22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lagi Belajar di Kelas

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 1, 2021
in Esai
Lagi Belajar di Kelas

Jong Santiasa Putra

Teeeeeet…teeeeeet….teeeeeet……teeeeeeet……teeeeeeet …..

(maaf pembaca, sekiranya beginilah bunyi bel sekolah saya dulu)

Bel berbunyi, tanda kami semua harus masuk kelas. Kami memilih tempat duduk kesukaan, saya tentu saja dekat jendela agar bisa melihat hal-hal yang terjadi di luar. Suma duduk di pojok belakang, dia suka mencatat tapi tidak suka berhadapan dengan guru, lain dengan Dedek Surya, yang paling rajin di antara kami, duduk di depan, tepat berhadapan dengan meja guru.

Iin dan Devy satu bangku (harus satu bangku) sebab mereka berdualah yang sering mengurus kami, jika sedang menjalankan suatu peristiwa produksi, mereka berdekatan agar mudah diskusi. Jecko masih sendiri memainkan tangannya di atas meja, sambil menunggu Agus yang kita tahu semua, pasti ketiduran dan lupa bangun pagi. Agus suka tidur mendekati pagi. Aguk sedang duduk sambil memainkan gadgetnya, nyecrolin jualan sepatu yang lagi diskon di awal tahun, dan Manik sedang asik di depan laptop, belajar teknik editing termuktahir zaman ini.

Guru itu masuk kelas

“Selamat pagi, apakah pagi selalu mendahului, sebelum kopi itu kami hidangkan?” kami bersembilan mengucapkan salam, sembari menunjuk segelas kopi di meja guru yang tengah mengepulkan asap.

“Terimakasih, ini buatan siapa?” tanya Guru itu

“Saya!” Manik angkat tangan

“Waaaah, kopi hitam tanpa gula, dicampur waktu yang bersembunyi di balik daun dadap ya, Nik?”

“Kira kira begitu, Guru!”

Seseorang masuk kelas, tergesa-gesa, sambil meminta maaf kepada Guru itu. Ia menjelaskan keterlambatannya karena mampir ke Dapur Prima, membeli kado untuk pacarnya. Di tangannya ia membawa bungkusan warna-warni, dari tempat ku duduk tampak kado itu dihiasi sepucuk bunga berwarna merah di bagian atasnya.

Yup, itu Agus.

“Aiiiiih Gus, masih saja kau itu membeli kado, realistis sedikitlah, itu hanya kesenangan yang tercecer di jalan-jalan lalu pulang terlupakan,” kata Suma setengah berteriak di bangku belakang, sembari mengorat-ngoret catatan di buku saku kesayangannya.

Kemudian Guru itu memulai pelajarannya, Biologi. Mengenai macam-macam bunga yang tumbuh di halaman sekolah, daun-daun yang bisa digunakan sebagai obat, serta tentang bagaimana tumbuhan hidup dan mempertahankan dirinya di alam liar. Guru itu panjang lebar menjelaskan bagaimana manusia sejatinya memiliki ego yang tinggi dalam mendomestifikasikan binatang dan tumbuhan.

Sebut saja Monstera yang belakangan ini ngetop di kalangan anak muda kita, akibat Pandemi, jenis tanaman ini menjadi primadona sebagai hobi yang cukup mahal. Monstera yang awalnya hidup di hutan, lalu karena keinginan manusia agar tumbuhan itu ada di rumahnya, di bawa pulang lah, lalu dikembangbiakan, bahkan disilangkan melalui berbagai eksperimen.

“Guru, saya ini hendak belajar teater, apa hubungannya dengan biologi, tidak ada gunanya menghafal nama bunga di halaman sekolah, belajar tubuh Butoh saja lah,” hardik Aguk ketika Guru itu sedang menjelaskan di depan kelas.

“Kau itu terlalu mengecilkan proyeksi Teater Guk, teater yang kau amini itu perlu dipertanyakan ulang, perlu digali lebih dalam,” sahut Suma dengan logat sok-sok bergaya teater.

“Iyaaaa Guuuuuuuuuuk, kitaaaa beluuuuuum sampai di manaaaa-manaaaa, jangan jumawaaaaaaaa, bulaaaan masiiiiiiiih jauh, guuuuuk,“ kata Agus yang beberapa waktu lalu usai menonton The Science of Fiction garapan Mas Yosep Anggi Noen

Sementara itu terlihat Jecko sudang menggambar daun Monstera di dinding kelas, dengan cat berwarna hitam, dengan ornamen sulur-sulur memanjang,, di antara belahan daun monstera. Ornamen khasnya itu menembus jendela, kemudian menggeliat ke dinding lainnya, secara beraturan namun tampak acak, gambar itu menjelma seorang lelaki yang menari di atas daun Monstera.

“Di daun ini, coba kamu perhatikan banyak sekali gurat-gurat yang menuju satu hilir. Guratan ini kemungkinan besar bisa kubentuk jadi partitur tubuhku saat menari, aku hendak menyimpan memori guratan itu ke dalam otot-otot tubuhku,” kata Jecko sembari menari patah-patah di atas meja.

“Kak Jecko, bisakah gerakan tubuhmu itu, aku rekam. Aku ingin mencatat kecenderungannya, lalu mengkatalogisasinya menjadi satuan ukuran dalam bangunan panggung yang ingin aku buat” kata Dedek yang ternyata dari tadi memperhatikan gerakan Jecko dengan seksama, sembari mencatata kemungkinan ruang yang bisa ia wujudkan.

