2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pahlawan Pandemi Datang dari Balik Pagar Rumah Sendiri

PanchoNgaco by PanchoNgaco
July 10, 2020
in Esai
Sop Kaki Kambing

Saat-saat begini, sudah pasti semua orang ikut bicara soal pandemi. Covid-19 yang mewabah di dunia sejak semester pertama tahun 2020, secara resmi menghampiri Indonesia sejak bulan Maret, melalui kasus 1 dan 2 yang berasal dari kluster di sebuah kafe di wilayah Jakarta Selatan.

Sejak hari itu, kasus positif Covid-19 berkembang pesat dengan Jakarta sebagai episentrum nasional. Dari kasus 1 dan 2, kini kasus positif penyakit yang menyerang organ pernafasan dan pencernaan itu berkembang menjadi ribuan. Sejumlah wilayah di Tanah Air pun akhirnya mulai memberlakukan karantina wilayah dengan nama PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dalam upaya menekan laju penyebaran virus.

***

“Ayo.. yo.. yo ayo..ayo”, suara seorang lelaki terdengar begitu kencang dan bersemangat mendekati rumah saya, tepat pukul setengah 8 pagi. Sekilas terdengar, suara itu seperti seorang komandan peleton yang sedang memimpin pasukannya berolahraga di pagi hari. Begitu si empunya suara lewat di depan pagar rumah saya, ternyata eh ternyata.. beliau adalah seorang penjual sayur gerobakan.

Beliau orang yang sangat rajin karena bisa berkeliling komplek lebih dari tiga kali sehari. Mendengar beliau berteriak “ayo yo ayo ayo” dengan nada berantakan itu rasanya sudah seperti makan obat saja. Padahal toh yang ia jual tidak berubah, pun tidak bertambah. Lucunya lagi, tukang sayur satu ini lebih banyak menjual minuman kemasan sachet daripada sayur. Bukan salah beliau sih, wong beliau tidak pernah berteriak “sayur… sayur”.

Dia yang berteriak “sayur.. sayur!” biasanya datang lebih siang. Tukang sayur gerobakan satu ini lebih kalem dibandingkan tukang sayur rasa komandan tadi. Suaranya timbul tenggelam sehingga saya dan ibu kadang-kadang tidak menyadari saat tukang sayur ini melewati depan pagar rumah saya. 

Tak hanya lebih kalem, tukang sayur yang selalu berkeliling di atas jam 10 pagi ini juga menjual sayur lebih lengkap. Saya dan ibu beberapa kali membeli beberapa bungkus cabai, tahu, kacang panjang, tauge dan bumbu dapur dari tukang sayur yang tidak pernah kami ketahui namanya ini. Sayangnya, kami tidak pernah membeli sayuran hijau dari tukang sayur kalem ini karena selalu saja sudah layu akibat beliau berkeliling terlalu siang.

Selain tukang sayur gerobakan, komplek perumahan saya juga didatangi tukang sayur bersepeda. Tukang sayur ini selalu membawa sayuran hijau seperti sawi manis, kangkung, dan bayam yang amat segar karena beliau mengambilnya langsung dari kebun. Selain sayur hijau, tukang sayur yang usianya masih sangat muda ini juga menjual tahu tempe dan singkong.

Tukang sayur muda ini orangnya lebih santai karena tidak muncul setiap hari. Beliau muncul pertama kali di pekan pandemi Covid-19 bermula. Ketika itu, beliau masih menjajakan sayur dengan memikulnya dari rumah ke rumah. Beberapa minggu setelahnya, beliau tiba-tiba sudah berkeliling membawa sepeda. Katanya, sepeda itu diberikan cuma-cuma oleh seorang Cina kaya yang tinggal di komplek kami.

Tukang sayur yang paling canggih namanya Pak Bowo. Saya pertama kali menemuinya saat sedang membawa anjing saya jalan pagi. Pak Bowo saat itu tengah dikerubungi ibu-ibu dari blok sebelah. Beliau cukup asing karena tidak pernah sekalipun berkeliling di blok kami. Singkat cerita, ternyata Pak Bowo ini tukang sayur ala dokter. Beliau hanya melayani pembelian sayur sesuai perjanjian. Semua sayur yang dibawanya adalah pesanan dari ibu-ibu di komplek yang menghubunginya saban hari melalui sms.

