23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pahlawan Pandemi Datang dari Balik Pagar Rumah Sendiri

PanchoNgaco by PanchoNgaco
July 10, 2020
in Esai
Sop Kaki Kambing

Saat-saat begini, sudah pasti semua orang ikut bicara soal pandemi. Covid-19 yang mewabah di dunia sejak semester pertama tahun 2020, secara resmi menghampiri Indonesia sejak bulan Maret, melalui kasus 1 dan 2 yang berasal dari kluster di sebuah kafe di wilayah Jakarta Selatan.

Sejak hari itu, kasus positif Covid-19 berkembang pesat dengan Jakarta sebagai episentrum nasional. Dari kasus 1 dan 2, kini kasus positif penyakit yang menyerang organ pernafasan dan pencernaan itu berkembang menjadi ribuan. Sejumlah wilayah di Tanah Air pun akhirnya mulai memberlakukan karantina wilayah dengan nama PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dalam upaya menekan laju penyebaran virus.

***

“Ayo.. yo.. yo ayo..ayo”, suara seorang lelaki terdengar begitu kencang dan bersemangat mendekati rumah saya, tepat pukul setengah 8 pagi. Sekilas terdengar, suara itu seperti seorang komandan peleton yang sedang memimpin pasukannya berolahraga di pagi hari. Begitu si empunya suara lewat di depan pagar rumah saya, ternyata eh ternyata.. beliau adalah seorang penjual sayur gerobakan.

Beliau orang yang sangat rajin karena bisa berkeliling komplek lebih dari tiga kali sehari. Mendengar beliau berteriak “ayo yo ayo ayo” dengan nada berantakan itu rasanya sudah seperti makan obat saja. Padahal toh yang ia jual tidak berubah, pun tidak bertambah. Lucunya lagi, tukang sayur satu ini lebih banyak menjual minuman kemasan sachet daripada sayur. Bukan salah beliau sih, wong beliau tidak pernah berteriak “sayur… sayur”.

Dia yang berteriak “sayur.. sayur!” biasanya datang lebih siang. Tukang sayur gerobakan satu ini lebih kalem dibandingkan tukang sayur rasa komandan tadi. Suaranya timbul tenggelam sehingga saya dan ibu kadang-kadang tidak menyadari saat tukang sayur ini melewati depan pagar rumah saya. 

Tak hanya lebih kalem, tukang sayur yang selalu berkeliling di atas jam 10 pagi ini juga menjual sayur lebih lengkap. Saya dan ibu beberapa kali membeli beberapa bungkus cabai, tahu, kacang panjang, tauge dan bumbu dapur dari tukang sayur yang tidak pernah kami ketahui namanya ini. Sayangnya, kami tidak pernah membeli sayuran hijau dari tukang sayur kalem ini karena selalu saja sudah layu akibat beliau berkeliling terlalu siang.

Selain tukang sayur gerobakan, komplek perumahan saya juga didatangi tukang sayur bersepeda. Tukang sayur ini selalu membawa sayuran hijau seperti sawi manis, kangkung, dan bayam yang amat segar karena beliau mengambilnya langsung dari kebun. Selain sayur hijau, tukang sayur yang usianya masih sangat muda ini juga menjual tahu tempe dan singkong.

Tukang sayur muda ini orangnya lebih santai karena tidak muncul setiap hari. Beliau muncul pertama kali di pekan pandemi Covid-19 bermula. Ketika itu, beliau masih menjajakan sayur dengan memikulnya dari rumah ke rumah. Beberapa minggu setelahnya, beliau tiba-tiba sudah berkeliling membawa sepeda. Katanya, sepeda itu diberikan cuma-cuma oleh seorang Cina kaya yang tinggal di komplek kami.

Tukang sayur yang paling canggih namanya Pak Bowo. Saya pertama kali menemuinya saat sedang membawa anjing saya jalan pagi. Pak Bowo saat itu tengah dikerubungi ibu-ibu dari blok sebelah. Beliau cukup asing karena tidak pernah sekalipun berkeliling di blok kami. Singkat cerita, ternyata Pak Bowo ini tukang sayur ala dokter. Beliau hanya melayani pembelian sayur sesuai perjanjian. Semua sayur yang dibawanya adalah pesanan dari ibu-ibu di komplek yang menghubunginya saban hari melalui sms.

