23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Kangkung, Capung, dan Kampung

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
April 10, 2020
in Esai
Kisah Kangkung, Capung, dan Kampung

Ilustrasi tatkala.co / Nana Partha

Sekira pada tahun 2016, bulan November, saya ditelpon untuk pulang kampung ke Ole, Tabanan. Biasalah, November itu peringatan hari pahlawan di Margarana, yang dirayakan dengan meriah. Ada pasar malam, ada jalan sehat, ada lomba-lomba, pentas seni, dan banyak acara menarik lainnya. Saya sebenarnya tidak begitu antusias, karena biasanya jalan pulang kampung jadi macet dan melelahkan. Sebab jalan raya satu satunya yang sempit itu dijejali motor dan mobil yang hendak ke Taman Pujaan Bangsa.

Namun kala itu, ajakan telponnya berbeda. Yang menelpon saat itu Ibu Mertua (tabik kulun Hyang Meme) yang mengajak saya ikut jalan sehat. Aneh juga, saya disuruh pulang hanya untuk mengikuti jalan sehat. Saya pulang juga. Menurut saja. Bersama anak-anak dan kakeknya, saya berangkat. Ibu Mertua tidak ikut, alasannya ada saja, padahal beliau yang menyuruh saya pulang hanya untuk ikut acara ini. Sementara suami saya, ikut tapi menyusul naik motor, biasalah dia selalu beralasan gak kuat jalan. Nanti kalau kami capek katanya akan dibonceng. Saya tahu itu alasannya saja.

Lalu acara mulai. Kami mendapat kupon undian yang akan dipertukarkan dengan hadiah-hadiah menarik nantinya. Wah, selama berjalan, kami melewati persawahan yang luas membentang dan sungai-sungai kecil di kiri kanannya. Saya ingat waktu itu Kayu baru berusia dua tahun, dan sedikit-sedikit digendong. Sementara Putik sudah asyik berjalan dengan sepupu-sepupunya. Bapak mertua sesekali membantu saya menggendong Kayu, atau mengawasi Putik. Pemandangan sawah dan ladang sangat indah, meskipun saya tertatih tatih melewatinya, sebab kurang pandai berjalan di pematang.

Singkat cerita, tibalah kami di garis finish yaitu di wantilan Taman Pujaan Bangsa. Saat yang ditunggu-tunggupun tiba. Yaitu penarikan hadiah untuk undian kupon. Hadiahnya sungguh mengejutkan. Setidaknya bagi saya. Ada sabit (puluhan), kapak (puluhan), pupuk, benih sayur mayur, alat rumah tangga, dan hadiah utamanya kalau tidak salah adalah anak babi.

Bagi saya hadiah-hadiah ini kurang relevan untuk saya, apalagi untuk Putik, tapi pasti relevan untuk mertua saya. Saya menunggu dengan tidak berharap. Hopeless karena melihat hadiahnya. Yang semangat justru Bapak. Setiap saya beranjak mau pulang, dia memberi isyarat, tunggu sebentar. Satu persatu kupon dibacakan, kupon saya tidak dipanggil-panggil juga. Sekian sabit sudah dibagikan, nomor kami tidak kena juga.

Anehnya, Bapak mertua saya tak gentar-gentar juga pulang. Dia rupanya berharap dapat sabit, atau kapak, atau apapun itu. Saya agak lapar. Lalu melipir beli lumpia ke pinggir. Di pinggir, suami saya nangkring di atas motor, siap menjemput. Saya mengajak Putik melipir.

Nah saat menyuap lumpia itu, tiba-tiba nomor Putik dipanggil. Sekian sekian sekian. Putik segera melupakan lumpia, dan maju ke depan. Dia sangat bangga bisa mendapat hadiah, setidaknya tidak rugi menunggu. Dan ketika dia ke depan, hadiahnya tak lain tak bukan adalah benih kangkung. Seumur hidupnya, itulah pertama kali Putik memegang benih kangkung. Oladalah, Putik memperlihatkan benih itu ke saya, dan saya bengong. Kakeknya yang gembira. Hore, katanya, Pekak gak dapat sabit, tapi dapat benih kangkung. Bisa ditanam. Putik juga bahagia bisa bikin kakeknya bahagia.

