14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saṃpradāya Kuno Sampaikah ke Nusantara?*

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 4, 2021
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

— Catatan Harian Sugi Lanus, 4 Maret 2021

Untuk memahami sejarah Hindu secara lebih utuh sebaiknya tidak lupa membaca sejarah saṃpradāya di masa silam.

Kenapa? Beberapa saṃpradāya kuno menduduki tempat penting dalam sejarah Hindu kuno di masa pre-modern India dan Asia Tenggara.

1. Apa itu saṃpradāya?

Saṃpradāya सम्प्रदाय adalah ‘tradisi’, ‘garis silsilah spiritual’, ‘sekte’ atau ‘sistem religius’. Sampradāya berkaitan dengan tampuh pergantian para guru ke murid, yang menjadi garis silsilah perguruan yang disaluran lewat inisiasi spiritual. Artinya ada “pelantikan sakral” yang umum dikenal sebagai dīkśa dan masing-masing saṃpradāya punya kekhasan ritual dīkśa-nya.

Saṃpradāya bentuknya berupa praktik ritual, pembentukan pandangan dan sikap, diwariskan-diajarkan-ditularkan-ditransmisikan ke pengikutnya lewat inisiasi anggota, yang memberikan pedoman yang kadang sangat ketat, yang bahkan bisa bertentangan dengan tradisi dimana para anggotanya dilahirkan atau dibesarkan.

Silsilah perguruan tertentu (saṃpradāya) ini tidak sama dengan soroh atau kawitan, yang berjalan turun-temurun. Saṃpradāya memiliki dīkśa (inisiasi suci) ke dalam parampara seorang guru yang hidup, para guru yang masih hidup yang menjadi pewaris dari guru sebelumnya ini yang disebut sebagai guru saṃpradāya yang menginisiasi pengikut-pengikutnya yang baru. Dalam sampradaya seseorang tidak dapat menjadi anggota sejak lahir, seperti halnya dengan gotra, kawitan, pamaksan, bukan bersifat turun-temurun, tapi lewat inisiasi dīkśa masuk ke dalam parampara guru yang masih hidup.

Setelah masuk keanggotaan saṃpradāya seseorang tidak hanya diberikan “tingkat otoritas” pada klaim seseorang atas “kebenaran” dalam konteks tradisional Hindu, tetapi juga memungkinkan seseorang untuk membuat klaim bahwa ia punya posisi otoritas untuk mengajarkan dan merumuskan “kebenaran” karena telah masuk silsilah ajaran.

2. Bagaimana penjelasan Padma Purāṇa tentang saṃpradāya?

Padma Purāṇa umumnya dijadikan acuan oleh komunitas saṃpradāya berpaham Waisnawa, merupakan  salah satu dari delapan belas Purāṇa utama, menyebutkan: “Ada empat Waisnawa sampradāya yang memelihara mantra-mantra yang bermanfaat”. Dalam kitab ini disebutkan: “Semua mantra yang telah diberikan (kepada siswa) bukan lewat saṃpradāya yang resmi tidak akan membuahkan hasil. Oleh karena itu, di Kali Yuga ini, akan ada empat saṃpradāya yang bonafid atau punya otoritas”.

sampradāyavihīnā ye mantrāste niṣphalā matāḥ|

ataḥ kalau bhaviśyanti catvāraḥ sampradāyinaḥ||

Śrī-brahmā-rudra-sanakā vaiṣṇavā kṣitipāvanāḥ|

catvāraste kalau bhāvya hyutkale puruṣottamāt||

rāmānujaṃ śrī svicakre madhvācaryaṃ caturmukhaḥ|

śrīviṣṇusvāminaṃ rudro nimbādityaṃ catuḥsanāḥ||

Terjemahannya:

Semua mantra yang telah diberikan kepada para siswa bukan melalui saṃpradāya resmi tidak akan membuahkan hasil. Oleh karena itu, di Kali Yuga, akan ada empat saṃpradāya yang bonafid. Saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Śrī Devī dan dikenal sebagai Śrī Sampradāya, saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Dewa Brahmā dan dikenal sebagai Brahmā Sampradāya, saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Lord Rudra dan dikenal sebagai Rudra Sampradāya; dan saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Catur Kumara dan dikenal sebagai Sanakādi Sampradāya. Śrī Devī menjadikan Rāmānujācārya sebagai kepala dari silsilah itu. Demikian pula Dewa Brahmā menunjuk Madhvācārya, Sri Rudra menunjuk Viṣṇusvāmī dan keempat Kumara memilih Nimbāditya (sebutan untuk Śrī Nimbārkācārya).

