24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

LPD untuk Berbuat Baik, Memenuhi Kebutuhan, Kaya, dan Moksa

I Nengah Suarmanayasa by I Nengah Suarmanayasa
April 14, 2020
in Esai
LPD untuk Berbuat Baik, Memenuhi Kebutuhan, Kaya, dan Moksa

Ilustrasi tatkala.co / Nana Partha

Sekolah Dasar (SD) adalah tempat formal pertama belajar agama Hindu. Paling tidak itu yang saya alami. Maklum tidak pernah merasakan indah dan serunya belajar di sekolah Taman kanak-kanak (TK). Sepertinya sampai sekarang pelajaran agama memang dimulai dari SD. TK belum mengajarkan secara spesifik tentang agama.

Masih segar diingatan saya, saat itu duduk kelas 3 SD mulai belajar Tri Sandya. Tri Sandya adalah mantra yang diucapkan/dinyanyikan tiga kali dalam sehari yakni di pagi hari, siang hari dan saat menjelang malam. Saat masih SD, pelakasanaan Tri Sandya rutin dilakukan, pagi sebelum memulai pelajaran, dan siang menjelang pulang sekolah. Kegiatan itu tetap dilakukan saat sekolah di tingkat SMP dan SMA. Saat kuliah, sepertinya hal-hal seperti itu sudah menjadi hal pribadi masing-masing orang. Karena sifatnya pribadi, maka tidak boleh ditanyakan apakah hari ini sudah melakukan Tri Sandya apa belum.

Saat SMP dan SMA mulai diajarkan tentang tujuan akhir hidup manusia Hindu yakni moksartham jagadhita ya ca iti dharma. Kalimat tersebut memiliki makna bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai kesejahteraan hidup di dunia maupun mencapai kebahagiaan di akhirat (moksa). Banyak jalan dan cara yang diajarkan menuju tujuan tersebut. Diantaranya dengan mengamalkan ajaran Catur Purusa Artha, melaksanakan Tri Kaya Parisudha, percaya dengan adanya Karmaphala, menjalankan ajaran Panca Sradha, melaksanakan ajaran Catur Paramitha, dan banyak lagi ajaran yang lainnya.

Tujuan hidup tersebut masih sangat relevan dan masih menjadi tujuan hidup  manusia jaman sekarang. Malah tujuan hidup itu benar-benar diinginkan oleh semua orang meskipun yang bersangkutan bukan penganut agama Hindu. Bahwa sejatinya manusia ingin berbahagia di dunia ini (sekarang juga) dan juga ingin berbahagia di dunia akhirat dengan mendapatkan surga.

Ungkapan itu juga hampir sama dengan lirik lagu dari band legendaris Indonesia: Slank. Lagu yang berjudul “entah jadi apa” berisi lirik, terserah jadi apa asal, kecil disuka, muda terkenal, tua kaya raya dan mati masuk surga. Kehidupan dalam lirik lagu ini sepertinya menjadi impian semua orang di era sekarang ini. Saat masih hidup, kaya raya dan saat sudah meninggal masuk surga.

Catur Purusa Artha adalah salah satu ajaran yang lebih mudah dipahami kaitannya dengan tujuan hidup manusia. Secara etimologi, Catur Purusa Artha berasal dari Bahasa Sansekerta, dari akar kata Catur, Purusa dan Artha. Catur diartikan empat, Purusa berarti manusia dan Artha artinya tujuan. Sehingga Catur Purusa Artha dapat diartikan empat tujuan hidup manusia (Surpha, 2005). Secara sederhana empat tujuan tersebut adalah dharma, yaitu berbuat baik kepada orang lain dan diri sendiri. Kama, memenuhi kebutuhan dan keinginan sebagai manusia individu maupun sebagai makhlik sosial.

Artha, memiliki kekayaan atau harta benda yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan sebagai manusia. Terakhir, mencapai moksa yaitu bersatu dengan parama atma (mencapai surga). Atau secara sederhana, dapat dikatakan bahwa tahapan untuk mencapai tujuan hidup  adalah, pertama harus berbuat kebaikan (dharma). Kedua, harus memiliki kecukupan finansial (artha). Ketiga, mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan (kama). Keempat, mencapai moksa.

Bagaimana implementasi ajaran Catur Purusa Artha dalam kehidupan seharai-hari? Apakah ajaran tersebut bisa dilaksanakan utuh sesuai tahapan ataukah dimodifikasi? Apakah manusia zaman now masih menjadikan ajaran ini sebagai pedoman dalam menjalani hidup? Pertanyaan ini penting dilontarkan mengingat manusia adalah homo economicus yaitu manusia yang tidak akan pernah merasa puas dan selalu berusaha terus menerus untuk memenuhi kebutuhan serta keinginannya.

Untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan itu, kadangkala bahkan sering syarat utama yang harus dimiliki adalah uang (artha). Uang menjadikan manusia lebih mudah berpikir, berucap dan berbuat baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain (dharma). Terpenting, jika sudah memiliki uang maka jauh lebih gampang dan lebih cepat memenuhi keinginan dan kebutuhan (kama). Dalam konteks ini tentu ajaran Catur Purusa Artha masih menjadi pedoman tetapi tahapannya yang berubah atau dimodifikasi. Yakni dimulai dari artha, dharma, kama kemudian moksa.

