23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pahlawan Pandemi Datang dari Balik Pagar Rumah Sendiri

PanchoNgaco by PanchoNgaco
July 10, 2020
in Esai
Sop Kaki Kambing

Saat-saat begini, sudah pasti semua orang ikut bicara soal pandemi. Covid-19 yang mewabah di dunia sejak semester pertama tahun 2020, secara resmi menghampiri Indonesia sejak bulan Maret, melalui kasus 1 dan 2 yang berasal dari kluster di sebuah kafe di wilayah Jakarta Selatan.

Sejak hari itu, kasus positif Covid-19 berkembang pesat dengan Jakarta sebagai episentrum nasional. Dari kasus 1 dan 2, kini kasus positif penyakit yang menyerang organ pernafasan dan pencernaan itu berkembang menjadi ribuan. Sejumlah wilayah di Tanah Air pun akhirnya mulai memberlakukan karantina wilayah dengan nama PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dalam upaya menekan laju penyebaran virus.

***

“Ayo.. yo.. yo ayo..ayo”, suara seorang lelaki terdengar begitu kencang dan bersemangat mendekati rumah saya, tepat pukul setengah 8 pagi. Sekilas terdengar, suara itu seperti seorang komandan peleton yang sedang memimpin pasukannya berolahraga di pagi hari. Begitu si empunya suara lewat di depan pagar rumah saya, ternyata eh ternyata.. beliau adalah seorang penjual sayur gerobakan.

Beliau orang yang sangat rajin karena bisa berkeliling komplek lebih dari tiga kali sehari. Mendengar beliau berteriak “ayo yo ayo ayo” dengan nada berantakan itu rasanya sudah seperti makan obat saja. Padahal toh yang ia jual tidak berubah, pun tidak bertambah. Lucunya lagi, tukang sayur satu ini lebih banyak menjual minuman kemasan sachet daripada sayur. Bukan salah beliau sih, wong beliau tidak pernah berteriak “sayur… sayur”.

Dia yang berteriak “sayur.. sayur!” biasanya datang lebih siang. Tukang sayur gerobakan satu ini lebih kalem dibandingkan tukang sayur rasa komandan tadi. Suaranya timbul tenggelam sehingga saya dan ibu kadang-kadang tidak menyadari saat tukang sayur ini melewati depan pagar rumah saya. 

Tak hanya lebih kalem, tukang sayur yang selalu berkeliling di atas jam 10 pagi ini juga menjual sayur lebih lengkap. Saya dan ibu beberapa kali membeli beberapa bungkus cabai, tahu, kacang panjang, tauge dan bumbu dapur dari tukang sayur yang tidak pernah kami ketahui namanya ini. Sayangnya, kami tidak pernah membeli sayuran hijau dari tukang sayur kalem ini karena selalu saja sudah layu akibat beliau berkeliling terlalu siang.

Selain tukang sayur gerobakan, komplek perumahan saya juga didatangi tukang sayur bersepeda. Tukang sayur ini selalu membawa sayuran hijau seperti sawi manis, kangkung, dan bayam yang amat segar karena beliau mengambilnya langsung dari kebun. Selain sayur hijau, tukang sayur yang usianya masih sangat muda ini juga menjual tahu tempe dan singkong.

Tukang sayur muda ini orangnya lebih santai karena tidak muncul setiap hari. Beliau muncul pertama kali di pekan pandemi Covid-19 bermula. Ketika itu, beliau masih menjajakan sayur dengan memikulnya dari rumah ke rumah. Beberapa minggu setelahnya, beliau tiba-tiba sudah berkeliling membawa sepeda. Katanya, sepeda itu diberikan cuma-cuma oleh seorang Cina kaya yang tinggal di komplek kami.

Tukang sayur yang paling canggih namanya Pak Bowo. Saya pertama kali menemuinya saat sedang membawa anjing saya jalan pagi. Pak Bowo saat itu tengah dikerubungi ibu-ibu dari blok sebelah. Beliau cukup asing karena tidak pernah sekalipun berkeliling di blok kami. Singkat cerita, ternyata Pak Bowo ini tukang sayur ala dokter. Beliau hanya melayani pembelian sayur sesuai perjanjian. Semua sayur yang dibawanya adalah pesanan dari ibu-ibu di komplek yang menghubunginya saban hari melalui sms.

