24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Persahabatan Purba – [Tentang Pura Puseh Panjingan di Les-Penuktukan]

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
August 20, 2020
in Esai
“Mungkah Saka” dan Kisah-kisah Para Pendeta

Ada berbagai definisi tentang Bali di masa ini tak cukup mampu menggambarkan konsep-konsep peradaban purba. Satu diantaranya konsep tentang Pura Puseh.

Pura Puseh bersama Pura Desa dan Pura Dalem merupakan bagian dari pura kahyangan tiga desa adat. Pura Puseh dalam konsepsi Bali kekinian merupakan stana dari manifestasi Tuhan sebagai Dewa Wisnu. Di sanalah pusat kehidupan dijaga dan diputar untuk menjamin harkat martabat hidup semesta.

Demikian konsep-konsep itu telah dikonsumsi sedari kita mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar. Merujuk konsep-konsep itu, kahyangan tiga selalu mengacu pada pemujaan terhadap Dewata Tri Murti. Konon, Mpu Kuturanlah yang mencipta konsep tersebut sesaat setelah “perang ideologi” berkecamuk pada paruh abad terdahulu. Kini, konsepnya dianggap telah final, sehingga tak banyak diperbincangkan. Wacananya pun berhenti hanya sampai pada titik itu.

Suatu ketika pemahaman saya tentang kahyangan tiga digugat oleh penjelasan teks Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul. Teks ini terbilang komprehensif mengungkapkan tatanan konsep pemujaan ala Bali, dimana paparannya relatif dekat dengan praktik berbudaya masyarakat yang saya temui. Teks ini masih dapat ditemui berupa lontar yang disimpan di Perpustakaan Universitas Hindu Indonesia Denpasar. Wujud alih aksaranya dapat pula dibaca di Gedong Kirtya Singaraja, hanya saja ada satu lembar aliha ksara yang hilang.

Tentang konsep kahyangan tiga desa, Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul tak mengungkapkan nama Dewa Brahma, Dewa Wisnu, maupun Dewa Siwa sebagai kekuatan-kekuatan suci yang dipuja di kahyangan tiga desa. Dari awal sampai akhir, teks ini memang bercita rasa Siwaistik. Akibatnya, segala hal tentang Siwa mendominasi penjelasan. Dalam hal dewa pujaan di kahyangan tiga, Bhatara Guru, Bhatara Ganapati, dan Bhatari Umadewi disebut sebagai entitas-entitas suci yang masing-masing dimuliakan di Pura Desa, puseh, dan dalem.

Mengapa Bhatara Guru bukan Dewa Brahma, Bhatara Ganapati bukan Dewa Wisnu, Bhatari Umadewi bukan Dewa Siwa yang dipuja di pura kahyangan tiga? Teks ini tak memberi penjelasan secara tersurat. Namun, asumsi saya ini terkait dengan legitimasi Siwaisme di Bali. Pada tiga bab sebelumnya, Hyang Pasupati ditasbihkan sebagai dewata utama, yang kemudian memunculkan dewa-dewa dan rsi penjaga—yang kemudian dipuja—Bali. Mulai dari penurunan Bhatara Buncing Hyang Putrajaya dan Hyang Dewi Danuh,  penurunan Dewata Nawasanga, Panca Rsi, hingga Dewata Sad Kreti. Semuanya mengacu sebagai legitimasi pada entitas Pasupati sebagai Hyang Parameswara.

Jejak Persahabatan

Semasa mahasiswa, saya dan sejumlah rekan diajak berkunjung ke Desa Les di Tejakula, Buleleng oleh dosen saya. Kebetulan, beliau adalah putra asli Desa Les, yang secara tidak langsung memiliki relasi ekologis dan ideologis dengan Batur melalui tuturan Ida Ratu Ayu Mas Membah.

Sembari beristirahat menahan panas Agustus yang begitu menyengat, dosen saya menceritakan sejarah desanya kepada kami. Poin obrolan yang begitu saya ingat terkait dengan keberadaan Pura Puseh Panjingan. Pura ini bernilai begitu penting bagi masyarakat di sana, sebab menjadi simbol penyatuan Desa Les dan Penuktukan.

