6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Beda-Beda Proses Menciptakan Puisi || Catatan Workshop Siar-Siur Kalangan

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
December 15, 2020
in Khas
Beda-Beda Proses Menciptakan Puisi || Catatan Workshop Siar-Siur Kalangan

Jong menyampaikan proses menulis puisi dalam workshop puisi Siar Siur Kalangan

Teater Kalangan memiliki program baru pada penghujung tahun 2020 ini, “Siar-Siur Kalangan, Olah Sastra Oleh Musisi” begitu judul program kami di Teater Kalangan sebelum berakhirnya tahun 2020 ini. Kami dari Teater Kalangan mencoba untuk sekiranya memperluas dan mempererat jaringan kami dalam pergaulan kesenian di Denpasar. Mencoba mengingat kembali pada siapa saja kami sering berhubungan sekaligus melakukan ulang-alik gagasan.

Kami mencoba menjembatani beberapa pelaku kreatif di Denpasar khususnya teman-teman yang sering bergerak di bidang musik. Kami mencoba mengajak teman-teman untuk berkolaborasi atau merespown beberapa karya sastra dari kawan Teater Kalangan yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku. Di antaranya ada dua buku cerpen dan dua buku puisi.

Ada buku puisi dari Jong Santiasa Putra berjudul, “Seandainya Kata-Kata Pecah di Keningmu.” Ada buku puisi juga dari Manik Sukadana berjudul, “Nanti, Kau Ingin Nama Anak Kita Siapa?” Dan dua buku cerpen kawan Kalangan Devy Gita dengan judul, “Elang Yang Terbang di Hari Senin.” Dan Agus Wiratama dengan judul, “Kado Kematian untuk Pacarmu.”

Kawan-kawan Teater Kalangan mencoba untuk mengajak beberapa teman-teman di luar Kalangan yang bergerak dalam bidang musik untuk merespown beberapa karya tersebut menjadi bentuk apapun entah itu dikatakan menjadi musikalisasi puisi atau musikalisasi cerpen ataupun tidak masuk dalam kedua kategori tersebut itu bebas saja. Yang coba kami lakukan hanya untuk mempererat antar jaringan antara kawan dari Teater Kalangan dengan kawan di luar Teater Kalangan dengan media karya sastra tadi.

Adapun bentuk respown dari karya tersebut nantinya akan diupload dan diunggah di chanel you tube Teater Kalangan. Kegiatan tersebut sudah berlangsung dari tanggal 5 Desember lalu, dan diawali dengan diskusi sekaligus bedah buku dari keempat penulis. Dan ada beberapa kegiatan juga diantaranya workshop menulis puisi, yang diisi oleh teman Teater Kalangan Manik Sukadana dan Jong Santiasa Putra pada tanggal 12 Desember 2020, kemarin.

Dari dua pembicara workshop itu ada dua metode menarik yang sama-sama bertujuan untuk menciptakan puisi dengan mudah dan tidak membingungkan. Berbicara soal puisi, kita memiliki memori kolektif dalam mengenalnya. Bahwa puisi itu seolah-olah sebuah karya tulis yang berbahasa sangat sulit dimengerti dan berat dipahami. Padahal nyatanya ketika workshop berlangsung dan dari pengalaman kedua penulis, saya menangkap bahwa puisi adalah sebuah karya tulis dan potongan simbol yang diungkap untuk sekiranya menggambarkan sebuah perasaan atau peristiwa yang kadang kala tidak dapat kita gambarkan dengan benar.

Tapi yang jadi pertanyaan juga, bagaimana karya tulis yang bisa disebut dan dikatagorikan sebagai puisi dan tidak? Ketika kita melihat perkembanganya dari era kepenyairan Chairil Anwar hingga hari ini, puisi semacam mengalami pergeseran wacana serta gaya bahasa yang sangat berkembang. Apa benar berkembang atau segitu-segitu saja, memang diperlukan diskusi selalu. Namun yang sangat menjadi perhatian adalah gaya bahasa dalam menentukan karya puisi, sangat membingungkan ketika pada zaman media sosial hari ini banyak kata-kata, atau semacam status yang sering ditulis anak muda di media sosialnya yang berbentuk juga seperti puisi. Walaupun tujuanya hanya semisal curhat tentang kisah cinta atau perjalanan hidupnya. Di sinilah saya rasa bahwa puisi memiliki ruang yang luas dalam pengartianya dan siapapun bisa menulis puisi. Hanya saja yang membedakanya adalah pengalaman tiap orang mengolah gaya bahasa yang digunakan.

