23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memaknai Galungan

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
September 27, 2020
in Esai
Memaknai Galungan

Ini obrolan mereka di teras Shuck Cafe tadi malam:

“Cong, Nang Kocong, menurutmu apa sih makna Galungan?”

“Kan sudah jelas, hari kemenangan dharma melawan adharma. Yang gitu-gitu ditanyakan lagi. Sing ngelah gae?” Nang Kocong mengusap sisa buih minuman di kumisnya.

“Maksudku, masa harus
selalu kemenangan dharma atas adharma?”

“Memang begitu, wong dharmanya udah menang, mau diapain lagi. Mau dibalik, adharmanya yang menang? Malah ribet jadinya.”

“Apa tak ada jawaban lain? Sejak SD hingga setua ini, jawabannya selalu begitu saja: kemenangan dharma melawan adharma.”

“Seharusnya apa?”

“Memangnya ada urusan apa si dharma dengan si adharma. Kapan dan di mana mereka berantem. Kok tiba-tiba saja si dharma menang, malah kita rayakan pula kemenangannya?”

“Badah, Byah, Gobyah, kamu tak paham. Itu soal spiritual, bersifat kerohanian, sesuatu yang ada di dalam hati, bukan perkelahian fisik seperti dua petinju di atas ring.”

“Aku tahu Cong. Setidaknya, berilah pemahaman agar aku mengerti apa maksud dari kemenangan dharma atas adharma itu.”

“Terus, aku harus mengarang jawaban, gitu? Kemenangan dharma atas adharma, itu saja sudah cukup. Tak perlu diutak-atik lagi. Kalau ulangan di sekolah, nilaimu 10 dengan jawaban itu.”

“Tapi kamu kan punya otak, Cong. Pakai otakmu. Siapa tahu ketemu jawabannya.”

“Kamu serius ingin tahu makna Hari Raya Galungan dan Kuningan. Tumben peduli soal-soal begituan. Kamu salah minum obat?”

“Tidak juga, hahaha…”

“Gini, Byah, Galungan dan Kuningan itu hanya ritual, tapi skenarionya bagian dari ajaran tradisional tentang pencerahan terhadap tubuh, pikiran, dan spirit manusia. Di balik ritual hari raya itu bersembunyi ajaran kerohanian, semacam ajaran Dasa Aksara, sebagai salah satu jalan bagi manusia Bali mengenali jati dirinya.”

“Nah kan, mulai terpancing ngarang-ngarang, hahaha…”

“Yeh, tadi kamu minta aku nyari jawaban. Ya sudah kalau begitu. Ndak jadi dah.”

“Bercanda, Cong. Jangan ngambul. Lanjut…”

“Kamu tahu, Galungan dan Kuningan terdiri tiga bagian utama, yakni Penampahan, Galungan, dan Kuningan. Itu  simbol bhur, bwah, swah. Simbol tubuh fisik, tubuh pikiran, dan tubuh rohanimu.”

“Mulai ruwet ini. Terus?”

“Penampahan itu maknanya membuka kesadaranmu pada tubuh fisik, mengajakmu untuk mengenali tubuhmu, memahami organ-organnya yang secara spiritual organ-organ itu dianggap pusat-pusat energi kedewataan dirimu.”

“Cong, pada waktu Penampahan kita nampah celeng, mebat, bikin lawar dan komoh. Itu adalah pesta, maknanya lebih dekat kepada nyomia buthakala dengan kuliner yang enak-enak. Jauh banget kalau dihubungkan dengan memahami organ-organ tubuh. Ngaco aja kamu.”

“Celeng itu pretiwimba. Organ celeng atau babi itu sama dengan yang ada di tubuhmu.”

“Betul, tapi organ-organ itu cocoknya dibuat sate saja ditemani lau, haha…”

“Kamu benar, pada hari Penampahan, organ celeng itu memang dibuat sate, namanya sate galungan, orang bilang sate penawasangan atau sate senjata nawa sanga.”

“Apa maksudnya?”

