24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kepada Alit Joule “Sampai Jumpa di Rumah”

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
March 30, 2020
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Awalnya saya tidak berniat menulis sesuatu apapun. Tapi setelah membaca salah satu tulisan Alit Joule di tatkala.co, saya merasa ada sesuatu yang harus diketik. Saat dia bilang “salam dari samudra”, saya membayangkan situasi yang melahirkan kata-kata itu. Barangkali saat dia ketik kata-kata itu, kapal yang ditumpanginya belum berlabuh. Dia mengetiknya di tengah hamparan laut super luas.

 Entah kepada siapa dia tujukan salam itu. Saya menduga, dia sedang memberi salam kepada semua pembacanya. Tapi saya juga tidak bisa berhenti menduga, kalau dia sesungguhnya sedang memberi salam pada dirinya sendiri.

Dalam bayangan saya, dia sedang berada di tengah lautan yang luas, di dalam sebuah kapal. Seberapa besarnya kapal itu, saya tak tahu. Mungkin sebesar satu banjar adat. Atau mungkin lebih besar lagi. Mungkin sebesar desa adat tapi dengan peraturan yang tidak lebih rumit. Kapal itu goyang-goyang karena air laut tidak tenang. Langit di atas bersuara pelan meniru-niru gemuruh laut. Mungkin begitu keadaannya sebagaimana saya bayangkan dari dalam kamar.

Apa yang bisa dilakukan dalam situasi seperti itu? Alit Joule memilih untuk menulis. Itu karena dia memang penulis. Tak usah diragukan lagi. Menulis adalah cara yang ditempuhnya untuk mengusir kecemasan dan kebosanan. Saya tidak yakin kalau dia penganut jargon ‘menulis untuk keabadiaan’ sebagaimana ditulis oleh Pram. Sebab jauh sebelum saya belajar menulis, dialah yang menjerumuskan saya pada dunia paling membahagiakan ini. Suatu saat seingat saya, dia pernah berpesan ‘lanturang, meskipun iraga sing di Bali tapi raga lakar terus nulis’ [lanjutkan, meskipun saya tidak di Bali, tapi saya akan terus menulis]. Saya yakin itu murni dari pemikirannya sendiri. Lalu belakangan saya menemukan kata-kata serupa dari Pram.

Pesan itu selalu saya ingat saat tidak menulis. Lalu saya lupakan saat menulis saya lakukan. Menulis adalah pekerjaan. Dari pekerjaan itu didapat kebahagiaan. Kebahagiaan yang didapat adalah kebahagiaan yang disebut wahyadhyatmika suka. Artinya kebahagiaan lahir dan batin.

Salah satu jenis kebahagiaan lahir adalah kekayaan, pengakuan, kesehatan. Kebahagiaan jenis ini konon bisa berbalik menjadi duka, kesedihan. Karena kekayaan bisa hilang, pengakuan bisa lenyap, dan kesehatan bisa sirna. Oleh sebab itu, para yogi mengajarkan untuk mencapai kebahagiaan yang penuh. Penuh berbeda dengan banyak. Karena penuh, tidak lagi ada sesuatu yang diinginkan. Tidak ada kesedihan yang terlalu. Tidak ada kebahagiaan yang sangat. Semua ada pada takaran yang pas.

Ada kebahagiaan yang tidak putus-putus. Keadaan semacam itu disebut menikmati amerta. Amerta adalah air kehidupan yang memberikan keabadian. Bukan hidup yang abadi, tapi kebahagiaan. Kebahagiaan dianalogikan seperti makanan. Bisa membuat perut kenyang tanpa harus makan. Makanan jenis ini dinikmati oleh mereka yang melakukan yoga. Dan menulis adalah salah satu bentuknya, salah satu caranya. Metodenya.

Begitulah menulis dalam pandangan saya sekarang. Kegiatan ini tidak lagi sesederhana memindahkan suara-suara pikiran ke dalam simbol-simbol aksara. Menulis kini bermakna berbeda. Karena itu, pesan dari Alit Joule kini tidak lagi saya maknai sebagai menulis dalam artian menuangkan isi pikiran dalam simbol tertulis. Menulis adalah metode yang bisa ditempuh untuk mendapatkan kebahagiaan. Menulis adalah yoga.

Alit Joule dalam posisinya yang sekarang, bahkan memberikan saya inspirasi untuk menulis. Kepada laut yang ia pandangi ia ucapkan terimakasih. Juga kepada ‘sepi’ yang diterimanya sebagai anugerah. Karena keadaan sepi itu, ia mendapatkan energy lebih untuk menulis.

