24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Zaman Beda, Air Beda

Agus Wiratama by Agus Wiratama
September 14, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

“Sore adalah waktu untuk berlari, menyehatkan tubuh dan menyegarkan kepala!” Kata-kata yang Grudug sampaikan pada orang tuanya itu sesungguhnya alasan nomor kedua, ketiga, atau bahkan keempat. Alasan pertama yang sangat sulit ia katakan adalah menghindari pekerjaan rumah. Waktu-waktu senggang itu biasanya selalu membuat ibu atau ayahnya tergelitik untuk melempar kata, “kerjakan ini!” atau “kerjakan itu!” Ia bukanlah orang malas, tetapi belakangan, terlalu sering mengulang kegiatan yang sama membuatnya bosan.

Setelah lama mengumpulkan alasan untuk menghindar, baru ia berpikir, “Karena tubuhku semakin subur, sedikit lari-lari kecil akan mengurangi lemak ini. Setidaknya enak dipandang orang,” pikirnya dalam hati sambil memijat perutnya. Sungguh kebetulan, sebelum lama di rumah, dana desa yang jumlahnya tak sedikit itu digunakan untuk membuat jalan sepanjang bibir sungai kecil yang mengaliri sawah.

Jalan beton itu selesai, sepeda motor mulai lalu lalang ke sana, orang-orang jadi rajin ke sawah, kebanyakan bukan untuk mengurus sawah, tetapi nongkrong di pinggir sungai itu. Sawah menjadi tempat bertemu tetangga atau menjadi tempat pacaran anak-anak ingusan. Bayangkan saja, ketika PSBB digelar, Pecalang sampai membuat posko di seputaran jalan itu. Tentu alasannya karena tempat itu tak pernah sepi, bahkan sampai malam. Setelah ada slogan Tentara Masuk Desa, pandemi mendorong munculnya slogan baru, “Pecalang Masuk Sawah.” Tapi, kini PSBB lebih longgar, Grudug jadi bisa olah raga di sekitar sana.

Sawah menjadi tempat seperti lapangan yang berbentuk memanjang mengikuti sungai. Sepanjang jalan ada saja orang yang berkumpul. Entah untuk ngobrol atau lain sebagainya. Hal inilah yang sangat ia senangi. Ia akan bertemu orang untuk basa-basi. Sebagai mahasiswa yang belum tamat, ia tidak merasa malu, justru keadaan ini menguntungkannya untuk menyebar alibi kenapa ia tidak tamat.

Persiapan yang menurutnya matang sesungguhnya betul-betul tidak matang. Bayangkan saja, tiga puluh menit sebelum lari, ia harus mandi terlebih dahulu, menggunakan sedikit parfum, dan memilih sepatu yang menurutnya paling tepat. Dalam hati ia berpikir, “Setidaknya aku rapi, bersih, jauh dari kesan melarat, jauh dari kesan bodoh.” dasar naif. Ia memandang rapi jauh dari kesan bodoh. Padahal kesan itu tetap hadir. Cobalah saudara ikuti isi hatinya, ia benar-benar naif, lugu.

Seandainya saudara melihat apa yang dilakukannya pada saat lari, mungkin saudara akan tertawa cekikikan. Ketika ia berlari, hal yang paling penting justru ia tinggalkan. Air minum dan uang. Sementara jaraknya yang sudah jauh dari rumah membuat kemungkinan untuk balik tidak diutamakan.

“Kalau balik, bisa-bisa aku pingsan sampai rumah,” pikirnya.

Sepanjang jalan baru itu, sesungguhnya ada banyak pedagang. Ada pedagang dengan gubuk sementara, bahkan di dekat sana ada minimarket ala desa yang dimiliki oleh tetangganya sendiri. Tetapi, dia berpikir dengan penampilan seperti itu akan sangat memalukan kalau berhutang.

“Rambut klimis, bau parfum merebak, masak berhutang?” gumamnya lagi.

Siapa suruh berpenampilan seperti itu? Siapa suruh ingin dipandang pintar hanya gara-gara bersih? Padahal di kampungnya bukanlah suatu aib bila berhutang barang sebentar saja. Jangankan sebentar, seminggu pun tidak apa-apa sebab orang-orang kampung sudah saling kenal. Dan para pedagang itu hampir seluruhnya adalah tetangga Grudug yang latah berdagang semenjak jalan satu setengah meter itu rampung.

Di tengah jalan, ia benar-benar haus. Mungkin karena menghindari tugas orang tua, petaka datang menimpa anak muda ini. benar-benar petaka, di tengah haus itu, ia membayangkan cerita pamannya. Romantisme yang tak hentinya mengiang di kepala Grudug. Dan inilah yang betul-betul ceroboh.

