13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengikisan Kedaulatan Pangan

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
November 10, 2020
in Esai
Pengikisan Kedaulatan Pangan

Karya Seni Berjudul Mask oleh Ngurah Bob Trinity Art

Pada tanggal 1 Agustus 2020 di Kulidan Kitchen, diadakan pembukan pameran seni Artwork Showcase Refleksi Pandemi COvid 19 dengan tema kedaulatan pangan. Acara juga diisi oleh Mitra Bali Fair Trade , pegiat  perdagangan adil serta Nostress sebagai band music yang menyuarakan  isu isu keadilan dan lingkungan hidup.

Melangkah ke ruang galeri, terdapat satu karya seni yang benar benar sesuai dengan tema pembukaannya. 

Karya seni  berupa padi di pot dengan latar belakang sawah di bidang kain masker dengan ukuran 150 cm X 90 cm menggambarkan kedaulatan pangan tergerus. Lukisan dibuat dengan tita acrylic. Gambar depan berwarna  berupa padi yang tertanam di pot dan dibelakangnya potret seorang petani yang berada di sawah dengan pepohonan diantara sawah itu yang diwarnai dengan hitam putih. Dengan latar tersebut , sang seniman memperingatkan bahwa sawah di suatu tempat seperti Bali Selatan akan tinggal  sejarah saja. Warna mengkilap padi yang tumbuh di atas pot menunjukkan bahwa padi hanya jadi tanaman pot saja di kawasan itu karena tidak ada tanah luas untuk ditanami. Karya ini menunjukkan suramnya kedaulatan pangan yang akan menimpa.   

Sawah menyimpan potensi yang luar biasa besar. Secara tak langsung keberadaan sawah mewajibkan kita untuk melestarikan hutan karena air yang untuk mengairi berasal dari situ. Tanaman padi menyimpan beragam potensi yang belum maksimal dimanfaatkan. Sebagai contoh jerami padi dapat digunakan untuk media tanam jamur merang. Jerami dapat jadi bahan pembuatan tikar. Sekam padi dimanfaatkan untuk media tanam dan briket untuk memasak. Biota biota sawah yang dianggap hama seperti belalang dan burung pipit perlu diteliti kegunaanya seperti dijadikan santapan atau pakan hewan ternak dan ikan.

Sawah dijadikan vila. Pemborosan air tak terhindarkan. Bali Selatan desicit air karena resapan air menyusut akibat diselimuti beton tanahnya. Wisatawan mancanegara ke Bali untuk menikmati sawah bukan beton. Disini terjadi gejala marjinalisasi petani , nelayan , petambak dan gembala. Coba pikir, orang orang yang berbaju jas berwarna mengkilap dengan dasi dan kenakan sepatu mulus tidak begitu peduli dengan mereka yang baju dan celananya berlumpur dan berdebu tiap hari serta sering jadi korban penggusuran dan permainan. Padahal jika tidak ada orang orang ini tidak ada pangan  kecuali impor.

Telah terjadi keterputusan antara petani dan konsumen. Supermarket dan tengkulak berperan disini sehingga kontribusi petani jadi tidak kelihatan. Sistem pertanian monokultur dengan pestisida dna pupuk kimia membunuh biota tanah sehingga tanah cepat rusak membuat petani terus menerus membeli pupuk. Ketika tidak sanggup lagi, dia jual tanahnya dan beralih mata pencaharian. Buruh tani yang menggarap sawah bukan bagian dari sawah yang mereka garap karena hanya pekerja upahan yang tidak mendapat kebebasan di lahan itu melainkan tunduk pada pemilik lahan . karena itu niatnya untuk menjaga kualitas lahan dan air rendah karena sewaktu waktu buruh tani ini diusir saat tidak dibutuhkan lagi.

Penyebab lain kerawanan ini adalah penguasaan tanah yang timpang dan buruknya pengelolaan air dan tata ruang dimana satu persen orang Indonesia menguasai lebih dari 50% tanah dan tanah pertanian sering kekurangan air karena sistem monokultur boros air dan daerah yang curah hujannya rendah dipaksa menanam tanaman yang butuh banyak air. Selain itu betonisasi tanah untuk pariwisata dan industri memperkecil daya resapan air pada tanah. Banyak tengkulak yang mempermainkan petani sehingga terus merugi dan bertani tidak membuat hidupnya layak. Daya tawar petani amat rendah. Petani memutuskan menjual tanahnya untuk melunasi utang dan menutup kerugian produksi. Ini merupakan factor semakin terpusatnya lahan di tangan segelintir orang. Lahan pertanian terus digerogoti alih fungsi untuk infrastruktur, pengembangan property, akomodasi pariwisata dan industri skala besar yang berefek samping pada sosial dan ekologi.