“Sate galungan itu simbol untuk mengingatkanmu bahwa organ-organ vital dalam tubuhmu itu, selain pusat energi kasar yang secara alamiah mempengaruhi pribadimu, membentuk naluri, ego, nafsu, ambisi, atau pikiran-pikiran dasar lainnya, kamu harus menyadari bahwa di situ juga pusat energi halus, energi dewata.”

“Nggak mudeng, aku.”

“Pikiran kita selalu dipengaruhi oleh kekuatan rwa bineda, oleh energi kasar dan energi halus, energi butha dan energi dewa, negatif dan positif. Dalam ajaran kerohanian di Bali, kedua jenis energi itu berpendar melalui organ-organ tubuhmu. Tapi energi kasar yang dominan memengaruhi pikiran atau emosimu, sedangkan energi halus sangat lembut.”

“Mulai muter-muter kan kamu. Tuangin bir dulu, Cong, biar lancar otakmu. Lantas, sate itu apa urusannya?”

“Sate galungan itulah simbol dewata, untuk menggambarkan dewa apa yang bertahta di tubuhmu.”

“Apa saja, Cong?”

“Agar tahu dengan detil, nanti kamu baca bukunya saja. Tapi garis besarnya, sate galungan itu dibuat dari organ tubuh untuk menggambarkan dewa-dewa di organ tersebut. Misalnya, sate asem. Itu simbol cakra. Dibuat dari nyali, tapi diganti dengan lemak atau usus halus, untuk menggambarkan di nyalimu ada ‘energi’ Dewa Wisnu.  Sate japit, dari unsur jantung,  simbol bajra,  melambangkan yang bercokol di jantungmu adalah Dewa Iswara. Begitu seterusnya…”

“Mih, ruwet ya.”

“Ya, memang ruwet. Capek menjelaskannya. Lagian, aku juga gak hafal semuanya, males, hehe…”

“Terus, apa hubungannya sate-sate yang ruwet itu dengan Penampahan?”

“Itu adalah bahasa leluhur untuk mengajarkan kepada kita semua, ‘Wahai, anak-anakku, para keturunanku, orang-orang mulia, periksalah tubuhmu, ketahuilah, sesungguhnya tubuhmu adalah stana para dewata. Sadari dan camkan itu baik-baik’, begitu kira-kira.”

“Berarti di badanku ada dewa, gitu?”

“Ya, setidaknya ada sembilan dewa.”

“Mih, sembilan aku ngubuh dewa?”

“Tapi ingat, tidak hanya dewa, di situ juga ada butha kala. Malah butha ini lebih kuat pengaruhnya dan mengendalikanmu.”

“Aku ngubuh butha juga. Berarti di tubuhku ada ogoh-ogoh?”

“Betul. Ini yang disebut Sang Butha Galungan.”

“Terus kapan ogoh-ogoh Butha Galungan itu harus dibakar?”

“Tidak dibakar. Ia tidak bisa dibunuh, karena ia yang menghidupkanmu. Menghidupkan naluri, hasrat, nafsu, dan pikiran-pijiranmu. Ia memicu ahamkara, pikiran egomu.”

“Mih, ada-ada saja kamu, Cong.”

“Makanya waktu Penampahan kamu natab Banten Byakala atau apapun namanya. Itu ritual untuk butha di tubuh fisikmu, di bhur loka. Byakala itu bukan pembersih kaki atau lututmu, tapi untuk menyadarkanmu akan keberadaan butha di tubuhmu agar kamu waspada, eling.”

“Nah, sambil minum, Cong. Kasi patabuh butha kalanya biar somia, hehe… Lalu apa hubungannya semua itu dengan Galungan?”

“Kita permudah ya. Sate senjata nawasanga, simbol ‘energi’ organ-organ tubuhmu itu, kita ringkas jadi lima, yakni nyali, jantung, hati, ginjal, dan “puncak” hati. Galungan itu ritual untuk tubuh pikiranmu, bwah loka. Kamu memasuki kesadaran pikiran.”

“Apa hubungan nyali, jantung, dan lainnya itu dengan pikiran?”