Jika diuraikan lebih lanjut gambaran umumnya seperti ini:

(a) Sri Saṃpradāya atau Rāmānuja Saṃpradāya

— Pujaan Utama: Śrī Devī (Laksmi) terkait dengan Viṣṇu.

— Acharya: Ramanujacharya      

— Garis Pemikiran/Ajaran: Melukote, Srirangam, Vanamamalai, Tirukkurungudi, Kanchipuram, Ahobila, Parakala

— Sampradaya terkait: Ramanandi Sampradaya

(b) Brahma Saṃpradāya atau Madhva Saṃpradāya

— Pujaan Utama: Tradisi kuno memuliakan Dewa Brahma, namun berkembang menjadi Viśnu (Narayana)/ Kriśna/ Rama/ Vithoba.

— Acharya: Madhvacharya

— Garis Pemikiran/Ajaran: Sri Kriśna Matha, Madhva Mathas, Gaudiya Math, ISKCON

— Sampradaya terkait: Vaiśnavisme Gaudiya

(c) Rudra Saṃpradāya

— Pujaan Utama: Rudra, berkembang ke pemujaan Viśnu dan Kriśna serta para awatara Viṣṇu.

— Acharya: Viṣṇusvāmī / Vallabhacharya

— Garis Pemikiran/Ajaran: –

— Sampradaya terkait: Garis Puśtimarga

(d) Kumara Saṃpradāya

— Dewa Utama: Catur Kumāra, berkembang menjadi Radha-Kriśna

— Acharya: Nimbarka

— Garis Pemikiran/Ajaran: Kathia Baba ka Sthaan, Nimbarkacharya Peeth, Ukhra Mahanta Asthal, Howrah Nimbarka Aśram

— Saṃpradāya terkait: –

Pembagian di atas bersifat gambaran umum saṃpradāya jika merujuk pada kitab Padma Purāṇa.

Mereka percaya bahwa kita masuk dalam era Kaliyuga dan selama Kali yuga akan muncul saṃpradāya-saṃpradāya yang bertugas memurnikan dan menyucikan kembali seluruh bumi. Saṃpradāya-saṃpradāya bekerja untuk menyucikan dunia dan membawa kembali dunia ke periode emas kemanusiaan.

Silsilah Kesadaran Kriśna (ISKCON) menarik garis silsilah dari garis silsilah Sri Brahma-Madhva-Gaudiya Sampradaya yang didirikan oleh Sri Chaitanya Mahaprabhu, yang kemudiaan berkembang menjadi International Society for Kriśna Consciousness (ISKCON) (ISKCON), kalau dicermati pemaparan Padma Purāṇa maka masuk saṃpradāya di bawah garis silsilah Brahma Saṃpradāya atau Madhva Saṃpradāya.

Ada berbagai sampradāya juga muncul dari empat garis silsilah saṃpradāya di atas, yang sangat berbeda dari ISKCON. Seperti Swaminarayan Saṃpradāya, yaitu saṃpradāya Hindu yang didirikan pada tahun 1801 oleh Swaminarayan (3 April 1781 – 1 Juni 1830), juga dikenal sebagai Sahajanand Swami, seorang seorang yogi dan pertapa yang kehidupan dan ajarannya membawa kebangkitan praktik sentral Hindu dharma, ahimsa dan brahmacarya. Sahajanand Swami diyakini oleh para pengikutnya sebagai reikarnasi Tuhan.

