12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Kangkung, Capung, dan Kampung

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
April 10, 2020
in Esai
Kisah Kangkung, Capung, dan Kampung

Ilustrasi tatkala.co / Nana Partha

Sekira pada tahun 2016, bulan November, saya ditelpon untuk pulang kampung ke Ole, Tabanan. Biasalah, November itu peringatan hari pahlawan di Margarana, yang dirayakan dengan meriah. Ada pasar malam, ada jalan sehat, ada lomba-lomba, pentas seni, dan banyak acara menarik lainnya. Saya sebenarnya tidak begitu antusias, karena biasanya jalan pulang kampung jadi macet dan melelahkan. Sebab jalan raya satu satunya yang sempit itu dijejali motor dan mobil yang hendak ke Taman Pujaan Bangsa.

Namun kala itu, ajakan telponnya berbeda. Yang menelpon saat itu Ibu Mertua (tabik kulun Hyang Meme) yang mengajak saya ikut jalan sehat. Aneh juga, saya disuruh pulang hanya untuk mengikuti jalan sehat. Saya pulang juga. Menurut saja. Bersama anak-anak dan kakeknya, saya berangkat. Ibu Mertua tidak ikut, alasannya ada saja, padahal beliau yang menyuruh saya pulang hanya untuk ikut acara ini. Sementara suami saya, ikut tapi menyusul naik motor, biasalah dia selalu beralasan gak kuat jalan. Nanti kalau kami capek katanya akan dibonceng. Saya tahu itu alasannya saja.

Lalu acara mulai. Kami mendapat kupon undian yang akan dipertukarkan dengan hadiah-hadiah menarik nantinya. Wah, selama berjalan, kami melewati persawahan yang luas membentang dan sungai-sungai kecil di kiri kanannya. Saya ingat waktu itu Kayu baru berusia dua tahun, dan sedikit-sedikit digendong. Sementara Putik sudah asyik berjalan dengan sepupu-sepupunya. Bapak mertua sesekali membantu saya menggendong Kayu, atau mengawasi Putik. Pemandangan sawah dan ladang sangat indah, meskipun saya tertatih tatih melewatinya, sebab kurang pandai berjalan di pematang.

Singkat cerita, tibalah kami di garis finish yaitu di wantilan Taman Pujaan Bangsa. Saat yang ditunggu-tunggupun tiba. Yaitu penarikan hadiah untuk undian kupon. Hadiahnya sungguh mengejutkan. Setidaknya bagi saya. Ada sabit (puluhan), kapak (puluhan), pupuk, benih sayur mayur, alat rumah tangga, dan hadiah utamanya kalau tidak salah adalah anak babi.

Bagi saya hadiah-hadiah ini kurang relevan untuk saya, apalagi untuk Putik, tapi pasti relevan untuk mertua saya. Saya menunggu dengan tidak berharap. Hopeless karena melihat hadiahnya. Yang semangat justru Bapak. Setiap saya beranjak mau pulang, dia memberi isyarat, tunggu sebentar. Satu persatu kupon dibacakan, kupon saya tidak dipanggil-panggil juga. Sekian sabit sudah dibagikan, nomor kami tidak kena juga.

Anehnya, Bapak mertua saya tak gentar-gentar juga pulang. Dia rupanya berharap dapat sabit, atau kapak, atau apapun itu. Saya agak lapar. Lalu melipir beli lumpia ke pinggir. Di pinggir, suami saya nangkring di atas motor, siap menjemput. Saya mengajak Putik melipir.

Nah saat menyuap lumpia itu, tiba-tiba nomor Putik dipanggil. Sekian sekian sekian. Putik segera melupakan lumpia, dan maju ke depan. Dia sangat bangga bisa mendapat hadiah, setidaknya tidak rugi menunggu. Dan ketika dia ke depan, hadiahnya tak lain tak bukan adalah benih kangkung. Seumur hidupnya, itulah pertama kali Putik memegang benih kangkung. Oladalah, Putik memperlihatkan benih itu ke saya, dan saya bengong. Kakeknya yang gembira. Hore, katanya, Pekak gak dapat sabit, tapi dapat benih kangkung. Bisa ditanam. Putik juga bahagia bisa bikin kakeknya bahagia.