“Sesungguhnya kualitas pikiranmu itu dipengaruhi oleh energi tubuh fisikmu, baik oleh butha yang keras maupun energi dewata yang syahdu. Sebagai manusia Bali, kamu diminta memenangkan energi dewata dan mengendalikan energi butha.”

“Ngawur kayaknya ini, hehe…”

“Dari kaca mata kerohanian, energi halus dari nyalimu, yang digambarkan sebagai cahaya Dewa Wisnu itu, adalah pembentuk pikiran kasih. Energi jantung, Dewa Iswara, membentuk pikiran religius. Energi hati, Dewa Brahma, membentuk pikiran kreatif. Energi ginjal, Mahadewa, membangun pikiran yang berkaitan dengan kesejahteraan.”

“Kalau seperti kita ini, senang minum di kafe, energi pikiran apa namanya?”

“Makanya magalung, Byah. Itu adalah tuntunan kesadaran, ‘Wahai manusia Bali, cerahkanlah energi dewata di nyalimu agar pikiranmu dipenuhi cinta kasih, cerahkanlah jantungmu agar religiusitasmu bercahaya, sadarilah energi hatimu supaya tumbuh pikiran kreatifmu, dan seterusnya,’ begitulah, Byah, biar kamu ngerti.”

“Berarti orang Bali itu harus hidup dengan pikiran kasih, religius, dan kreatif?”

“Benar. Itulah dasar Tri Kaya Parisuda. Bila hidup didasari pikiran, ucapan, dan tindakan penuh cinta kasih, religius, dan kreatif, maka semua akan sejahtera.”

“Mih, serem ini.”

“Dalam kehidupan sehari-hari, panca aksara atau panca dewata itu diringkas jadi tiga aksara, dan ini diterjemahkan jadi Kayangan Tiga: Pura Puseh, Pura Dalem, Pura Desa. Itu pesan sekaligus jalan bagimu untuk selalu ingat memuja Wisnu, di Pura Puseh, mencerahkan cahaya nyalimu, menguatkan sifat-sifat cinta kasihmu. Memuja Iswara di Pura Dalem, mencerahkan energi jantung, menguatkan religiusitasmu. Memuja Brahma di Pura Desa, mencerahkan hatimu agar engkau cerdas kreatif. Kalau ketiga hal itu tercerahkan maka pikiranmu akan jagadhita, bahagia, sejahtera. Tubuh pikiranmu berpendar dalam energi Dewa Siwa. Hidupmu akan penuh cinta kasih, cerdas, kreatif, bijaksana, rendah hati.”

“Bukankah Kayangan Tiga tempat memuja Brahma, Wisnu, Siwa, beliau sebagai Pencipta, Pemelihara, dan Pelebur? Begitu yang aku tahu.”

“Soal pencipta, pemelihara, atau pelebur, itu adalah hukum alam. Biarkan saja mereka mau ngapain. Tidak ada yang dapat kamu lakukan dengan itu. Tugasmu adalah menjalani hidup dengan kasih, religius dan kreatif. Apa pun yang kamu lakukan hendaknya berdasar kepada ketiga sifat tersebut, muter-muter di situ saja. Itu baru namanya kamu memuja Brahma, Wisnu, Iswara.”

“Ah, kamu ini Cong, omonganmu tidak sesuai sastra.”

“Makanya Byah, kalau makan sesuatu itu jangan ditelan mentah-mentah.”

“Hahaha.. itu sih bisa-bisanya kamu aja menghubung-hubungkan dan mengartikannya.”

“Tapi jangan lupa, di tubuh pikiranmu juga ada bhuta kala, dinamakan Butha Dunggulan. Dia seperti mesin turbo yang menggerakkan dan membuat liar pikiranmu. Tanpa kamu sadari dialah yang memunculkan pikiran dan nafsu tamakmu dan selalu ingin unggul.”

“Seperti sifatmu itu ya, Cong, haha… Terus, diapakan bhuta kala ini?”

