2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

LPD untuk Berbuat Baik, Memenuhi Kebutuhan, Kaya, dan Moksa

I Nengah Suarmanayasa by I Nengah Suarmanayasa
April 14, 2020
in Esai
LPD untuk Berbuat Baik, Memenuhi Kebutuhan, Kaya, dan Moksa

Ilustrasi tatkala.co / Nana Partha

Sekolah Dasar (SD) adalah tempat formal pertama belajar agama Hindu. Paling tidak itu yang saya alami. Maklum tidak pernah merasakan indah dan serunya belajar di sekolah Taman kanak-kanak (TK). Sepertinya sampai sekarang pelajaran agama memang dimulai dari SD. TK belum mengajarkan secara spesifik tentang agama.

Masih segar diingatan saya, saat itu duduk kelas 3 SD mulai belajar Tri Sandya. Tri Sandya adalah mantra yang diucapkan/dinyanyikan tiga kali dalam sehari yakni di pagi hari, siang hari dan saat menjelang malam. Saat masih SD, pelakasanaan Tri Sandya rutin dilakukan, pagi sebelum memulai pelajaran, dan siang menjelang pulang sekolah. Kegiatan itu tetap dilakukan saat sekolah di tingkat SMP dan SMA. Saat kuliah, sepertinya hal-hal seperti itu sudah menjadi hal pribadi masing-masing orang. Karena sifatnya pribadi, maka tidak boleh ditanyakan apakah hari ini sudah melakukan Tri Sandya apa belum.

Saat SMP dan SMA mulai diajarkan tentang tujuan akhir hidup manusia Hindu yakni moksartham jagadhita ya ca iti dharma. Kalimat tersebut memiliki makna bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai kesejahteraan hidup di dunia maupun mencapai kebahagiaan di akhirat (moksa). Banyak jalan dan cara yang diajarkan menuju tujuan tersebut. Diantaranya dengan mengamalkan ajaran Catur Purusa Artha, melaksanakan Tri Kaya Parisudha, percaya dengan adanya Karmaphala, menjalankan ajaran Panca Sradha, melaksanakan ajaran Catur Paramitha, dan banyak lagi ajaran yang lainnya.

Tujuan hidup tersebut masih sangat relevan dan masih menjadi tujuan hidup  manusia jaman sekarang. Malah tujuan hidup itu benar-benar diinginkan oleh semua orang meskipun yang bersangkutan bukan penganut agama Hindu. Bahwa sejatinya manusia ingin berbahagia di dunia ini (sekarang juga) dan juga ingin berbahagia di dunia akhirat dengan mendapatkan surga.

Ungkapan itu juga hampir sama dengan lirik lagu dari band legendaris Indonesia: Slank. Lagu yang berjudul “entah jadi apa” berisi lirik, terserah jadi apa asal, kecil disuka, muda terkenal, tua kaya raya dan mati masuk surga. Kehidupan dalam lirik lagu ini sepertinya menjadi impian semua orang di era sekarang ini. Saat masih hidup, kaya raya dan saat sudah meninggal masuk surga.

Catur Purusa Artha adalah salah satu ajaran yang lebih mudah dipahami kaitannya dengan tujuan hidup manusia. Secara etimologi, Catur Purusa Artha berasal dari Bahasa Sansekerta, dari akar kata Catur, Purusa dan Artha. Catur diartikan empat, Purusa berarti manusia dan Artha artinya tujuan. Sehingga Catur Purusa Artha dapat diartikan empat tujuan hidup manusia (Surpha, 2005). Secara sederhana empat tujuan tersebut adalah dharma, yaitu berbuat baik kepada orang lain dan diri sendiri. Kama, memenuhi kebutuhan dan keinginan sebagai manusia individu maupun sebagai makhlik sosial.

Artha, memiliki kekayaan atau harta benda yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan sebagai manusia. Terakhir, mencapai moksa yaitu bersatu dengan parama atma (mencapai surga). Atau secara sederhana, dapat dikatakan bahwa tahapan untuk mencapai tujuan hidup  adalah, pertama harus berbuat kebaikan (dharma). Kedua, harus memiliki kecukupan finansial (artha). Ketiga, mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan (kama). Keempat, mencapai moksa.

Bagaimana implementasi ajaran Catur Purusa Artha dalam kehidupan seharai-hari? Apakah ajaran tersebut bisa dilaksanakan utuh sesuai tahapan ataukah dimodifikasi? Apakah manusia zaman now masih menjadikan ajaran ini sebagai pedoman dalam menjalani hidup? Pertanyaan ini penting dilontarkan mengingat manusia adalah homo economicus yaitu manusia yang tidak akan pernah merasa puas dan selalu berusaha terus menerus untuk memenuhi kebutuhan serta keinginannya.

Untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan itu, kadangkala bahkan sering syarat utama yang harus dimiliki adalah uang (artha). Uang menjadikan manusia lebih mudah berpikir, berucap dan berbuat baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain (dharma). Terpenting, jika sudah memiliki uang maka jauh lebih gampang dan lebih cepat memenuhi keinginan dan kebutuhan (kama). Dalam konteks ini tentu ajaran Catur Purusa Artha masih menjadi pedoman tetapi tahapannya yang berubah atau dimodifikasi. Yakni dimulai dari artha, dharma, kama kemudian moksa.