Pamanya sering bercerita tentang sawah dan masa lalu dengan menggebu-gebu. Mungkin karena kini pamannya sudah tak bisa lagi ke sawah karena susah berjalan, akhirnya kenangan hanya bisa tersalurkan melalui cerita yang mungkin bagi pamannya bisa dijadikan pelajaran. Tapi, malang sekali, Grudug salah memetik pelajaran.

Kata pamannya, hidup jaman dulu jauh lebih gampang. Hari ini terlalu banyak yang kita butuhkan. Listrik misalnya, menurut lelaki tua itu, sebelum ada listrik, orang-orang hanya membutuhkan sedikit minyak yang bertahan untuk beberapa hari mendatang. Kebiasaan mengenal gelap membuatnya tidak terbayang malam akan seterang saat ini. awalnya menyenangkan tetapi lama kelamaan, listrik menjadi candu. Gelap menjadi seram.

Sekarang, semua orang harus bekerja keras agar bisa membayar listrik. Bahkan setelah memakai semacam pulsa, beban untuk menerangi malam terasa semakin menekan. Pulsa seperti es di siang hari yang sekali sedot langsung habis.

“Tetapi tidak hanya itu,” kata pamannya.

“Dulu tak listrik dan hape, makanya tak ada anak-anak yang menangis hingga berguling-guling meminta kuota. Sebelum beli kuota, harus nyicil hape terlebih dahulu. Sepupumu, dulu minta sepeda motor, Paman kira urusan sudah selesai, tetapi setelah itu ia minta uang bensin. Minta uang servis. Parahnya ia juga minta uang untuk bongkar motornya,” Lanjut pamannya.

“Jangankan itu, coba saja kau bayangkan, sekarang kalau paman haus, harus menunggu bibimu selesai memasak air. Atau kau membelikan pamanmu ini air gallon. Betul-betul ribet. Dulu, ya… dulu. Paman ke sawah tak pernah bawa air. Paman tinggal lepas capil, tenggelamkan setengahnya di sungai kecil dekat sawah, lalu air yang ada di dalam topi bisa diminum. Seggaarrrr… Mana lebih praktis hidupmu sekarang atau hidup pamanmu yang renta ini?” ucap pamannya sambil tergopoh-gopoh menepuk dadanya.

Bayangan atas percakapan itulah yang sering mengiang dalam pikiran Grudug. Tapi sungguh ceroboh, Grudug justru salah memetik pesan dalam percakapan di saat dia kehausan di sawah.

“Aku coba saja minum air sungai,” pikirnya dalam hati. Ceroboh bukan? Tak usah saudara sangsi, ia tidak sedang main-main. Haus yang mencekik itu membuat ia segera lupa dengan rambut klimis, parfum, dan sepatu pilihan itu. Meski tanpa capil seperti dalam cerita pamannya, ia langsung menyendok air sungai di pinggir jalan yang memang betul masih cukup jernih, tak seperti air sungai di kota.

Seteguk, dua teguk. Ia betul-betul lega. Bahkan ia sempat berpikir, “Air sungai yang jernih ini sesungguhnya lebih enak dari air gallon. Kenapa harus beli air gallon?” hentaknya dalam hati sambil mengkerutkan dahi. Saat itu pula ia menatap penuh kebanggaan mempunyai desa yang dialiri air jernih. Ia berkata, “Terima kasih bagaimana yang mesti aku berikan pada sungai cantik ini?”

Tatapan yang serius itu beberapa saat tak bisa dipalingkan. Ia benar-benar terpesona dengan air itu. Air yang menurutnya ada manisnya, air yang menurutnya lezat itu rupanya menggandeng sesuatu. Sesuatu yang melintas di depannya, sesuatu berwarna kuning tua dengan sisa sayur dan beberapa butir biji cabai terlihat jelas. Mengambang, hanyut seketika melewati tatapannya. Ia terkejut, lalu air sedikit keruh menguning.

Seketika ia langsung muntah-muntah memalingkan wajah. Beberapa anak muda yang jongkok di hulu menatapnya bersalah. Grudug tak henti-hentinya muntah-muntah. Setelah didekati oleh beberapa anak muda itu dan paham perkara secara utuh, barulah ia diceramahi oleh anak muda itu untuk tidak minum air sungai, baru ia tahu, sesekali bangkai ternak tersangkut di sana yang entah dari mana datangnya, popok bayi yang terkadang tersangkut lalu hanyut, atau sesuatu yang kuning itu. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Never Ending Spirit of Gus Dur dan Upaya Mencecap Masa Lalu yang Ber(Ter)serak

Next Post

Ledok-Ledok Nusa Penida Naik Kasta

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Ledok-Ledok Nusa Penida Naik Kasta

Ledok-Ledok Nusa Penida Naik Kasta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co