“Kamu natab Banten Durmanggala, supaya kamu menyadari bahwa pikiranmu sesungguhnya dikendalikan oleh bhuta. Ketika kamu sadar dan mampu mengendalikan bhuta itu, serta menstanakan cahaya dewata di pikiranmu, itulah namanya Galungan. Kamu tercerahkan, pikiranmu jadi terang galang dalam kebijaksanaan. Ini yang dimaksud dengan kemenangan dharma atas adharma. Kalau dalam Mahabharata, itu namanya kamu berhasil memenangkan Pandawa atas Kurawa. Begitu kira-kira, Byah.”

“Ya deh, aku iyain aja, yang penting ceritanya berlanjut mumpung belum ngantuk. Lantas, mengapa pakai Kuningan lagi, kan dharma sudah menang?”

“Yang tadi itu kan baru pencerahan terhadap tubuh fisik dan tubuh pikiranmu, belum tubuh rohanimu. Kuningan itu simbol pencerahan tubuh rohanimu. Kamu memasuki kesadaran rohani, swah loka.”

“Tapi kenapa jarak Kuningan itu 10 hari dari Galungan, sementara dengan Penampahan cuma sehari.”

“Maumu berapa hari? Tiga bulan? Kelamaan dong hari liburnya.”

“Bebeki memang kamu, Cong.”

“Penampahan dengan Galungan memang berjarak sehari, karena tubuh dan pikiran itu dekat, keduanya dianggap berada di matra badan kasar, bahkan saling terkait, sedangkan alam rohani berada sepuluh langkah di luar panca mahabhuta dan panca tanmatra. Untuk mencapai kesadaran rohani kamu harus melampaui lima indramu dan lima matramu, karena alam rohani itu tidak berbentuk fisik, tidak terlihat, tidak tercium, tidak terdengar, tidak tersentuh, tidak terkecap. Alam rohani itu dapat kamu capai dengan menyelami sedalam-dalamnya ajaran Sepuluh Aksara atau Dasa Aksara. Begitu kira-kira.”

“Apa maknanya, Cong?”

“Ketika kamu telah tercerahkan secara rohani, serta secara pikiran dan tubuhmu, maka itulah jati dirimu sebagai manusia Bali. Manusia Budi. Manusia paripurna, utuh lahir batin. Kualitas hidupmu disimbolkan sebagai di alam Siwa.”

“Walaupun kayaknya kamu ngaco, coba sekarang lanjutkan memaknai Kuningan.”

“Capek Byah, ngoceh dari tadi. Mataku juga mulai berkunang-kunang. Kamu sih, kebanyakan ngasi minum.”

“Masih ada sebotol nih, boleh sambil ngelanjutin ngobrolnya.”

“Nanti kamu cari-cari sendirilah maknanya. Pakai otakmu. Biar bisa belajar sesuatu. Nggak cuma copy paste. Atau belum apa-apa sudah mistik aja di otakmu, entar malah jadi tambah gelap pengetahuanmu. Tapi itu memang hanya permainan simbol. Bukan di situ substansinya. Malah tadi aku mau bilang ke kamu kalau Penampahan itu adalah sama dengan Pura Puseh, Galungan itu sama dengan Pura Desa, dan Kuningan adalah Pura Dalem. Tapi takutnya malah kamu jadi bingung dan memaki aku. Sekarang yang penting kamu sudah paham sedikit makna Galungan yang aku sampaikan tadi.”

“Paham? Enggak juga, Cong. Sama sekali aku nggak ngerti. Malah ocehanmu itu bikin kepalaku mumet. Tapi aku salut, Cong, omonganmu kayak orang ngerti aja, padahal nggak, haha…”

“Itulah namanya aliran pengetahuan dari semesta, Byah, sebab aku menghidupkan pohon ‘waringin sungsang’ di dalam diriku, dan kamu yang rajin menyiraminya dengan minuman, kikikik…”

“Walah, makin ngawur aja kamu, Cong. Maksudku, apa kamu tidak bisa memaknai Galungan secara sederhana, gak pakai organ-organ tubuh segala, macam Ilmu Hayat gitu?”

“Ada, Byah. Makna Galungan secara sederhana juga ada.”

“Nah, apa itu?”

“Hari Raya Galungan dan Kuningan adalah hari kemenangan dharma melawan adharma, gitu aja udah.”