Bagaimana dengan kehidupan bisnis. Apakah ajaran Catur Purusa Artha juga dijadikan pedoman dalam menjalankan usaha? LPD adalah salah satu entitas usaha yang berbasis agama Hindu. Dalam syarat pendiriannya, LPD harus didirikan di wilayah desa adat. Desa adat adalah kesatuan masyarakat hukum adat di Provinsi Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu secara turun temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga atau Kahyangan Desa yang mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri.

Dalam definisi tersebut disinggung adanya ikatan Kahyangan Tiga atau Kahyangan Desa. Pura yang ada di masing-masing desa adat merupakan pengejawantahan dari konsep tersebut. Sehingga secara sederhana, dapat dikatakan bahwa LPD adalah lembaga keuangan yang dimiliki oleh desa adat yang bernafaskan agama Hindu. LPD melakukan kegiatan usaha berupa menerima atau menghimpun dana dari krama desa dalam bentuk dhana sepelan (tabungan) dan dhana sesepelan (deposito). Disamping itu juga memberikan pinjaman berupa kredit serta jasa-jasa lainnya seperti pembayaran listrik, air PDAM, pajak, dan lainnya. Kegiatan tersebut pada akhirnya menghasilkan keuntungan bagi LPD.

Peraturan daerah Nomor 3/2017 tentang LPD, yakni Pasal 23 mengatur pembagian keuntungan bersih dari LPD. Pasal tersebut secara rinci mengatur alokasi dari keuntungan LPD. , 1) 60% digunakan sebagai cadangan modal 2) 20% sebagai dana pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa adat, 3) 10% untuk jasa produksi (bonus), 4) 5% untuk pemberdayaan prajuru dan panureksa, dan 5) 5% untuk dana sosial. Pembagian ini wajib dilaksanakan karena ini adalah perintah dari perda LPD. Jika dicermati, pembagian keuntungan ini sejatinya wujud nyata dari ajaran Catur Purusa Artha.

Keuntungan yang berupa uang (artha) digunakan untuk berbuat kebaikan (dharma), yaitu untuk dana sosial, untuk pembangunan dan untuk pemberdayaan masyarakat desa. Di lapangan, dana ini digunakan untuk membantu warga miskin, membantu biaya pengobatan pemangku, digunakan untuk membangun pura, membangun balai banjar, digunakan untuk biaya ngaben dan metatah massal, digunakan untuk membiayai pembuatan ogoh-ogoh dan sejenisnya.

Salah satu ciri LPD adalah LPD hadir, oleh, dari, dan untuk krama desa. Krama yang memiliki inisiatif untuk mendirikan LPD, krama yang memanfaatkannya serta jika ada keuntungan maka sebesar 25% akan kembali dinikmati oleh krama desa. Jika kontribusi krama semakin besar terhadap LPD maka semakin besar pula keuntungan yang akan dinikmati oleh krama desa. Untuk itu, diharapkan krama desa mendukung penuh keberadaan LPD di masing-masing desa adat.

Berikutnya, keuntungan yang diperoleh LPD digunakan untuk tambahan modal. Modal adalah salah satu unsur yang sangat penting dalam menjalankan usaha. Jika jumlah modal yang dimiliki meningkat maka aktivitas usaha juga dipastikan akan meningkat. Peningkatan aktivitas usaha akan meningkatkan potensi keuntungan di kemudian hari. Tambahan modal yang besarnya 60% dari keuntungan bersih LPD ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan LPD dalam menjalankan usaha. Harapannya, LPD akan terus bertumbuh dan berkembang sehingga mampu menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Dalam konteks ini, artha berupa keuntungan digunakan untuk menambah kekayaan (artha).

Selanjutnya, artha yang dimiliki digunakan untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan prajuru dan panureksa LPD (kama). Kebutuhan dan keinginan pengelola LPD berupa bonus akhir tahun (jasa produksi). Dana ini sangat penting artinya bagi pengelola LPD. Dana ini bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraan keluarga. Selain itu, dana ini  digunakan untuk meningkatkan kemampuan atau kapasaitas diri pengelola LPD. Dana yang dimiliki digunakan untuk pelatihan, mengikuti seminar, serta memberikan bantuan dana (semacam beasiswa) bagi karyawan yang melanjutkan pendidikan. Diharapkan artha ini menjadi pemantik semangat agar ke depan pengelola LPD lebih profesional dalam menjalankan operasional LPD.

Hal-hal yang yang telah diuraikan sebelumnya merupakan bukti nyata bahwa ajaran Catur Purusa Artha telah diimplementasikan pada LPD. LPD adalah kebanggaan masyarakat Bali. Tahun 2008, LPD dinobatkan sebagai lembaga pemberi pinjaman kepada masyarakat pedesaan terbaik se-Indonesia. Penghargaan tersebut disampaikan oleh Presiden SBY saat pertemuan Kredit Mikro Asia-Pasifik di Bali International Convention Center (BICC) Nusa Dua. Semoga kehadiran LPD dapat membantu krama desa mencapai moksartham jagadhita ya ca iti dharma. Astungkara. [T]

Tags: desa adathinduLPDmoksha
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

Upah “Negen Blesengan” Jadi Gamelan Gong Kebyar – [Nostalgia dari Serongga Tengah, Gianyar]

Next Post

Kita Adalah Lubdaka Yang Tetap Tinggal Di Rumah

I Nengah Suarmanayasa

I Nengah Suarmanayasa

Staf pengajar di FE Undiksha-Singaraja

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Kita Adalah Lubdaka Yang Tetap Tinggal Di Rumah

Kita Adalah Lubdaka Yang Tetap Tinggal Di Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co