Di masa silam, nama Desa Les adalah Desa Panjingan. Sebagai desa pesisir, desa ini sering dilalui oleh pedagang dari luar Bali. Suatu ketika digelar hiburan sabung ayam. Pesertanya warga desa dengan orang-orang perahu atau yang kemudian lebih dikenal sebagai Wong Bajo. Ketika itu Wong Bajo kalah, hingga akhirnya terjadi keributan. Pada tahun-tahun setelahnya, desa ini sering diserang hingga membuat penduduknya berpindah-pindah. Lama kelamaan, adalah Desa Les dan Penuktukan. Pura Puseh Panjingan disungsung oleh kedua desa ini sebagai simbol jalinan lampau.

Konsep Pura Puseh Panjingan sebagai tanda jalinan persahabatan antar Les-Penuktukan juga dapat dilihat di desa kami. Pura Puseh Batur yang dimuliakan saban Purnama Kasa—bulan pertama tahun Saka—tak hanya dipuja oleh masyarakat adat Batur. Situs ini juga menjadi orientasi pemujaan lima desa lain, yakni Desa Sangkaduan, Bonyoh, Belatungan, Blancang [Belancan], dan Petak Cemeng atau Selulung.

Dalam sebutan masyarakat kami, komunitas-komunitas tersebut disebut sebagai Batun Sendi Ida Bhatari Sakti. Konsep batun sendi tampaknya menyerupai konsep banua yang selama ini dikenal luas di desa-desa Bali pegunungan. Konsep batun sendi kemungkinan diambil dari konsep sendi dalam bangunan Bali yang berfungsi sebagai penyokong bangunan. Konsep ini sejalan dengan praktik di lapangan, dimana desa-desa yang tergolong Batun Sendi Ida Bhatari Saktimemiliki kewajiban sebagai penunjang eksistensi Pura Batur. Selain kelima desa tersebut, desa batun sendi Batur lainnya adalah Bayung Gede, Buahan, Sebatu, dan Sekardadi.

Raja Purana Pura Ulun Danu Batur menyebut hak dan tanggungjawab kelima desa itu tatkala pemujaan Pura Puseh tiba. Masyarakat Bonyoh menghaturkan babi seberat 500, beras 30 catu, tuak 2 takeh, kelapa 10 butir, gula 5 buah. Kepada I Ratu Puseh Blancang, masyarakat Blancang dikenai beras satu pikul, tuak satu pikul, serta seekor bebek yang diolah seraten.

Ketika tiba pemujaan kepada I Ratu Puseh Petak Cemeng, masyarakat Selulung menghaturkan seekor kijang dan segala sarana pujawali. Penghormatannya menggunakan sarana bebek seraten. Sementara, penghormatan pada I Ratu Puseh Sangkaduan berupa bebek maserotutu.

Merawat Jejak

Pembacaan terhadap narasi-narasi di atas tentu tak bisa dilakukan secara kasar di permukaan saja. Sebuah wacana yang disusun oleh bahasa tak lain merupakan simbol. Bahasa adalah tanda-tanda yang harus dikuliti terus menerus, hingga kedalaman makna maksimal yang dapat dijangkau para pembacanya.

Artinya, pembacaan terhadap fenomena-fenomena budaya seperti di atas harus dilakukan secara perlahan. Dalam kasus keterhubungan komunitas-komunitas masyarakat melalui Pura Puseh Panjingan dan Pura Puseh Batur, pesan yang ingin disampaikan agaknya bukan sekadar ritus dan berhenti di papeson atau persembahan. Ritus tampaknya hanya penanda untuk menunjukkan keterhubugan masa silam yang barangkali pernah dijalin oleh para leluhur. Ritus dan situs sangat mungkin menunjukkan titik keasalmulaan atau kawitan.

