24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Kangkung, Capung, dan Kampung

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
April 10, 2020
in Esai
Kisah Kangkung, Capung, dan Kampung

Ilustrasi tatkala.co / Nana Partha

Sekira pada tahun 2016, bulan November, saya ditelpon untuk pulang kampung ke Ole, Tabanan. Biasalah, November itu peringatan hari pahlawan di Margarana, yang dirayakan dengan meriah. Ada pasar malam, ada jalan sehat, ada lomba-lomba, pentas seni, dan banyak acara menarik lainnya. Saya sebenarnya tidak begitu antusias, karena biasanya jalan pulang kampung jadi macet dan melelahkan. Sebab jalan raya satu satunya yang sempit itu dijejali motor dan mobil yang hendak ke Taman Pujaan Bangsa.

Namun kala itu, ajakan telponnya berbeda. Yang menelpon saat itu Ibu Mertua (tabik kulun Hyang Meme) yang mengajak saya ikut jalan sehat. Aneh juga, saya disuruh pulang hanya untuk mengikuti jalan sehat. Saya pulang juga. Menurut saja. Bersama anak-anak dan kakeknya, saya berangkat. Ibu Mertua tidak ikut, alasannya ada saja, padahal beliau yang menyuruh saya pulang hanya untuk ikut acara ini. Sementara suami saya, ikut tapi menyusul naik motor, biasalah dia selalu beralasan gak kuat jalan. Nanti kalau kami capek katanya akan dibonceng. Saya tahu itu alasannya saja.

Lalu acara mulai. Kami mendapat kupon undian yang akan dipertukarkan dengan hadiah-hadiah menarik nantinya. Wah, selama berjalan, kami melewati persawahan yang luas membentang dan sungai-sungai kecil di kiri kanannya. Saya ingat waktu itu Kayu baru berusia dua tahun, dan sedikit-sedikit digendong. Sementara Putik sudah asyik berjalan dengan sepupu-sepupunya. Bapak mertua sesekali membantu saya menggendong Kayu, atau mengawasi Putik. Pemandangan sawah dan ladang sangat indah, meskipun saya tertatih tatih melewatinya, sebab kurang pandai berjalan di pematang.

Singkat cerita, tibalah kami di garis finish yaitu di wantilan Taman Pujaan Bangsa. Saat yang ditunggu-tunggupun tiba. Yaitu penarikan hadiah untuk undian kupon. Hadiahnya sungguh mengejutkan. Setidaknya bagi saya. Ada sabit (puluhan), kapak (puluhan), pupuk, benih sayur mayur, alat rumah tangga, dan hadiah utamanya kalau tidak salah adalah anak babi.

Bagi saya hadiah-hadiah ini kurang relevan untuk saya, apalagi untuk Putik, tapi pasti relevan untuk mertua saya. Saya menunggu dengan tidak berharap. Hopeless karena melihat hadiahnya. Yang semangat justru Bapak. Setiap saya beranjak mau pulang, dia memberi isyarat, tunggu sebentar. Satu persatu kupon dibacakan, kupon saya tidak dipanggil-panggil juga. Sekian sabit sudah dibagikan, nomor kami tidak kena juga.

Anehnya, Bapak mertua saya tak gentar-gentar juga pulang. Dia rupanya berharap dapat sabit, atau kapak, atau apapun itu. Saya agak lapar. Lalu melipir beli lumpia ke pinggir. Di pinggir, suami saya nangkring di atas motor, siap menjemput. Saya mengajak Putik melipir.

Nah saat menyuap lumpia itu, tiba-tiba nomor Putik dipanggil. Sekian sekian sekian. Putik segera melupakan lumpia, dan maju ke depan. Dia sangat bangga bisa mendapat hadiah, setidaknya tidak rugi menunggu. Dan ketika dia ke depan, hadiahnya tak lain tak bukan adalah benih kangkung. Seumur hidupnya, itulah pertama kali Putik memegang benih kangkung. Oladalah, Putik memperlihatkan benih itu ke saya, dan saya bengong. Kakeknya yang gembira. Hore, katanya, Pekak gak dapat sabit, tapi dapat benih kangkung. Bisa ditanam. Putik juga bahagia bisa bikin kakeknya bahagia.