Demikianlah. Hari demi hari berlalu dan saya tidak melupakan detail kejadian itu. Sebungkus benih kangkung sebagai hadiah doorprize buat Putik. Tentu nasib benih itu sangat baik di tangan Bapak mertua, karena saya dengar benihnya disemai, bibitnya ditanam, dirawat dan dipelihara, dipanen. Sepertinya panen sudah berkali kali. Saya bahkan tidak sempat membantu apapun dengan hal itu. Sesekali pulang, kalau sempat, Bapak saya mencarikan kangkung untuk saya bawa pulang. Saya tidak bertanya lagi apakah itu hasil panen benih kangkung Putik atau benih lain. Yang jelas, saya bersyukur benih itu berguna bagi Bapak. Setidaknya itu menjadi memori bawah sadar saya untuk mulai kenal dengan benih kangkung.

Tahun 2017 saya membuat rancangan sebuah teater untuk 11 Ibu. Program itu bernama 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah berjalan di sepanjang tahun 2018. Namun di tahun itu juga saya kehilangan Ibu Mertua, dengan sangat mendadak. Ibu jatuh dan koma tiga hari, lalu pergi. Saya merasa limbung dan suwung. Mangmung. Tahun 2018 dan 2019 adalah masa-masa yang berlalu dengan berat. Kenangan dengan beliau sungguh terasa.

Lalu masuk tahun 2020, awal tahun dunia digemparkan dengan virus Corona, yang berawal di Wuhan, China. Saya membayangkan saja sudah ngeri jika virus itu tiba di Indonesia. Awal Maret, tepatnya 2 Maret, ketakutan itu nyata. Virus itu masuk ke Indonesia. Dua orang dinyatakan positif. Jokowi mengumumkan langsung saat itu. Hari-hari berikutnya terasa mulai mencekam. Meskipun di Bali masih belum gawat. Belum sampai Bali waktu itu. Tapi kecemasan sudah terasa.

Saya sudah bersiap dengan ide menanam di rumah. Saya merasa dunia akan berubah seketika. Ada sebuah isu akan karantina wilayah, lockdown, atau pembatasan keluar rumah, saya saat itu hanya memikirkan satu hal, saya harus mulai menanam. Saya tekun membaca berita pangan, bergabung dengan komunitas pangan lokal, di Singaraja bernama Komunitas Lumbung Pangan Keluarga. Saya melihat postingan teman-teman, belajar di youtube, mulai sadar akan pentingnya menanam untuk kebutuhan sendiri.

Saya pertama kali memesan bibit bawang putih lokal, dari Koperasi Pangan Bali Utara. Bibit ini hadir ketika Mahima mengadakan acara Mahima March March March. Saya membeli dari kawan, Bu Dina yang langsung dibawakan pada tanggal 13 Maret 2020.  Entah karena terlalu ramai saat itu atau ada yang menggoreng bawangnya dan langsung membuang bungkusnya, yang jelas, bibit itu lenyap sampai bungkusnya. Saya sampai mengorek ngorek sampah, dan tidak ada.

Padahal saya berjanji pada diri sendiri akan menanam segera. Segera saya hubungi Bu Dina untuk membeli lagi bibit yang kedua kalinya, dan langsung malam itu juga saya dibawakan oleh sahabat Kardian Narayana. Dua paket bibit saya bayar tunai. Meskipun bibit pertama telah lenyap entah kemana. Saya ingat bibit kedua saya letakkan di samping meja kerja saya, di samping printer, sehingga tidak ada yang iseng menggorengnya atau memakainya sebagai bumbu. Bibit bawang di sebelah meja kerja di printer. Saya terus mengawasinya.