Demikianlah. Hari demi hari berlalu dan saya tidak melupakan detail kejadian itu. Sebungkus benih kangkung sebagai hadiah doorprize buat Putik. Tentu nasib benih itu sangat baik di tangan Bapak mertua, karena saya dengar benihnya disemai, bibitnya ditanam, dirawat dan dipelihara, dipanen. Sepertinya panen sudah berkali kali. Saya bahkan tidak sempat membantu apapun dengan hal itu. Sesekali pulang, kalau sempat, Bapak saya mencarikan kangkung untuk saya bawa pulang. Saya tidak bertanya lagi apakah itu hasil panen benih kangkung Putik atau benih lain. Yang jelas, saya bersyukur benih itu berguna bagi Bapak. Setidaknya itu menjadi memori bawah sadar saya untuk mulai kenal dengan benih kangkung.

Tahun 2017 saya membuat rancangan sebuah teater untuk 11 Ibu. Program itu bernama 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah berjalan di sepanjang tahun 2018. Namun di tahun itu juga saya kehilangan Ibu Mertua, dengan sangat mendadak. Ibu jatuh dan koma tiga hari, lalu pergi. Saya merasa limbung dan suwung. Mangmung. Tahun 2018 dan 2019 adalah masa-masa yang berlalu dengan berat. Kenangan dengan beliau sungguh terasa.

Lalu masuk tahun 2020, awal tahun dunia digemparkan dengan virus Corona, yang berawal di Wuhan, China. Saya membayangkan saja sudah ngeri jika virus itu tiba di Indonesia. Awal Maret, tepatnya 2 Maret, ketakutan itu nyata. Virus itu masuk ke Indonesia. Dua orang dinyatakan positif. Jokowi mengumumkan langsung saat itu. Hari-hari berikutnya terasa mulai mencekam. Meskipun di Bali masih belum gawat. Belum sampai Bali waktu itu. Tapi kecemasan sudah terasa.

Saya sudah bersiap dengan ide menanam di rumah. Saya merasa dunia akan berubah seketika. Ada sebuah isu akan karantina wilayah, lockdown, atau pembatasan keluar rumah, saya saat itu hanya memikirkan satu hal, saya harus mulai menanam. Saya tekun membaca berita pangan, bergabung dengan komunitas pangan lokal, di Singaraja bernama Komunitas Lumbung Pangan Keluarga. Saya melihat postingan teman-teman, belajar di youtube, mulai sadar akan pentingnya menanam untuk kebutuhan sendiri.

Saya pertama kali memesan bibit bawang putih lokal, dari Koperasi Pangan Bali Utara. Bibit ini hadir ketika Mahima mengadakan acara Mahima March March March. Saya membeli dari kawan, Bu Dina yang langsung dibawakan pada tanggal 13 Maret 2020.  Entah karena terlalu ramai saat itu atau ada yang menggoreng bawangnya dan langsung membuang bungkusnya, yang jelas, bibit itu lenyap sampai bungkusnya. Saya sampai mengorek ngorek sampah, dan tidak ada.

Padahal saya berjanji pada diri sendiri akan menanam segera. Segera saya hubungi Bu Dina untuk membeli lagi bibit yang kedua kalinya, dan langsung malam itu juga saya dibawakan oleh sahabat Kardian Narayana. Dua paket bibit saya bayar tunai. Meskipun bibit pertama telah lenyap entah kemana. Saya ingat bibit kedua saya letakkan di samping meja kerja saya, di samping printer, sehingga tidak ada yang iseng menggorengnya atau memakainya sebagai bumbu. Bibit bawang di sebelah meja kerja di printer. Saya terus mengawasinya.

