23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Geger Kampung, Kebiasaan Indekos dan Usaha Bangun Pagi

Agus Wiratama by Agus Wiratama
June 13, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Bagi Grudug, meski tubuhnya makin subur karena libur panjang, dia sesungguhnya tegang. Ia gagap dengan kebiasaan orang di rumah. Bagaimana tidak, kalau biasanya libur semester, ia tak pernah menyempatkan diri untuk belajar mekrama. Ia justru menghindar. Bila di rumah, dan kebetulan tetangga punya upacara, dia akan bertaka, “Harus segera kembali ke Singaraja. Ada persiapan acara anu.”  

Suatu kali, Grudug pernah ikut ngayah di Pura. Kala itu, ia masih sangat asing dengan segala hal yang dikerjakan ketika ngayah. Meski begitu, ia berhasil menyelesaikan beberapa pekerjaan yang disarankan prajuru adat. Membuat sate lilit, membersihkan kulit bawang, bahkan membersihkan sabut kelapa untuk dijadikan santun. Sejauh itu, ia terlihat berprestasi. Tetapi, setelah semua pekerjaan selesai adalah petaka baginya. Tak ada kerjaan, alias tangannya nganggur.

Grudug merasa cangung duduk sendiri di belakang limpahan kelapa yang sudah beres dijadikan santun. Langsung saja ia menuju teman-temannya yang mengerjakan hal lain. Tapi pekerjaan tinggal sedikit sehingga Grudug dilarang terlibat.

“temenin kami ngobrol aja,” ucap salah satu temannya. Sembari ngobrol, sungguh tak enak baginya hanya diam. Sampai-sampai rasa tak enak itu membuat tangannya tidak sadar mengambil sisa kelapa yang diparut. Seketika tangannya bekerja untuk memotong sisa kelapa itu di atas lantai tanpa alas.

“Untuk apa kelapa itu?” tanya seorang tua yang juga prajuru adat dan kebetulan duduk di belakangnya. Dengan cengengesan dia menjawab “tidak ada. Hehehe”. Jawaban itu langsung disambar, “kalau tidak ada gunanya mendingan diam!” Grudug terkesiap, lalu diam merunduk meski tahu teman-temannya tertawa cekikikan.

Semenjak itu, ia enggan turut dalam persiapan upacara. Mending kabur ke Singaraja dengan alasan mengerjakan sesuatu meski sesungguhnya di Singaraja dia tidak benar-benar menyelesaikan tugas. Di sana palingan dia bertemu teman-temannya untuk ngobrol hingga pagi. Pilihan untuk menghindari pekerjaan adat dan pergaulan kampung rupanya petaka pada saat-saat seperti ini.

Ia tidak paham betul kebiasaan orang rumah. Sementara Grudug biasa hidup dengan kebiasaan anak kos yang bebas begadang atau bangun jam berapa saja. Kebiasaan itu yang paling berat ia ubah selama pandemi ini. Kalau di kos, tentu bukan sebuah masalah bila ia bangun siang. Palingan kalau telat bangun pada jam kuliah, dia akan disuruh menutup pintu dari luar kelas. Hal seperti itu menurutnya hal biasa dan bisa dimaklumi.

Karena kebiasaan bangun siang itu dibawanya ke kampung, suatu kali Pamannya nyeletuk, “Grudug ini Jagoan! Jago tidur. Kalau ada lomba tidur kaulah pemenangnya” Grudug terperangah dengan perkataan semacam itu. Lalu ia jelaskan bahwa apa yang dia kerjakan hingga pagi dan bangun siang adalah kepentingan skripsi. Mendengar penjelasan itu, pamannya seolah paham dengan tersenyum mengangguk-angguk menatap rumput yang ada di depan mereka.

Berpikir pamannya sudah paham, dengan leluasa Grudug mengulangi kebiasaan itu. Alhasil, bibinya kemudian berkomentar seperti komentar pamannya. Kali ini Grudug bertekad mengubah kebiasaannya. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya ia berhasil bangun pagi. Tetapi, ia tetap di dalam kamar untuk membaca beberapa buku, membaca chating yang masuk karena ditinggal tidur, dan sedikit membuka laptop untuk mengerjakan skripsi, sehingga ia baru keluar kamar sekitar pukul 11.00 pagi.

Kini, ayahnya yang menggedor pintu kamar, “gak baik tidur terlalu lama. Cepat bangun” gedor ayahnya berkali-kali. Grudug tak mendengar, sebab kala itu, sepasang headshet menempel di telinganya. Hingga gedoran kesekian, ia baru sadar ada suara berisik yang menggedor pintunya.

Rupanya, bangun pagi saja tidak cukup. Grudug kesal lalu menulis petikan di atas sebuah kertas yang kemudian menjadi motivasinya, “bangun adalah keluar kamar”. Esoknya ia lakukan kesimpulan yang dijadikan petikan itu dan memperhatikan kegiatan pagi di rumahnya.

Betul saja, ibu-ibu mulai sibuk dengan pekerjaan dapur. Mondar mandir dari kamar ke dapur untuk menyiapkan makanan. Begitu pula ayah dan pamannya yang mondar mandir mengurusi tanaman, peliharaan, lalu mengambil cangkul dan sabit entah untuk mengerjakan apa di sawah. Tetapi ada satu orang yang bertingkah lain dan tak pernah ditegur, yaitu sepupunya.

Pengamatan pun dilakukan terhadap sepupunya hingga pengamatan itu sukses. Ia melihat sepupunya bengong menatap sawah sambil ngopi dari jam 7.00 hingga jam 8.00, lalu pergi ke sungai bersama teman-temannya untuk mandi. Tapi sebelum itu, mereka ngobrol sampai jam 10.00, setelah itu pulang, makan, mengambil hp sebentar, lalu masuk kamar untuk tidur siang. Setelah beberapa hari memperhatikan, rupanya kegiatan sepupunya tidak berbeda jauh dari hari ke hari.

Selang beberapa lama, Grudug mulai terbiasa bangun pagi dan meninggalkan kegiatan malamnya hingga pagi. Ia fokus belajar bangun pagi dan mengorbankan tuntutan kampus yang ia anggap bisa ditunda. Tentu bangun pagi dengan pilihan sikap seperti sepupunya. Tetapi hal yang berbeda adalah sepupunya seorang pekerja pariwisata yang dirumahkan dan Grudug seorang mahasiswa semester akhir. Pamannya, suatu kali melempar pertanyaan yang membuatnya ingin segera kabur lagi ke Singaraja, “Bagaimana skripsimu?” [T]

Tags: gaya hidupkampungmahasiswa
Share49TweetSendShareSend
Previous Post

Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [2] – Herd Immunity dan New Normal

Next Post

Ketika Tim Kreatif Tak Lagi Kreatif

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Tim Kreatif Tak Lagi Kreatif

Ketika Tim Kreatif Tak Lagi Kreatif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co