Śivayogamuni, Patanjali, Vyaghrapada, dan Tirumulara, dan megutus mereka ke berbagai tempat belahan dunia untuk menyebarkan ajaran Śaiwaisme non-dualistik (advaita) ke seluruh dunia.

Dalam ajaran filsafat Śaiva Siddhanta di Tamil dikenal sebagai garis keturunan dari ajaran Sanatkumara, salah satu Kumara. Garisnya sebagai berikut: Sanatkumara lalu ke Satyanjana Darśini, bersambung ke Paranjyoti riśi yang memberikan garis silsilahnya pada Meykandar.

Ada pula Daśanami Saṃpradāya merupakan tradisi Hindu yang menekankan tradisi monastik dari Sannyasin ēkadaṇḍi umumnya terkait dengan tradisi Advaita Vedanta. Para pewaris tradisi ini — Ekadandis atau Dasanāmis — telah mendirikan pertapaan dan pemujaan di India dan Nepal pada zaman kuno. Setelah kemunduran agama Buddha, satu bagian Ekadani diorganisir oleh Adi Śankara pada abad ke-8, ini terkait dengan empat maṭha atau aliran pemikiran yang berjasa menyediakan pondasi pemikiran bagi pertumbuhan agama Hindu ke tahap lebih lanjut.

Para Dasanāmis terkait erat dengan tradisi Smartha yang sejalan dengan Advaita Vedānta, walaupun tidak mencakup semuanya. Salah satu contohnya adalah tradisi Yoga Kriyā yang menganggap dirinya eklektik dengan kepercayaan kuno yang tidak dapat diubah, dan di luar lingkup perbedaan dalam pemahaman Vedanta. Ekadaṇḍi sannyāsa tidak semuanya bertumbuh dalam kendali maṭha pergurauan Śankara. Banyak bagian Dasanāmis atau Ēkadaṇḍi juga didirikan, berafiliasi dengan maṭha, ashram, dan pusat pemujaan di luar kendali maṭha Śankara. Namun demikian, kesemuanya berada di bawah payung tradisi Advaita Sampradāya.

Advaita Sampradāya bukanlah sekte Śaiva, meskipun ada hubungan historis dengan Śaivisme sangat kental: Advaitin (penganut advaita vedanta) adalah non-sektarian, dan mereka menganjurkan pemujaan Šiva dan Viśnu sama dengan dewa-dewi Hindu lainnya, seperti Sakti, Ganapati dan lain-lain.

Sekalipun dalam perkembangannya pemikiran Śankaracarya memang secara historis  memiliki pengaruh lebih besar di dalam komunitas Śaiva daripada di komunitas garis silsilah Vaisnava. Pengaruh terbesar dari para guru tradisi Advaita adalah di antara pengikut tradisi Smartha, yang mengintegrasikan ritual Veda domestik dengan aspek devosional Hinduisme.

Bhagavad Gita yang diterjemahkan dari teks Sanskrit dan diberi komentar oleh Śankaracarya, adalah komentar tersohor dan paling awal dari Bhagavad Gita. Komentar dan interpretasi Śankaracarya terhadap teks Gita menjadi rujukan yang sangat penting melihat Gita dari sudut advaita vedanta, telah turun-temurun selama berabad-abad sebagai teks otentik dan komentarnya ini telah terbukti menjadi nilai yang sangat penting sejak saat itu dan sampai kini dalam kesusastraan atau kefisafatan India. Terjemahan dan komentar Śankaracarya dianggap sebagai dasar utama dari banyak filosofi Hindu termasuk Vedanta.

Keterkenalan Bhagavad Gita sekarang tidak terpisahkan dari komentar dan terjemahan Śankaracarya, sang pematik lahirnya Daśanami Saṃpradāya.