Manik Sukadana memiliki proses kreatif yang menarik dia menuliskanya menjadi sebuah rentetan atau kerangka berpikir dalam cara kerjanya dalam menuliskan puisi. Bahwa dia mengatakan selama berproses kepenulisanya dia sangat sadar mengalami perkembangan dalam gaya bahasa menulisnya, tapi tak pernah kehilangan rasa dalam menulisnya. Dia tetap selalu menulis rasa atau sebuah peristiwa yang direspownya menjadi puisi.

Manik juga semacam memiliki rumus dalam cara-cara menulisnya. Yang pertama adalah “Maksud, Misi dan Asa”, “Peristiwa”, “Ingatan dan Indra”, “Emosi”, dan “Bahasa”. Manik mengatakan itu adalah satu cara sederhana menciptakan puisi versi dirinya. Dari rentetan cara yang disusun Manik langkah pertama adalah, “Maksud, Misi dan Asa” yang dimaksud di sini adalah bahwa seorang yang ingin menulis puisi harus paham dulu tujuan dan visi misinya ketika menulis puisi itu untuk apa dan kemana tujuanya.

Saya menangkapnya demikian sederhana, jelas memang dalam melakukan apapun itu setidaknya kita memang harus memiliki tujuan walaupun nanti misalnya itu tercapai atau tidak. Atau setidaknya tujuanya adalah yang paling sederhana ketika selesai menulis puisi membuat kita menjadi lebih tenang, itu bisa jadi langkah untuk memulai.

Lalu kemudian yang kedua adalah kerja “Peristiwa”, peristiwa dapat terjadi kapanpun dan di manapun. Namun menurut pemaparan Manik di sini, ada semacam peristiwa yang kita anggap puitis dalam keseharian. Entah itu peristiwa kesedihan dan kebahagiaan, dan tidak melulu semua peristiwa harus dirasakan dan dialami sendiri oleh penulisnya. Misal jika seorang ingin menulis puisi soal pembunuhan, pemerkosaan atau yang sama sekali belum pernah dirasakanya maka penulis tidak harus menjadi korban atau pelaku tetapi dapat membacanya dari berita, novel ataupun cerpen.

Lalu sampailah pada tahap, “Ingatan dan Indra” yang dimaksud Manik adalah ini tahapan ketika kita sudah menentukan peristiwanya yang ingin ditulis. Disinilah indra perasa kita harus diaktifkan, kalau saya menangkapnya adalah bagaimana yang dimaksud Manik seperti merekam semua gambaran rasa dalam peristiwa tersebut. Bagaimana perasaan penulis ketika berada pada peristiwa itu, suara apa saja yang terdengar, bau ruangan yang seperti apa dan hal lain di luar dirinya. Itu seberusaha mungkin kita harus dapat merekam dan menagkapnya dengan panca indra.

Saya rasa ini semacam ada kesamaan dengan tahapan “Emosi” yang dimaksud Manik, bahwa dalam proses inilah perasaan yang tumpeng tindih itu mulai muncul. Bagaimana membuka peristiwa dan menutup peristiwa itu menggunakan “Ingatan, Indra dan Emosi” kita waktu itu.