Kata pusêh memiliki kedekatan bentuk dengan pusêr. Bunyi [h] dan [r] memang sering menggantikkan dalam sejumlah kata yang mengcu pada arti yang sama, misalnya pada kata pasih dan pasir terkait arti kata laut, campuh dan campur terkait arti kata campur, dan seterusnya. Kata pusêr dapat diartikan ‘pusat’, ‘bagian tengah’, dan ‘puncak’. Oleh karenanya, keberadaan Pura Puseh pada masanya bukan tidak mungkin merupakan simbol kekuatan “koalisi antar desa-desa”. Di wilayah pura itu kekuatan terhimpun dan dipusatkan. Mungkin semacam markas komando di era kekinian.

Lebih jauh, menurut konsep banua, Reuter (2005)1, menyatakan pola hubungan sosial di Bali pegunungan ditentukan oleh jaringan regional aliansi ritual antara kelompok-kelompok di desa-desa bersangkutan. Banua sendiri diartikannya sebagai kawasan ritual, yang membangun perasaan identitas bersama di kalangan masyarakat pegunungan.

Jika Pura Puseh—dan pura lainnya—merupakan simbol-simbol keterjalinan identitas, pusat kekuatan, atau pusat keasalmulaan, lalu apakah pembangunan sejumlah pura baru sebagai pemenuhan atas pemekaran desa-desa adat adalah tindakan kemajuan peradaban Bali? Di dalam benak saya, ini justru semacam antitesis terhadap pesan-pesan masa silam yang telah dititipkan leluhur. Ketersediaan sumber daya saat ini sebagai alasan pendirian dan pemekaran pura-pura baru itu tidak dapat diterima, sebab saya pikir leluhur masa silam tidak lebih melarat dibanding manusia Bali saat ini.

Di luar itu, kita memang perlu memikirkan secara lebih jernih tentang konsep-konsep dasar untuk membangun Bali. Selama ini, saya melihat paradigma generalisasi budaya masih mendominasi dalam formulasi peradaban kita. Misalnya, desa adat harus diukur oleh keberadaan pura kahyangan tiga desa, pimpinan desa adat harus disebut bendesa, ngaben diukur dengan bade dan pembakaran, pemangku dianggap legal jika hidupnya sejahtera dan renta, puja astawa diukur dengan persentase penggunaan bahasa Sanskerta, bahkan banten seringkali diukur menurut tatanan suatu wilayah dan “dibawa secara paksa” ke wilayah lainnya.

Jika pola ini terus berlanjut tanpa sedikit direm, saya takut kita hanya akan beragama dan berbudaya umum. Tidak ada lagi kebinekaan. Tidak akan ada lagi ciri khas antar daerah. Pada titik ini, keragaman Bali akan melebur menjadi kesatuan budaya yang bukan tak mungkin kemudian dikuasi oleh elit-elit tertentu. Jika demikian, komersialisasi budaya pasti terjadi.

Kita tampaknya perlu menghentikan langkah sejenak dan bercermin pada jejak kearifan Pura Puseh. Jika puseh merupakan pemuliaan pada Bhatara Ganapati, maka menjadi penting kita melihat simbol yang dimiliki putra Siwa itu. Bukankah Bhatara Gana adalah simbol kecerdasan dan kebijaksanaan? Bukankah telinganya besar dan hidungnya panjang, yang memberi pesan kepada kita untuk lebih banyak mendengar dan mencium kondisi kekinian? Perut kita hendaknya juga diperbesar layaknya Bhatara Gana, agar dapat lebih toleran menerima keberagaman. Kebetulan, dalam bahasa Bali ada istilah “basang bawak” yang merujuk pada sifat-sifat emosional dan antikritik. [JPDB]

Batur, Agusus 2020

______

1Reuter, Thomas A. 2005. Custodians of the Sacred Mountains: Budaya dan Masyarakat di Pegunungan Bali (penyunting I Nyoman Dharma Pura, alih bahasa A. Rahman Zainuddin). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Tags: BaturbulelengTejakula
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kehidupan dan Konflik yang Tak Melulu Buruk

Next Post

Apa yang Paling Penting dalam Lontar Bali? Lontar Pangleakan?

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

Apa yang Paling Penting dalam Lontar Bali? Lontar Pangleakan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co