3. Saṃpradāya beraliran Śaiwa (Śiwaistik) yang utama

Ada tiga saṃpradāya beraliran Śaiwa utama yang dikenal sebagai “Kailasa Parampara” (Silsilah Kailaś ):

(a) Nandinatha Saṃpradāya

(b) Adinath Saṃpradāya

(c) Meykanda Saṃpradāya.

Nandinatha Saṃpradāya bisa dijejaki jejak awalnya setidaknya mulai 200 Sebelum Masehi. Pendiri sekaligus guru spiritual pertama yang diketahui adalah Maha Riśi Nandinatha, yang dikatakan telah menginisiasi 8 murid utamanya: Sanatkumara, Sanakara, Sanadanara, Sananthanara, Śivayogamuni, Patanjali, Vyaghrapada, dan Tirumulara, dan megutus mereka ke berbagai tempat belahan dunia untuk menyebarkan ajaran Śaiwaisme non-dualistik (advaita) ke seluruh dunia.

Dalam ajaran filsafat Śaiva Siddhanta di Tamil dikenal sebagai garis keturunan dari ajaran Sanatkumara, salah satu Kumara. Garisnya sebagai berikut: Sanatkumara lalu ke Satyanjana Darśini, bersambung ke Paranjyoti riśi yang memberikan garis silsilahnya pada Meykandar.

Ada pula Daśanami Saṃpradāya merupakan tradisi Hindu yang menekankan tradisi monastik dari Sannyasin ēkadaṇḍi umumnya terkait dengan tradisi Advaita Vedanta. Para pewaris tradisi ini — Ekadandis atau Dasanāmis — telah mendirikan pertapaan dan pemujaan di India dan Nepal pada zaman kuno. Setelah kemunduran agama Buddha, satu bagian Ekadani diorganisir oleh Adi Śankara pada abad ke-8, ini terkait dengan empat maṭha atau aliran pemikiran yang berjasa menyediakan pondasi pemikiran bagi pertumbuhan agama Hindu ke tahap lebih lanjut.

Para Dasanāmis terkait erat dengan tradisi Smartha yang sejalan dengan Advaita Vedānta, walaupun tidak mencakup semuanya. Salah satu contohnya adalah tradisi Yoga Kriyā yang menganggap dirinya eklektik dengan kepercayaan kuno yang tidak dapat diubah, dan di luar lingkup perbedaan dalam pemahaman Vedanta. Ekadaṇḍi sannyāsa tidak semuanya bertumbuh dalam kendali maṭha pergurauan Śankara. Banyak bagian Dasanāmis atau Ēkadaṇḍi juga didirikan, berafiliasi dengan maṭha, ashram, dan pusat pemujaan di luar kendali maṭha Śankara. Namun demikian, kesemuanya berada di bawah payung tradisi Advaita Sampradāya.

Advaita Sampradāya bukanlah sekte Śaiva, meskipun ada hubungan historis dengan Śaivisme sangat kental: Advaitin (penganut advaita vedanta) adalah non-sektarian, dan mereka menganjurkan pemujaan Šiva dan Viśnu sama dengan dewa-dewi Hindu lainnya, seperti Sakti, Ganapati dan lain-lain.

Sekalipun dalam perkembangannya pemikiran Śankaracarya memang secara historis  memiliki pengaruh lebih besar di dalam komunitas Śaiva daripada di komunitas garis silsilah Vaisnava. Pengaruh terbesar dari para guru tradisi Advaita adalah di antara pengikut tradisi Smartha, yang mengintegrasikan ritual Veda domestik dengan aspek devosional Hinduisme.

Bhagavad Gita yang diterjemahkan dari teks Sanskrit dan diberi komentar oleh Śankaracarya, adalah komentar tersohor dan paling awal dari Bhagavad Gita. Komentar dan interpretasi Śankaracarya terhadap teks Gita menjadi rujukan yang sangat penting melihat Gita dari sudut advaita vedanta, telah turun-temurun selama berabad-abad sebagai teks otentik dan komentarnya ini telah terbukti menjadi nilai yang sangat penting sejak saat itu dan sampai kini dalam kesusastraan atau kefisafatan India. Terjemahan dan komentar Śankaracarya dianggap sebagai dasar utama dari banyak filosofi Hindu termasuk Vedanta.