Dan setelah itu semua dirasa cukup, lalu sampai pada tahap “Bahasa”. Bahasa di sini memiliki peran yang sangat penting dalam kepenulisan seseorang. Itu dapat dipengaruhi dari pengalaman orang tersebut mengenal kosa kata, entah dari sumber bacaan ataupun hal lainya. Akhirnya pengolahan dan penggodakan rangkaian peristiwa tadi ditentukan oleh pemilihan gaya bahasa dalam mengungkapkan kejadian tersebut. Inilah yang sering dikatakan bahwa puisi itu tergantung bagaimana pengalaman kita membaca dan menulis puisi. Manik mengatakan juga bahwa yang paling susah dilakukan penulis puisi adalah memulai dan intens dalam menulis. Karena Manik percaya juga bahwa hal-hal dalam menggodok bahasa itu akan terlatih dan terbentuk seiring dengan intensitas penulisnya membaca dan menulis puisi.

Dalam menulis puisi Manik juga mengatakan bahwa menulis puisi tidak ada kata selesai, yang ada adalah rasa cukup. Saya menangkapnya seperti kita tidak pernah selesai jika ingin menggambarkan suatu peristiwa, namun di sini lagi-lagi kepekaan penulis diutamakan bahwa harus memiliki kesadaran bahwa tulisan ini sudah cukup. Jika masih merasa kurang mungkin yang harus diperbaiki adalah kegunaan kosa kata dalam mengungkapkan perkalimat.

Peserta worshop puisi Siar-Siur Kalangan

Tapi tidak dengan Jong Santiasa Putra, dia memiliki metode yang menarik dalam kerja-kerja kreatifnya di dalam puisi. Jong mencoba mengeksperimenkan dan menabarakan puisi dengan ilmu disiplin lainya. Misal menabrakan puisi dengan matematika, menabrakan puisi dengan fisika. Jong mencoba menjabarkan rumus-rumus dalam ilmu tersebut untuk berangkat dalam penggambaran peristiwa dan rasa yang ingin ditulisnya. Bagaimana rumus dalam ilmu-ilmu tersebut menjadi semacam pondasi untuk mengulang-alik peristiwa, misalnya yang sangat saya ingat adalah “Kenangan ditambah pertemuan dan dibagi oleh jarak akan menghasilkan apa?”. Begitu Jong menggambarkan yang dia maksud.

Ada juga metode yang menarik bagi saya ketika Jong mengatakan dalam puisi itu harus ada riset dan penulisan data yang nantinya menjadi bahan untuk menulis puisi. ini seperti kerja-kerja Antropologi yang menjadi latar belakangnya Jong. Bahwa dia sangat percaya dalam proses kreatifnya ilmu Antropologi sangat berperan penting dalam penciptaan karya puisi yang dibukukanya. Dan kami mencoba diajak untuk memberi gambaran tentang yang Jong maksudkan.

Dalam proses praktiknya, para peserta workshop dipersilahkan untuk melihat Jong memasak di warung Men Brayut. Jong mengisyaratkan kepada para seluruh peserta harus benar-benar detail menulis apa yang akan Jong lakukan di dapur saat memasak. Entah itu dia sedang memotong bawang, menggoreng sesuatu, situasi ruangan, bunyi ruangan sekitarnya, aroma yang keluar dan lain-lain sebagainya.

Jong mengisyaratkan juga agar para peserta tidak sama sekali bertedensi untuk mengindahkan catatan yang ditulis. Tetapi tulis saja apa yang dilakukan Jong, tidak usah diindahkan. Hingga Jong selesai memasak dan kami mencicipi masakanya, pokoknya apa yang kami lihat dan rasakan dari awal hingga mencicipi masakanya harus ditulis sedemikian rupa menurut kami masing-masing ketika melihatnya memasak.

Lalu setelah selesai Jong menyuruh kami untuk mengumpulkan catatan itu dan selanjutnya kami diajak ke tempat makan yang ada di sebelah warung Men Brayut, yaitu Mie Kober. Siapa sih yang tidak tahu Mie Kober? Terutama di kalangan anak muda. Tugas yang diberikan Jong masih sama, menulis kejadian yang dilihat dan dirasakan ketika baru menyentuh parkiran Mie Kober hingga akan meninggalkan Mie Kober. Dan kami peserta juga dipersilahkan untuk memesan makanan dan minuman yang peserta tidak suka tetapi masih bisa dimakan sekiranya.