4. Saṃpradāya Purva-Mimamsa, Śakta, Saura dan Gana.

Saṃpradāya Śrauta sangat langka di India, yang paling terkenal adalah Brahmana Nambudiri dari Kerala yang ultra-ortodoks. Mereka mengikuti Purva-Mimamsa (bagian awal dari Veda) berbeda dengan Vedanta yang diikuti oleh Brahmana lainnya. Mereka menempatkan pentingnya kinerja Kurban Weda (Yajna). Brahmana Nambudiri terkenal dengan pelestarian Somayaagam kuno, ritual Agnicayana yang telah lenyap di bagian lain India.

Tersisa Śakta Saṃpradāya dalam 2 pilah, yaitu:

(a). Kalikula ada di Bengal, Assam, Nepal & Odiśa. Pujaan utamanya adalah Dewi Kali.

(b). Srikula menyebar di Tamil Nadu, Andhra , Telangana, Karnataka, Kerala & Sri Lanka. Pujaan utamanya adalah Lalita Devi atau Sri Devi.

Dari tradisi Srikula dalam Śaktisme, adalah Tripura Sundari yang paling utama dari Mahavidya, aspek tertinggi dari Dewi Adi Paraśakti. Tripura Upaniśad menempatkannya sebagai Śakti (energi, kekuatan) tertinggi di alam semesta, yang digambarkan sebagai kesadaran tertinggi, lebih atas dari Brahma, Wisnu, Rudra dan Iśwara.  Tripurasundari dikisahkan duduk di pangkuan Sadaśiva dalam wujudnya sebagai Kāmeśvara, “Penguasa Keinginan”. Dia juga dewi utama yang terkait dengan tradisi Tantra Śakta yang dikenal sebagai Sri Vidya. Apakah ini yang menjiwai pemujaan Dewi Sri di Nusantara?

Terdapat juga garis silsilah pemuja Surya atau Saura adalah pengikut Hindu yang jejaknya bisa dilihat awal mulanya sangat awal dalam tradisi Weda, dan memuliakan keagungan Surya sebagai bentuk utama dari Saguna Brahman. Sejarah tradisi Saura telah dijejaki oleh para peneliti mempunyai pengaruh yang berpengaruh luas dan mendalam di Asia Selatan, terutama di barat, utara, dan wilayah lainnya, dengan banyak pemujaan Surya yang dibangun antara 800 dan 1000 Masehi. Salah satunya Kuil Konark dibangun pada pertengahan abad ke-13. Tradisi Hinduisme pemuliaan Surya disebutkan mulai menurun pada sekitar abad ke-12 dan ke-13 M. Saat ini disebutkan masih ada tetap menjadi gerakan sangat kecil di berbagai wilayah tersebut. Sementara itu yang masih kuat pemujaan Surya tetap menjadi praktik dominan di Bihar-Jharkhand dan Uttar Pradesh Timur dalam bentuk Chhath Puja yang dianggap sebagai festival utama yang sangat penting di wilayah ini. Di Bali ditemukan lontar Puja Bwat Sora yang merupakan manual khusus pemujaan Surya yang diwariskan dalam silsilah keluarga Bhujangga di Bali, ini semacam Argapatra dalam versi yang kemungkinan lebih kuno.

Pemujaan Ganapati masuk dalam saṃpradāya yang sangat kuno walaupun baur dengan pemujaan Śiwaisme lainnya, namun terdapat tradisi kuno di mana Dewa Ganeśa dipuja sebagai bentuk utama dari Saguna Brahman. Garis ajaran ini tersebar luas dan berpengaruh di masa lalu dan tetap penting sampai kini di wilayah Maharaśtra.