Tanggal 16 Maret adalah hari pertama diumumkannya sekolah dan kampus libur. Semua belajar dari rumah, bekerja dari rumah, beribadah dari rumah. Tanggal 17 Maret 2020, saya menanam bibit bawang putih itu. Hati-hati dan penuh rasa cinta kasih dan welas asih, saya berdoa dengan teguh dan tulus, supaya bibit tumbuh sempurna dan tak kurang suatu apa. Panjang umur serta mulia. Lalu seminggu kemudian, akarnya tiba. Saya sungguh gembira. Lalu setelah akar, tunasnya tumbuh, lalu tunas menjadi daun, saya dan Kayu menghitung dengan gembira setiap senti pertumbuhannya.

Sambil menunggu bibit bawang tumbuh, diam-diam saya memesan juga benih sayur mayur secara online. Tergiur promosi. Bayangkan sekarang beli benih bisa cash on delivery, benih sampai di rumah dengan aman. Tak tanggung-tanggung saya membeli satu paket sayur berisi 17 benih plus pupuk NPK dan bonus e-book pdf cara menanam. Luar biasa. Saya belum tahu caranya namun sudah berani memesan benih. Akhirnya saya diejek suami, “Buat apa beli benih, kalau belum tahu cara menanam.”

Saya diam saja. Lihat nanti. Kata saya dalam hati. Cukup lama saya menahan diri untuk tidak membuka paket itu. Saya belum siap. Untuk menuju siap, saya banyak sekali membuka youtube cara menanam dengan berbagai sistem, hingga akhirnya tanggal 27 Maret 2020, saya buka paket benih itu. Dari 17 benih yang ada saya memilih dua benih saja untuk ditanam pertama. Yaitu benih kangkung dan bayam merah. Saya mempunyai alasan mengapa kangkung. Seperti cerita di awal, kangkung sudah memiliki benih histori di memori saya. Sedangkan bayam merah, saya murni ingin mencoba. Lima belas benih yang lainnya saya simpan.

Singkat cerita, di umur kangkung yang sepuluh hari sejak saya tanam benihnya, kangkung tumbuh dengan bahagia, subur, hingga ada seekor capung biru hinggap disana.   Capung ini begitu menawan, elegan dan rupawan. Kangkung saya juga cantik jelita dan anggun. Pukul setengah tujuh pagi ketika itu, saya dokumentasikan romantisme mereka berdua. Saya terharu, bukan karena saya menyaksikan mereka semata, namun karena sebuah filosofi bahwa keindahan akan mengundang keindahan lainnya. Bayangan saya mereka adalah sepasang keindahan yang bergerak bersama. Kangkung mengangguk-angguk dan capung mengayun-ayun. Angin mendukung dengan bertiup lembut.

Bibit bayam merah juga tumbuh sangat subur, hingga polybag penuh. Bawang putih sudah menunjukkan daunnya yang menjulang, hijau segar, benih cabai yang saya tebar sekenanya juga tumbuh, bahkan benih tomat, lalu bibit kencur, dan serai yang saya tanam hampir berbarengan, semua menunjukkan pertumbuhan yang diam-diam menghanyutkan. Saya diam-diam menaruh respek pada alam, dalam sunyinya ia tumbuhkan segala rupa benih yang kita tanam, tanpa gaduh, tanpa keluh, tanpa riuh. Saya respek juga pada mertua saya, petani sejati, penanam dan penumbuh, dari mereka saya belajar meskipun tidak langsung, bahwa menanam adalah persembahan kepada alam.

Jika hari ini kamu belum menanam, tidak apa. Menanam bukan soal waktu, namun kesanggupan dan kesiapan juga kesabaran. Semua akan menanam pada akhirnya. Tinggal memilih mau menanam apa.

Tags: capungceritaperkebunan
Share112TweetSendShareSend
Previous Post

Protokol Minum Arak: Duduk Melingkar, Jaga Jarak, Gelas Sendiri-sendiri

Next Post

Wei Ji, Bahaya & Peluang – [Catatan Kecil Pengusaha Muda]

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Wei Ji, Bahaya & Peluang – [Catatan Kecil Pengusaha Muda]

Wei Ji, Bahaya & Peluang - [Catatan Kecil Pengusaha Muda]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co