“Ataah, itu lagi! Masih ada waktu, Cong, sebelum kita pulang. Singkat saja, biar otakku tidak menggantung. Kuningan itu apa?”

“Kuningan itu maknanya kamu memasuki kesadaran atau pencerahan pada tubuh rohanimu. Dalam hidupmu, kamu mesti mengisi rohanimu dengan ajaran-ajaran kerohanian. Tentu saja ini wilayah rahasia nan abstrak. Sebagai orang Bali, ciri jalan hidup spiritualmu adalah semangat, gembira, membumi. Religiusitasmu harus tumbuh dengan energi yang cemerlang, cerah, gembira, aktif, bergerak. Tidak kosong atau putih, tidak juga senyap atau hitam, tapi spiritualitas yang merangsang dan menggairahkan hidupmu, dilambangkan dengan warna kuning.”

“Hahaha…, kayaknya nyaplir ini. Maksudmu Kuningan itu warna kuning, gitu?”

“Yup. Itu bahasa simbol. Penjelasannya seperti yang aku bilang tadi. Spiritualitasmu adalah akar dari filsafat hidupmu atau Iswara, spiritualmu adalah sumber inspirasi pengetahuan hidupmu atau Brahma, spiritualmu adalah pusat energi kasih hidupmu atau Wisnu. Karena itu, sebagai orang Bali, kamu harus menghayati nilai-nilai ini.”

“Waduh, otakku tidak bisa menangkapnya, ampura, Cong.”

“Spiritualitas orang Bali itu adalah sumber inspirasi untuk memuliakan kehidupan, mengelola kehidupan, dan mengasihi kehidupan di alam nyata ini, bukan untuk bertapa, bukan untuk pengasingan diri.”

“Semakin uyeng-uyengan omonganmu, Cong. Perayaan Kuningan kan harus selesai sebelum pukul 12 siang, kalau tidak, katanya nanti yang datang adalah Dewa Berung.”

“Itu adalah simbol waktu produktif, waktu untuk hidup. Sedangkan setelah pk 12 siang disebut waktu lingsir, waktu kematian. Spiritualitas orang Bali adalah untuk produktivitas, untuk kehidupan. Pengetahuan rohanimu yang menginspirasi dan ‘menyinari’ pikiran atau tindakanmu untuk mengelola kehidupan sehari-hari dengan indah sebagai karakter manusia Bali. Jika tidak, bagaimana pun tingginya pengetahuan rohanimu kalau tidak bermanfaat bagi kehidupan maka tidak akan ada gunanya, hanya kesia-siaan belaka. Istilahnya, yang kamu temukan nanti hanya Dewa Berung.”

“Apa ada ogoh-ogohnya juga?”

“Ada. Tubuh rohanimu juga dikendalikan bhuta, dinamakan Sang Bhuta Amangkurat. Malah ia sangat kuat dan cara mainnya sangat rahasia. Karena itulah kamu natab Banten Prayascita agar kamu menyadari keberadaannya. Bila ia menguasaimu, ia dapat membuatmu mabuk spiritual, mabuk agama, ya semacam itulah.”

“Berarti maksud dari Galungan dan Kuningan itu adalah kita menyadari dan memenangkan dewa di badan kasar kita, dewa di pikiran, dan dewa di rohani kita, begitu?”

“Nah, pintar kamu, Byah.”

“Peh. Ayo dah kita pulang. Ini sudah hampir tengah malam. Habisin dulu minumanmu, Cong, biar Dewa Berung gak keburu datang.” [T]

Kuta, 2020.

Tulisan ini juga dimuat majalah Media Hindu, edisi 198, Oktober 2020.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Sanur, Padang Sanur & Toponimi Bali

Next Post

[Puisi-puisi Manik Sukadana] – Pernyataan Pada Perempuan Pengagum Warna

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
[Puisi-puisi Manik Sukadana] – Pernyataan Pada Perempuan Pengagum Warna

[Puisi-puisi Manik Sukadana] - Pernyataan Pada Perempuan Pengagum Warna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co