Menuju 5 tahun saya belajar di Teater Kalangan, merupakan suatu pencapaian yang cukup mengejutkan. jika diibaratkan Teater Kalangan adalah suatu ilmu, kami sedang menyusun kurikulum, sampai saat ini pun belum ketemu bagaimana cara menyampaikannya secara lugas dan sistematis, sebab ilmu ini  sedang kami raba-raba bersama dengan berbagai cara pandang yang kami amini. Jika diibaratkan Teater Kalangan adalah sebuah warung kami sedang sibuk di dapur, memilih bahan premium, memilih alat-alat yang ideal, menata letak kompor, piring, dan lain sebagainya agar kerja kami ergonomis dan efisien.

Kami juga sedang bertengkar menyusun menu, serta bagaimana cara menyajikannya ke pelanggan. Pengibaratan yang saya katakan bukan berarti semua anggota Kalangan adalah orang yang baru belajar, sekali lagi bukan. Justru kawan-kawan saya ini sudah memiliki pisaunya masing-masing dalam estetikanya berkesenian. Maka dari itu susah sekali menyatukan pisau ini, eh atau jangan-jangan tidak perlu di satukan  ya ?.

“Guru, lalu bagaimana misalnya jika suatu tumbuhan tidak mampu beradaptasi, apa yang terjadi?” tanya Iin yang sedari tadi asik mencatat apa yang dikatakan Guru itu.

Guru itu menjelaskan bahwa tumbuhan itu sama saja dengan tubuh kita, yang sedang memakai pakaian. Pakaian itu ialah ruang tumbuh si tumbuhan, jika tubuh tumbuh maka pakaian yang digunakan harus sesuai dengan ruang gerak  tumbuhan itu.  Maka dari itu pakaian haruslah menyesuaikan bila perlu memiliki berbagai kemungkinan  yang tidak bisa ditebak, atau pakaian itu mempunyai support sistem yang bagus, dengan segala juangnya untuk menjaga tubuh agar tetap tumbuh dengan leluasa. Namun jika pakaian tidak mendukung, lingkungan yang tidak selaras dengan apa yang diperlukan tumbuhan, Maka tumbuhan akan mati, depresi.

“Lalu berapa biaya yang dibutuhkan untuk membuat baju yang serba siaga itu,” kata Devy yang sudah mulai menghitung biaya gono-gininya

Jika diibaratkan Teater Kalangan sebagai sebuah ruang, seperti baju itu, kami tengah berinvestasi jor-joran untuk menciptakan ruangan yang baik, bagi masa tumbuh yang menjanjikan. Investasi tenaga, waktu, uang dan juga segala upaya yang melingkupinya. Ruangan yang saya maksud bukan ruangan imajiner ya, melainkan sistem yang berjalan agar segala komponen dalam ruang itu terjaga ketahanannya. 

Berangkat dari premis itu, kami pun sepakat untuk membangun nyata ruang yang kami inginkan itu, salah satunya membentuk badan usaha jualan. Sebab roda produksi tidak akan bergerak jika aliran dana masih bergantung pada pihak ketiga, Tahun 2021 ini kami menatap teater sebagai dunia nyata, dunia yang bisa menghidupi kami secara  batin maupun lahiriah

Tidak dinyana Manik sudah menyodorkan desain baju Teater Kalangan, untuk dijual secara massive kepada publik.  Ia presentasi ke depan kelas menggantikan Guru itu.

“Ini logo kalangan dengan sebuah pohon yang tumbuh, desain ini berdasarkan interpretasiku terhadap pelajarannya Guru itu. Betul juga, kita semua ini pohon-pohon kecil yang ingin tumbuh berlebih, tapi semua butuh waktu, butuh ruang sendiri yang mapan, kita mulai dengan jualan baju ini ya” kata Manik menggebu.

“Kuang warnain dik don ne, Nik, jang di pinggir desain ne, logone kuang gede,” komentar Suma

“Siaaaaaaaap, Kak Maniiiiik,” kata Aguk sambil mengacungkan jempol berkali-kali.

“Inilaaaaah Manik, penyaiiiiir kitaa,” kata Agus.

“Aku ngikut aja, bagus!” kata Jecko

“Nanti dicetak di stella aja, Nik, pasti dapet diskon,” saran Devy

“Sistem ordernya aku yang urus,” ujar Iin

“Oooo gitu, kerjaanku apa dong,” sergah Dedek

Kira-kira begitulah kami bersembilan belajar dalam kurun waktu yang tidak ditentukan, ya namanya juga kelas, pasti ada yang naik kelas, ketinggalan kelas,  pindah kelas, dispen dan lain sebagainya. itu wajar

Pada 2021 yang kita harapkan baik-baik saja ini, tidak ada resolusi yang tercatat di desktop, tidak ada juga note-note muluk  kinerja untuk ke depan, yang ada adalah kerja nyata, kerja dalam batasan realitas. Teater bukan lagi semacam hobi yang bisa ditinggalkan jika masanya usai, lalu dimainkan lagi ketika musimnya datang. Bukan hobi melayangan yang muncul karena perhitungan musim angin. Teaterlah yang menggerakkan musim. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ekologisme Batur | Kenakalan Berpikir Jero Penyarikan Duuran Batur

Next Post

Bulan Bahasa Bali | Sebulan Prasara 89 Karya Prasi

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Bahasa Bali | Sebulan Prasara 89 Karya  Prasi

Bulan Bahasa Bali | Sebulan Prasara 89 Karya Prasi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co