Situasi yang dipaksakan oleh suatu wabah telah memberikan energi positif kepada seorang penulis di tengah laut. Situasi dan kondisi jelas mempengaruhi inspirasi. Kali ini dia benar, kesenyapan yang dihadiahkan oleh wabah bisa diisi dengan melakukan permenungan. Cukup sendiri, tanpa bantuan siapa-siapa. Atau dalam istilah Jawa Kuno disebut nirasraya. Hasil dari permenungan adalah keheningan pikiran yang bisa dibagikan kepada orang lain. Kebeningan demi kebeningan yang dialirkan pada banyak pikiran yang sedang keruh. Jarang sekali ada hasil permenungan yang didedikasikan demi mengajak pikiran-pikiran yang dikeruhkan oleh kecemasan, untuk kembali kepada keheningan buddhi. Buddhi adalah intelek yang bisa menimbang baik dan buruk. Buddhi bening inilah yang konon bisa menjadi lampu penerang di tengah kegelapan yang pekat. Sastra adalah nama lain dari buddhi bening itu. Bukankah dengan menggunakan sastra sebagai lampu penerang, kebahagiaan di dunia bisa didapat?

Wrettasancaya adalah salah satu puisi berbahasa Jawa Kuno yang dilahirkan dari permenungan, dari buddhi yang bening. Anehnya, kebeningan buddhi itu lahir saat pengarangnya konon menyendiri di tepi laut. Mungkin memang benar, kesendirian memberikan anugerah lain yang tidak pernah kita berikan tempat spesial. Jika direnung-renungkan sesungguhnya manusia tidak pernah sendiri karena setiap saat selalu ada yang menyaksikan segala yang dipikir, dikata, dan dilakukan. Saat terang, saksinya adalah matahari. Saat gelap, saksinya rembulan. Saat malam paling gelap, saksinya kegelapan. Saat ramai ada banyak mata jadi saksi. Saat sendiri, ada jiwa yang jadi saksi. Karena itu, manusia tidak pernah sendiri. Tidak ada kesendirian yang sesungguhnya sendiri.

Saat saya mulai mengetik kata-kata ini, saya seolah mengerti kalau di pikiran orang-orang sedang merasa cemas karena wabah virus. Wabah virus adalah wabah. Saya mengertikannya sesederhana itu. Saya tidak tahu cara paling tepat menghilangkan wabah ini. Saya hanya mendengar banyak peneliti, pembicara, perenung, pembaca, penulis yang menulis dan bicara tentang virus ini. Katanya harus begitu dalam situasi begini. Mestinya begini dalam situasi begitu-begitu. Begini dan begitu itu, saya pikir-pikir semuanya benar.

Kebenaran ternyata tidak hanya satu, tapi ada banyak kebenaran. Terus terang kenyataan itu bertolak belakang dengan konsep kebenaran yang pernah saya dengar. Katanya, kebenaran hanya satu, yang banyak adalah pembenaran. Bagaimana membedakan kebenaran dengan pembenaran? Saya jadi bingung dibuatnya. Lahir sebagai manusia adalah kebingungan. Jadi saya menerima kebingungan itu sebagai kewajaran. Lebih dari itu, kebingungan tadi saya terima bukan karena tidak mengerti, tapi karena saya bodoh.

Kebodohan yang saya miliki jika digunakan untuk memikirkan sesuatu yang sulit saya mengerti, hanya akan melahirkan kekeruhan yang lain. Jadi saya menyerahkan sepenuhnya kelanjutan dari putaran bumi yang tidak pernah saya rasakan berputar [kecuali mabuk] ini kepada para pemikir dan penindaklanjut yang berbaris menjaga keamaan pada baris paling depan. Barisan-barisan itu saya yakini akan menjaga saya yang rakyat jelata ini dari kesakitan dan kemiskinan.

Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Tidak tahu harus melakukan apa. Saya sekarang hanya diam di rumah sebagaimana dianjurkan oleh banyak orang. Jika pergi hanya lewat satu tembok saja ke rumah saudara. Melihat nenek yang sedang nglocok base, dan mendengar orang-orang tua membicarakan ingatan mereka tentang kejadian lampau-lampau. Juga membaca beberapa tulisan yang menarik. Salah satunya adalah salam dari samudra milik sahabat saya.

Kepada Alit Joule saya ucapkan terimakasih. Karena ia membuat saya punya keinginan menulis sesuatu di tengah kegamangan. Kegamangan yang lahir dari kecemasan-kecemasan. Tidak hanya virus, tapi juga pikiran-pikiran semerawut karena terlalu banyak masalah yang dipikirkan dengan terlalu sedikit kekuatan untuk menyelesaikan.

Lit, sampai jumpa di rumah. Benar, sastra selalu menemukan jalannya [T]

Tags: kapal pesiarsastrasastra bali modern
Share69TweetSendShareSend
Previous Post

Perihal Corona, Tubuh yang Bersin dan Batuk-Batuk di Atas Panggung

Next Post

UN 2020 Ditiadakan, Sekolah Dimerdekakan?

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
UN 2020 Ditiadakan, Sekolah Dimerdekakan?

UN 2020 Ditiadakan, Sekolah Dimerdekakan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co