Tanggal 16 Maret adalah hari pertama diumumkannya sekolah dan kampus libur. Semua belajar dari rumah, bekerja dari rumah, beribadah dari rumah. Tanggal 17 Maret 2020, saya menanam bibit bawang putih itu. Hati-hati dan penuh rasa cinta kasih dan welas asih, saya berdoa dengan teguh dan tulus, supaya bibit tumbuh sempurna dan tak kurang suatu apa. Panjang umur serta mulia. Lalu seminggu kemudian, akarnya tiba. Saya sungguh gembira. Lalu setelah akar, tunasnya tumbuh, lalu tunas menjadi daun, saya dan Kayu menghitung dengan gembira setiap senti pertumbuhannya.

Sambil menunggu bibit bawang tumbuh, diam-diam saya memesan juga benih sayur mayur secara online. Tergiur promosi. Bayangkan sekarang beli benih bisa cash on delivery, benih sampai di rumah dengan aman. Tak tanggung-tanggung saya membeli satu paket sayur berisi 17 benih plus pupuk NPK dan bonus e-book pdf cara menanam. Luar biasa. Saya belum tahu caranya namun sudah berani memesan benih. Akhirnya saya diejek suami, “Buat apa beli benih, kalau belum tahu cara menanam.”

Saya diam saja. Lihat nanti. Kata saya dalam hati. Cukup lama saya menahan diri untuk tidak membuka paket itu. Saya belum siap. Untuk menuju siap, saya banyak sekali membuka youtube cara menanam dengan berbagai sistem, hingga akhirnya tanggal 27 Maret 2020, saya buka paket benih itu. Dari 17 benih yang ada saya memilih dua benih saja untuk ditanam pertama. Yaitu benih kangkung dan bayam merah. Saya mempunyai alasan mengapa kangkung. Seperti cerita di awal, kangkung sudah memiliki benih histori di memori saya. Sedangkan bayam merah, saya murni ingin mencoba. Lima belas benih yang lainnya saya simpan.

Singkat cerita, di umur kangkung yang sepuluh hari sejak saya tanam benihnya, kangkung tumbuh dengan bahagia, subur, hingga ada seekor capung biru hinggap disana.   Capung ini begitu menawan, elegan dan rupawan. Kangkung saya juga cantik jelita dan anggun. Pukul setengah tujuh pagi ketika itu, saya dokumentasikan romantisme mereka berdua. Saya terharu, bukan karena saya menyaksikan mereka semata, namun karena sebuah filosofi bahwa keindahan akan mengundang keindahan lainnya. Bayangan saya mereka adalah sepasang keindahan yang bergerak bersama. Kangkung mengangguk-angguk dan capung mengayun-ayun. Angin mendukung dengan bertiup lembut.

Bibit bayam merah juga tumbuh sangat subur, hingga polybag penuh. Bawang putih sudah menunjukkan daunnya yang menjulang, hijau segar, benih cabai yang saya tebar sekenanya juga tumbuh, bahkan benih tomat, lalu bibit kencur, dan serai yang saya tanam hampir berbarengan, semua menunjukkan pertumbuhan yang diam-diam menghanyutkan. Saya diam-diam menaruh respek pada alam, dalam sunyinya ia tumbuhkan segala rupa benih yang kita tanam, tanpa gaduh, tanpa keluh, tanpa riuh. Saya respek juga pada mertua saya, petani sejati, penanam dan penumbuh, dari mereka saya belajar meskipun tidak langsung, bahwa menanam adalah persembahan kepada alam.

Jika hari ini kamu belum menanam, tidak apa. Menanam bukan soal waktu, namun kesanggupan dan kesiapan juga kesabaran. Semua akan menanam pada akhirnya. Tinggal memilih mau menanam apa.

Tags: capungceritaperkebunan
Share112TweetSendShareSend
Previous Post

Protokol Minum Arak: Duduk Melingkar, Jaga Jarak, Gelas Sendiri-sendiri

Next Post

Wei Ji, Bahaya & Peluang – [Catatan Kecil Pengusaha Muda]

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Wei Ji, Bahaya & Peluang – [Catatan Kecil Pengusaha Muda]

Wei Ji, Bahaya & Peluang - [Catatan Kecil Pengusaha Muda]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co