Mengetahui hal itu, saya pun langsung meminta nomor ponsel Pak Bowo di kali pertama kami berjumpa. Setelah saya menginfokan soal Pak Bowo ke ibu saya, beliau langsung menjajal memesan sayur ke Pak Bowo untuk esok hari. Sebuah keputusan yang tidak pernah kami sesali sama sekali karena ternyata sayur yang dibawa Pak Bowo keesokan harinya begitu lengkap sesuai pesanan dan sangat segar. Kerennya lagi, Pak Bowo ini juga melayani pemesanan buah, daging dan bahan boga laut segar. Ibu pun sampai hari ini terus memuji Pak Bowo yang begitu pandai memilih sayur, buah, daging, dan bahan boga laut. Sekalipun tidak pernah mengecewakan.

Sampai hari ini, kami selalu membeli sayur dari keempat tukang sayur tersebut secara bergantian. Saat ingin membeli sayur, buah, dan daging segar, kami selalu menghubungi Pak Bowo. Saat ingin membeli sayur hijau atau tahu tempe saja, kami akan menunggu tukang sayur bersepeda. Saat ingin membeli sayur dan bumbu dapur yang kelupaan di hari itu, kami tentu akan menantikan tukang sayur gerobakan yang kalem. Sementara ketika sudah tidak ada pilihan lain, tukang sayur ala komandan peletonlah yang kami panggil.

***

Jika dihitung-hitung, saya sudah lebih dari 90 hari mendekam di rumah sendiri. Saya menuruti saran pemerintah untuk diam saja di rumah demi mencegah diri tertular maupun menularkan Covid-19 ke famili sendiri. Walaupun sebenarnya, tanpa saran pemerintah, saya pun sehari-harinya lebih banyak di rumah.

Selama PSBB, banyak sekali aktivitas harian yang berubah. Salah satu yang paling terasa tentu soal belanja kebutuhan rumah tangga. Dulu, sekurang-kurangnya satu seminggu satu kali saya pergi ke pasar bersama ibu. Setiap kali pulang dari pasar, pasti kami membawa berkantung-kantung bahan masakan.

Kebiasaan tersebut saat ini tidak lagi saya lakukan. Bukan tidak bisa, tapi lebih karena saya tidak mau. Saya tidak mau membawa serta ibu saya ke tengah keramaian pasar yang kini menjadi salah satu tempat yang paling berpeluang menyebarkan virus. Saya bukan takut, tapi saya berusaha waspada. Toh orang bijak selalu bilang, mencegah lebih baik daripada mengobati. Iya bukan?

Syukur kepada alam semesta, absennya saya dari pasar tidak serta merta membuat saya tidak bisa masak makanan harian. Sebab, setiap harinya keempat pedagang sayur yang saya ceritakan sebelumnya, masih bisa masuk sampai blok terdalam sekalipun.

Sejak pandemi Covid-19, pedagang sayur keliling adalah pahlawan saya. Mereka adalah pahlawan yang hadir dari balik pagar saya sendiri. Saya tidak perlu repot bepergian untuk bisa menyiapkan pangan saya. Berkat pahlawan ini, komplek hunian saya yang terbilang “elit tidak, eksklusif pun tidak”, terselamatkan dari bahaya kelaparan di tengah pandemi. Untungnya, pedagang sayur seperti ini juga kerap kali berkeliling di gang-gang sempit perkampungan tengah kota. 

Jadi, ketika orang-orang kaya yang tinggal di pemukiman eksklusif harus repot menggunakan APD untuk bisa ke supermarket dan pasar modern, kami yang kelas menengah ke bawah ini malah tinggal jalan kaki keluar pagar untuk bisa membuat dapur terus ngebul.

Terima kasih pahlawanku! [T]

Tags: covid 19Jakarta
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

TikTok Syndrome di Masa Pandemi

Next Post

Sukarelawan Untuk Perubahan

PanchoNgaco

PanchoNgaco

Penikmat kopi pahit dan pekerja teks komersial yang masih gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Menetap di Jakarta.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Lima Pameran Seni yang Paling Berkesan di Bali

Sukarelawan Untuk Perubahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co