Keterkenalan Bhagavad Gita sekarang tidak terpisahkan dari komentar dan terjemahan Śankaracarya, sang pematik lahirnya Daśanami Saṃpradāya.

4. Saṃpradāya Purva-Mimamsa, Śakta, Saura dan Gana.

Saṃpradāya Śrauta sangat langka di India, yang paling terkenal adalah Brahmana Nambudiri dari Kerala yang ultra-ortodoks. Mereka mengikuti Purva-Mimamsa (bagian awal dari Veda) berbeda dengan Vedanta yang diikuti oleh Brahmana lainnya. Mereka menempatkan pentingnya kinerja Kurban Weda (Yajna). Brahmana Nambudiri terkenal dengan pelestarian Somayaagam kuno, ritual Agnicayana yang telah lenyap di bagian lain India.

Tersisa Śakta Saṃpradāya dalam 2 pilah, yaitu:

(a). Kalikula ada di Bengal, Assam, Nepal & Odiśa. Pujaan utamanya adalah Dewi Kali.

(b). Srikula menyebar di Tamil Nadu, Andhra , Telangana, Karnataka, Kerala & Sri Lanka. Pujaan utamanya adalah Lalita Devi atau Sri Devi.

Dari tradisi Srikula dalam Śaktisme, adalah Tripura Sundari yang paling utama dari Mahavidya, aspek tertinggi dari Dewi Adi Paraśakti. Tripura Upaniśad menempatkannya sebagai Śakti (energi, kekuatan) tertinggi di alam semesta, yang digambarkan sebagai kesadaran tertinggi, lebih atas dari Brahma, Wisnu, Rudra dan Iśwara.  Tripurasundari dikisahkan duduk di pangkuan Sadaśiva dalam wujudnya sebagai Kāmeśvara, “Penguasa Keinginan”. Dia juga dewi utama yang terkait dengan tradisi Tantra Śakta yang dikenal sebagai Sri Vidya. Apakah ini yang menjiwai pemujaan Dewi Sri di Nusantara?

Terdapat juga garis silsilah pemuja Surya atau Saura adalah pengikut Hindu yang jejaknya bisa dilihat awal mulanya sangat awal dalam tradisi Weda, dan memuliakan keagungan Surya sebagai bentuk utama dari Saguna Brahman. Sejarah tradisi Saura telah dijejaki oleh para peneliti mempunyai pengaruh yang berpengaruh luas dan mendalam di Asia Selatan, terutama di barat, utara, dan wilayah lainnya, dengan banyak pemujaan Surya yang dibangun antara 800 dan 1000 Masehi. Salah satunya Kuil Konark dibangun pada pertengahan abad ke-13. Tradisi Hinduisme pemuliaan Surya disebutkan mulai menurun pada sekitar abad ke-12 dan ke-13 M. Saat ini disebutkan masih ada tetap menjadi gerakan sangat kecil di berbagai wilayah tersebut. Sementara itu yang masih kuat pemujaan Surya tetap menjadi praktik dominan di Bihar-Jharkhand dan Uttar Pradesh Timur dalam bentuk Chhath Puja yang dianggap sebagai festival utama yang sangat penting di wilayah ini. Di Bali ditemukan lontar Puja Bwat Sora yang merupakan manual khusus pemujaan Surya yang diwariskan dalam silsilah keluarga Bhujangga di Bali, ini semacam Argapatra dalam versi yang kemungkinan lebih kuno.

Pemujaan Ganapati masuk dalam saṃpradāya yang sangat kuno walaupun baur dengan pemujaan Śiwaisme lainnya, namun terdapat tradisi kuno di mana Dewa Ganeśa dipuja sebagai bentuk utama dari Saguna Brahman. Garis ajaran ini tersebar luas dan berpengaruh di masa lalu dan tetap penting sampai kini di wilayah Maharaśtra.