Mengetahui hal itu, saya pun langsung meminta nomor ponsel Pak Bowo di kali pertama kami berjumpa. Setelah saya menginfokan soal Pak Bowo ke ibu saya, beliau langsung menjajal memesan sayur ke Pak Bowo untuk esok hari. Sebuah keputusan yang tidak pernah kami sesali sama sekali karena ternyata sayur yang dibawa Pak Bowo keesokan harinya begitu lengkap sesuai pesanan dan sangat segar. Kerennya lagi, Pak Bowo ini juga melayani pemesanan buah, daging dan bahan boga laut segar. Ibu pun sampai hari ini terus memuji Pak Bowo yang begitu pandai memilih sayur, buah, daging, dan bahan boga laut. Sekalipun tidak pernah mengecewakan.

Sampai hari ini, kami selalu membeli sayur dari keempat tukang sayur tersebut secara bergantian. Saat ingin membeli sayur, buah, dan daging segar, kami selalu menghubungi Pak Bowo. Saat ingin membeli sayur hijau atau tahu tempe saja, kami akan menunggu tukang sayur bersepeda. Saat ingin membeli sayur dan bumbu dapur yang kelupaan di hari itu, kami tentu akan menantikan tukang sayur gerobakan yang kalem. Sementara ketika sudah tidak ada pilihan lain, tukang sayur ala komandan peletonlah yang kami panggil.

***

Jika dihitung-hitung, saya sudah lebih dari 90 hari mendekam di rumah sendiri. Saya menuruti saran pemerintah untuk diam saja di rumah demi mencegah diri tertular maupun menularkan Covid-19 ke famili sendiri. Walaupun sebenarnya, tanpa saran pemerintah, saya pun sehari-harinya lebih banyak di rumah.

Selama PSBB, banyak sekali aktivitas harian yang berubah. Salah satu yang paling terasa tentu soal belanja kebutuhan rumah tangga. Dulu, sekurang-kurangnya satu seminggu satu kali saya pergi ke pasar bersama ibu. Setiap kali pulang dari pasar, pasti kami membawa berkantung-kantung bahan masakan.

Kebiasaan tersebut saat ini tidak lagi saya lakukan. Bukan tidak bisa, tapi lebih karena saya tidak mau. Saya tidak mau membawa serta ibu saya ke tengah keramaian pasar yang kini menjadi salah satu tempat yang paling berpeluang menyebarkan virus. Saya bukan takut, tapi saya berusaha waspada. Toh orang bijak selalu bilang, mencegah lebih baik daripada mengobati. Iya bukan?

Syukur kepada alam semesta, absennya saya dari pasar tidak serta merta membuat saya tidak bisa masak makanan harian. Sebab, setiap harinya keempat pedagang sayur yang saya ceritakan sebelumnya, masih bisa masuk sampai blok terdalam sekalipun.

Sejak pandemi Covid-19, pedagang sayur keliling adalah pahlawan saya. Mereka adalah pahlawan yang hadir dari balik pagar saya sendiri. Saya tidak perlu repot bepergian untuk bisa menyiapkan pangan saya. Berkat pahlawan ini, komplek hunian saya yang terbilang “elit tidak, eksklusif pun tidak”, terselamatkan dari bahaya kelaparan di tengah pandemi. Untungnya, pedagang sayur seperti ini juga kerap kali berkeliling di gang-gang sempit perkampungan tengah kota. 

Jadi, ketika orang-orang kaya yang tinggal di pemukiman eksklusif harus repot menggunakan APD untuk bisa ke supermarket dan pasar modern, kami yang kelas menengah ke bawah ini malah tinggal jalan kaki keluar pagar untuk bisa membuat dapur terus ngebul.

Terima kasih pahlawanku! [T]

Tags: covid 19Jakarta
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

TikTok Syndrome di Masa Pandemi

Next Post

Sukarelawan Untuk Perubahan

PanchoNgaco

PanchoNgaco

Penikmat kopi pahit dan pekerja teks komersial yang masih gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Menetap di Jakarta.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Lima Pameran Seni yang Paling Berkesan di Bali

Sukarelawan Untuk Perubahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co