Ada relasi kuasa yang timpang antara pemodal dan tengkulak dengan petani buruh dan gurem. Oleh karena itu reformasi agrarian yang berkeadilan sosial harus ditegakkan. Perlu dibuat hukum tertulis dan tak tertulis bahwa tiap pemilik lahan punya tanggung jawab sosial dan ekologi. Makin besar lahan yang dimiliki, makin besar tanggung jawab yang dipikul sehingga mengurangi konsentrasi kepemilikan lahan di tangan segelintir orang. AKses lahan semakin terjangkau bagi buruh tani dan petani gurem. Pemilik lahan tidak layak cari untung dengan korbankan petani dan ekologi. Ekonomi yang sejati ditopang oleh kesehatan ekologi dan keadilan sosial bukan sekedar uang saja. Tanah dan laut adalah dasar ekonomi kita bukan uang.

Hal diatas sudah berlangsung puluhan tahun sejak era orde baru. Lalu muncul pandemi corona meluluhlantakan berbagai sector kehidupan ekonomi. Dalam situasi ini manusia kembali berpikir hal yang paling vital untum kelangsungan hidupnya. Sistem politik, produksi dan distribusi pangan yang ada merupakan bagian dari kehidupan manusia dan menentukan nasib suatu negara. Dalam Prakteknya pemerintah lebih mendahulukan keamanan pangan daripada kedaulatan pangan. Indonesia terkadang impor beras, garam , daging , gula bahkan ikan. Padahal tanahnya termasuk yang paling subur, lautnya paling melimpah dan keanekaragaman hayati hewan dan tumbuhan yang dapat dimakan dan berpotensi dijadikan makanan dan obat tertinggi di dunia mengingat negeri ini adalah tiga negara dengan keragaman hayati tertinggi di dunia. Hal ini memunculkan kerawanan pangan

Di pulau Bali tidak setiap jengkal tanahnya cocok dengan padi seperti juga halnya di Indonesia. Daerah yang tanahnya kering dan curah hujannya lebih rendah  lebih cocok ditanamai ubi dan jagung. Penyeragaman pangan ini menimbulkan ketergantungan pada satu jenis saja dan seperti ungkapan jangan meletakkan semua beras dalam satu keranjang , jika terjadi gagal panen padi , munculah kerawanan tersebut. Pemerintah melalukan jalan tercepat berupa beli pangan dari negara lain.  Di tengah pandemic, negara asal impor beras membatasi ekspornya. Momen ini seharusnya membuat pemerintah untuk mereformasi lahan demi meminimalisir ketimpangan lahan sehingga petani tetap mempertahankan penghidupannya. Pemerintah memfasilitasi motor roda tiga di tiap desa agar petani dapat mengangkut hasil panen ke pasar tanpa melalui tengkulak. Sawah organic yang dibangun petani dapat dikembangkan untuk wisata demi menambah pendapatan. Para petani yang mengelola beserta fasilitasnya. Tidak boleh pihak swasta besar masuk di situ. Ini beberapa langkah yang perlu diambil untuk tegakkan kedaulatan pangan. Sayangnya pemerintah menginjak injak kedaulatan pangan ini lewat uu cipta kerja yaitu mengizinkan impor untuk mencukupi pangan sehingga jalan menegakkan kedaulatan pangan yang berkeadilan semakin terjal.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Apakah Menjadi Penyair Seperti Wayan Jengki Sunarta Bisa Hidup Bahagia?

Next Post

Sastrawan Oka Sukanta Tentang Novel “Babi Babi Babi” karya Putu Supartika

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Sastrawan Oka Sukanta Tentang Novel “Babi Babi Babi” karya Putu Supartika

Sastrawan Oka Sukanta Tentang Novel “Babi Babi Babi” karya Putu Supartika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co