Jejak Saṃpradāya dalam Perjumpaan Nusantara

Banyak temuan lontar-lontar Rsi Gana terwariskan di Nusantara, kini disimpan dalam kekhususan tradisi Bhujangga Sangguru yang mewarisi sistem puja Rsi Gana yang secara spesifik, tergabung dalam kompilasi sistem puja Wesnawa-Śaiwa di Bali yang khas mungkin hanya ada dalam tradisi Jawa Kuno dan Bali, tidak ditemukan di bagian manapun di India, kemungkinan telah punah, atau memang sebagai koalisi-pembuahan bijak kepanditaan Nusantara yang lebih memilih berjumpa daripada berpisah. Ada lagi Petra Puja yang khas sebagai bagian dari Garuda Purana yang terwariskan di Bali, viṣṇupūjā atau visnuapañjara berbaur dengan śivapūjā, aṣṭākṣara, mantra japa dvādaśākṣara, semua terdamaikan dalam kompilasi yang terikat setara dan masing-masing punya tempat khusus dan keistimewaan. Sistem kepanditaan kuno Nusantara yang tercermin di tanah Sunda, Jawa dan Bali, lebih memilih menyatukan niat baik, dari pada berpisah karena selisih.

Perjumpaan semua saṃpradāya kuno yang sempat menjadi garis pewarisan tradisi Weda yang berkembang dari arus ke India Selatan dan ke Asia Tenggara, atau lewat jalur Nepal dan Asia Tenggara, semuanya berujung manis di titik terjauh karena di perjalan yang panjang yang ditempuh semua ego-sentris telah pupus diterpa angin laut dan buih ombak yang menguji keimanan para pandita, telah melalui pulau dan pegunungan hijau yang menenangkan, sampai akhirnya semua ego-sentris saṃpradāya luluh berjumpa saripatinya. Semuanya dalam panjang perjalanan laut dan perjalanan panjang sejarah, tertinggal sarinya, bunga-bunga dan buah baiknya yang unggul, yang jumpa dalam damai esensi vedic yang menjernihkan, menghilangkan semua kulit perbedaan, temu dalam kemurnian tujuan batiniah yang tidak lagi rajas dan tamas, tapi satwam dan satwam, lalu satyam dan sundaram menjadi ujungnya terwariskan dalam kompilasi tidak terpisah Śiwa, Waisnawa, Ganapati, Saura, Śakta, Śrauta, advaita dan dvaita, semuanya manunggal dalam sang-hyang-suci yang tinggal ruh agung tersucinya.

Sebagai “perantau” mereka berdamai. Dimana ada “rantau” yang jauh di tanah seberang yang tidak mungkin pulang saling sikut? Di titik temu “para rantau” berjumpa dengan tangan terbuka anak-anak bumi Nusantara yang santun dan sahaja, semuanya berpelukan, melupakan mana rantau mana pribumi, dari titik itulah berangkat “kita Nusantara” membangun peradaban bersama yang berlapang hati, berpikir baik dan jernih saling menguatkan.

Pada titik itu kebudayaan Nusantara adalah ujung perjalanan yang diimpikan, berjumpa dengan tanah yang subur. Berjumpa dan bertumbuh. Satu menyediakan benih, satu menyediakan ladang suburnya.[T]

*Catatan ini adalah jawaban tertulis atas sebuah pertanyaan yang disampaikan salah satu peserta Rapat Koordinasi Pejabat Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dengan Tokoh-Tokoh Umat Hindu, Senin, 22 Februari 2021, Hotel Grand Mercure, Jakarta. Beberapa pertanyaan peserta tidak terjawab tuntas karena hambatan teknis daring. Penulis (Sugi Lanus) diundang sebagai narasumber dan menyampaikan hasil presentasi berjudul: Perjumpaan India Kuno & Nusantara: Sebuah Kilas Balik Pertalian Religi Pre-Modern India & Religi Nusantara.

Tags: balihinduNusantarasampradaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Alangkah Sulitnya Menghapus Stigma

Next Post

Kupetik Puisi di Langit | Buku Puisi dari SMAK Harapan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Kupetik Puisi di Langit | Buku Puisi dari SMAK Harapan

Kupetik Puisi di Langit | Buku Puisi dari SMAK Harapan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co