Bagaimana dengan kehidupan bisnis. Apakah ajaran Catur Purusa Artha juga dijadikan pedoman dalam menjalankan usaha? LPD adalah salah satu entitas usaha yang berbasis agama Hindu. Dalam syarat pendiriannya, LPD harus didirikan di wilayah desa adat. Desa adat adalah kesatuan masyarakat hukum adat di Provinsi Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu secara turun temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga atau Kahyangan Desa yang mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri.

Dalam definisi tersebut disinggung adanya ikatan Kahyangan Tiga atau Kahyangan Desa. Pura yang ada di masing-masing desa adat merupakan pengejawantahan dari konsep tersebut. Sehingga secara sederhana, dapat dikatakan bahwa LPD adalah lembaga keuangan yang dimiliki oleh desa adat yang bernafaskan agama Hindu. LPD melakukan kegiatan usaha berupa menerima atau menghimpun dana dari krama desa dalam bentuk dhana sepelan (tabungan) dan dhana sesepelan (deposito). Disamping itu juga memberikan pinjaman berupa kredit serta jasa-jasa lainnya seperti pembayaran listrik, air PDAM, pajak, dan lainnya. Kegiatan tersebut pada akhirnya menghasilkan keuntungan bagi LPD.

Peraturan daerah Nomor 3/2017 tentang LPD, yakni Pasal 23 mengatur pembagian keuntungan bersih dari LPD. Pasal tersebut secara rinci mengatur alokasi dari keuntungan LPD. , 1) 60% digunakan sebagai cadangan modal 2) 20% sebagai dana pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa adat, 3) 10% untuk jasa produksi (bonus), 4) 5% untuk pemberdayaan prajuru dan panureksa, dan 5) 5% untuk dana sosial. Pembagian ini wajib dilaksanakan karena ini adalah perintah dari perda LPD. Jika dicermati, pembagian keuntungan ini sejatinya wujud nyata dari ajaran Catur Purusa Artha.

Keuntungan yang berupa uang (artha) digunakan untuk berbuat kebaikan (dharma), yaitu untuk dana sosial, untuk pembangunan dan untuk pemberdayaan masyarakat desa. Di lapangan, dana ini digunakan untuk membantu warga miskin, membantu biaya pengobatan pemangku, digunakan untuk membangun pura, membangun balai banjar, digunakan untuk biaya ngaben dan metatah massal, digunakan untuk membiayai pembuatan ogoh-ogoh dan sejenisnya.

Salah satu ciri LPD adalah LPD hadir, oleh, dari, dan untuk krama desa. Krama yang memiliki inisiatif untuk mendirikan LPD, krama yang memanfaatkannya serta jika ada keuntungan maka sebesar 25% akan kembali dinikmati oleh krama desa. Jika kontribusi krama semakin besar terhadap LPD maka semakin besar pula keuntungan yang akan dinikmati oleh krama desa. Untuk itu, diharapkan krama desa mendukung penuh keberadaan LPD di masing-masing desa adat.

Berikutnya, keuntungan yang diperoleh LPD digunakan untuk tambahan modal. Modal adalah salah satu unsur yang sangat penting dalam menjalankan usaha. Jika jumlah modal yang dimiliki meningkat maka aktivitas usaha juga dipastikan akan meningkat. Peningkatan aktivitas usaha akan meningkatkan potensi keuntungan di kemudian hari. Tambahan modal yang besarnya 60% dari keuntungan bersih LPD ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan LPD dalam menjalankan usaha. Harapannya, LPD akan terus bertumbuh dan berkembang sehingga mampu menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Dalam konteks ini, artha berupa keuntungan digunakan untuk menambah kekayaan (artha).

Selanjutnya, artha yang dimiliki digunakan untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan prajuru dan panureksa LPD (kama). Kebutuhan dan keinginan pengelola LPD berupa bonus akhir tahun (jasa produksi). Dana ini sangat penting artinya bagi pengelola LPD. Dana ini bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan keluarga. Selain itu, dana ini  digunakan untuk meningkatkan kemampuan atau kapasaitas diri pengelola LPD. Dana yang dimiliki digunakan untuk pelatihan, mengikuti seminar, serta memberikan bantuan dana (semacam beasiswa) bagi karyawan yang melanjutkan pendidikan. Diharapkan artha ini menjadi pemantik semangat agar ke depan pengelola LPD lebih profesional dalam menjalankan operasional LPD.

Hal-hal yang yang telah diuraikan sebelumnya merupakan bukti nyata bahwa ajaran Catur Purusa Artha telah diimplementasikan pada LPD. LPD adalah kebanggaan masyarakat Bali. Tahun 2008, LPD dinobatkan sebagai lembaga pemberi pinjaman kepada masyarakat pedesaan terbaik se-Indonesia. Penghargaan tersebut disampaikan oleh Presiden SBY saat pertemuan Kredit Mikro Asia-Pasifik di Bali International Convention Center (BICC) Nusa Dua. Semoga kehadiran LPD dapat membantu krama desa mencapai moksartham jagadhita ya ca iti dharma. Astungkara. [T]

Tags: desa adathinduLPDmoksha
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

Upah “Negen Blesengan” Jadi Gamelan Gong Kebyar – [Nostalgia dari Serongga Tengah, Gianyar]

Next Post

Kita Adalah Lubdaka Yang Tetap Tinggal Di Rumah

I Nengah Suarmanayasa

I Nengah Suarmanayasa

Staf pengajar di FE Undiksha-Singaraja

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kita Adalah Lubdaka Yang Tetap Tinggal Di Rumah

Kita Adalah Lubdaka Yang Tetap Tinggal Di Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co