Mengetahui hal itu, saya pun langsung meminta nomor ponsel Pak Bowo di kali pertama kami berjumpa. Setelah saya menginfokan soal Pak Bowo ke ibu saya, beliau langsung menjajal memesan sayur ke Pak Bowo untuk esok hari. Sebuah keputusan yang tidak pernah kami sesali sama sekali karena ternyata sayur yang dibawa Pak Bowo keesokan harinya begitu lengkap sesuai pesanan dan sangat segar. Kerennya lagi, Pak Bowo ini juga melayani pemesanan buah, daging dan bahan boga laut segar. Ibu pun sampai hari ini terus memuji Pak Bowo yang begitu pandai memilih sayur, buah, daging, dan bahan boga laut. Sekalipun tidak pernah mengecewakan.

Sampai hari ini, kami selalu membeli sayur dari keempat tukang sayur tersebut secara bergantian. Saat ingin membeli sayur, buah, dan daging segar, kami selalu menghubungi Pak Bowo. Saat ingin membeli sayur hijau atau tahu tempe saja, kami akan menunggu tukang sayur bersepeda. Saat ingin membeli sayur dan bumbu dapur yang kelupaan di hari itu, kami tentu akan menantikan tukang sayur gerobakan yang kalem. Sementara ketika sudah tidak ada pilihan lain, tukang sayur ala komandan peletonlah yang kami panggil.

***

Jika dihitung-hitung, saya sudah lebih dari 90 hari mendekam di rumah sendiri. Saya menuruti saran pemerintah untuk diam saja di rumah demi mencegah diri tertular maupun menularkan Covid-19 ke famili sendiri. Walaupun sebenarnya, tanpa saran pemerintah, saya pun sehari-harinya lebih banyak di rumah.

Selama PSBB, banyak sekali aktivitas harian yang berubah. Salah satu yang paling terasa tentu soal belanja kebutuhan rumah tangga. Dulu, sekurang-kurangnya satu seminggu satu kali saya pergi ke pasar bersama ibu. Setiap kali pulang dari pasar, pasti kami membawa berkantung-kantung bahan masakan.

Kebiasaan tersebut saat ini tidak lagi saya lakukan. Bukan tidak bisa, tapi lebih karena saya tidak mau. Saya tidak mau membawa serta ibu saya ke tengah keramaian pasar yang kini menjadi salah satu tempat yang paling berpeluang menyebarkan virus. Saya bukan takut, tapi saya berusaha waspada. Toh orang bijak selalu bilang, mencegah lebih baik daripada mengobati. Iya bukan?

Syukur kepada alam semesta, absennya saya dari pasar tidak serta merta membuat saya tidak bisa masak makanan harian. Sebab, setiap harinya keempat pedagang sayur yang saya ceritakan sebelumnya, masih bisa masuk sampai blok terdalam sekalipun.

Sejak pandemi Covid-19, pedagang sayur keliling adalah pahlawan saya. Mereka adalah pahlawan yang hadir dari balik pagar saya sendiri. Saya tidak perlu repot bepergian untuk bisa menyiapkan pangan saya. Berkat pahlawan ini, komplek hunian saya yang terbilang “elit tidak, eksklusif pun tidak”, terselamatkan dari bahaya kelaparan di tengah pandemi. Untungnya, pedagang sayur seperti ini juga kerap kali berkeliling di gang-gang sempit perkampungan tengah kota. 

Jadi, ketika orang-orang kaya yang tinggal di pemukiman eksklusif harus repot menggunakan APD untuk bisa ke supermarket dan pasar modern, kami yang kelas menengah ke bawah ini malah tinggal jalan kaki keluar pagar untuk bisa membuat dapur terus ngebul.

Terima kasih pahlawanku! [T]

Tags: covid 19Jakarta
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

TikTok Syndrome di Masa Pandemi

Next Post

Sukarelawan Untuk Perubahan

PanchoNgaco

PanchoNgaco

Penikmat kopi pahit dan pekerja teks komersial yang masih gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Menetap di Jakarta.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Lima Pameran Seni yang Paling Berkesan di Bali

Sukarelawan Untuk Perubahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co