Demikianlah. Hari demi hari berlalu dan saya tidak melupakan detail kejadian itu. Sebungkus benih kangkung sebagai hadiah doorprize buat Putik. Tentu nasib benih itu sangat baik di tangan Bapak mertua, karena saya dengar benihnya disemai, bibitnya ditanam, dirawat dan dipelihara, dipanen. Sepertinya panen sudah berkali kali. Saya bahkan tidak sempat membantu apapun dengan hal itu. Sesekali pulang, kalau sempat, Bapak saya mencarikan kangkung untuk saya bawa pulang. Saya tidak bertanya lagi apakah itu hasil panen benih kangkung Putik atau benih lain. Yang jelas, saya bersyukur benih itu berguna bagi Bapak. Setidaknya itu menjadi memori bawah sadar saya untuk mulai kenal dengan benih kangkung.

Tahun 2017 saya membuat rancangan sebuah teater untuk 11 Ibu. Program itu bernama 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah berjalan di sepanjang tahun 2018. Namun di tahun itu juga saya kehilangan Ibu Mertua, dengan sangat mendadak. Ibu jatuh dan koma tiga hari, lalu pergi. Saya merasa limbung dan suwung. Mangmung. Tahun 2018 dan 2019 adalah masa-masa yang berlalu dengan berat. Kenangan dengan beliau sungguh terasa.

Lalu masuk tahun 2020, awal tahun dunia digemparkan dengan virus Corona, yang berawal di Wuhan, China. Saya membayangkan saja sudah ngeri jika virus itu tiba di Indonesia. Awal Maret, tepatnya 2 Maret, ketakutan itu nyata. Virus itu masuk ke Indonesia. Dua orang dinyatakan positif. Jokowi mengumumkan langsung saat itu. Hari-hari berikutnya terasa mulai mencekam. Meskipun di Bali masih belum gawat. Belum sampai Bali waktu itu. Tapi kecemasan sudah terasa.

Saya sudah bersiap dengan ide menanam di rumah. Saya merasa dunia akan berubah seketika. Ada sebuah isu akan karantina wilayah, lockdown, atau pembatasan keluar rumah, saya saat itu hanya memikirkan satu hal, saya harus mulai menanam. Saya tekun membaca berita pangan, bergabung dengan komunitas pangan lokal, di Singaraja bernama Komunitas Lumbung Pangan Keluarga. Saya melihat postingan teman-teman, belajar di youtube, mulai sadar akan pentingnya menanam untuk kebutuhan sendiri.

Saya pertama kali memesan bibit bawang putih lokal, dari Koperasi Pangan Bali Utara. Bibit ini hadir ketika Mahima mengadakan acara Mahima March March March. Saya membeli dari kawan, Bu Dina yang langsung dibawakan pada tanggal 13 Maret 2020.  Entah karena terlalu ramai saat itu atau ada yang menggoreng bawangnya dan langsung membuang bungkusnya, yang jelas, bibit itu lenyap sampai bungkusnya. Saya sampai mengorek ngorek sampah, dan tidak ada.

Padahal saya berjanji pada diri sendiri akan menanam segera. Segera saya hubungi Bu Dina untuk membeli lagi bibit yang kedua kalinya, dan langsung malam itu juga saya dibawakan oleh sahabat Kardian Narayana. Dua paket bibit saya bayar tunai. Meskipun bibit pertama telah lenyap entah kemana. Saya ingat bibit kedua saya letakkan di samping meja kerja saya, di samping printer, sehingga tidak ada yang iseng menggorengnya atau memakainya sebagai bumbu. Bibit bawang di sebelah meja kerja di printer. Saya terus mengawasinya.