Jejak Saṃpradāya dalam Perjumpaan Nusantara

Banyak temuan lontar-lontar Rsi Gana terwariskan di Nusantara, kini disimpan dalam kekhususan tradisi Bhujangga Sangguru yang mewarisi sistem puja Rsi Gana yang secara spesifik, tergabung dalam kompilasi sistem puja Wesnawa-Śaiwa di Bali yang khas mungkin hanya ada dalam tradisi Jawa Kuno dan Bali, tidak ditemukan di bagian manapun di India, kemungkinan telah punah, atau memang sebagai koalisi-pembuahan bijak kepanditaan Nusantara yang lebih memilih berjumpa daripada berpisah. Ada lagi Petra Puja yang khas sebagai bagian dari Garuda Purana yang terwariskan di Bali, viṣṇupūjā atau visnuapañjara berbaur dengan śivapūjā, aṣṭākṣara, mantra japa dvādaśākṣara, semua terdamaikan dalam kompilasi yang terikat setara dan masing-masing punya tempat khusus dan keistimewaan. Sistem kepanditaan kuno Nusantara yang tercermin di tanah Sunda, Jawa dan Bali, lebih memilih menyatukan niat baik, dari pada berpisah karena selisih.

Perjumpaan semua saṃpradāya kuno yang sempat menjadi garis pewarisan tradisi Weda yang berkembang dari arus ke India Selatan dan ke Asia Tenggara, atau lewat jalur Nepal dan Asia Tenggara, semuanya berujung manis di titik terjauh karena di perjalan yang panjang yang ditempuh semua ego-sentris telah pupus diterpa angin laut dan buih ombak yang menguji keimanan para pandita, telah melalui pulau dan pegunungan hijau yang menenangkan, sampai akhirnya semua ego-sentris saṃpradāya luluh berjumpa saripatinya. Semuanya dalam panjang perjalanan laut dan perjalanan panjang sejarah, tertinggal sarinya, bunga-bunga dan buah baiknya yang unggul, yang jumpa dalam damai esensi vedic yang menjernihkan, menghilangkan semua kulit perbedaan, temu dalam kemurnian tujuan batiniah yang tidak lagi rajas dan tamas, tapi satwam dan satwam, lalu satyam dan sundaram menjadi ujungnya terwariskan dalam kompilasi tidak terpisah Śiwa, Waisnawa, Ganapati, Saura, Śakta, Śrauta, advaita dan dvaita, semuanya manunggal dalam sang-hyang-suci yang tinggal ruh agung tersucinya.

Sebagai “perantau” mereka berdamai. Dimana ada “rantau” yang jauh di tanah seberang yang tidak mungkin pulang saling sikut? Di titik temu “para rantau” berjumpa dengan tangan terbuka anak-anak bumi Nusantara yang santun dan sahaja, semuanya berpelukan, melupakan mana rantau mana pribumi, dari titik itulah berangkat “kita Nusantara” membangun peradaban bersama yang berlapang hati, berpikir baik dan jernih saling menguatkan.

Pada titik itu kebudayaan Nusantara adalah ujung perjalanan yang diimpikan, berjumpa dengan tanah yang subur. Berjumpa dan bertumbuh. Satu menyediakan benih, satu menyediakan ladang suburnya.[T]

*Catatan ini adalah jawaban tertulis atas sebuah pertanyaan yang disampaikan salah satu peserta Rapat Koordinasi Pejabat Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dengan Tokoh-Tokoh Umat Hindu, Senin, 22 Februari 2021, Hotel Grand Mercure, Jakarta. Beberapa pertanyaan peserta tidak terjawab tuntas karena hambatan teknis daring. Penulis (Sugi Lanus) diundang sebagai narasumber dan menyampaikan hasil presentasi berjudul: Perjumpaan India Kuno & Nusantara: Sebuah Kilas Balik Pertalian Religi Pre-Modern India & Religi Nusantara.

Tags: balihinduNusantarasampradaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Alangkah Sulitnya Menghapus Stigma

Next Post

Kupetik Puisi di Langit | Buku Puisi dari SMAK Harapan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Kupetik Puisi di Langit | Buku Puisi dari SMAK Harapan

Kupetik Puisi di Langit | Buku Puisi dari SMAK Harapan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co