Akhirnya kami peserta sibuk sendiri dengan detail kejadian dan ruangan Mie Kober, kami duduk berjauh-jauhan. Ada yang sendiri, berdua dan ada yang beriga saya pikir sekaligus hitung-hitung penerapan social distancing-lah ya?

Kemudian setelah itu setelah memesan makanan saya ke lantai dua melihat-lihat dan memilih kursi yang akan diduduki. Menunggu makanan datang. Lalu makan, dan setelah itu kembali ke warung Men Brayut. Membawa sejumlah catatan tentang kejadian yang saya catat tadi di Mie Kober. Tapi dalam hati saya mulai bertanya-tanya bagaimana kemudian menjadikan dua kejadian yang sudah saya catat tadi ke dalam bentuk puisi.

Jong menjelaskan bahwa yang barusan kami lakukan adalah kerja-kerja antropologi yang biasa Jong lakukan di bidang ilmunya. Bagaimana kita mengumpulkan data dari apa yang kita lihat dan dengar sendiri. Kemudian dari dua catatan itu peserta disuruh untuk melihat kembali dua catatan tersebut. Lalu menulis kembali dari dua catatan tersebut yang mana sekiranya dapat dijadikan bahan kasar dalam bentuk puisi.

Yang saya tangkap misalnya adalah kalimat yang saya tulis waktu itu adalah, “sepasang kekasih yang datang” dan “cermin besar di sudut ruangan”. Itu adalah gambaran ruangan dan suasana yang saya dapatkan ketika mencatatan kejadian di dua tempat tersebut. Itu baru dua kalimat yang saya dapatkan dari sebagian banyak yang saya catat ketika itu. Kami disuruh sebanyak-banyaknya menulis kesimpulan catatan yang sekiranya bisa dijadikan kerangka kasar puisi. Lalu setelah itu lagi-lagi tahap terakhirnya adalah gaya bahasa dan keterampilan kita dalam menyusun,, mengganti, menyusun bahkan mengdekontruksi ulang kalimat tersebut menjadi kalimat yang lebih puitis. Tahap ini menjadi semacam pemoles dan finishing dalam penciptaan puisi menurut Jong.

Kerja-kerja seperti ini menjadi menarik untuk dipelajari dan ditekuni jika ingin menulis puisi, bahwa kerja seperti ini terbukti dapat mempermudah penulisnya dalam penciptaan. Khususnya saya yang ingin belajar menulis pusis. Jong juga mengatakan bahwa seiring intensitas menulis maka penyusunan kata dan kalimatpun perlahan akan terbentuk sesuai dengan karakter menulisnya.

Setelah itu peserta kembali dipersilahkan diskusi dan membicarakan kembali apa saja yang didapat selama melangsungkan workshop tersebut. Banyak peserta bercerita tentang pengalamanya menulis puisi dan sering mengalami kebingungan dalam mengolah apa yang diutarakanya. Dan saya sering juga kebingungan akan hal itu, tapi setelah pertemuan dengan kawan-kawan kemarin metode-metode tersebut bisa menjadi jembatan dan mempermudah proses kreatif kita yang ingin belajar menulis puisi. Dan yang paling berat seperti kata Manik Sukadana adalah, “Menulis saja dulu.”

Ikuti terus kegiatan-kegiatan dalam program Siar-Siur Teater Kalangan, masih ada acara workshop menulis cerpen yang akan diisi oleh Agus Wiratama dan Devy Gita tanggal 19 Desember nanti. Pantau terus kabar kami dari Teater Kalangan. Terimakasih. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hapuskan Stereotype “Rajin” Pada Orang yang Gemar Membaca

Next Post

BEMBENG, DARI SIGAR KE TUKAD BANGKA || Bagian terakhir dari tiga tulisan

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post
BEMBENG, DARI SIGAR KE TUKAD BANGKA || Bagian terakhir dari tiga tulisan

BEMBENG, DARI SIGAR KE TUKAD BANGKA || Bagian terakhir dari tiga tulisan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co