Tanggal 16 Maret adalah hari pertama diumumkannya sekolah dan kampus libur. Semua belajar dari rumah, bekerja dari rumah, beribadah dari rumah. Tanggal 17 Maret 2020, saya menanam bibit bawang putih itu. Hati-hati dan penuh rasa cinta kasih dan welas asih, saya berdoa dengan teguh dan tulus, supaya bibit tumbuh sempurna dan tak kurang suatu apa. Panjang umur serta mulia. Lalu seminggu kemudian, akarnya tiba. Saya sungguh gembira. Lalu setelah akar, tunasnya tumbuh, lalu tunas menjadi daun, saya dan Kayu menghitung dengan gembira setiap senti pertumbuhannya.

Sambil menunggu bibit bawang tumbuh, diam-diam saya memesan juga benih sayur mayur secara online. Tergiur promosi. Bayangkan sekarang beli benih bisa cash on delivery, benih sampai di rumah dengan aman. Tak tanggung-tanggung saya membeli satu paket sayur berisi 17 benih plus pupuk NPK dan bonus e-book pdf cara menanam. Luar biasa. Saya belum tahu caranya namun sudah berani memesan benih. Akhirnya saya diejek suami, “Buat apa beli benih, kalau belum tahu cara menanam.”

Saya diam saja. Lihat nanti. Kata saya dalam hati. Cukup lama saya menahan diri untuk tidak membuka paket itu. Saya belum siap. Untuk menuju siap, saya banyak sekali membuka youtube cara menanam dengan berbagai sistem, hingga akhirnya tanggal 27 Maret 2020, saya buka paket benih itu. Dari 17 benih yang ada saya memilih dua benih saja untuk ditanam pertama. Yaitu benih kangkung dan bayam merah. Saya mempunyai alasan mengapa kangkung. Seperti cerita di awal, kangkung sudah memiliki benih histori di memori saya. Sedangkan bayam merah, saya murni ingin mencoba. Lima belas benih yang lainnya saya simpan.

Singkat cerita, di umur kangkung yang sepuluh hari sejak saya tanam benihnya, kangkung tumbuh dengan bahagia, subur, hingga ada seekor capung biru hinggap disana.   Capung ini begitu menawan, elegan dan rupawan. Kangkung saya juga cantik jelita dan anggun. Pukul setengah tujuh pagi ketika itu, saya dokumentasikan romantisme mereka berdua. Saya terharu, bukan karena saya menyaksikan mereka semata, namun karena sebuah filosofi bahwa keindahan akan mengundang keindahan lainnya. Bayangan saya mereka adalah sepasang keindahan yang bergerak bersama. Kangkung mengangguk-angguk dan capung mengayun-ayun. Angin mendukung dengan bertiup lembut.

Bibit bayam merah juga tumbuh sangat subur, hingga polybag penuh. Bawang putih sudah menunjukkan daunnya yang menjulang, hijau segar, benih cabai yang saya tebar sekenanya juga tumbuh, bahkan benih tomat, lalu bibit kencur, dan serai yang saya tanam hampir berbarengan, semua menunjukkan pertumbuhan yang diam-diam menghanyutkan. Saya diam-diam menaruh respek pada alam, dalam sunyinya ia tumbuhkan segala rupa benih yang kita tanam, tanpa gaduh, tanpa keluh, tanpa riuh. Saya respek juga pada mertua saya, petani sejati, penanam dan penumbuh, dari mereka saya belajar meskipun tidak langsung, bahwa menanam adalah persembahan kepada alam.

Jika hari ini kamu belum menanam, tidak apa. Menanam bukan soal waktu, namun kesanggupan dan kesiapan juga kesabaran. Semua akan menanam pada akhirnya. Tinggal memilih mau menanam apa.

Tags: capungceritaperkebunan
Share112TweetSendShareSend
Previous Post

Protokol Minum Arak: Duduk Melingkar, Jaga Jarak, Gelas Sendiri-sendiri

Next Post

Wei Ji, Bahaya & Peluang – [Catatan Kecil Pengusaha Muda]

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Wei Ji, Bahaya & Peluang – [Catatan Kecil Pengusaha Muda]

Wei Ji, Bahaya & Peluang - [Catatan Kecil Pengusaha Muda]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co